Sang Peri

1505 Words
" Ya Tuhan...aku nggak percaya kamu menjual aku Pru, jahat sekali."  Sayda memukul lengan Pruistin yang tengah duduk di jok belakang kemudi. Mereka sedang berada dalam mobil yang dikemudikan Alex, membelah jalanan Yukari, ibukota Solis. Salah satu negara maju di benua Kuovos.  " Ayolah Da... dia cuma penasaran saja denganmu dan kenalan lebih intim lagi. Nggak ada salahnya kan?"   "Seintim apa? Nggak yang aneh-aneh kan? Kalau  dia macem-macem kayaknya aku bakal tinggalin dia deh. Nggak ada penawaran ya. Harus sesuai dengan norma kesopanan dan kesusilaan lho." "Iya...iya Tuan Putri. Ingat kami juga kan ada di sana, turut menjagamu." "Aku baru pertama kali bertemu tadi bertemu Ben Kobayashi, lalu kamu memasang aku blind date dengannya? Keterlaluan!" " Aku kok nggak yakin kalau tadi itu pertemuan kamu dengan Tuan Ben yang pertama. Dia pernah hadir di rumah Mr. Fleming malam itu, dan terus memperhatikan kamu." Alex mengintip Sayda lewat kaca depan. "Masak sih? Perasaan aku nggak ketemu dia di sana deh." "Nggak heran sih Lex, orang Dida asyik dengan Alaric." Sindir Ramdan yang duduk di sebelah Alex. " Kalian dari tadi ngomongin Alaric. Siapa sih Alaric itu sebenarnya?" Protes Pruistin. Ramdan berdehem dan bertukar pandang dengan Alex. " Putra sulung kerajaan Fleming, namun seperti menolak menerima tongkat estafet ayahnya dan lebih memilih mendirikan usaha sendiri pabrik kosmetik dan parfum, juga bengkel dan dealer mobil. Seorang ilmuwan, dosen Fisika,  dan menerima warisan kakeknya kebun dan pabrik anggur. Nah yang terakhir itu sepertinya tempat favorit mereka untuk berkencan, sila tanya sendiri pada Sayda." " Aku bukan kencan dengannya Alex, kami hanya berteman." " Orang buta juga tahu kalau dia naksir berat kamu." " Gimana juga orang buta bisa tahu Lex? Kalau buat perumpamaan tuh yang bener lah." Ramdan menyindir. " Ya mungkin dia nggak bisa melihat perlakuan Al pada Dida, tapi dari intonasi, nada suaranya yang penuh cinta begitu, pasti mereka akan paham sekali." " Sebentar...sebentar... putranya Takeshi Fleming bukannya Adrian?" " Adrian itu anak kedua Takeshi dan Dewi Fleming, Pru. Memang jarang sekali Alaric terlibat dalam urusan perusahaan. Nggak seterkenal Adrian. Bahkan Alaric nggak punya media sosial. Berbeda jauh dengan Adrian dan Angelica adiknya." " Kok kita berhenti di sini sih? " Tanya Sayda heran begitu mobil yang Alex kendarai berhenti di pusat perbelanjaan terkenal di Yukari. "Ayo turun."Perintah Pruistin. "Aduh, males banget deh. Aku lagi nggak  mood buat belanja. Kamu aja lah yang turun aku mending tidur di mobil." "Ayolah Da...turun dulu sebentar aja." "Mau ngapain sih Pru?" " Mau ngapain lagi, ya beli gaun kamu buat kencan nanti malam lahh....." " Ya ampuuunnnnn..." Sayda menangkup wajah lalu meremas rambutnya tanda frustasi. " Tenang saja...kita bisa menggunakan ini," Pruistin mengeluarkan kredit card milik perusahaannya. "Ayo turun!" Alex membukakan pintu untuk Sayda dan gadis itu dengan malas keluar dari mobil. " Kalau begini...mengapa aku merasa jadi ibu peri yang baik hati ya?" " Maksud kamu apa Pru?" Senyum penuh arti diberikan Pruistin pada sahabatnya. " Kamu akan segera tahu sayang...." Pruistin dengan cepat menarik tangan Sayda yang membuatnya sedikit limbung dan menjerit. " Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" " Kami mencari gaun wanita untuk acara resmi, bisa menunjukkannya?" Wanita itu tersenyum. " Apakah untuk anda?" " Ooh bukan untuk teman saya ini." Pruistin menunjuk Sayda. Pramuniaga itu tampak lama mengamati Sayda dari kepala hingga kaki membuat gadis itu jengah diperlakukan seperti itu. " Nampaknya kami harus mengukur badan anda terlebih dahulu. Mari ikuti saya." Pruistin dan Sayda saling bertatapan. Tiba di suatu tempat di bagian agak ke tengah dari butik itu telah menunggu dua orang perempuan yang tersenyum ramah kepada mereka. “ Maaf Nona bisa anda merentangkan tangan,  kami akan mengukur badan anda.” Sayda menuruti permintaan gadis itu. Setelah mereka mencatat ukuran Sayda seseorang menunduk d depannya. “ Maaf Nona, bisa anda melepas sepatu anda?” “ Untuk apa?” “ Untuk mengukur kaki anda agar nyaman dengan sepatu yang dikenakan Nona.” Sayda melongo. “ Saya di sini hanya akan membeli pakaian Mbak, bukan membeli sepatu.” Pramuniaga itu tersenyum penuh arti.” “ Angap saja ini bonus dari butik kami untuk kedatangan anda di sini, Nona. Ini kunjungan perdana anda bukan?” Sayda menganguk, “ Maksudnya beli baju dapat sepatu, begitu?” “ Seperti itu kira-kira. Tolong Nona, kaki anda...” Sayda heran namun tetap mengikuti melepaskan sepatunya. Sayda keluar dari ruang ganti pakaian dan berjalan keluar ke arah ketiga temannya seperti peragawati. “ Gimana...gimana...bagus nggak?” Sayda meminta pendapat teman-temannya. Alex bersiul tanda kagum “ Oke,” Sahut Alex “ Aku juga oke deh,” Ramdan menimpali. “  Nggak, nggak cocok...ganti!” Pru memerintah. “ Aku suka yang ini Pru. Lagian kamu dah kalah voting juga masih maksa aja. “ “ Nggak...nggak jangan yang itu nggak pantes kurang ceria. Ganti Da.” Pruistin bangkit dan menarik lengan Sayda untuk memilih baju kembali. Sayda bertekat dalam hatinya, kalau sampai ada yang menolak lagi dia akan unjuk rasa. Dipilihnya beberapa pakaian dan Pru mengangguk tanda setuju." Bagaimana ?" Sayda keluar kamar ganti untuk yang kesekian kalinya.  "Oke" "Deal" "Perfect" " Saya ambil yang ini saja ya," ucap Sayda pada pramuniaga butik itu. Mereka menunggu sembari bercanda tak jauh dari kasir. Pruistin maju untuk membayar dan mengulurkan credit card-nya.   " Ini barangnya Bu," ucap petugas kasir mengulurkan beberapa paperbag untuk  " Lho, kok credit card-nya belum diproses?" Tanya Pru bingung.  " Barang-barang ini sudah dibayar Bu. "  “ Dibayar sama siapa? Credit card-nya saja belum kamu sentuh.” “ Itu Bu, dibayar sama ehm...ehm..." Petugas kasir nampak bingung. " Dibayar sama siapa Pak?" Desak Ramdan. " Ehm..itu. Sama bapak yang baru keluar.” Petugas kasir itu menunjuk pria yang baru melewati pintu masuk. Otomatis empat sekawan itu mengikuti arah telunjuk sang kasir lalu bergerak mendekati jendela. Sosok pria tinggi dan tampan berkaca mata itu berjalan tegap penuh percaya diri menuju mobil sport hitamnya. “ Alaric...” Alex menggumam. “ Ya, Alaric Fleming.” Ramdan berkata pelan menegaskan. “ Jadi dia yang bernama Alaric?” Gumam Pruistin. Sayda menelan ludan dengan susah payah. Sejenak hatinya meragu, apakah dia harus menerima ataukah menolak pemberian itu. "Aku nggak mau terima ini ah." Sayda sudah membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar. Dua orang gadis pelayan toko mengejarnya. “ Maaf Bu, ini credit card anda.” Pruistin menoleh dan mengambilnya dari tangan gadis itu. “ Nona, kami mohon tolong terima barang-barang ini. Kami hanya menjalankan amanah dari majikan kami. Kalau anda menolak, nanti kami dipecat.” Gadis- gadis itu mengiba kemudian menunduk. Rasa kasihan hinggap dalam dadanya, hanya dia tidak mau terikat dan bergantung pada Alaric. Sudah tiga minggu lebih dia selalu menghindar dari kejaran Alaric  juga berbagai hadiah yang diberikannya. Tapi kalau  kali ini dia menolak, maka kasihan nasib gadis-gadis yang ada di depannya ini. Ramdan langsung menyambar tas-tas belanjaan itu. Melihat Ramdan kewalahan membawa banyaknya paperbag, Alex berinisiatif membantu rekannya. “ Rejeki nggak boleh ditolak. Pamali kata nenek saya bilang.” “ Saya setuju Dan.” Ucap Alex penuh semangat. “ Siapa majikan kalian, pemilik butik ini?” Tanya Pruistin. “ Pemilik butik ini adalah Bu Dewi Mawarni Fleming,” jawab pramuniaga itu. “ Ooh...pantes saja. “ Alex dan Ramdan kompak bergumam. “ Sebentar-sebentar , saya kok bingung ya. Hubungan Alaric dan Dewi itu apa?” Tanya Pruistin yang membuat dua gadis di depannya juga Alex dan Ramdan terkekeh pelan. “ Ibu Dewi itu adalah ibu kandung dari tuan muda Alaric.” Jawab salah satu dari pramuniaga itu. “ Ooh...begitu ceritanya.” “ Terima kasih ya Mbak, kami pergi dulu. Sampaikan salam dan terima kasih dari saya untuk Ibu Dewi.” “ Baik akan kami sampaikan. Dari Nona...?” “ Bilang saja dari Sayda. Permisi...” Sayda langsung berbalik menuju mobil.   ******    " Nggak usah cemberut begitu Nona. Jalankan saja tugasmu dengan baik, yah...latihan ngelobi proyek lah. kelak kalau kamu jadi pimpinan atau nyonya besar sudah piawai melaksanakan ini." Ucap Pruistin. " Kamu cemburu atau gimana sih Pru? Serius nih aku males banget pergi. Nggak kenal juga siapa Benjamin Kobayashi." " Aku cuma sebal ingat kejadian tadi siang Nona Sayda. Bagaimana bisa dia menyebut kamu Nona tapi memanggilku Ibu. Memangnya aku terlihat seperti ibu-ibu yang punya anak dua apa? Selisih umur kita cuma tiga tahun apa wajahku terlihat tua ya?" Sayda tertawa geli. " Kamu masih cantik dan masih terlihat muda Pru. Mungkin karena pembawaan kamu yang dewasa dan matang jadi dia memanggilmu dengan ibu." Sayda coba menenangkan. " Makanya jangan sering marah-marah Pru. Kamu jadi kelihatan tambah tua." Ramdan mulai mengejeknya. " Nih akuu bacakan CV nya Ben Kobayashi ya." Ucap Alex. " Sebenarnya dia berasal dari Manduras, lahir tiga puluh sembilan tahun yang lalu,  hampir empat puluh sih dan belum menikah. Memiliki beberapa perusahaan yaitu tambang nikel dan perkapalan. Dia terkenal dengan julukan raja kapal dari Manduras. Lahir dan dibesarkan di Manduras, saat SMA dia mendapat beasiswa ke Solis  dan menetap di negara ini hingga memperoleh gelas doktoralnya. Sejak kuliah dia juga sudah membuat usaha kecil-kecilan. Pencinta seni dan menyukai olah raga lari  dan juga renang." "Nah, itu informasi awal dan umumnya. Kelanjutannya bagaimana kamu bisa menggalinya sendiri saat kalian dinner."  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD