Blind Date

2063 Words
Suara dering ponsel berbunyi. Pintu geser yang menghubungkan kamar mandi dan ruan tidur utama terbuka. Seorang pria yang masih berbalut bathrobe keluar menghampirinya lalu menekan tobol bicara.  “ Ya Jack, ada apa?” ucap pria itu. “ Maaf mengganggumu pagi-pagi begini, Ben. Tapi aku sudah menemukan jejak anaknya Sofia.“ “ Kamu ada dimana sekarang Jack? “ " Philigrande” Sebuah daerah yang tidak terlalu jauh dari kediaman Benjamin Kobayashi. “ Baiklah kalau begitu kita bisa bertemu di rumahku tiga puluh menit lagi.” “ Oke Ben, kita akan bertemu tiga puluh menit lagi.” Benjamin Kobayashi mengenakan pakaian dengan cepat lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan. Ben masih menyelesaikan sarapannya ketika Jack Fisili, seorang  detektif swasta yang sudah disewanya selama lima tahun datang menemuinya.  “ Maafkan aku jika ternyata datang lebih cepat sepuluh menit dari yang ditentukan.” “ Tak masalah Jack, ayo sarapan bersamaku.” Ben menawarkan pada Jack dan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan sarapan. “ Tidak...tidak...tidak, aku sudah selesai sarapan ketika meneleponmu tadi. “ “ Mungkin mau kopi atau teh menemaniku Jack?” “ Boleh lah secangkir teh.” Pelayan yang berada di dekat mereka segera menuangkan teh menghidangkan di depan pria itu. Mereka masih berbincang ringan selama masih di meja makan.  “ Mari kita pindah ke ruang kerjaku Jack.” Benjamin berdiri dan berjalan mendahului , sementara Jack mengikuti langkahnya dari belakang. “ Jadi apa yang kau temukan?” Tanya Ben pada Jack begitu mereka sampai di ruang kerja Ben. Jack fisili mendekat dan menyerahkan amplop coklat. Ben membukanya dan menatap serius wajah dalam foto itu. Ada tiga puluh lima lembar foto dalam ukuran 3R dan Benjamin Kobayashi menatap satu foto lama. “ Sofia...” Benjamin bergumam. “ Ya, betul Ben. Dia sangat mirip dengan Sofia. Sama-sama tahi lalat di atas alis mata sebelah kiri, hanya gadis ini memeliki lesung di pipinya sementara Sofia tidak.” Benjamin menatap lekat Jack Fasili.  “ Kenapa baru ketemu sekarang Jack? “ “ Kau pikir gampang apa melacak jejak kakakmu dan keluarganya itu? Semenjak dia pergi dari keluargamu, dia sudah berpindah ke enam negara dan aku harus menyesurinya satu per satu. Dia dan suaminya juga mengubah nama.” Ben menarik nafas panjang. “ Penyesalan orangtuaku hingga kini adalah mengusir kakakku. Mereka bertahan hingga kini karena ingin bertemu dengan kakakku, kalau seandainya kakakku sudah meninggal, maka paling tidak mereka bisa memeluk anak dari Sofia.” Pikiran Ben menerawang jauh, bayangan kakak perempuan satu-satunya hadir dalam benaknya. Selisih usia mereka memang terpaut jauh sekitar tiga belas tahun. Yang diingatnya adalah betapa kakak perempuannya itu sangat menyayanginya. " Namanya Sayda Arundati, lahir dua belas April tahun dua ribu dua puluh lima, sekitar dua puluh empat tahun yang lalu. Dia diadopsi oleh pasangan Martini dan Effendy Handoko. Martini memiliki usaha toko kue dan catering, dan dia juga pengusaha cenderamata dan souvenir. Sedangkan Effendy adalah seorang pensiunan pegawai pemerintah, dia mantan kepala sekolah menengah kejuruan milik pemerintah. Di masa pensiunnya kini dia membuak bengkel dan kebun anggrek.  Saat menemukan Sayda itu, Martini tengah kehilangan anaknya yang pertama. Bersamaan dengan itu  Sofia yang baru mengalami kecelakaan sedang dioperasi untuk menolong bayinya.  Martini dan Sofia ditempatkan dalam ruang perawatan yang sama. Di saat Sayda lahir, anak Martini yang telah lahir selama beberapa hari meninggal. Sofia hanya mempu bertahan selama seminggu semenjak persalinannya. Sebelum meninggal, Sofia sempat menitipkan anaknya pada Martini dan Effendy Handoko. Dia sempat  menandatangani surat persetujuan adopsi juga beberapa surat pernyataan yang disaksikan petugas medis di rumah sakit itu. Setelah kematian Sofia, anaknya dirawat oleh martini dan Effendy. Lima tahun kemudian. Martini kembali hamil dan melahirkan anak lelaki, dia kembali melahirkan anak lelaki dua tahun sesudahnya. Kehidupan mereka sederhana dan bahagia. Effendy dan Martini membesarkan anak Sofia dengan penuh cinta dan mendidiknya dengan baik. " Jack menarik nafas dalam.  " Kamu berhutang banyak pada pasangan Effendy dan Martini karena mereka telah meerawat dan menjaga keponakanmu dengan sangat baik Ben. Saya berusaha mencari tenaga medis yang menolong persalinan Sofia, namun juga tidak mudah.  Seorang dokter dan dua perawat yang menolong sudah meninggal dunia. Namun akhirnya saya bertemu dengan bidan dan perawat lain yang juga ikut dalam operasi Sofia dan mengetahui saat kematiannya serta wasiat untuk menyerahkan anaknya pada Martini dan Effendy. Mereka sedang magang di rumah sakit itu saat Sofia melahirkan dan dari sanalah aku berhasil mendapat alamat Effendy dan Martini karena  ternyata mereka masih berhubungan baik. Sayda saat ini telah bekerja di perusahaan konstruksi milik Takeshi Fleming. Anak itu berhasil lulus dengan predikat c*m laude dari jurusan akuntansi di universitas nasional Lioness dan langsung diterima di perusahaan milik Takeshi. Setahun kemudian dia mendapat beasiswa kembali mengejar magister public relation di Turmen dan lulus juga dengan peringkat terbaik. " Benjamin Kobayshi tersenyum mendengar penuturan Jack Fasili.   " Aku tak sabar ingin menemuinya Jack," ucap Ben sambil tersenyum, sesuatu yang jarang dilakukan oleh Benjamin Kobayashi.   " Jangan gegabah Ben, saya tidak mau kamu merusak semua usahaku. Saat ini Sayda belum mengetahui kalau mereka bukanlah anak kandung Effendy dan Martini. Walaupun semua orang pasti dengan mudah dapat menebaknya. Hazel kehijauan adalah warna iris mata Sayda yang berbeda dengan orangtua angkat dan saudara-saudaranya yang lain, begitu pula dengan bentuk hidung. Kedua saudara dan orangtua angkat Sayda memiliki lesung di pipinya tetapi Sofia tidak. "" Aku juga menemukan fakta jika golongan darahnya langka, AB negatif. Sama persis dengan milik sebagian besar keluargamu kan? Aku yakin tanpa tes DNA sekalipun kalau dia adalah anak dari Sofia Ivory Kobayashi, kakakmu." Ben Kobayashi tersenyum lebar.  " Anak ini benar-benar mirip dengan kakakku Jack, tak dapat diragukan lagi. Aku akan segera memberitahukan kedua orangtuaku di Manduras."   " Oh ya  Jack, ada dimana gadis itu sekarang?" ben mengalihkan pandangannya dari foto ke lelaki yang ada di depannya. " Dia baru datang di Solis sebulan ini." " Maksud kamu dia di sini Jack? Di Yukari?" Mata Ben terbelalak dan Jack mengangguk. " Dia ditugaskan untuk menangani cabang perusahaan milik Fleming di sini bersama tiga orang temannya, salah satunya adalah Florina Morgan. " "WHAT?" Ben mengangguk dan tersenyum penuh arti. Dia tahu betul apa makna nama Florina Morgan bagi Benjamin Kobayashi. Sema reaksi Ben saat ini memang sudah bisa dibayangkan dan diprediksi sebelumnya oleh Jack.   " Sekali berburu, aku bisa lansung mendapatkan dua target buruanmu Ben, Anak Sofia dan Florina Morgan. Takdir akhirnya berpihak kepadamu Ben." Mata Ben bersinar antusias. "Mereka berhubungan?"  " Ya. Florin adalah atasan Sayda, mereka bekerja di perusahaan konstruksi milik Fleming. " " Mengapa aku tidak pernah bertemu keduanya ya Jack. Aku sering bertemu dengan Fleming bahkan rapat dengannya, namun tidak pernah bertemu mereka." " Mereka bekerja di perusahaan konstruksi Fleming di Argatan, Ben." " Ohh... aku sering ke Argatan tapi memang tidak pernah mengunjungi kantornya. Ya Tuhan, betapa mereka sedekat itu tapi aku tidak menyadarinya. " " Nah, ketemu jawabannya kan."  " Oh Jack, bisa kamu atur pertemuan bersama dia?" Jack menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat." Sayda kini baru mendapat promosi jabatan kepala sub divisi dan ditempatkan pada divisi marketing. Aku pikir kelanjutannya kamu bisa atur sendiri, Ben. "  Ben tersenyum penuh arti. " Terima kasih banyak atas bantuanmu Jack. Aku akan mentransfer uang ke rekeningmu sebentar lagi. Tolong awasi Sayda dan Florina dengan ketat. Aku mau tahu aktivitas mereka di sini." " Baik terima kasih Ben, senang bisa membantumu."   *******   Seorang wanita cantik dengan rambut di sanggul ke atas baru saja turun dari mobil putih. Dia tampak menghela nafas sebelum berjalan anggun memasuki ruangan utama restoran itu. Dia tampak memandang berkeliling dan menyadari bahwa semua meja telah terisi penuh, ada yang berpasangan atau keluarga. Seorang pria terlihat seperti pegawai restoran mendekatinya. " Apakah ada yang bisa saya bantu Nona?" " Ehm... saya datang memenuhi undangan tuan Benjamin Kobayashi yang telah reservasi sebelumnya. " Pria itu tampak mengeluarkan catatan di dalam genggamannya.  " Apakah anda Nona Sayda Arundati?" Tanya pria itu. " Ya, itu saya." " Mari ikuti saya Nona, Tuan Kobayashi sudah menunggu anda di atas." Sayda berjalan mengikuti langkah pria itu memandang berkeliling menilai dekorasi interior dan tata letak di dalam ruangan restoran yang sangat terkenal itu. Lantai dua dari restauran ini cukup luas tapi hanya diisi sedikit meja dan kursi, jaraknya pun berjauhan terkesan menjaga privasi pengunjung yang masuk ke lantai dua ini. Desain interior di ruangan ini jauh lebih megah. Ada sebuah piano di sana dan seseorang memainkannya dengan indah.  Sayda yang berpikir bahwa Ben akan menemuinya di lantai atas harus kecewa, karena mereka masih menaiki tangga lagi. Pria itu membawa Sayda ke rooftop. Ada sebuah taman kecil yang disemarakkan dengan lampu LED berwarna warni yang ditata indah dan menarik. Sebuah grup musik sudah hadir dan memainkan lagu romantis. Begitu melihat Sayda, Benjamin berdiri dari duduknya. Sayda mengucapkan terima kasih pada pegawai restoran tadi lalu berjalan mendekati meja dimana Ben berdiri.  " Selamat malam Tuan Kobayashi." Sayda mengangguk dan tersenyum. lalu menjulurkan tangannya. Ben menggapai tangan Sayda dan mencium punggung tangan nya layaknya seorang gentleman.   " Kamu cantik sekali Sayda." " Anda terlalu memuji Tuan. Sudah lama menunggu?"  " Tidak juga. Hem... oh ya kamu mau makan apa?"" Apa saja asal bukan udang, kerang dan cumi." " Kamu alergi? " " Ya, begitulah." Ben teringat akan satu hal, kakaknya Sofia juga memiliki alergi yang sama. " Mulai kapan alergi pada seafood?" " Sepertinya sih semenjak saya kecil. Ibu saya pernah cerita bahwa saya pernah dilarikan ke rumah sakit karena kejang setelah makan kerang sewaktu kecil dulu." " Hem... hidangan malam ini untungnya tidak ada seafood-nya." " Sebenarnya tidak semua makhluk laut saya alergi tuan, saya aman-aman saja jika makan ikan dan teripang. Hanya tiga hal itu saja yang bisa membuat saya mabuk." Ketika pelayan datang dan menuang sampagne, tangan Sayda mencegahnya. " Maaf, saya tidak minum alkohol. " Ben menatap lurus padanya. "Serius?"  " Ya, mohon maaf Tuan."  " Ah, tidak apa, tidak masalah. Ngomong-ngomong kamu tidak usah terlalu formal pada saya. Panggil saja nama saya Ben, seperti orang-orang pada umumnya. Saya ingin hubungan kita menjadi lebih akrab." Sayda terperangah. " Sepertinya kamu baru di sini?" " Ya tuan, baru satu bulan lebih." " Kamu betah bekerja di perusahaan milik Fleming?" " Ya Tuan sangat nyaman bekerja di sana, beberapa di antara mereka sudah seperti saudara sendiri." " Berapa lama kami bekerja di snaa Sayda?"  "Hampir lima tahun Tuan."  " Sudah aku bilang tadi kan, jangan panggil aku Tuan, kaku bukan bawahanku. Panggil aku Ben." Benjamin berkata tegas dan memaksa Sayda mengangguk. Seorang pelayan menaruh air mineral dalam gelas Sayda dan dia meminumnya." Sayda mendapati Benjamin tengah lekat menatap dirinya.   " Ada apa Tuan, eh maaf Ben?"  " Kamu mengingatkan saya pada seseorang, Sayda. Dia sangat mirip denganmu." " Pasti orang itu sangat spesial."  " Yah...tentu saja Sayda."  " Apa dia istri anda?" Benjamin tertawa.  " Aku belum pernah menikah Sayda." Sayda terdiam. Banyak pertanyaan berkacamuk dalam pikirannya.yang disisipi rasa takut. Benjamin Kobayashi menyimpan aura misterius yang sedikit menakutkan.  " Kamu tidak usah cemas Sayda,saya tidak akan menyakiti atau mengambil keuntungan apapun darimu. Selama kamu bersama saya, kamu aman. Saya tahu jauh di lubuk hatimu ada perasaan takut bukan? Itu karena kamu belum mengenal saya." Benjamin menarik nafas panjang.  " Sejak awal melihatmu di rumah Fleming beberapa waktu yang lalu, saya sudah tertarik denganmu. Saya ingin dekat denganmu. Tolong ijinkan saya berada dekat denganmu Sayda. " Sayda terpana.  " Maaf Tuan, eh Ben... saat ini saya belum bisa menjalani hubungan khusus dengan pria manapun. Saya hanya fokus dengan pekerjaan saya saja. Saya belum siap menjalin hubungan khusus. Maafkan saya." Gantian Benjamin yang melongo dan tergagap.  Hatinya berbisik, sepertinya gadis ini telah salah mengartikan perkataannya.  " Sayda, saya tidak menuntut kamu menjadi kekasih saya. Saya hanya ingin kita bisa dekat saja tanpa status. Saya akan serahkan mega proyek ini ke kamu dengan satu syarat, kamu yang harus terjun langsung menangani masalah ini dan tolong jangan menghindar dari saya. Jika saya butuh kamu, bisa kan kamu menemani saya." Kening Sayda berkerut, kalimat terakhir bisa memiliki makna ganda.  " Menemani yang bagaimana menurut anda?" Benjamin mengangkat kedua bahunya.  " Ya menemani saja. Sekedar makan siang, dinner atau sarapan bersama, olah raga bersama atau kita berlibur bersama. Bagaimana?" Sayda terdiam, terlihat sedang menimbang dan menilai.  " Saya tidak berharap lebih. Kita menjalani kehidupan layaknya sahabat dekat Sayda, tidak lebih dari itu." Ben berkata seperti mengetahui apa isi pikiran Sayda. Sayda terdiam. " Bagaimana, kamu setuju?" " Ehm....ya, saya setuju." Ben tersenyum sumringah, sesuatu yang jarang dia lakukan. Lelaki itu meyakini, jauh di sana Sofia akan mendukung apa yang dilakukannya.   Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD