Agunan Cinta

2500 Words
Malam ini dikuasai purnama seutuhnya, bersinar benderang menerangi malam. Di luar kamar cottage yang Sayda tempati ramai orang bercengkrama, berbincang santai. Alunan live musik yang berdentam menghangatkan malam. Sayup-sayup masih derai tawa puluhan orang dan koor menyanyi bersama masih terdengar jelas menyapa telinganya. Tak lama kemudian, suara ketukan di depan pintu kamarnya membuat Sayda menegakkan kepalanya dari mengalihkan perhatian dari layar laptopnya. " Siapa?" " Aku, Ramdan." Sayda mengangkat sebelah alisnya , beberapa detik kemudian dia menekan tombol dan pintu kamarnya pun terbuka. Wajah Ramdan yang tersenyum dan mengangkat bungkusan  makanan yang diacungkan di depan wajahnya muncul di hadapan. " Kamu belum makan kan? Ini aku bawakan makanan untuk kamu. “ Aku belum lapar Dan," ucap Sayda sesaat sebelum menekuri laptopnya kembali. “ Tapi kamu harus makan Dida.” “ Iya, tapi nanti Dan. Ini juga masih sore, aku biasa makan malam jam sembilan nanti.” Sayda masih asyik menarikan jemarinya mengetik pada keyboard laptopnya. Ramdan berdiri mengambil piring, sendok dan garpu lalu megeluarkan makanan yang ada dalam bungkusan yang di bawanya. Semua diletakkan di piring dan dijulurkannya ke depan Sayda menghimpit keyboard laptopnya. “ Issh... apa-apaan sih kamu Dan? Aku lagi ngejar target nih.” Decak Sayda dongkol. “ Kamu Cuma makan sedikit siang tadi, lalu sore asyik bermain dan berenang bersama Titan. Kamu boleh marah tapi jangan menyiksa diri sendiri. Ayo makan.” Sayda mendecak kesal, dirampasnya piring dari tangan Ramdan dengan kasar. “ Puas?” Ucap Sayda sambil mendelik ke arah Ramdan. Sementara Ramdan terkekeh pelan. “ Di luar ramai banget, itu banyak banget orang dansa dan menyanyi padahal mereka sudah jadi opa dan oma. Mereka bahagia berkumpul dengan teman, keluarga dan handai taulan. Tahu banget bagaimana menikmati hidup, masa kamu yang masih muda nggak mau menikmati hidup?” Sayda menghela nafas dengan berat.  “ Masa kamu nggak tahu kalau hidupku sedang kacau? Kamu ingin aku bangkit kan Dan? Makanya aku butuh kesibukan sebagai pengalihan perhatian dan pikiran supaya tidak terfokus ke kejadian  yang lalu.” Sayda mengucapkan dengan nada dan sorot mata yang sinis. Ramdan mengusap belakang lehernya.  “ Aku numpang nonton bola di kamarmu ya. “ Ucapnya sambil mengambil remote TV dan menyalakannya lalu menyandarkan bahunya di sofa.  " Memangnya di kamarmu nggak ada televisi apa Dan?" " Ya ada sih, tapi kan nggak seru nonton sendirian, " jawab Ramdan acuh. Suara telivisi sibuk menayangkan pertandingan bola. Sesekali Ramdan terlihat mengomel, memuji dan berteriak, namun Sayda tak terpengaruh. Dia tetap asyik dengan kegiatannya sendiri dengan laptop dan berlembar-lembar berkas di sampingnya. “ Da, kentang goreng sama steiknya nggak kamu makan lagi?” Tak berapa lama Ramdan berkata lagi. “Nggak, aku udah kenyang Dan.” “ Buat aku ya?” Sayda mnegangkat wajah dari berkas yang tengah ditelitinya. “ Dasar gembul. Abisin nih.” Ramdan nyengir menerima luran piring dari Sayda. Sebentar saja dia sudah habis menandaskan sisa makanan di atas piring. “ Dida...” “Apa?” “ Apel, pier sama jeruknya nggak dimakan?” “ Masih laper Dan? Ambil dah.” Sekali lagi Ramdan tersenyum senang. Beberapa saat mereka terlena dengan kegiatannya masing-masing. “ Jadi ini yang kamu kerjakan? Ini masih kejauhan Da..” Sayda tersentak menyadari Ramdan sudah ada di belakangnya dan berbicara cukup dekat dengan telinganya. “ Siapa bilang masih jauh. Lusa aku dan Bu Florin akan berangkat ke Cheiz mepresentasikan proyek yang akan diajukan ke dua perusahaan di sana.” “ Iya, aku masih ingat Sayda, aku kan juga masuk dalam tim bersama Pru, masak kamu lupa?” “ Lalu kenapa kamu tidak membantuku malah asyik menonton bola dari tadi?” “ Kamu kan butuh pengalihan perhatian, nanti kalau aku bantu pekerjaan cepat selesai dan kamu sulit cari pengalihan lagi. He..he..” Ramdan menjawab sambil menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. “ Eh, apa kamu bilang tadi Dan? Kita pergi bersama Pruistin?” “ Yups. Kenapa?” Tanya Ramdan balik kepada  Sayda yang terpaku bengong. “ Ehm...nggak apa-apa.” Sayda beralih kembali mengambil berkas yang ada di sampingnya lalu mulai meneliti kembali. Ramdan memperhatikan tingkah sahabatnya dengan seksama. “Dida... kamu nggak capek apa?” “ Belum ngantuk Dan. Nanti kalau aku ngantuk, baru berhenti. Kenapa, kamu udah ngantuk ya? Balik ke kamarmu sana!” “ Iiihh...aku diusir.” “ Memang iya,” jawba Dida acuh. " Jahat.." " Biarin.." Dani merengut dan Sayda tertawa geli. “ Da keluar yuk temani aku cari makanan.” “ Steik hampir dua porsi, kentang goreng dua porsi, buah belum bikin perutmu kenyang gembul?”Dani terkekeh dan menggeleng.  " Ayolah Da..." " Dan, aku tuh kayaknya males banget deh jalan di keramaian gitu. Setiap keluar mesti aja dikejar Barry. Haah...aku sumpek ketemu sama dia." Ramdan tertawa menanggapi ucapan Sayda. ‘ Tapi tadi sore kan nggak apa-apa toh. Ayolah ini udah malem, sebagian orang sudah masuk ke kamar masing-masing. Aku kepingin makan mie goreng tammy. Mau ya Da.” “ Oke lah.” Ramdan tersenyum lebar.   Deburan ombak dan desiran angin laut menyapa mereka begitu melangkah keluar cottage menuju resto dan cafe. Lamat-lamat masih terdengar alunan musik dari panggung kecil yang menampilkan band lokal.  Kerumunan orang yang duduk di pinggir pantai dan menikmati live musik sudah jauh berkurang. Sayda dan ramdan melangkah tanpa bersuara. Keduanya tengah menikmati suasana malam yang syahdu. Sayda mengikuti langkah Ramdan memasuki ruangan restaurant yang cukup semarak, tak banyak orang di sana. Ramdan memilih meja yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Mereka duduk berhadapan tanpa banak bicara, Sayda asyik memainkan jemarinya pada layar sentuh ponsel miliknya. Ramdan mengangkat tangan menyuruh pelayan untuk mendekat. “ Saya pesan mie goreng tammy dan kopi hitam satu.”Pelayan segera mencatatnya. “ Kopi hitamnya dua ya Mbak,”sela Sayda. “ Jangan! Berikan dia teh camomile saja,”protes Ramdan “ Ramdan...” Sayda mendecak kesal ke arah sahabatnya yang sok protektif. “ Kamu makannya sedikit dan kurang istirahat Sayda, masih mau ditambah kopi lagi?” Ramdan mulai mengomel dan Sayda terpaksa menurutinya dengan wajah cemberut. Berdebat di tempat ramai rasanya kurang pantas, karenanya Sayda memilih untuk menuruti kemauan Ramdan. Pesanan mereka datang dan keduanya menikmati hidangan yang disajikan dengan sesekali mengobrol dan saling melemparkan ejekan, walaupun demikian keduanya tidak merasa sakit hati. Sayda menghindu aroma camomile yang menguar dari dalam cangkir tehnya kemudian menyesapnya sedikit demi sedikit. “ Teh ini enak banget. Besuk beli ah.” “ Kataku juga apa, kamu suka kan?”  “ Iya Dan, aku...” “ Dida... Sayda? “Suara wanita menghentikan ucapan Sayda.  Sayda memalingkan kepalanya pada sumber suara itu. Belum sempat otaknya mencerna apa yang dalam penglihatannya, wanita paruh baya itu sudah memeluknya erat. “ Ya Tuhan...akhirnya aku bisa bertemu dan memelukmu lagi Nak. Kamu nggak tahu betapa Mama merindukanmu.” Tubuh Sayda mematung mendengarnya. Beberapa saat kemudian dia seolah tersadar. “ Mama Nisrina? Kok Mama ada di sini?” ucap Sayda terbata-bata. Wanita itu “ Iya Nak, adanya kita perlu berbicara sekarang. Mau kan?” Tanya wanita itu. Sayda berpaling menatap Ramdan yang ada di hadapannya untuk meminta pertimbangan.  Keduanya saling melempar tatap seolah berbicara dengan telepati. Ramdan kemudian mengangkat tangan dengan sebelah alisnya seolah memberi jawaban “ terserah kamu aja.” Sayda bangkit dari tempat duduk lalu menatap Ramdan sekali, ragu menyisip dalam benaknya. Antara menginginkan pengawalan Ramdan agar ikut dengannya, namun melihat sahabatnya itu tengah asyik menyantap makan malamnya, dia tidak tega dan mengurungkan niatnya. “ Kamu tunggu aku di sini ya Dan.” Ramdan mengangguk. Nisrina merangkul Sayda dan menuntunnya keluar resto. Sayda masih berbalik dan menatap Ramdan sekali lagi, namun Nisrina segera menariknya secara halus. ‘ Siapa pria itu Sayda?” “ Teman kantor Sayda Ma. Kami ke sini menemani atasan kami dan keluarganya.” “ Hem..”  Nisrina menggiring ke cottage paling besar. Pintu masuknya langsung terbuka begitu mereka sampai. Ruang tengah yang lebar dan megah langsung menyapanya. Beberapa orang yang ada di ruangan itu langsung berdiri begitu mengetahui Nisrina datang dengan menggandeng Sayda. “ Bener to Mbak apa yang aku ceritakan tadi. Yang aku lihat di kolam renang itu memang betul Dida.” Suara seorang wanita yang menyambut mereka dan dengan erat memeluk Sayda.  Dia adalah Ratih Latief, adik ipar dari Nisrina, ibunda dari Pruistin Latief. Pru langsung berlari dan mendekap Sayda sahabatnya. “ Ya ampuun Da, kamu membuat kami cemas,” ucap Pruistin. Semua orang mendekati mereka. “ Pru biarkan Sayda duduk dulu.” Suara berat Dharmawan Latief, ayahnya. Sayda menuruti kemauan  Dharmawan. Seorang pria berdehem, kini pusat pandangan beralih padanya. “ Sayda bagaimana kabarmu?” “ Baik Pa.” “ Syukurlah. Mungkin ini sudah takdir kita dipertemukan di sini.” Ucap Pasya Latief penuh wibawa. Pasya Latief menghela nafas berat. “ Sayda, kami telah mengetahui apa yang terjadi antara kamu dan Barry. Saya sangat marah pada Barry.  Juga sangat kecewa dan menyesal Barry melakukan pengkhianatan itu di depan kamu. Kami benar-benar paham perasaan kamu dan sikap kamu menghindari Barry. Untuk itu sebagai ayahnya, saya minta maaf  atas kesalahan anak saya. “ Pasya berbicara dengan sangat hati-hati dan suara yang berat.  Suasana menjadi hening dan semua mata tertuju pada Sayda. Sayda sejak tadi memperhatikan dengan seksama raut wajah Pasya Latief ketika berbicara, terlihat jujur dan tidak ada rekayasa di sana. Sayda berdehem. “ Papa, Mama, Tante, Om, Kak Radi dan Pru... saya sudah memaafkan Kak Barry namun saya tidak bisa bohong kalau saya masih kecewa dan sakit. “ Lehernya seperti tercekat, lintasan-lintasan kejadian pengkhianatan itu muncul dalam benaknya dengan sendirinya. Aneka perasaan melanda perasaannya Sayda menelan ludah dengan susah payah untuk melanjutkan kalimatnya. “ Tapi Sayda belum bisa melupakan kejadian itu Pa, Ma. Jadi... Sayda memutuskan untuk tidak bisa melanjutkan hubungan pertunangan ini lagi. Mohon maaf...” Sayda mulai terisak. Pruistin dan Ratih, mamanya memeluknya bergantian untuk meredakan tangisnya. “ Lihat Sayda, kamu sudah mendapat cinta dan kasih sayang yang tulus dari keluarga ini. Bagiku, kamu sudah seperti anak kandungku sendiri,” ucap Pasya Latief. “ Sayda, anakku Barry bukan malaikat, dia cuma manusia biasa yang tidak pernah lepas dari khilaf dan dosa. Di hatinya cuma ada kamu kekasihnya tidak ada yang lain. Dia pun terpukul dengan kejadian itu Nak. Jangan salahkan semua pada Barry akan kejadian kemarin.  Aku ibu kandungnya tidak pernah mengajarkan hal b***t  itu kepada anakku. Aku minta maaf padamu Sayda. Yang aku tahu anakku sungguh-sungguh cinta kamu, tidak ada yang lain dalam hati dan pikirannya. Percayalah padaku Dida...” Nisrina menangis. “ Ma... mohon maaf, Dida sepertinya tidak bisa kembali pada Kak Barry lagi. Mohon maaf Ma.” Yang terdengar dalam ruangan itu hanya isak tangis beberapa perempuan di sana. Mendung tebal menyelimuti ruangan itu, rupanya.” “ Dida sangat menyayangi Papa dan Mama. Terima kasih sudah menganggap Dida sebagai bagian dari anggota keluarga ini. Selamanya Dida akan tetap sayang dan mencintai kalian. Tapi mohon maaf sekali, Dida belum bisa kembali pada Kak Barry. Dida belum bisa melupakan kejadian itu. Dida sudah memaafkan semua kesalahan kak Barry, Ma. Tapi untuk kembali pada hubungan kami yang dulu rasanya sulit.” Ucap Sayda di tengah tangisnya. “ Sayda, kalau kamu butuh waktu menenangkan diri, jauh dari Barry untuk menjernihkan pikiran kami bisa mengerti dan memahami alasan kamu. Tapi Om berharap kamu jangan pergi dari sisi Barry. Dia juga terluka Nak, sama seperti kamu.”Suara Dharmawan kembali terdengar. “ Apakah selama ini kebaikan, perhatian, cinta yang Barry berikan untuk kamu, bisa kamu abaikan? Pikirkan apa yang sudah dilakukannya untuk kamu selama ini. Pikirkan rasa kecewa dan sedihnya dia ketika kamu memutuskan untuk menunda pernikahan kalian dengan alasan karier. Apa kamu pikir dia tidak di posisi yang sama dengan kamu saat ini? Kamu nggak akan kehilangan dan kekurangan apapun jika saat itu kamu mau menikah dengannya.” Ratih Latief mencoba membujuk.  “ Maafkan Dida Tante...” “ Sayang, jangan putuskan hubungan pertunangan ini secara sepihak. Kalian sudah sama-sama dewasa, cobalah untuk berbicara menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Tante tahu hati kamu masih panas dan bisa merasakan  sakit yang kamu alami. Tapi berusahalah untuk berpikir jernih. “   Sayda menangkupkan tangan menutupi wajahnya.  Ratih mengelus punggung Sayda dengan penuh kasih sayang, sementara Pruistin menggenggam tangannya erat. Setelah beberapa saat, Sayda perlahan bangkit dari duduknya.  “  Sayda mohon maaf pada Papa, Mama,Om, Tante dan Kak Barry semua karena telah mengecewakan semua, maafkan tingkah laku Dida selama ini yang membuat kalian sedih. Mohon maaf sekali lagi kalau sekarang pun Dida masih belum bisa memenuhi keinginan keluarga besar ini. “ Derai air mata membasahi pipi gadis itu. Nisrina yang juga bersimbah air mata menabrak gadis itu dan memeluknya.  “ Ya Tuhan Dida... kami sangat menyayangimu Nak.” Sayda menangis dengan keras lalu membalas pelukan  Nisrina.  “ Ma..Dida juga sayang sekali sama Mama.” “ Kalau begitu jangan pergi dari sisi kami, sayang.” Nisrina merenggangkan pelukannya. “ Ma... tolong mengertilah.” Sayda berkata lirih. “ Sayda butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri Ma, biarkan dia pergi.” Pasya berkata pada istrinya. “ Maaf Ma, Permisi...” Sayda membalikkan badannya lalu mulai melangkah menuju pintu. “ SAYDA...” Suara berat Pasya menghentikan langkahnya. “ Kamu senang dengan tempat ini Nak?”  Tanya Pasya yang membuat Sayda mengerutkan keningnya. Wajahnya penuh tanda tanya.  “ Cottage dan taman hiburan ini akan menjadi milik kamu dan silahkan kamu kelola dengan syarat kembalilah ke sisi Barry.” Sayda terbelalak kaget. Dia diam membatu untuk beberapa saat.  “ Terimalah Nak,” Suara Ratih Latief menyadarkannya.  “ Pa, itu terlalu berlebihan. Papa dan Om tidak perlu melakukan hal besar itu untuk saya. Mohon maaf sekali lagi Pa, Dida tidak bisa menjanjikan apa-apa. “ “ Itu bukti kalau kami menyesal dengan tindakan Barry dan sangat menyayangi kamu Sayda,” Ungkap Radium Latief yang sejak tadi hanya diam dan mengamati pembicaraan mereka. Sayda menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Mohon maaf Kak, Mohon maaf...Maaf., Permisi.” Wajahnya memerah, dengan cepat dia berbalik dan segera berlari meninggalkan ruangan itu. Semua orang terpana dan menyadari satu hal, Sayda adalah wanita yang punya pendirian kuat dan bukan yang mudah dirayu dengan materi.   Sayda berlari kencang sembari menangis hingga suatu gerakan kuat menghentikan langkahnya. Dia hampir jatuh namun seseorang meraihnya. “ Hei..ini aku. Kamu kenapa? Tadi saat pergi kamu baik-baik saja, kenapa sekarang nangis lagi?” Sayda menahan isak tangisnya. “ Sudah aku katakan dari tadi kan Ramdan, aku malas keluar tapi kamu tetap aja memaksa.” “ Lha trus kenapa?” “ Aku disidang di keluarganya Kak Barry Dan. Mereka bahkan menyogokku untuk memberikan tempat ini jika aku mau kembali ke sisi Kak Barry kembali. “ Pecah sudah tangis Sayda. Ramdan yang terpana kemudian memeluknya, tapi Sayda menolaknya dan memukuli d**a pria itu. “ Kamu kenapa sih Da?  Yang sidang kan keluarganya Barry, kenapa juga aku yang dimarahi dan dipukuli?” “ Ya karena kamu yang ajak keluar akhirnya aku bertemu dengan Mama Nisrina.” “ Itu takdir namanya Sayda.” “ Itu namanya sial Ramdan. Aku kayaknya selalu mengalami kesialan kalau keluar dan jalan sama kamu deh. “ “ Iih...kok bisa gitu sih? Mungkin kamu kurang sedekah kali Da.” Sebuah teriakan  mengiringi gerakan Sayda yang mencubit pinggang Ramdan bertubi-tubi. “ Ampuunn...Ampuunn Da...Ya Tuhan pedes .... sakit banget Dida.” Teriak Ramdan menghalau serangan Sayda. “ Ya sudah...sudah..cukup Sayda. Oke sekarang apa yang harus aku lakukan? “ Sayda menghentikan aksinya dengan wajah cemberut. “ Kamu bisa ceritakan, apa yang terjadi sebenarnya? Siapa tahu kau bisa bantu lho.” Sayda berjalan dan duduk  di bangku panjang dekat lampu menghadap laut. Ramdan mengikuti dan duduk di sampingnya. Perlahan Sayda  menceritakan apa saja yang baru dialaminya pada ramdan. “ Jadi tempat ini milik mereka?” Tanya Ramdan yang dijawab dengan anggukan Sayda. “ Dan mereka mengajukan agunan sama kamu?” Sayda menatap Ramdan tidak mengerti. “ Agunan?” “ Iya Sayda, agunan atau jaminan cinta agar kamu kembali pada Barrium Latief.” Sayda memukul lengan sahabatnya. “ Kamu tuh ada-ada aja Dan. Kayaknya aku nggak bisa deh melanjutkan liburan di sini lagi. “ “ Kenapa? Kamu mau ngapain, dan pergi kemana?” “ Pulang ke apartemenku dan melanjutkan kerja di sana.” “ Dida...nggak enak loh sama Bu Florin, dia melakukan ini karena peduli dengan kamu. Kamu tahu kan  dia selama ini seperti apa. Nggak bisakah kamu menahan diri dan mengikuti keinginannya. Dia punya maksud baik loh ke kamu.” Sayda menarik nafas panjang sembari memejamkan mata lalu menghelanya dengan kasar. “ Oke lah,” ucapnya pelan.   Malam kian larut dan mereka masih menghabiskan beberapa waktu di sana dalam diam.  Sementara di kejauhan ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan dengan tatapan mata curiga.                                                                                                   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD