Titania dan Ramdan

1307 Words
Tepukan pelan di punggungnya membuatnya menoleh ke samping. Florina berdiri di samping dengan kedua tangan yang saling menangkup bertumpu pada besi pada pagar balkon, sama seperti dirinya. Tatapan Florina lurus ke depan menikmati matahari yang berwarna jingga yang hendak turun ke peraduannya. Lama mereka menekuri pemandangan indah yang tampak di depan mata, sementara kesibukan jalanan ibukota saat jam pulang kantor yang begitu semarak di bawahnya. “ Barry datang menemuiku di kantor siang tadi. Dia menanyakan tentang keberadaan kamu. Dua hari kemarin dia selalu datang ke kantor untuk bertemu denganmu. “ Sayda tidak berkomentar, telinganya tetap terjaga menerima informasi apapun dari Florina. “ Saya tidak bisa mengelak lagi Sayda ketika dia menunjukkan video CCTV di loby apartemen. Jelas terlihat kalau aku yang menarik tangan kamu dan membawa kamu pergi. Dia menuntut untuk bertemu dengan kamu, dia mengancamku.” ujar Florina pelan. “ Apakah anda takut dengan ancamannya Bu?” Florina tersenyum miring, dia menatap Sayda lalu menggelengkan kepalanya. “ Sama sekali tidak, Sayda. Saya hanya berpikir mungkin ada baiknya kalian bertemu dan mebicarakan ini baik-baik. Jika mungkin tidak bisa diteruskan ya utarakan secara baik.” “ Tapi saya sudah mengutarakan padanya saat itu Bu. Saya ingin hubungan kami selesai sampai di sini.” “ Saat itu kamu masih emosi Sayda. Bicaralah secara dewasa, saat kondisimu tenang sehingga dia dapat menerima dengan baik.” “ Sepertinya sulit Bu. Ada perasaan eneg dan jijik hinggap dalam pikiran saya begitu namanya disebut. Terbayang adegan dia melakukan itu di depan mata saya. Mohon maaf Bu, saya tidak bisa. “ “ Dida...” “ Tolong mengertilah Bu Florin, sungguh saya tidak mau bertemu dengannya lagi. Lebih baik saya mengundurkan diri dari perusahaan daripada bertemu kembali dengannya. Malam ini saya akan membuat surat pengunduran diri.” “ Dida, maksud saya bukan seperti itu. Kamu tidak harus keluar dari perusahaan. Kamu salah satu andalan saya dan perusahaan banyak mendapatkan pekerjaan berkat usaha dan idemu yang cemerlang.” “ Bu Florin terlalu berlebihan, itu kerja sama tim, bukan saya saja.”  " Ya tapi otak dan motor penggeraknya dalah kamu, Sayda." Sayda menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat. "”Saya tidak akan memaksa kamu harus bertemu dengan Barry besuk atau lusa, Sayda. Perusahaan sedang menggodok persiapan untuk membuka cabang di luar negeri. Saya bisa mengupayakan kamu masuk dalam tim yang dikirim ke sana bersama Ramdan. Keinginan saya adalah sebelum kamu berangkat, tuntaskan dulu urusan kamu dengan Barry. Orangtuamu juga perlu tahu tentang masalah ini agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari.” Sayda masih terdiam. Florin mengamati sekeliling yang mulai gelap dan pemandangan lampu-lampu mobil yang merayap di jalan seolah menarik perhatiannya. Mereka saling diam untuk beberapa saat. “ Untuk sementara kamu tinggal dan bekerja dari sini tidak mengapa, Sayda. Saya juga tenang kalau kamu di sini. Di kantor hanya saya dan Ramdan saja yang mengetahui keberadaan kamu. Rumor yang beredar bahwa kamu akan resign setelah putus dengan Barrium Latief santer terdengar.” Sayda menganga menatap Florina. Bukan masalah berita tentang isu pengunduran dirinya bekerja di perusahaan yang menjadi fokusnya, melainkan sejak kapan Florina ikut bergosip dan memperhatikan sebuah rumor. Bukannya dalam kamus hidup Florina tidak akan pernah mempercayai rumor? Anggapan yang tidak ada dasar dan landasan data yang jelas. “ Nggak usah mangap seperti itu, nanti lalap bisa masuk, “ sindir Florina melihat ekspresi terkejut Sayda. “ Saya ingin kamu ikut saya dan Ramdan presentasi di Cheiz di dua perusahaan di sana. Mungkin saat weekend kamu bisa pulang kampung ke Delf menemui orangtuamu.  Sudah tidak jauh kan jaraknya dari sana?” Lanjut Florina. “ Rasanya saya hampir nggak percaya kalau yang tadi ngomong itu Ibu.” “ Lha trus kamu anggap apa saya tadi?” “ Malaikat berwajah ayu.” Gantian Florina yang mengerutkan kening sambil mencibir dan senyum penuh kesangsian. “ Ada berkas yang harus kamu periksa dan teliti, saya taruh di meja ruang tengah map merah dan hijau. Kamu bisa mengerjakannya nanti malam, tapi ingat jangan terlalu forsir. Kamu masih perlu banyak istirahat.” Florina menegakkan badannya lalu berbalik dan mulai melangkahka kakinya menjauhi Sayda. “ Bu Florin...” Seketika langkah florina terhenti. “ Terima kasih banyak Bu.”   *****    “Tante Dida...” Titan memelukku dengan kuat dari belakang. Gadis kecil ini ternyata menyimpan tenaga yang kuat juga. Sayda tersenyum, Diraihnya tangan gadis kecil itu ditariknya agar berputar ke hadapannya. “ Hallo sayang, kamu bikin Tante kaget aja. Gimana tadi di sekolah?” “ Tante, gambar yang Titan buat dulu ikut lomba,” ucap Titan bersemangat. “ Ikut lomba?’ “ Kata Bu Gulu gambar aku bagus sekali, nanti dikirim ikut lomba. Makasih ya Te, udah ajarin aku bikin gambar bagus.” Sayda tersenyum. “ Sama-sama sayang, itu karena Titan anak yang pintar.” Titania tersenyum lebar mempertontonkan giginya yang ompong dan pipinya yang gembul namun tetap terlihat lesung di pipinya membuat Sayda gemas. “ Te, sibuk ya?” “ Ya, begitulah... kenapa memangnya?” “ Ke bawah yuk beli es krim taro.” “ Titan suka es krim taro juga?” “ Iya. Tante juga suka.” “ Kamu sudah makan siang belum?” “ Sudah tadi di sekolah Te.” “  tapi kita pesan lewat aplikasi online saja ya biar di antar ke sini.  Giman, Titan mau kan?” Gadis kecil itu mengangguk. “ Titan ganti baju dulu ya Tante.” “ Eh Titan, mau es krim taro yang toppingnya apa?” “ Samain aja sama punya Tante. “  Suara bel dipintu berbunyi, Sayda segera berdiri namun suara Bik Nunik menghentikannya/ " Biar saya saja Non yang buka pintunya. " Sayda dan Titan berjalalan mengikuti Bik Nunik. " Titaannn..." " Om Dadan...." Titan berteriak dan langsung berhambur memeluknya. Om Dadan? Bisik Sayda dalam hati. Melihat tingkah mereka sepertinya hal itu bukan kali ini saja Ramdan bertemu dengan Titan, mereka terlihat akrab sekali.  " Ini Om bawakan Es krim taro dengan granul coklat dan kismis kesukaan Titan." " Kok Om Dandan tahu siih kalau Titan dan Te Dida mau pesan es krim taro?" " Tahu aja dong, kan Om Dadan temennya superman yang bisa tahu pikiran orang. He..he..he.. Eh, ini Om juga bawakan kue moci dan donat kesukaan kamu." Titan mengambil yang ada di tangan Ramdan dengan wajah berseri-seri. " Titan boleh makan es krim taronya kalau udah makan siang." " Udah dong Om. Di sekolah kan ada makan siang bersama baru abis itu pulang." " Ooh... kalau gitu boleh deh es krim taronya dimakan," ucap Ramdan. " Asyiikk...," seru Titan dengan girang. " Oh ya Titan, besuk kan libur. Tadi Mama kamu bilang kalian harus segera berkemas, dua hari ke depan kita menginap di Ocean Garden. Kamu mau ikut kan?" " MAAAUUU OM... Hore..." Titanisa melompat-lompat sambil bersorak kegirangan. Sayda mengirimkan kode kepada Ramdan meminta penjelasan. " Kamu juga harus bersiap Da." " Pekerjaanku masih menumpuk Dan, kayaknya aku di rumah aja deh sama Bik Nunik." " Kamu mau melihat bu Florina mendelik dan merepet?" Sayda melotot ke arah Ramdan. " Ya...terserah kamu aja sih." ucap Ramdan tak acuh. Sayda mencebik ke arahnya. " Kamu butuh suasana segar untuk menenangkan pikiran, Da. Please, kali ini bisa ikut kan?" " Yang bisa menenangkan pikiranku kalau tumpukan pekerjaanku itu bisa berkurang. Kamu tahu Dan." " Tante...Ayolah ikut, nanti kita bisa belenang lihat ikan-ikan kecil di laut bagus-bagus lho Te. Abis itu kita main jetski balapan sama Om Dadan. Iya kan Om?" " Siap... Titan mau dibonceng Tante Dida atau Om Dadan naik jetskinya?" " Tante Dida dong, kita kan pelempuan jadi powellengel," Ucap Titan cepat  membuat Sayda dan Ramdan tertawa geli melihat tingkahnya. " Udah lah Da, sekali-kali nyenengin anak orang napa." Sayda melirik sebal pada Ramdan.  " Iya..iya..." " Hore...Tante Dida ikut...Tante Dida ikut. Bik, Bibik, ayo bajunya Titan disiapin BIk. Jangan lupa bawa baju renang yang banyak ya Bik." Titania berlari sambil menarik Bik Nunik masuk ke kamarnya. Sayda tersenyum melihat tingkahnya. Kemudian dia berhadapan dengan Ramdan dengan pandangan menyelidik, disipitkan sebelah matanya bersiap interogasi. Ramdan yang menyadari hal itu membuang muka dan buru-buru mengambil gelas yang disuguhkan Bik Nunik tadi, kemudian meminumnya. " Ramdan, mengapa kamu merahasiakan hubungan kamu dan Bu Florina?"  Ramdan langsung tersedak begitu mendengar kalimat yang dilontarkan Sayda. Dia terus terbatuk hingga mengeluarkan air mata. " Dan, kamu berhutang jawaban ke aku loh. Ada apa antara kamu, Bu Florina, dan Titan? " Ramdan masih terbatuk.  " Apakah kamu ayah biologisnya Titan?" Ramdan melotot dan melemparkan bantal di sampingnya tepat ke wajah Sayda dengan keras. " Sinting kamu Da,"  umpat Ramdan dengan kesal. Sudah menjadi rahasia umum jika Florina memiliki putri tunggal dan belum menikah. ********                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD