Layangan Putus

2006 Words
Sayda tebangun ketika pintu kamarnya diketuk.  Gadis itu segera duduk tapi segera dipejamkan matanya lagi. Sensasi pusing yang sejalan dengan pandangan berputar mendera kepalanya.   Dia mencoba mengatur nafas dengan baik selama beberapa detik kemudian membuka mata dan beranjak dari ranjang. Pintu terbuka dan wajah bik Ninuk ada di  hadapannya." Non, di depan ada yang cari, lelaki namanya Ramdan. Katanya sih dia sudah dapat ijin ibu buat ketemu Non Dida."   Sayda memegang kepalanya lagi, masih terasa pusing." Iya Bik, bilang ke dia suruh tunggu sebentar. Saya mau mandi dulu."" Baik Non. Oh ya Bibik sudah menyiapkan sarapan di meja. " " Makasih Bik. Nanti saya ke sana." Bik Nunik mengangguk lalu meninggalkan Sayda yang bersandar di dinding sambil meremas kepalanya. " Hai," sapa Sayda melihat Ramdan duduk sembari memainkan ponsel di sofa ruang tamu. Pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum begitu mendapati Sayda di hadapannya." Oh Hai Dida, kamu nggak apa-apa?" Tanya ramdan. " Aku baik, makasih." " Tapi kamu pucat Da." " Itu karena aku pusing dan baru bisa tidur jam dua pagi tadi. " " Ooh... Kamu nggak mau duduk dulu?" Tanya Ramdan. Sayda cemberut terhadap Ramdan, semestinya dia selaku tuan rumah yang mempersilakan Ramdan untuk duduk, bukan malah sebaliknya. Seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Sayda, pria itu terkekeh. " Aku cuma mikir, katanya kamu pusing, tapi kok nggak mau duduk. Daripada kamu pingsan, jadi lebih baik aku suruh duduk dulu kan." Sayda menghempaskan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Ramdan. Ramdan terkekeh geli memperlihatkan gigi serinya yang putih dan rapih. " Nah, kalau begitu kan lebih baik. Setidaknya kalau kamu jatuh di tempat yang enak dan empuk, " ucap Ramdan tersenyum lebar melihat bibir Sayda yang tambah maju. " Nggak usah pamer bibir gitu Da, aku nggak minat buat cium kamu saat ini. " Sayda mengambil bantal kursi di sebelahnya dan langsung melempar tepat ke wajah Ramdan yang sudah meledak tawanya. " Kamu ada urusan apa di sini? Kalau nggak ada urusan lagi mending kamu pulang." " Cie..yang marah. Emangnya ini rumahnya siapa, kok main usir orang sembarangan." Ramdan mencoba protes. Sayda melotot dan pipinya bersemu merah. Ini kode keras kalau dia sudah dalam keadaan marah. " Oke..oke..oke..nona cantik. Tadi malam Bu Florina sudah menghubungiku untuk ke Victory Resto di bawah untuk ketemu klien. Setelahnya dia meminta aku mengantarnya ke apartemen kamu untuk mengambil beberapa barang. Tadinya aku heran, kok bisa tengah malam ke apartemen kamu ambil barang. Kan bisa sekalian besuk saja ketemu di kantor.  Ternyata saat kami sampai di sana aku lihat Barry duduk tertidur di depan pintu apartemen kamu. Kondisinya berantakan. Tadinya aku berniat membangunkannya, tapi dicegah oleh Bu Florin. Lebih kagetnya lagi dia membawa kartu akses dan masuk lalu memasukkan beberapa barang dengan dua tas besar yang sudah disiapkannya. " Ramdan menunjuk dua tas besar dan satu kardus yang terletak tak jauh dari tempat mereka duduk.  Ramdan menarik nafas panjang. " Sepanjang perjalanan pulang, lalu bu Florina menceritakan kisah sore kemarin kepadaku dan berjanji menyimpan rahasia ini juga keberadaan kamu di tempatnya. Sesuai prediksinya, kalau Barry pasti akan berusaha menemui kamu di apartemen. Nah, tadi pagi ...." " Aku nggak mau ketemu dia lagi, Dan. Aku butuh waktu menenangkan diri," potong Sayda. " Iya Sayda sayang, aku dan Bu Florina mengerti sekali. Kamu tahu apa yang aku lihat tadi pagi?" Pancing Ramdan. Sayda mengangkat sebelah alisnya tanda ingin tahu kelanjutan kalimat Ramdan. " Aku melihat Barry di parkiran mobil saat dia keluar dari lobby apartemen kamu dengan wajah pucat, lusuh, berjalan seperti orang yang kalah perang. " " Ngapain kamu balik ke apartemenku lagi?" " Masih ada barang yang tadi malam ketinggalan lupa dibawa. Tadi begitu sampai kantor, Bu Florin meyuruhku mengambilnya dan ini laptop, dan  sekalian barang-barang kamu di kantor aku bawakan. Siapa tahu kamu butuh." Sayda mengangguk dan menghembuskan nafas panjang. " Ini kartu akses apartemen kamu aku kembalikan. " Ramdan meletakkan kartu akses apartemen Sayda ke atas meja. Sayda memandang lama kartu itu. " Dida... asal kamu tahu, aku ada di pihak kamu. Kamu nggak usah ragu untuk minta bantuanku apa saja." Sayda mengarahkan pandangannya ke wajah Ramdan, mencoba menelisik lewat bola matanya. Sayda melihat kejujuran di sana.  " Makasih ya Dan." Ramdan mengangguk. " Kamu cantik, menarik, dan cemerlang, Da. Aku tahu dengan pasti banyak pria yang mengejar kamu, tapi kamu memilih setia pada Barry. Lupakan laki-laki b******n itu mulai sekarang, Da. Dia nggak pantas dapat cinta kamu. Dan kamu perlu tahu kalau aku selalu mendukungmu." " Thanks ya  Dan." " Aku mau kamu bangkit Da. Nggak perlu menangis lagi, Barry nggak layak buat dapat air mata kamu." Hening tercipta di antara mereka. " Kita keluar yuk cari sarapan," usul Ramdan memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka. " Kamu mau disemprot sama Bu Florin kalau bolos kerja?" " Aku udah ijin kok mau menemani kamu dan Bu Florin setuju." " Aduh Dan, kayaknya aku lagi malas kemana-mana deh. Aku pusing, terkadang seperti berputar semuanya. Rasanya pengen tidur aja. Mungkin lain kali aja ya." " Ya udah kalau gitu, kamu istirahat aja. Pengen makan apa gitu buat sarapan? Nanti aku belikan." " Nggak usah Dan. Makasih banyak deh, aku makan masakan Bik Ninuk aja." " Ya udah nanti siangan dikit aku jemput ya. Kita makan es krim taro yuk. " " Nggak tahu ya Dan,  aku nggak berani janji deh. Lihat sikon nanti aja." " Oke lah kalau begitu, aku balik kantor dulu ya." " Siip , hati-hati ya."   Sayda menarik nafas panjang dan bergerak menuju kamarnya. Dibukanya ponsel yang sudah semalaman dimatikannya. Puluhan panggilan dari nomor Barry, Pruistin, Mona dan Mama Nisrina.  Dia beralih membuka chat WA yang sudah mencapai ratusan. Malas rasanya membuka satu per satu.  Jarinya segera beralih ke icon kontak telepon. Dicari nomor kontak Barrium Latief  lalu menekan tulisan “ Blokir”.  Tamat sudah kontak Barry dalam ponselnya.   “ Non, sarapan dulu ya. Ini Ibu sudah bolak-balik menanyakan Non Dida sudah bangun dan sarapan atau belum.” Sayda mengangguk. “ Iya Bik, saya akan sarapan sekarang.”   *****   Sayda yang baru saja keluar dari gerai es krim membawa tiga cup ice cream di tangan kiri dan dua bungkusan besar berisi pizza dan donat di tangan kanan melenggang santai menuju  eskalator yang akan membawanya  turun ke lantai tiga tempat yang disepakati untuk bertemu dengan Ramdan sahabatnya. Dering ponselnya berbunyi nyaring lalu Sayda menekan tombol berbicara. “ Ya Dan, aku sebentar lagi nyampek kok. Apa ? Kenapa? Ooh.. kamu udah di parkiran? Ya udah, aku tunggu kamu dimana nih? Oh..oke, jadi aku disana aja nih....” “ Sayda ? Dida...?” Sayda menoleh dan tatapannya bertemu dengan sorot mata orang yang dulu sangat dicintainya. Mata itu masih penuh cinta. Sedetik kemudian Sayda tersentak  lalu memalingkan kepalanya . “ Maaf...saya buru-buru,”ucap Sayda bergegas bergerak menuruni eskalator dengan sangat capat sampai tubuhnya harus menabrak sebagian orang-orang yang cukup rapat berdiri depannya. Dua tangga terakhir dia bahkan melompat dan hampir terjatuh. Sementara di belakangnya suara Barry terus memanggil namanya berulang kali. Sayda terus berlari hingga sampai di lobby. Ditekan panggilan terakhirnya dan langsung terhubung. “ Dan...Ramdan...kamu dimana?” Ayo cepetan Dan...” “ Ada apa Da kok suara kamu ngos-ngosan begitu?” “ Dan, Barry...Barry...” “ Barry kenapa?” “ Barry ada di sini dan mengejarku.” “ Apa? Iya ini mobilku baru mau masuk lobby. Kamu dimana? “ Ramdani menoleh ke arah pintu masuk Victoria Mall dan melihat gadis memakai celana panjang hitam dan terusan panjang sampai ke  lutut berlari kencang membawa banyak bungkusan di tangannya. Di belakangnya dia melihat beberapa pria yang mengejarnya, salah satunya adalah Barrium Latief. Danny membuka pintu mobilnya. Sayda segera melompat masuk lalu menutup pintu, Ramdani mengaktifkan central lock dan dengan cepat menekan pedal gas. Mobil meluncur dengan cepat,  gerakan mereka sempat tertahan di pintu keluar karena antrian panjang dan bertepatan dengan jam pulang kantor. Ramdany mengaktifkan aplikasi pembayaran e-parkir miliknya dengan cepat. Barry sudah sampai di samping pintu Sayda dan tengah menggedor-gedor jendelanya. “ Sayda...Sayda... Tolong Sayda buka pintunya. Kita harus bicara. Tolong aku sayda, ini untuk terakhir kalinya. Aku akan menjelaskan semuanya. Tolong Sayda kita harus bertemu. Aku akan menjelaskan semuanya. “ Teriak Barry pada kaca jendelanya “ Ramdan...kenapa berhenti? Ayo cepat Ramdan...kita pergi. Aku nggak mau ketemu dia. Aku nggak sudi lihat wajahnya lagi.” Sayda panik dan menangis. “ Sabar Da...kita masih dalam antrian.” “ Ayo cepat Dan, ayo...kita pergi dari sini. Aku muak lihat wajahnya. Cepat Dan...Cepat...” Sayda setengah berteriak sambil menangis. Begitu palang pintu terbuka, Ramdan segera menekan gas dengan cepat dan mereka meninggalkan Barry dan teman-temannya. Lelaki itu menghela nafas, sebelah tangannya mengusap bahu Sayda. “ Kita sudah pergi Da...Tenanglah.” Dari kaca spion mobilnya dia sempat melihat Barry mengejar mobil mereka kemudian berhenti karena kelelahan. Raut putus asa tampak jelas di matanya. Dilirik sahabatnya yang tengah terguncang di samping. Sayda masih sesenggukan menangis dengan menutup wajahnya. Ramdan mengambil tissue dan dijulurkan ke depan Sayda. “ Dida... sudah aku bilang dari kemarin kan, Barrium Latief tidak layak mendapat curahan air matamu.” Sayda menengadah dan menoleh ke arah Ramdan. “ Dan... aku nggak mau ketemu dia lagi. Aku jijik melihatnya. Tolong berjanjilah satu hal padaku Dan, kalau kamu akan terus mendukungku dan jangan biarkan dia dekat denganku lagi.”  Ramdan melirik ke arah Sayda lalu berkata. “ Oke, aku janji. Kamu berhentilah menangis.”  Sayda terdiam, sesekali dia masih terdengar suara tarikan hidungnya dan terlihat Sayda mengelap wajahnya. Ramdan melarikan mobil sampai di pinggiran kota yang sepi. “ Kenapa kita berhenti di sini Dan?” “ Nanti juga kamu tahu. Ayo keluar!” Sayda menatapnya heran. “ Mau ngapain?” “ Nanti juga kamu tahu. Ayo keluar!” Ramdan yang sudah berada di luar membungkuk dan menyuruh Sayda keluar dari mobil. Dia mengambil semua bungkusan dan taruh di cap mobilnya. Sayda mengikuti dengan tatapan penuh tanda tanya di wajahnya. “ Aku lapar Da, juga haus. Kamu mau kopi?” Sayda menggeleng. “ Untuk sementara kita piknik di sini dulu ya. Lihat di atas sana sinar bulan yang hampir purnama bersinar terang. Langit yang cerah menampilkan tebaran bintang yang berkelipan semarak di angkasa. Sayang kita melewatkan pemandangan secantik ini,” Ramdan berkata dengan santainya. Dia menyesap kopi dalam cangkir kertas yang tadi dibelinya. “ Oh ya tadi kamu beli es krim taro kan? Sepertinya sekarang saat yang tepat buat menyantapnya sebelum meleleh. “ Sayda mengangguk dan membuka bungkusan es krim taro. Sayda selalu menyantap es krim yang berbahan dasar ubi ungu  dengan toping kismis dan granul coklat favoritnya jika dalam kondisi mood yang jelek. Mereka asyik menyantap minuman masing-masing. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari keduanya.”  Mereka ada di sebuah jembatan dengan dua jalur, satu jalur kendaraan roda dua dan empat dan satunya lagi adalah  rel kereta. Di bawah jembatan mengalir sungai yang jernih. Di kejauhan dapat terlihat lampu-lampu rumah penduduk yang berkelipan sangat indah. “ Aku selalu ke sini kalau sedang stress, menunggu sesuatu.” Ucap Ramdan memecah kesunyian di antara mereka. “ Menunggu? Menunggu apa?” Ramdan terdiam. Tiba-tiba terdengar suara peluit panjang dan sorot lampu kereta di kejauhan. Ramdan tersenyum dan bangkit berdiri. “ Nah, ini yang aku tunggu.” Sayda menoleh heran kepada Ramdan dan mengikutinya bangkit dari duduk. “ Ketika aku sedih, marah atau kecewa aku selalu ke sini Da. Aku selalu berteriak ketika ketika itu lewat. Kamu bisa coba,” terang Ramdan. Peluit berbunyi lagi dengan suara yang keras tanda posisinya semakin mendekat. Ramdan menggenggam tangan Sayda, menariknya untuk berjalan ke sisi bagian dari jembatan yang lebih dekat ke rel kereta. Genggaman tangan Ramdan di tangan Sayda semakin menguat dan tiba-tiba dia menyentak tangan gadis itu dengan keras. “ Ayo teriak, ikuti seperti yang kulakukan. AAAARGHHHH......... AAARGH.....AAARRRGH...” Ramdan berteriak bersamaan dengan kereta yang melintas di hadapan mereka. Hembusan terpaan angin yang cukup kuat mengenai wajah Sayda membuatnya mengikuti apa yang diinstruksikan Ramdan. Berdeua mereka berteriak hingga seluruh gerbong kereta suskses melewati keduanya. Keduanya berdiri saling berhadapan, Sayda menatap Ramdan dengan pandangan tak percaya. “ Bagaimana, lega kan?”  Sayda tersenyum dan mengangguk. “ Kamu sering melakukan ini Dan?” Dani tertawa dan mengangguk. “ Kamu mau lagi ?” Sayda mengangguk. “ Menyenangkan bukan? Stress release yang murah meriah. Dua puluh menit lagi kereta selanjutnya lewat sini.  Kita bisa mencobanya lagi.” Sayda mengangguk dan tersenyum lebar. “ Aku lapar Da, pizzamu aku makan boleh ya?” “ Tentu saja boleh Ramdan.”  Mereka  kembali berjalan beriringan menyeberangi jalan menuju mobil. Mereka kembali duduk di kap mobil sambil menikmati pizza dan dunat. “ Kamu tahu Da, saat melihat Barry berlari mengejar kamu dengan wajah frustasi begitu rasanya jadi ingat masa kecilku dulu. “ Sayda memalingkan wajkah ke arah Ramdan. “ Memangnya kamu ingat apa dari kenangan masa kecilmu dulu?” “ Ekspresi wajah Barry seperti anak yang kehilangan layangan kesayangannya putus waktu pertandingan adu layangan,”  ucap Ramdan sambil terkekeh pelan.   ****** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD