Chapter 5

1264 Words
“Aku ingin melihat tubuh telanjangnya. Memegang bahu dan perut kotak-kotaknya. Dia pasti sering olahraga,” kata Hera menerawang dengan kedua tangan seolah sedang menyentuh seorang pria. “Kau meneteskan air liur, Beauty,” tegur Helena. “Apa dia se-panas itu? Se-seksi itu? Kau pernah bertemu dengannya, Beauty?” Diana memasang mata besarnya. “Belum. Tapi akan. Segera.” “Dia menjadi pebisnis kondang sekarang. Selain pendiri Pallas Corporation, dia juga memiliki banyak gedung pencakar langit. Dia menjadi pemegang saham terbesar di dunia 3 tahun terakhir. Dan juga orang terkaya menurut majalah Forbes,” ujar Inanna. Hera mengangguk, membenarkan. “Pertambangan minyak bumi di Arab, real estate, belum lagi perusahaan database, perdagangan elektronik multinasional, dan hal yang kecil lainnya. Hampir 30% wilayah Amerika adalah gedungnya. Aku masih ingat moto hidupnya, work until you don’t have to introduce yourself.” “Terdengar ambisius. Sepertinya dia menikahi pekerjaannya,” ujar Helena ngilu membuat Venus terkikik.  Siapa yang bisa mengerjakan itu semua dalam satu tubuh? Bagaimana bisa satu orang mampu mengendalikan semua itu yang astaga... Helena tidak bisa berkata-kata lagi. “Dia seorang pebisnis sejati dengan uang yang mengelilingi langkahnya” Hera bergumam dengan kagum. “Dan juga memiliki limusin.” “Aku yakin dia juga memiliki helikopter dan kapal pesiar.” Inanna bergumam. “Dan ia lebih terkenal dari Justin Timberlake versiku.” “Well, aku masih heran. Apa untungnya membicarakan orang tua itu?” Hera memandang Helena agak lama, “Apa aku belum mengatakan jika si Pallas ini masih muda?” Helena terdiam sebentar lalu mengedikkan bahu. “Beauty sudah mengatakannya, Sexy.” Diana berkata. “Umurnya di bawah 30 tahun,” ujar Inanna. Helena menaikkan alisnya dan terkekeh. “Serius? Aku rasa kalian bercanda. Dari yang aku dengar kalian bercerita, mana mungkin pria muda bisa mendirikan gedung pencakar langit. Kecuali itu turun-temurun dari keluarga.” “Apa aku lupa mengatakan jika dia seorang investor terkaya di dunia? Dia pandai bermain uang. Sangat hebat.”  “Yang terpenting si Pallas ini sangatlah hot. Lebih hot dari-” “Dari Justin Timberlake. Aku tahu itu.” Helena berkata dengan jengah membuat mereka tertawa. “So, bagaimana dengan pacar barumu ini?” Tanya Hera mengalihkan topik. Dan semua mata menatap Helena dengan minat. Hera, Inanna, maupun Diana sudah tahu mengenai sikap Helena yang gemar menguras harta para pria. Tidak memiliki identitas, maka tidak ada pekerjaan yang akan kau hasilkan. Itulah yang terjadi pada Helena. Hidup di kota besar tanpa identitas sangatlah menakutkan. Namun Helena berjuang dengan keras. Dan juga dengan adanya bantuan dan dukungan sahabat-sahabatnya, Helena bisa melalui semua rintangan.Melihat kondisi Helena yang sekarang membuat mereka hanya bisa mendukungnya. Helena berdeham. Mencondongkan tubuhnya lalu berbisik. “Kaya, pastinya.” Venus terkikik. “Ayahnya merupakan pemilik hotel dan kondominium Plaza.” “Holy crap. Seriously?” desis Hera. Helena tertawa. “Yes. Tapi dia hanya seminggu di sini.” “Apa dia akan kembali ke Qatar?” Tanya Inanna berfikir logis. “Entahlah. Setidaknya dalam seminggu ke depan aku tidak mati kelaparan berkatnya. Tapi, tunggu- ada apa dengan Qatar?” “Pemilik hotel Plaza adalah Katara Hospitality, pemilik hotel terbesar di Qatar.” Hera menjawabnya. “Jadi apa yang akan kau lakukan jika dia pulang ke kampung halamannya?” “Well, aku sudah mendapatkan korban selanjutnya tadi pagi. Entah Dewi apa yang berada di pihakku hari ini.” Venus berseru. “Terlalu cepat…” Helena mengangguk. Mereka bercerita panjang lebar hingga melupakan waktu. Helena berpamitan dengan sahabatnya dan meninggalkan mereka.Setelah Helena pergi, Venus masih setia di tempat duduknya. Tidak ada yang berbicara. Semuanya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.  Diana berdeham sebelum berbisik, “Err... Apa dia masih takut dengan Matthew?” “Maybe...” jawab Hera. “Dia masih takut. Buktinya ia belum berani melepaskan beban di pundaknya,” Kata Inanna disambut helaan nafas Hera dan Diana. Hera menyandarkan tubuhnya di kursi, memijit pelipisnya yang sedikit pusing. “Menurut kalian, apa traumanya akan hilang?” Suasana kembali hening tanpa perlu menjawab pertanyaan Hera. *** Setelah memarkirkan mobilnya di pekarangan kediamannya. Helena memasuki rumah, mencari sosok wanita paruh baya yang sudah bekerja dengan keluarganya sejak ia kecil namun tidak ada. “Laurent.” “Ya, Ms. Helena,” jawabnya di belakang Helena entah dari mana datangnya. “Aku ingin bertemu daddy. Dan malamnya aku akan pergi.” Helena berujar seraya terus berjalan ke atas menuju kamarnya. “Baik, Ms.” Hanya butuh waktu 1 jam untuk Helena mandi sekaligus berbenah diri. Dan sekarang ia sudah duduk manis di belakang stir kemudi, membelah lautan kendaraan dengan ditemani suara Camila Cabello melantunkan She loves control yang mengihiasi keheningan audinya. Helena menepikan mobilnya di depan toko bunga Maria Florist, milik Ibu Diana. “Lily putih?” seorang wanita tua yang mungil menyambut Helena. Helena tertawa kecil, memeluk Ibu Diana. “Seperti biasa, Maria. Dan juga 1 buket baby breath.” Seakan paham, Maria mengangguk lalu ke belakang meninggalkan Helena. Sambil menunggu, Helena menghirup aroma bunga yang kelihatan segar di depannya.  “Ini dia, salamkan aku kepada ayahmu. Kau anak yang peduli dengan orangtua.” Maria memberinya dua buket bunga lily dan satu buket baby breath. “Pasti.”  Mereka berpelukan sebentar sebelum Helena melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Helena mengemudikan mobilnya menuju pemakaman yang hanya butuh waktu 20 menit. Sepanjang perjalanan ia membuka kaca jendela dan membiarkan angin menampar wajahnya. Dan sampailah ia di depan pemakaman keluarga Alexandras. Helena memasuki tempat pemakaman itu di mana terdapat dua nisan. Dia berjongkok di samping batu nisan dengan nama Ariadne Helena Alexandras lalu meletakkan baby breath di tengahnya. Mengusap batu nisan itu dengan sayang lalu berdiri.  Helena berjalan beberapa langkah dan berdiri di depan nisan yang satunya. Ia meletakkan satu buket lily putih di nisan yang bertuliskan nama Hillary Jenn Alexandras. Setelah meletakkannya, ia kembali berdiri di depan makam itu. Hanya berdiri menatap nisan tersebut tanpa mengeluarkan suara. Cukup lama ia seperti itu hingga kakinya mulai pegal. Helena tersenyum sekilas kepada nisan lalu membalikkan tubuhnya. Memakai kacamata gelap seraya berjalan meninggalkan tempat pemakaman. Setelah dari pemakaman, Helena langsung membawa audinya ke tempat Ayahnya tinggal semenjak 3 tahun lalu. Dari kejauhan, Helena sudah melihat Sophia, wanita berumuran 50an sedang berjalan menujunya dengan senyum sumringah. “Hi darling!” Sophia memeluk Helena. “Halo. Bagaimana kabar daddy?” “Seperti biasa.” Sophia mengedipkan matanya nakal membuat Helena terkekeh. “Kalau begitu aku harus menemuinya. Pria tua itu akan marah jika aku telat terlalu lama.” Sophia mengangguk antusias sebelum meninggalkannya yang kembali berjalan.Helena memasuki ruangan tempat ayahnya dan mendapati Max dengan seorang perawat tengah melakukan tugasnya. Max yang melihat kedatangan Helena langsung memeluk wanita itu. “Hai Helena, senang bertemu denganmu.” “Aku juga,” jawab Helena lalu mengganti bunga di dalam vas dengan buket lily. “Aku akan tinggalkan kalian berdua,” ucapnya sambil memainkan alisnya membuat Helena menggelengkan kepalanya, terkekeh. “Hai Daddy, bagaimana keadaanmu?” Helena menepuk kedua tangannya seakan bisa menghilangkan kotoran setelah menggeluti vas lalu duduk di samping Ayahnya yang terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa selang di tubuhnya untuk bertahan hidup. “Aku baru saja dari toko bunga Maria. Maria menitipkan salam untukmu. Lalu setelah itu aku pergi ke kuburan Mommy dan Nana...” Helena bercerita panjang lebar dengan Ayahnya yang sedang tertidur. Seperti tradisi, ia selalu menceritakan setiap menit yang ia habisi sebelum bertemu Ryan, Ayahnya. Diakhir cerita Helena tertawa. Beberapa detik kemudian tawanya menghilang digantikan dengan raut wajah sedih. Ia menatap Ayahnya yang terbaring dengan seperangkat alat medis seperti selang dan infus. Helena menunduk menggenggam tangan kanan Ryan. Mengangkat tangan itu sehingga bisa ia cium. “Aku harap kau cepat membuka mata indahmu, Dad.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD