Chapter 4

793 Words
Helena berlari memasuki café menuju ke meja Venus. “Hai Venus, maaf telat.” Helena melihat ketiga temannya yang mengelilingi meja bundar, mengangguk memaklumi. Mereka sudah paham siapa Helena. Wanita yang tidak pernah tepat waktu.Tak lama kemudian seorang pria manis berusia 20 tahun dengan memakai seragam pelayan café tersebut membawa menu, memo, dan bolpoin menghampiri meja untuk mencium pipi Helena. Namanya Simon. “Hi Sexy, telat lagi?” katanya sambil memberikan menu. Helena tersenyum manis. “Eggs benedict, french fries, and lemonade, please.” “Segera datang.” Simon mengedipkan mata kanannya membuat Helena tertawa kecil. Kemudian Helena menatap tiga wanita dengan keperawakan yang berbeda di depannya. Ada yang girly, casual, dan anggun dengan kemewahan yang tidak pernah lepas.Mereka berempat sudah berteman dari 9 tahun silam hingga sekarang. Dari lamanya pertemanan itu membuat mereka satu sama lain sangat mengenal luar dalam dibandingkan menilai diri sendiri.Dan tempat ini menjadi tempat langganan mereka semenjak beberapa tahun lalu. “So, bagaimana kabar para Christian's junior?” Helena membuka suara, menatap Inanna, wanita yang menelponnya tadi.  Wanita yang paling cerdas diantara mereka. Sampai semua guru saat masa mereka sekolah sangat mengenalnya. Bekerja menjadi kepala divisi di salah satumedia group stasiun televisi di New York. Memiliki kasus MBA yang menghasilkan dua jagoan lucu dan juga pintar sepertinya, atau karena gen si Christian Fuckin' Mckalle? Who's care? Intinya ia mempunyai dua jagoan yang sangat mengidolakan Helena. Menurut Helena, dengan otak yang Inanna punya, wanita itu bisa bekerja di kedutaan atau semacamnya yang berhubungan dengan Gedung Putih. Tapi dia tidak. Untuk masalah fashion, Inanna cukup casual, simple, dan nyaman untuknya. Inanna juga selalu menutup diri untuk pria. Ia selalu menggunakan cincin di jari manisnya supaya tidak ada pria yang mendekatinya. Dan ia akrab di panggil Clever.  “Helena...” Diana menegurnya dengan lembut seperti ingin menina-bobokan balita. Helena melirik Diana lewat bulu matanya. Wanita dengan senyum manis dan juga dengan segudang kepolosan yang melekat di tubuhnya. Terpendek diantara mereka, berambut coklat gelap. Dan ia bekerja menjadi guru TK. Sangat drama queen. Tapi dia sudah mempunyai kekasih yang sudah berjalan 1 tahun. Yup, wanita polos itu mendahului yang lainnya. Ada apa dengan kata polos? Cukup mudah untuk para manusia di muka bumi ini menebaknya jika berada dalam budaya Amerika. Untuk urusan fashion, ia sangat girlydan feminim dengan selalu memakai rok di atas lutut dan high heels setinggi heels koleksi Helena. Dan mempunyai panggilan Sweety di Venus. “Maaf. Jadi, apa kabar Aaron dan Raymond?” “Mereka baik-baik saja. Mereka ingin bertemu denganmu terus,” jawab Inanna. “Aku akan menemui mereka besok.” “Bagaimana keadaan ayahmu?” tanya Hera.  Wanita yang satu ini hampir sejalan dengan pikiran Helena untuk masalah fashion dan pria. Dia mempunyai karir yang cemerlang sebagai Presiden di perusahaan ayahnya yang pensiun. Tapi dia yang paling unik di Venus. Wanita yang tidak ingin mempunyai hubungan khusus. Bahasa halusnya, 'wanita bebas'. Dan ia mempunyai julukan sebagai Mother of Venus. Wanita itu selalu memikirkan Venus dari masih sekolah hingga sekarang. Dan saat 'kejadian Inanna'dulu, ia langsung menjadi over protective terhadap Diana. Helena dan Inanna pun melakukan hal yang sama karena mereka semua tidak ingin gadis kecil mereka dikotori pria b******n. “Seperti biasa,” jawab Helena seadanya dan mereka bertiga hanya menganggukkan kepala. Dan mereka adalah Venus. Empat wanita karir yang hidup di kota yang tidak pernah tidur, New York. Ponsel Helena bergetar menandakan pesan masuk dari Jules, wanita yang menjahit beberapa rancangannya. Ia membaca pesan Jules yang mengatakan pakaiannya sudah jadi dengan menyertakan beberapa foto dan Helena langsung membalas pesan Jules. Setelah itu Helena menyimpan ponselnya. Ia sedikit bingung saat melihat Venus yang sedang semangat bergosip. “Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya menarik.” “Hera mengajukan kontrak kerja sama dengan perusahaan terbesar di Amerika,” kata Diana terlewat antusias. Padahal yang ia ceritakan adalah Hera. “Perusahaan siapa?” “Pallas. Pallas Corporation,” jawab Hera. “Oohh. Aku yakin pria tua itu pasti akan menandatangani kontrakmu.” Hera dan Inanna tertawa terbahak-bahak seakan Helena i***t. Venus tahu bahwa Helena tidak tahu apa-apa tentang suatu usaha yang bukan bergerak di bidang fashion. Di dalam 'Venus', mereka akan bercerita apa yang mereka lakukan kemarin atau mendatang. Bila ingin ceritanya dilanjutkan, mereka akan berkata 'Red'. “Wow kau hebat, Beauty!” kata Diana dengan mata berbinar. “Oh aku lupa, RED!” “Aku baru mengajukan, belum tentu pria itu terima.” “Bila dia menolak penawaranmu, aku akan menidurinya hingga dia mau menandatangani kontrakmu,” kata Helena bercanda. “Ya, aku yakin sekali dia pasti mau,” kata Hera terkikik geli. “Apa dia seorang playboy?” Inanna menggeleng menjawab pertanyaan Diana. “Dia hanya memiliki isu kedekatannya dengan A, B, C, atau D. Tapi tidak ada pernyataan yang sebenarnya dari mereka. Dan yang aku tahu dia hanya memiliki 2 mantan kekasih seumur hidupnya.” Helena hanya mengatakan oh tanpa suara. Helena tidak tahu nama-nama pengusaha minyak bumi, real estat, pembangunan, transportasi dan lain-lain di New York, apalagi di dunia. Helena lebih mengenal desainer-desainer terkenal. Helena lebih suka mengoleksi gaun, tas, sepatu, aksesoris daripada kertas tebal yang isinya tulisan semua. Helena lebih suka menggambar 1.000 pakaian atau gaun daripada membaca 1.000 lembar kertas. Helena lebih suka menata rambut daripada menandatangani tumpukan kertas di meja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD