Apartment

1267 Words
Pagi-pagi sekali Natasya sudah bangun dari tidurnya untuk bersih-bersih diri setelah tidur lebih lama dari biasanya. Seperti rutinitasnya setelah mandi, dia akan menyapu lantai rumah dan menyiapkan sarapan ketika orang rumah belum terbangun. Hari ini katanya ia akan pindahan ya? Hmm jawabannya adalah iya. Semalam dia belum sempat menyiapkan koper berisi baju-baju yang belum sempat dia bawa yang hendak ia bawa ke Apartment Jeno untuk sementara waktu sebelum keduanya akan terbang bersama ke Ausstralia. Kurang dari seminggu dia dan Jeno akan tinggal di Apartment yang lokasinya 500 meter dari kampus mereka berdua yang ada di Indonesia. Sementara di Aussie, mereka sudah diberikan rumah beserta fasilitas lengkap di dalamnya apalagi Jeno juga diberikan sebuah mobil baru untuk dia gunakan berangkat ke Quennsland Technology of University bersama Natasya. Usai menyiapkan sarapan, dia pergi sebentar untuk membangunkan orang di rumah tersebut yang semuanya adalah laki-laki. Lucu ya hidupnya, Natasya yang merasa ketakutan terhadap laki-laki asing justru tinggal di rumah dimana dia sendirian satu-satunya perempuan yang ada di sana. Sebelum ke kamar Joan, Natasya pergi ke kamar mandi terlebih dahul. Di sana ia menyikap sedikit baju bagian atasnya yang memperlihatkan bekas kekerasan pamannya yang gila kepadanya yang melintang panjang. Dia menghela pelan, untung saja baju pernikahannya kemarin tidak menampakan bekas tersebut. Natasya kembali merapikan bajunya dan pergi ke kamar Ayahnya. Tok! Tok! Tok! "Ayah, bangun. Sarapan udah Asya siapin." Natasya mengetuk pelan pintu kamar Joan dan membuka sedikit pintu kamar tersebut. Saat dia mengintip sedikit untuk melihat apakah sang ayah sudah bangun atau belum, ternyata Joan sudah duduk di tepi ranjang dengan memasang kacamatanya. Pria yang sudah menginjak usia kepala 5 tersebut melihat anak perempuannya dan tersenyum, "Asya, kamu udah bangun ternyata." "Kan Asya juga biasanya seperti ini." "Hahaha iya juga. Ayah bakal kesepian disini kalau kamu udah pergi." Joan menghampiri Natasya yang berdiri di depan pintu dan mengacak pelan rambut anaknya yang terkuncir satu itu. Kenapa suasananya jadi makin sedih saja? "Ayah.." Natasya melirih, tidak sanggup jika hari ini dia akan meninggalkan rumahnya yang sudah dia tinggali selama 19 tahun. Tangan kanannya menutupi dua mata untuk menahan tangis. “M-maaf.. jadi melow gini suasananya. Asya gak bermaksud mau nangis di depan Ayah.” "Aduh maaf ya, Sya. Ayah gak bermaksud jadi gini.” Joan mengusap kapala Natasya. “Kamu mending bangunin Ageum aja gih, nanti dia kesiangan daripada telat ke sekolah. Ayah mau mandi dulu. Sekalian ajak Jeno juga." Natasya mengangguk. Dia memeluk ayahnya terlebih dahulu lalu mengecup pipi pria yang sudah berusia 54 tahun tersebut. Dia langsung menuju ke kamar Ageum yang di depan pintu sudah bertulisan 'kamar punya Ageum, jangan ganggu kalau lagi main PS'. Natasya tersenyum saat membacanya, ia akan rindu saat mengganggu adiknya yang lagi asik main PS dan kalah karena ulahnya. Dia mengetuk pintu kamar Ageum sebanyak tiga kali, dan membukanya perlahan-lahan. "Ageum, bangun. Ayo sarapan.." nadanya merendah seketika melihat Kaeumdong sedang memandangi jendela kamar yang langsung memperlihatkan matahari terbit dengan tambahan alam yang mempercantiknya. "Oh, kakak." Ageum bangkit dan menghampiri kakaknya. "Sarapan ya? Jangan buru-buru dulu, tapi ya.. aku dah mandi kok." "Kamu tumben udah mandi," Natasya menghampirinya dan mencubit hidung Ageum. “Kayak bukan seorang Ageum yang biasanya harus dicubit dulu biar bangun.” Ageum meringis akibat cubitan yang sedikit keras itu di hidungnya. "Aduh, Kak! Sakit tau. Ya kan Ageum bakal kek gini habis kakak pergi ke Aussie." Hahhh, semua orang menjadi aneh karena Natasya yang mau pergi. Ia harus sedih atau senang atas perubahan ini? "Bagus kalau kek gitu. Udah ayo sarapan. Kita makan bareng kakak sama kak Jeno dulu. Ayah mau mandi dulu katanya," kata Natasya. "Kak," panggil Ageum. "Kakak baik-baik aja kan?" Pertanyaan yang harus dijawab dengan kebohongan dan Natasya membenci harus terpaksa berbohong. "Iya, kenapa sih? Kamu kek gak rela banget kakak ke Aussie." "Wajah kakak bilang hal yang beda. Gak usah ditutupin deh," tukas Ageum. "Kakak baik-baik aja dan akan selalu kek gini. Dah lah ayo, kamu kalau telat bukan kakak yang marahin tapi guru pendisiplin kamu loh," kata Natasya mengingatkan. Mereka berdua keluar dari kamar Ageum dengan Natasya berjalan terlebih dahulu. Kekhawatiran Ageum tidak bisa dielak, mungkin saatnya dia meminta bantuan pada kakak angkatnya yang sudah lama bertemu dengan keluarga kandungnya. Romeo memang sudah lama menetap di Australia dan hanya menghubungi Ageum dan Joan saja. Meskipun tidak pernah menelpon Natasya karena adiknya itu sibuk berkuliah dan pemuliha, dia selalu menanyakan kabar Natasya dari yang lain. Jadi setelah sarapan sebelum berangkat sekolah, dia pergi ke kamar mandi dan menghubungi Romeo. "Halo, kak. Aku butuh bantuanmu." ¤¤¤ Pindahan hari ini membutuhkan waktu cukup banyak karena Natasya baru mengemasi baju-bajunya yang dia akan bawa nanti. Setelah sesi perpisahan dengan Ayahnya, Natasya sudah tiba di Apartment bersama Jeno. Kalau boleh mengakui, ini mewah dan benar-benar mewah. Seluruh ruangan ditata seperti suasana modern ditambah ada kolam renang di bawah. Benar-benar seperti menikmati hotel bintang lima tapi ini sudah melebihi itu. Saat dia datang ke Apartment tersebut, dia hanya membawa satu koper. Namun, sesungguhnya ada tiga koper besar yang akan dibawa oleh Natasya sebelum berpindah ke Aussie, semua itu perlengkapannya. Jadwal keberangkatannya aslinya juga dipercepat tidak menjadi bulan depan melainkan dua minggu lagi namun dia harus berangkat bersama Jeno sabtu ini. "Sya," panggil Jeno. Natasya segera menghampiri Jeno. "Iya Kak Jen? Ada apa?" "Lo bisa masak gak? Di kulkas ada bahan-bahan mentah. Gue pengin dimasakin sesuatu buat makan siang," ujar Jeno dengan jelas. "I-iya. Aku bisa masak ya." Bukan masalah Jeno ragu akan rasa masakan Natasya, tadi pagi gadis itu hanya menyiapkan roti bakar dengan selai coklat dan selai strawberry yang sebenarnya ia sudah bosan memakannya saat di Australia. Yang Jeno inginkan adalah masakan rumah, kalau di rumah aslinya sang Mama jarang sekali masak dan lebih banyak memesan dari luar ketimbang harus repot berkutat di dalam dapur. Hahhhh, sudahlah. Kalaupun tidak bisa memasak makanan seperti pacarnya Laura, ia tidak akan memarahi Natasya. Kurang lebih satu jam dengan perut yang sudah memprotes untuk diberikan isi, bau masakan dari dalam dapur tercium dan menggugah selera makannya. "Kak Jeno, aku udah masak. Makanannya masih hangat," tutur Natasya yang masih mengenakan celemek. "Oke, gue ganti baju dulu." Natasya kembali ke dapur dan meletakan semua masakan di meja. Dia menyiapkan dua piring dan gelas minum dalam jarak yang cukup jauh. Ia hanya memasak seperti yang ada di rumah dengan bahan yang sedikit berbeda. Ada nasi merah pengganti nasi putih, daging ikan tuna, daging ayam dan daging sapi. Sejenak tadi Natasya berpikir bahwa isi kulkas Apartment Jeno sudah seperti supermarket mini.  Jeno sudah berganti baju lalu duduk di depan meja makan. Matanya menangkap sesuatu yang ada di bahu Natasya. Sebuah garis bekas jahitan yang terlihat saat baju Natasya tak sengaja bergeser memperlihatkan luka tersebut. "Itu di bahu kamu apa? Kamu pernah terluka?" "Cuman bekas jatuh, bekasnya emang susah hilang." Bohong, nyatanya bukan itu. "Oh. Yaudah makan aja dulu." "Kak Jen," "Hmm?" "Pacar Kak Jeno tau kita menikah?" Pertanyaan yang sudah pasti Jeno dapatkan setelah kemarin dia bilang dia sangat mencintai pacarnya. "Udah," jawabnya dingin. Salah tanya, batin Natasya sambil meruntuki dirinya sendiri. "M-maaf kalau salah tanya," ucapnya takut-takut. "Hmm. Gak masalah, gue udah paham pertanyaan semacam ini bakal ada." Setelahnya keduanya saling terdiam. Hening. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu di ruangan yang cukup besar itu. Mereka hanya sibuk dengan makanannya masing-masing. Dalam hati Jeno kesal juga kalau ditanya tentang tadi karena menganggap Natasya jadi kepo dengan kekasihnya, namun disisi lain dia ingin memuji masakan Natasya yang cocok untuk lidahnya. Tidak terlalu asin, manis, maupun pedas. Semua terasa pas dan sempurna. Dalam hatinya pun terus menggumamkan; bagaimana bisa dia masak seenak ini? Karena setelah sekian lama Jeno tak mencicipi masakan Indonesia yang biasanya sedikit asin atau manis. Diakhir sesi makan, Jeno masih terdiam lalu pergi ke kamarnya. Sekadar memberi informasi kalau Apartmentnya ini terdapat dua kamar. Jadi baik Jeno maupun Natasya tidak tidur dalam ranjang yang sama. Karena mereka masih canggung dan Natasya yang memang masih takut dengan laki-laki walaupun dia sebisa mungkin menutupi hal tersebut dari Jeno. "Sepertinya akan sulit untuk menghadapi situasi ini di masa depan."  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD