D'day

1545 Words
Tepat hari-H pernikahannya, Natasya merasakan kegugupan yang menyelimuti hatinya. Hari ini dia bakal resmi dapet gelar dulu sebelum mendapatkan gelar kelulusannya, jadi 'istri' maksudnya. Dia cantik, cantik sekali. Hara sampai cengo melihat penampilannya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, ternyata Natasya bisa lebih cantik daripada Miss di kampus mereka. Selama ini Natasya yang cuman kebiasaan pergi ke kampus dengan rambut dijuntai ke bawah atau ikat ekor kuda satu dibagian belakang dan poni panjang menutupi sebagian mata ditambah kacamata minus antiradiasi Natasya yang memperlihatkannya hanya gadis cantik biasa, bukan sesuatu yang 'wow' seperti hari ini. Gaun pernikahan mewah namun terlihat sederhana, anting permata kecil milik mendiang bundanya, dan rambut yang ditata apik. Sempurna, siapapun yang melihatnya akan jatuh dalam pesona seorang Natasya meski hanya untuk satu detik saja. "Sya, gak nyangka ya ternyata lo yang nikah duluan," kata Hara menangis haru tanpa ada air mata yang keluar dari kelopak matanya. "Kita juga bakal LDR huhuhu," ujar Natasya. "Sering-sering vidcall aja! Gue sebisa mungkin luangin waktu kalau lagi gak sibuk," kata Natasya. "Awas aja lo malah ngemil Mac Flurry pas gue telpon." "Yeu, kagak lah. Semakin tinggi semester, semakin pening kepala gue. Oh iya, lo pas pulang jangan malah bawa anak ya. Tungguin gue dapet pacar dulu, kalau bisa siapa tau bule sana ada yang demen sama gue hehehe." Hara mengomel meski diselingi dengan gurauan. Ada-ada saja ucapan Hara ini. Baru aja akan mengobrol lagi, tante Natasya yang bernama Una datang dengan anak perempuannya yang enam tahun lebih muda darinya. Clara, gadis kecil itu memiliki wajah yang begitu cantik dan agak dingin padahal sebenarnya dia sangat ramah apalagi dengan Natasya dan Hara, mereka sering main bermain dengan keduanya jika sedang pulang ke Jawa. Maklum, Clara lahir dan tinggal di Papua. Jadi tiga bulan sekali Una dan Clara akan pulang ke Jawa. "Duh, keponakan tante cantik banget deh," puji Una. "Makasih, Tante." Natasya tersenyum malu-malu. "Ayo kita siap-siap, sebentar lagi upacara pemberkatan. Oh iya, ngomong-ngomong calon kamu cakep juga ya. Ada keturunan luar negeri gitu ya?" tanya Una namun Natasya tak menjawab dan hanya tersenyum. Justru setelah mendengar ucapan Una, Hara semakin tidak sabar melihat laki-laki ini. Meskipun suami Natasya sangatlah tampan, dia tidak akan menikung temannya sendiri karena sesungguhnya tipe cowok idaman Hara tidak bisa ditebak. Dibalik wajah Natasya yang bersinar hari bahagia oleh semua orang itu, tersirat dalam kepalanya mengenai pemikiran untuk melakukan banyak hal kedepannya dimana di samping kewajibannya menuntut ilmu sebagai mahasiswa, dia pun harus menjalani kehidupan baru dan asingnya sebagai seorang istri. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu kamar Natasya mengalihkan pandangan empat orang di dalam situ, pintu terbuka secara perlahan menampakan sosok Ageum yang mengenakan tuxedo berwarna hitam yang membuatnya tampan. "Kak, orang-orang udah nungguin," kata dia. "Cantik banget sih, kak. Andai kita bukan kakak adik, Ageum aja nikah yang sama kakak." "Hush! Ngomong ngelantur kamu! Dah sana duluan," tegur Una sambal memberikan hadiah cubitan keras pada Ageum hingga anak itu meringis pelan. "Canda, Tante." Ageum tertawa. Lalu, ia pergi. Setelah Ageum terlebih dahulu, mereka baru bisa menyusul. Wajah Natasya ditutup terlebih dahulu dengan veil, sengaja agar-agar orang terpukau dengan kecantikan Natasya. Perlahan-lahan mereka menuruni anak tangga satu persatu, Natasya gugup sekali hingga tangannya yang sedang membawa seikat bunga gemetar. Tangan Una menggenggam tangannya, ia menatap keponakannya untuk berani tanpa perlu takut lagi. Mereka segera berangkat ke tempat janji suci akan diucapkan. Waktu terasa singkat tanpa mereka tau. Di depan sebuah gereja yang sudah ada karangan bunga sebagai tanda ucapan selamat atas pernikahan tersebut, Natasya mengatur napasnya agar tidak gugup saat melangkah menuju ke podium. Joan dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu tersebut melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya untuk diraih oleh putrinya tersebut. “Anak Ayah cantik hari ini, hari ini hari bahagia untukmu.” “Ayah..” “Ayo, pendeta sudah menunggu.” Natasya mengangguk dan tersenyum menahan kesedihannya. Ketika pintu gereja dibuka, Natasya dan Ayahnya menjadi pusat perhatian bagi para tamu yang datang. Mereka berjalan pelan. Joan tak ingin terburu-buru juga melepaskan putrinya ke orang lain, begitupun Natasya yang tak ingin cepat berpisah dengan Joan. Jarak sudah semakin dekat dan ketika Natasya sudah di samping Jeno, Joan berkata pelan pada lelaki itu, “Jaga putriku baik-baik. Dia adalah berlianku yang berharga, kini dia adalah milikmu dan tanggung jawabmu.” Air matanya tak sengaja lolos seusai berkata demikian. Jeno mengangguk pelan. “Aku akan menjaganya, Ayah.” Janji suci dan prosesi pernikahan dilakukan. Sumpah untuk sehidup semati juga sudah diucapkan oleh Jeno maupun Natasya. Dalam batin keduanya mereka mengiyakan dengan terpaksa dan memasang senyum palsu masing-masing yang terlihat begitu nyata. Selayaknya usai janji suci diucapkan, mereka diminta berciuman atas sorakan keras tamu undangan. Agaknya Natasya ragu untuk melakukannya dengan Jeno, dan tatapan laki-laki ini begitu intens menatap dua bola matanya. Jeno terlihat seperti orang itu saat menatapnya. Tanpa berpikir untuk mempersiapkan hatinya, kedua bibir tersebut sudah menyatu dan Jeno hanya memberikan sebuah kecupan namun terlihat seperti melumat. Ya Tuhan.. Jantung Natasya hampir saja lolos namun itu tak lama mereka melakukan itu di depan umum. Ada rasa canggung setelah melakukan ciuman tersebut. Meskipun begitu mereka berdua harus tetap berakting di depan semua orang. Ingatlah bahwa pernikahan ini bukan atas kehendak mereka Ingatlah bahwa tak ada cinta diantara keduanya Ingatlah bahwa mereka sudah melakukan perjanjian Jeno dan Natasya hanya mempersiapkan bagaimana cara untuk merealisasikan perjanjian tersebut. Seharusnya mereka berdua juga harus mempersiapkan jika ternyata semua percakapan hari itu dalam mencapai kata ‘deal’ bisa berbalik ke diri mereka. ¤¤¤ Acara sakral itu tidak bisa dilaksanakan lama-lama mengingat bahwa Natasya dan Jeno harus mulai tinggal dan membiasakan diri dulu di Apartment sementara yang mereka singgahi sebelum berangkat ke Australia. Di samping itu, Natasya masih perlu mengurus kelengkapan untuk program double-degreenya di luar negeri. Tepatnya di kampus yang sama dengan suami sahnya ini. Bagi Natasya, menyewa satu unit kamar di Apartment yang dia lihatnya melalui ponsel canggih tersebut membuatnya berdecak kagum. Jelas saja dia bisa membayangkan usaha orang tua Jeno untuk pernikahan ini. Dibandingkan dengan kamar miliknya sekarang ini, jelas itu sangat jauh tampilannya. Tetapi Natasya cukup sadar bahwa dia dan Jeno menikah atas kehendak orang tua dan sudah melakukan kesepakatan. Ini bukan pernikahan kotrak, hanya selembar kertas yang ditangan perempuan tersebut berisikan berbagai peraturan yang dia buat dengan Jeno selama pernikahan mereka berlangsung. Kata ‘cerai’ tidak akan dilakukan selama mereka tak terlibat masalah hingga sepakat berpisah. “Hhhh, akhirnya bisa lepas pakai jas.” Jeno yang sedari tadi merasa tidak nyaman dengan pakaian tersebut mulai melepaskan jas dan membuka kancing kemejanya. Refleks Natasya memalingkan wajah saat melihat badan Jeno terbentuk sempurna dengan six-pact di perutnya. Bukan malu, namun Natasya takut melihatnya. Tampak sangat menyeramkan dan ia membayangkan preman yang suka menggoda wanita di gang-gang kecil. “Santai aja kali,” kata Jeno yang sadar dengan arah pandang Natasya. “Gue udah ganti kaos. Lo udah bisa balik lihat.” “M-maaf, aku cuman takut.” “Gue gak akan nyakitin lo meski badan gue gini.” “Aku percaya, Kak.” Usai berganti baju, Jeno duduk di pinggir ranjang yang sedikit jauh dari posisi Natasya duduk. Lelaki itu langsung mengambil ponselnya untuk berkirim pesan pada Laura, sang kekasih, sambil tersenyum kecil. Karena tidak melakukan apa-apa, Natasya bangkit dan hendak berganti baju yang lebih nyaman. Sudah masuk ke kamar mandi selama 5 menit, dirinya keluar dan menghampiri Jeno dengan tatapan ragu. Jeno terlihat masih asik berkomunikasi dengan Laura. Sebetulnya Natasya ingin meminta bantuan padanya. “Eum.. Kak Jen, bisa bantu aku?” Jeno mulanya sedang bercanda lantas menatap Natasya dan senyumannya pudar. “Minta tolong apa? Eum—babe, nanti telfon lagi ya.”  Sambungan telponnya ia putuskan dan menaruh ponselnya kembali di atas nakas. “Maaf jadi ganggu kalian.” Natasya mengigit bibirnya takut. “Iya gak pa-pa,” balas Jeno. Padahal dalam hatinya dia kesal waktu berdua dengan Laura diganggu, tapi wajah Natasya seperti memang butuh bantuan. “Apa yang mau dibantu?” “Anu—“ Natasya berbalik memunggungi Jeno. “Bisa turunin resletingnya? Tadi macet, mau dipaksa takutnya gaunnya rusak. Sayang aja, ini disiapin mamanya Kak Jeno,” ujarnya sedikit tergagap saat menyampaikan hal tersebut. “Oke, gue bantu.” Jeno merubah posisinya berdiri di belakang Natasya. Tangannya mulai memegang resleting dan menurunkannya perlahan. Ia tertegun sejenak melihat punggung mulus istrinya, buru-buru ia menghilangkan pikirannya yang mulai aneh. “Udah. Sekarang udah bisa dibuka.” “Makasih. Aku ganti di kamar mandi.” Keadaan menjadi canggung. Bahkan usai Natasya berganti pakaiannya dan menghapus make up yang melekat di wajah, keduanya hanya sibuk pada urusannya masing-masing. Tak banyak yang Natasya lakukan di kamar —berdua dengan Jeno yang kembali sibuk dengan ponselnya. Diam-diam Jeno memperhatikan isi kamar Natasya yang sederhana namun sangat nyaman bagi siapapun yang berdiam di sana. Meskipun tak ada tv pribadi ataupun AC, kamar tersebut tidak terasa panas. Beberapa gambar karya gadis itu sangatlah bagus. Sebagai anak teknik mesin yang hanya bergulat pada mesin-mesin, tentu saja itu membuat Jeno takjub karena bukan hanya gambar mengenai arsitektur saja yang ada di sana —beberapa sketsa wajah aliran realis pun sangat mirip dengan aslinya. Satu hal yang diakui Jeno; Natasya berbakat. Bakat alami yang bisa menghasilkan nilai rupiah jika perempuan tersebut open commission. Lelahnya hari itu membuat Natasya tertidur di waktu sore. Mata yang sudah terpejam sedari sepuluh menit yang lalu memperlihatkan wajah tak berdosanya. Dia memang perempuan polos dengan sejuta ketakutan. Jeno tidur di samping perempuan itu setelah makan malam. Kini wajah Natasya berhadapan dengan Jeno. Memang cantik, tapi hati Jeno sulit untuk membuka hati semenjak Laura ada dalam hidupnya dan terus memberikan semangat. Jika Natasya ingin masuk ke ruang hatinya, maka Jeno akan egois jika memilih dua wanita. Tanpa Jeno tau jika Natasya pun tak bisa menyukai seseorang lagi akibat traumanya yang begitu mendalam. Mulai hari ini Tuhan membuat rencana-Nya dimana suatu hari nanti Jeno akan menjadi obat penyembuh ketakutannya tanpa Natasya tau kelak akan menjadi sebuah luka dalam yang lebih berat daripada traumanya.  Setelah ia mengalami hal yang disebut jatuh cinta sesungguhnya. ¤¤¤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD