Melahirkan

824 Words
Pagi ketika Nana bangun, terlihat Ardi sedang memainkan handphone di sofa, sudah segar, sepertinya sudah mandi. Jam menunjukan pukul delapan pagi, gegas dia menuju belakang untuk mandi, karena nanti jam sepuluh malam, akan ada acara ngunduh mantu, ketika pengantin kembali ke rumah si pengantin pria. Seharusnya, dia bisa bangun lebih pagi, pikirnya. Kebiasaan hidup di kota yang selalu bangun siang. Sebelum kembali ke kamar dia melihat persiapan sudah siap untuk acara nanti. "Gimana, malam pengantinmu Na," tanya Ibu, yang hanya di jawab senyuman oleh Nana. Dan diapun segera masuk kamar kembali. Di dalam kamar dia mulai berdandan bersiap siap memakai kebaya, tanpa tukang rias dia berdandan sendiri. Ardi sama sekali tidak menghiraukan Nana satu kalipun, bahkan meliriknya pun tidak. "Yank, ayo dong siap siap, ini sudah jam setengah sepuluh loh, orang orang juga sudah siap diluar," ucap Nana yang hanya di balas lirikan oleh Ardi. "Apa mau aku pakein baju?" Kata Nana berusaha menggoda Ardi. "Nggak usah banyak ngomong kamu, sudah sana pergi keluar, ganggu aku nge game aja kamu itu," jawab Ardi kasar tanpa melirik Nana dan tetap fokus dengan hp nya. Nana pun akhirnya memilih keluar duluan, dan menunggu Ardi diluar. Jam sepuluh kurang seperempat Ardi akhirnya keluar kamar dan sudah siap. Tepat jam sepuluh semua berangkat menuju rumah Ardi, dengan dua mobil. Semua acara berlangsung lancar, dan pukul satu siang semua sudah kembali pulang. Di rumahnya, Ardi mau menemui semua tamu yang datang, demi menghormati Ayah dan Ibunya. Tapi tak satu patahpun dia mengajak bicara Nana. Sampai jam sepuluh Nana capek dan masuk kamar, sedangkan Ardi, baru masuk kamar setelah subuh. Setelah tidur beberapa saat, jam enam pagi Ardi berangkat menuju Semarang tanpa pamit pada Nana. Hanya pamit pada orang tuanya. Nana yang bangun kesiangan, langsung mencari Ardi. Tapi Ibu mertuanya berkata, Ardi sudah berangkat kerja. Nana pun masuk kamar, dan berusaha menghubungi Ardi, tapi tak ada respon dari Ardi satu kalipun. Akhirnya Nana pun pasrah yang penting dia sudah berstatus seorang istri sekarang. Malam ini Nana menginap sendiri di rumah mertuanya, besok pagi sekali dia akan pulang, minta jemput adiknya. Untungnya, Bu Sastro, mertuanya, sangat baik padanya, tapi sikap Bapak dan adik Ardi sangat acuh padanya. Keesokan harinya dia sudah sampai dirumah, dia langsung masuk kamar dan melanjutkan tidurnya. Terserah Ardi mau ngapain, yang penting nanti ketika anaknya lahir akan ada bapaknya, pikirnya. Sampai lima bulan setelah hari pernikahan itu, Ardi tak pernah pulang, pun tak pernah menghubunginya. Nana pun tak ambil pusing dengan tingkah Ardi. Selama lima bulan ini, dia tetap mendapatkan nafkah yang dikirim oleh orang tua Ardi setiap bulan. Meskipun dia tetap selalu menggunakan uang tabungannya, untuk menutupi gaya hidupnya yang mewah. Untuk nafkah batin, hehehe, jangan khawatir sudah Nana dapatkan dari pria lain.    Bulan pertama setelah menikah, Nana masih berusaha menjadi orang yang alim. Tapi di bulan berikutnya, Nana mulai goyah. Dia mulai mencari mangsa, meskipun hanya sebatas V*S berbayar pulsa, lumayan dapat tambahan uang, pikirnya. Sampai akhirnya, dia kembali berhubungan dengan mantan pacarnya sewaktu SMP dulu. Sering kali mereka check in di hotel. Orang tua Nana pun tak pernah melarang jika dia keluar rumah.   Selama hamil, hanya beberapa kali nina memmeriksakan kandungannya, dan satu kali USG, dia senang karena mengetahui anaknya perempuan. Sampai suatu subuh, perut Nana sangat mulas, dan terasa ada sedikit air ketuban yang merembes dari jalan lahirnya. Saking sakitnya Nana pun menangis dan teriak teriak. Orangtuanya yang melihat keadaan Nana langsung membawa ke bidan terdekat, memang ini sidah mendekati Hpl nya. Sampai di rumah bidan, ternyata masih bukaan satu, di suruhlah mereka menunggu sampai bukaan nya genap. Rasa sakit dan mulas itu terus dirasakan Nana. Sampai malam hari pun, belum ada tambahan pembukaan di jalan lahir Nana. Bapak Nana, berusaha ke orang pintar dan kyai, untuk minta jampi jampi dan doa, agar di mudahkan proses kelahirannya. Tapi setelah di minumkan air dari orang pintar yersebut, reaksi Nana tetap sama, dan sampai pagi tak ada perubahan. Lalu orangtua Ardi, yang juga sudah menunggui Nana dari kemarin, mencoba mendatangi seorang kyai lagi. Disini sang kyai menanyakan tentang suami dan hubungan mereka, kesimpulan pak kyai adalah, Nana durhaka pada suaminya. Jadi dia harus minta maaf langsung kepada suaminya dan meminum air bekas basuhan kaki suaminya. Akhirnya setelah dimintai sang Ibu pulang, dan menceritakan semua, sore hari Ardi sampai di rumah bidan tersebut. Ini dilakukan Ardi karena kemanusiaan, menurutnya, dan juga permintaan Ibunya. Sesampai disana Nana langsung sungkem meminta maaf pada suaminya, Ardi pun berusaha memaafkan dengan ikhlas, dan segera meminum air basuhan kaki Ardi. Setelah itu, Ardi pamit kembali ke semarang, dengan alasan banyak kerjaan. Dia tak mau menunggui Nana meskipun di paksa Ibunya. Selang satu jam, bidan mengeceknya, dan Alhamdulillah sudah bukaan sepuluh, Nana siap melahirkan. Sepuluh menit kemudian terdengar suara tangis bayi. Semua yang menunggu merasa sangat lega. Saat itu Ardi di telepon mertuanya, memintanya untuk mengadzani si bayi yang telah lahir, tapi Ardi tidak mau.  Akhirnya, si bayi perempuan cantik itu di adzani sang kakek, dan di beri nama Amelia Kasih Cahyani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD