Pemandangan yang menyambut Dami begitu mengejutkan. Kamar bergaya Eropa klasik, megah bak ruang seorang ratu. Vin yakin kakaknya pasti akan menyukai setiap detail kamar itu — dari ukiran pintu hingga tirai berlapis beludru, dari lampu kristal yang memantulkan cahaya lembut hingga tempat tidur besar yang nyaman. Dami melangkah masuk, meninggalkan Vin yang masih terpaku di depan pintu. Mata pria itu menatap sedih, berat, penuh rasa bersalah. Ia telah membohongi kakaknya — menutupi kebenaran demi kebenaran, menyelimuti Dami dengan kebohongan yang ia ciptakan. Dan ia tahu, kebohongan itu menambah luka pada wanita yang paling ia sayangi. Vin teringat akan masa-masa kelam kakaknya. Beberapa kali Dami mencoba mengakhiri hidupnya. Depresi yang melumpuhkan, hati yang hancur berkeping-keping karen

