'Apa yang lebih menyakitkan daripada sakit hati? Dibahagiakan oleh sebuah dusta.' Pagi itu Jakarta bersinar cerah, cahaya matahari menembus jendela besar mansion Vin, menari di lantai marmer yang mengilap. Tapi kehangatan itu terasa hambar, seakan udara sendiri menahan napas, menunggu sesuatu yang salah terjadi. Dami menuruni tangga dengan langkah tergesa, gaun panjangnya bergerak mengikuti irama langkah, rambutnya tersapu cahaya pagi. Mata para pelayan menatapnya dengan heran, bisikan kecil terdengar di udara—seolah mereka menebak sesuatu, tapi takut untuk bertanya. "Kakak, kenapa kau terburu-buru?" tanya Vin, suara tenang sambil menggenggam cangkir kopi hangat. Ujung bibirnya bergetar, nada ketegangan samar terasa, menahan sesuatu yang tidak ingin ia akui. "Astaga! Aku harus segera

