Makan bersama

1089 Words
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” tanya Sekertaris Sam yang dari tadi penasaran dengan Tuan muda yang biasanya kaku, kini terlihat menyunggingkan senyumannya walau hanya seulas dan hampir tidak terlihat. Mendengar suara yang tak asing bagi Gavin, ia hanya mendengus kesal karena sudah mengganggu aktifitasnya yang memalukan. “Ck! Ada apa?” tanya Gavin dengan ketus sambil merlirik sinis pada Sekertaris Sam. “Sepertinya Tuan kurang enak badan, apa yang anda butuhkan Tuan?” tanya Sekertaris Sam pura-pura tidak tahu dengan jalan pikiran Tuan mudanya. “Cih! Apa aku harus kembali mengajarimu dari awal, Sam?” decak Gavin yang kesal karena Sekertaris yang selalu mengerti keinginannya kini pura-pura polos. “Ini Tuan, saya sudah menyelidiki latar belakangnya,” sambil menyodorkan amplop cokelat yang segera di raih Gavin dengan cepat. Tanpa menunggu lagi, Gavin sudah membuka amplop tersebut, sesekali wajahnya berkerut tanda ada sesuatu yang menarik. “Apa laporan ini bisa di pertanggung jawabkan, Sam? Tanya Gavin hanya untuk memastikan walau ia tahu kalau Sekertaris Sam tidak akan gegabah dalam melakukan tindakan apapun. “Benar Tuan, jika ada yang Tuan tanyakan, saya akan mencari tahu lagi,” jawab Sekertaris Sam meyakinkan. “Ghea Arandita, nama yang bagus, apa dia benar-benar hanya tinggal dengan adik dan Ibu tirinya saja?” tanya Gavin untuk meyakinkan. “Benar Tuan,” jawab Sekertaris Sam singkat. “Apa wanita itu sudah tahu kalau Ibunya mempunyai penyakit riwayat jantung?” tanya Gavin yang tak biasa banyak bicara, apalagi itu soal wanita yang baru di temuinya. ‘Apa Tuan muda menyukai Nona Ghea, jika ia, aku akan berusaha untuk Tuan muda,’ batin Sekertaris Sam menerka-nerka. “Sudah Tuan, Nona Ghea mengetahui itu baru beberapa bulan terakhir ini,” jawab Sekertaris Sam. “Bisa dikatakan, Nona Ghea bekerja untuk menghidupi keluarganya dan menjadi tulang punggung keluarganya,” sambung Sekertaris Sam, sedangkan Gavin hanya manggut-manggut tanda mengerti, ada rasa kasihan terhadap wanita yang baru di temuinya itu. “Aku rasa dia wanita yang malang,” ucap Gavin tanpa sadar, sedangkan Sekertaris Sam hanya melongo dengan penuturan dari Tuan mudanya itu. “Apa Tuan mengatakan sesuatu?” tanya Sekertaris Sam memastikan. “Hah, Tidak ada,” elak Gavin “Kalau begitu saya permisi Tuan, ada yang harus saya kerjakan,” ucap Sekertaris Sam sambil pergi meninggalkan Gavin yang masih fokus pada kertas yang berisi data diri Ghea Arandita. Setelah kepergian Sekertaris Sam, Gavin lebih fokus pada kertas yang ada di tangannya tersebut, ada yang mengganjal dalam laporan tersebut tentang perusahaan keluarga Ghea yang telah hancur. ‘Aku rasa ada yang tidak beres,’ gumam Gavin sambil membaca laporan tersebut dan melupakan pekerjaan yang sudah menumpuk karena ia abaikan demi sebuah kertas data diri dari seorang wanita yang baru ia temui. Waktu pukul 12 siang, menunjukan waktu untuk makan siang, tapi di sebuah ruangan tampak seorang wanita yang masih berkutat dengan pekerjaannya, hingga tidak menyadari kedatangan Gavin dan Sekertaris Sam. Para karyawan yang melihat hal itu tentu saja terkejut, apalagi ini pertama kalinya sang CEO mendatangi karyawannya. “Ehmm, apa kau akan terus bekerja dan melupakan makan siang mu?” tanya Gavin tiba-tiba yang mengejutkan Ghea dan membuatnya salah tingkah. “Eh, baik Tuan, ini tinggal sedikit lagi,” ucap Ghea yang kembali melanjutkan pekerjaanya dan membuat Gavin sangat kesal karena di abaikan. “Aku tidak mau mengulangi ucapan ku, ayo pergi atau tidak sama sekali!” Ghea langsung bangkit mendengar hal itu dan mengikuti sang CEO. ‘Selalu saja mengancam, pantas saja kau jadi perjaka tua, pasti tidak ada yang mau dengan mu, termasuk aku, meskipun kau sangat kaya aku tidak akan pernah mau menikah dengannya,’ gerutu Ghea dalam hati dengan sangat kesal. ‘Aku rasa Tuan muda sedikit tertarik pada Nona Ghea,’ batin Sekertaris Sam sambil tersenyum yang hampir tak terlihat oleh siapapun. Sampailah mereka di sebuah Restauran yang dekat dengan daerah perkantoran, karena Gavin tidak pernah makan di kantin yang di sediakan untuk karyawannya, apalagi sampai harus berbaur dengan karyawannya, bukan karena sombong, tapi agar para karyawannya tidak merasa terganggu dengan kehadirannya. “Nona mau pesan apa?” tanya Sekertaris Sam pada Ghea, karena Sekertaris itu tidak perlu menanyakan pesanan Tuan mudanya yang sudah sangat ia hafal. ‘Astaga, apa Cuma aku yang di tanya? Apa Sekertaris ini punya indra ke enam, yang tahu tanpa bertanya pada Harimau di hadapanku ini, Sekertaris ini seperti cenayang saja,’ batin Ghea yang merinding saat bersama mereka. “Nona?” melambaikan tangan di depan wajah Ghea. “Ah, Iya Tuan, saya pesan Nasi Goreng sama Jus Jeruk saja,” tersentak kaget karena banyak melamun memikirkan kemungkina yang ada dalam pikirannya. “Baiklah, pelayan!” panggilnya pada salah satu pelayan yang ada di sana, karena biasanya mereka memesan ruang VIP untuk kenyamanan Tuan mudanya, tapi entah kenapa hari ini Gavin begitu berbeda. Setelah makan sudah sampai di meja mereka, tak menunggu lama mereka langsung melahap makanan yang telah mereka pesan, wanita yang biasanya akan menjaga penampilan mereka disaat situasi apapun namun, berbeda dengan wanita yang ada di hadapannya. Ghea makan dengan sangat lahap karena sebenarnya sudah merasa sangat lapar, kerja yang membutuhkan otak dan ketelitian tak menjamin akan enak, karena berpikir juga butuh tenaga, tanpa mempedulikan dua orang pria yang sedang memperhatikannya. Glekk! Dua orang pria itu menelan ludahnya kasar saat melihat makan seorang gadis tanpa saringan itu, apa adanya dan tidak ada mempedulikan sikapnya. ‘Apa dia seorang singa yang sangat kelaparan, aku rasa dia memang seseorang tanpa kepura-puraan dan berani tampil tanpa harus ada yang di tutupi,’ batin Gavin yang justru melihat kagum pada sosok wanita itu. ‘Astaga, apa dia kelaparan, kenapa Tuan muda bisa tertarik pada wanita bar bar ini, selain bar bar, wanita ini juga sangat menjengkelkan,’ batin Sekertaris Sam yang berbanding balik dengan Tuan mudanya. ‘Kenapa mereka melihatku seperti itu, terserah kalian mau berpendapat apa tentang diriku, aku begini karena kalian yang banyak drama memilih tempat, aku tidak bisa menahan rasa lapar ku,’ batin Ghea yang bodo amat melihat dua orang pria yang ada di hadapannya sedang memperhatikan dirinya. “Saya sudah selesai Tuan, maaf membuat Tuan menunggu lama,” ucap Ghea ketika sudah menghabiskan Nasi Goreng itu, Ghea sedikit merasa tidak enak karena membuat dua orang penting itu menunggunya makan, meskipun ia sudah bilang untuk meninggalkannya sendiri, namun Gavin menolak. Tanpa menunggu lama, mereka bangkit untuk pergi menuju kantor melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Tibalah mereka di perusahaan Xander’Corp, Ghea dan Gavin yang duduk bersebelahan terasa mencekik leher Ghea, terasa sesak dan beraura horor, karena hanya ada keheningan dan rasa canggung di antara mereka, kini pernapasan Ghea sudah kembali seperti semula, bebas dan merasa lebih tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD