Hari pertama kerja

1093 Words
Pagi yang cerah, sinar mentari yang menerobos ke dalam kamar seakan mengusik si penghuni sampai akhirnya tersadar dan bangkit dari tempat tidur yang sangat nyaman itu dan segera membersihkan diri untuk melanjutkan aktifitasnya. Tokk tokk tokk “Tuan muda, sarapan sudah siap, anda di tunggu Tuan besar di meja makan!” ucap seorang kepala pelayan yang tak lain adalah Pak Jay. “Baiklah, aku akan segera turun!” jawab seorang pria tampan dari dalam sana. Setelah bersiap dengan setelan jas kerjanya, terlihat sekali sangat tampan dan gagah, penampilan yang sangat sempurna bagi kaum wanita, kini segera turun untuk sarapan bersama sang Ayah yang sudah dari tadi duduk manis menunggu sang putra. “Morning!” langsung duduk di meja makan. “Hmm, apa tidurmu nyenyak semalaman?” tanya Tuan Leo sarkas. “Oh ayolah Yah, aku baru telat 5 menit saja,” yang di jawab gelengan kepala oleh sang Ayah. “Kalau begitu cepat sarapan!” titah sang Ayah pada Gavin. “Hmm,” Di sisi lain tampak seorang wanita yang tengah buru-buru untuk sarapan, karena hari ini adalah hari pertama ia bekerja, ia tidak mau memberi kesan yang sangat buruk untuk pengalaman pertamanya ini. “Hati-hati makannya Nak, jangan buru-buru, nanti kamu tersedak,” ucap Ibu yang melihat Ghea makan seperti di kejar hantu. “Uhukk uhukk,” sambil menerima gelas yang berisi air putih itu dari sang Ibu. “Kakak udah kaya di kejar hantu saja,” celetuk sang Remaja yang tengah memakan nasi Goreng buatan sang Ibu. “Ini lebih dari hantu, kau tahu? Perusahaan itu sangat besar, dan tidak menerima kesalahan sedikitpun,” yang di jawab anggukan dari sang adik. “Bu, aku pamit berangkat kerja ya, Ibu diam di rumah saja, dan Kau jaga Ibu di rumah, jangan lupa belajar, oke!” tunjuk pada sang adik. “Baiklah, jaga diri baik-baik, dan hati-hati di jalan!” Ghea hanya mengangguk lalu pergi dengan tergesa-gesa. “Hhaaah, anak itu selalu saja begitu,” gumam Ibu Maria geleng kepala melihat tingkah putrinya yang mulai ceria lagi seperti dulu. Sebuah mobil mewah tiba di sebuah gedung pencakar langit yang bertuliskan Xander’Corp. Seorang pria turun dari mobil mewah itu dan segera membukakan pintu untuk sang atasan, munculah pria yang sangat tampan dan di gilai para wanita dengan santai ia masuk ke dalam gedung itu, tak peduli dengan tatapan memuja dari karyawan wanita. Gavin hanya fokus saja melewati para karyawan wanita itu, semua karyawan itu langsung menyapa sang presdir yang sangat kaku dan dingin itu meski tidak ada balasan dari sang presdir. “Selamat pagi, Tuan,” ucap para karyawan yang menyapa sang atasan mereka meski hanya di lewati begitu saja. Sekarang Gavin dan Sekertaris Sam sudah tiba di ruangan sang Tuan muda tersebut. “Sam, panggilkan Sekertaris baru itu!” titah Gavin pada Sekertaris Sam. “Baik, Tuan muda,” sambil berlalu pergi meninggalkan Gavin seorang. ‘Mari kita bermain Marmut kecil,’ gumam Gavin dengan senyum yang sulit di artikan. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang mengagetkan lamunan Gavin, dengan segera Gavin mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin lagi, sebelum wanita itu melihatnya, bisa hancur harga dirinya kalau ia terlihat tak berwibawa seperti tadi. Tokk tokk tokk “Masuk!” ucap seorang pria dari dalam sana. “Permisi Tuan, apa Tuan memanggil saya?” tanya Ghea memastikan. “Hmm,” tanpa menatap Ghea yang berdiri dengan perasaan yang sangat kesal pada orang yang ada di hadapannya. ‘Hey, jawaban macam apa itu Tuan muda yang terhormat, anda sungguh sangat menjengkelkan, anda bahkan tidak memerintahkan saya untuk duduk, sombong sekali,’ gerutu Ghea dalam hati yang kesal setengah mati pada pria sombong itu. “Jika tidak ada yang ingin Tuan sampaikan, saya akan kembali Tuan,” seketika Gavin segera menatap Ghea yang dari tadi juga menatap ke arah Gavin hingga tatapan mereka saling mengunci. Degg Degg Degg ‘Hah, kenapa tatapannya seperti familiar, ini tidak mungkin sama kan? Kenapa aku seperti sangat mengenal orang ini, kenapa mirip dia, tatapan matanya hampir sama meskipun yang ini terlihat lebih dingin, apa karena aku terlalu merindukannya, ah ya mungkin aku terlalu merindukan dirinya, karena sudah hampir sebulan ini dia tidak pernah menghubungiku,’ batin Ghea dengan jantung yang berdetak dengan kencang. ‘Dia sangat cantik, dan sangat berbeda dengan wanita lainnya, jika wanita lain akan senang hati berdekatan denganku maka tidak dengan wanita satu ini,’ batin Gavin yang merasakan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. “Ehmm, apa aku menyuruhmu untuk pergi?” tanya Gavin memecah keheningan sambil menutupi kegugupannya dengan wajah yang kembali dingin. “Tidak, Tuan,” jawab Ghea gugup. “Apa kau akan terus berdiri di sana seharian?” tanya Gavin yang melihat Ghea tak bergeming dari tempatnya. “Ah, maafkan saya Tuan,” segera menarik kursi yang ada di hadapan Gavin karena Ghea sudah dari tadi menahan sakit di kakinya karena terlalu lama berdiri. “Kau sudah membaca surat perjanjian itu?” tanya Gavin memastikan. “Sudah Tuan, semua sudah saya baca peraturan itu dari nomor 1-100, yang mana isinya sama semua yaitu ucapan Tuan muda mutlak perintah dan tidak ada bantahan,” jawab Ghea yang jengah dengan peraturan yang sangat aneh itu. “Bagus, jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu,” ucap Gavin santai. “Tuan, apa tidak bisa lebih terperinci lagi,” berharap akan ada penjelasan yang lain. “Jika kau bertanya seperti itu, apa kau tahu akibatnya karena melanggar itu semua?” tanya Gavin sarkas. “Oh tidak Tuan, bukan maksud saya seperti itu, saya belum kena denda 100 juta kan Tuan?” Ghea kelabakan mendengar hal itu, bagaimana tidak, baru mau protes saja sudah di ancam denda dengan nominal yang sangat besar. ‘Aku harap aku bisa menjalani kontrak selama 2 tahun ini denga keadaan yang sehat, aku juga berharap semoga tidak berjodoh dengan pria seperti dirinya,’ gerutu Ghea dalam hati. “Ingat kontrak mu selama 2 tahun, jika sebelum satu tahun ini kau mengundurkan diri dan membantah ucapanku maka kau akan di kenakan denda,” ucap Gavin tegas. “Baik Tuan, saya mengerti, saya akan berusaha lebih giat lagi,” ucap Ghea yakin. “Kalau begitu kau bisa mempelajari tugas mu dengan Jane, dia sekertarisku yang lainnya, pergilah,” titah Gavin tanpa menoleh sedikitpun. ‘Cih, sombong sekali, memang dia pikir aku mau gitu terus berada di ruangan ini, tak sudii!’ batin Ghea kesal. “Kalau begitu, saya pamit undur diri Tuan,” bangkit dari hadapan Gavin dan segera pergi menuju tempat Jane berada. Setelah kepergian Ghea, entah kenapa Gavin terlihat berseri sampai seorang pria masuk tanpa sepengetahuannya sedang memperhatikan raut wajah Gavin yang sulit di artikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD