Waktu pukul 17:00 wib, di sebuah perusahaan besar tampak seluruh karyawan berbondong-bondong di loby untuk segera pulang, karena peraturan di perusahaan itu sangat ketat, di mana telat masuk akan kena sanksi, begitu juga denga telat pulang, maka dari itu semua karyawan akan segera bersiap-siap sebelum waktu pulang.
“Sam, Apa kau sudah mengatur pertemuan ku dengan Smith’Corp?” tanya Gavin sambil berjalan melewati loby.
“Sudah Tuan, tapi Tuan Smith sedang ke Brazil untuk mengurus perusahaannya yang terkena masalah Tuan, selain itu, Tuan Smith sambil menunggu peresmian Galery putrinya,” ucap Sekertaris Sam panjang lebar.
“Apa!” menghentikan langkah kakinya.
“Benar Tuan, Nona Jessy akan kembali ke Indonesia setelah peresmian itu dan akan membuka Galery di Negara ini,”
“Baiklah, ku rasa dia hidup dengan baik tanpa diriku,” ucap Gavin melanjutkan langkah kakinya menuju mobil.
Setelah sampai di mobil, Sekertaris Sam langsung tancap gas menuju rumah utama, saat dalam perjalanan suasana hening sudah biasa di rasakan Sekertaris Sam selama ini, Tuan mudanya termasuk orang yang sangat irit bicara, sampai dirinya tertular virus irit bicara itu bagai wabah yang melanda dunia ini.
“Tuan, sebenarnya apa rencana Tuan mengenai wanita itu?” tanya Sekertaris Sam memecah keheningan.
‘Maksud saya, wanita menjengkelkan tadi, Tuan, semoga saya tidak sering bersapa ria dengan wanita itu,’ batin Sekertaris Sam yang sepertinya rasa kesalnya itu mendarah daging.
“Entahlah, aku merasa dia sangat unik,” jawab Gavin singkat.
‘Ya, bahkan sangat unik, sampai membuat darah saya mendidih Tuan,’ batin Sekertaris Sam tiada henti memaki wanita itu.
“Apa kau sedang mengumpatiku Sam?” tanya Gavin curiga, karena ia dapat melihat dari kaca bahwa mulut Sekertarisnya itu sedang berkomat kamit seperti sedang membaca mantra.
“Tidak Tuan,” elak Sekertaris Sam.
“Cih, cepatlah! Aku sudah rindu dengan Ayah,”
“Baik Tuan,” sambil melajukan mobilnya dengan cepat.
Sampainya di rumah, terlihat para pelayan yang menyambut kedatangan Tuan Mudanya, pasalnya, sudah satu tahun ini Gavin tidak pernah pulang dengan alasan sibuk di kantor, dan pastinya karena sang Ayah yang selalu memintanya untuk menikah.
“Pak Jay, di mana Ayah?” tanya Gavin pada kepala pelayan di rumahnya.
“Tuan besar sedang istirahat sejak setelah makan siang, Tuan muda,” jawab Pak Jay.
“Baiklah, aku akan ke atas dulu, dan kau Sam, pulanglah besok jemput aku ke sini lagi,” yang di angguki oleh Sekertaris Sam.
“Kalau butuh sesuatu panggil segera panggil saja saya Tuan, Baiklah, saya pamit undur diri,” ucap Sekertaris Sam.
“Hmm,” jawab Gavin seenaknya.
Setelah kepergian Sekertaris Sam, Gavin segera menuju ke kamar sang Ayah.
Klekk!
“Ayah,” ucap Gavin sambil duduk di bibir tempat tidur sang Ayah.
“Siapa kau?” tanya Tuan Leo yang merasa terusik dari tidurnya.
“What! Ayah ini aku putra tertampan Ayah,” ucap Gavin percaya diri.
“Oh ternyata kau, siapa namamu? Oh ya aku ingat,” sedangkan Gavin menunggu sangat antusias.
“Joko kan?” seketika Gavin cemberut mendengar lelucon sang Daddy.
“Ada perlu apa kau kemari?” memasang wajah datar kembali.
“Apa aku harus menggunakan alasan untuk menemui Ayah?” sambil memasang wajah seimut mungkin.
“Hey, kau tidak pantas memasang wajah seperti itu, menggelikan. Apa kau masih menganggapku sebagai Ayahmu?” yang di jawab anggukan dari Gavin.
“Kalau begitu berikan aku menantu dan cucu!” ucap Tuan Leo telak.
“Kenapa Ayah masih membahas itu, aku sudah bilang sama Ayah kalau aku tidak butuh itu, aku masih punya Ayah sama Gary,” selalu saja menantu dan cucu yang dibahas jika berhadapan dengan Gavin, karena melihat umur putra sulungnya yang sangat dewasa.
“Tapi aku menginginkannya,” kembali tidur dan memunggungi putranya.
“Aku akan menginap di sini selama satu malam, setelah itu aku akan pergi lagi, aku harap Ayah bisa menjaga diri,” bangkit dan pergi meninggalkan kamar sang Ayah.
‘Ayah tahu kau sangat takut memulai hubungan dengan wanita, maafkan Ayah yang sudah memberikan dampak buruk padamu Nak, Ayah harap kau segera menemukan pendamping hidupmu, agar hidupmu tak kesepian, jangan samakan Ibu mu dengan wanita lain, pasti akan ada wanita yang baik yang mampu mendampingi hidupmu suka maupun duka, maafkan Ayah yang gagal menjadi orang tua,’ batin Tuan Leo menangis saat melihat pintu yang telah melenyapkan putra sulung dari kamarnya.
Waktu 19:00 wib menunjukan jam makan malam, di rumah yang sangat megah dan mewah, tampak seorang pria paru baya dengan satu orang putranya, hening, tidak ada obrolan di meja makan itu, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang mengisi keheningan di meja itu.
Setelah makan malam usai, Tuan Leo mengajak putranya untuk ke ruang tengah hanya untuk santai sambil meminum teh atau mengobrol saja.
“Apa Ayah masih marah padaku?” tanya Gavin pada sang Ayah.
“Ayah hanya kecewa padamu,” jawab Tuan Leo singkat.
“Yah, sebelumnya kita pernah membicarakan hal ini dan aku akan tetap pada pendirian ku, selama satu tahun ini hidupku jauh lebih baik dari apa yang Ayah pikirkan,” elak Gavin yang sudah muak dengan sang Ayah yang terus merengek meminta menantu dan cucu seperti membeli sebuah permen yang bisa di beli di mana saja.
“Baiklah, Ayah beri waktu satu tahun lagi agar kau bisa mencari pendamping hidupmu, jika tidak, Ayah akan mencari wanita itu langsung untuk menjadi menantu Alexander, jika kau masih menolak, jangan harap Ayah akan menganggapmu sebagai anak, Ayah akan mencoret namamu sebagai ahli waris,” ucap Tuan Leo telak.
“Baiklah, aku setuju, Ayah beristirahatlah, besok aku akan kembali ke Apartemen ku,” ucap Gavin datar, meskipun ia masih merindukan sang Ayah, karena selama ini ia hanya memantau Ayahnya dari kejauhan.
“Baiklah, jaga diri baik-baik dan perusahaan kita agar kau tidak mengalami apa yang telah terjadi sama Ayah, Ayah akan istirahat, kau juga cepat istirahat lah,” ucap Tuan Leo sambil beranjak pergi menuju kamarnya.
‘Maafkan aku Yah, aku belum bisa memberikan apa yang Ayah inginkan, jujur saja aku masih takut untuk memulai, aku takut semua wanita itu sama seperti Ibu yang akan pergi meninggalkan Ayah, aku taku kehilangan Yah, aku ingin memulai, tapi aku selalu di hadapkan dengan rasa takut, tapi aku akan berusaha Yah, semua demi Ayah dan keturunan Alexander,’ batin Gavin yang merasa sesak saat melihat bayangan sang Ibu yang tega pergi meninggalkannya bersama sang Ayah dan adiknya yang masih kecil.
Setelah merasa cukup tenang, Gavin segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya, karena menangis juga membutuhkan tenaga yang membuat mata mengantuk.
Tak butuh waktu lama untuk Gavin menyelami alam mimpinya, sama halnya di sisi bumi lainnya, Ghea bersama sang Ibu telah menyelami alam mimpi mereka, Rara jangan di tanya lagi, karena remaja cantik itu sangat suka sekali dengan tidur.