Kecemburuan Menggebu-gebu

1186 Words
Almaira dan yang lain mengikuti sebuah seminar yang diadakan selama berada di Bali. Ada banyak pembahasan dari atasan mereka, termasuk dari salah seorang pengacara senior yang berbagi pengalaman dan berbagi tips bagaimana menyelesaikan masalah. Almaira fokus mencatat poin-poin penting dari pengalaman ini. Almaira mengabaikan Derry yang sengaja duduk di sebelahnya sejak awal, atau ketika lelaki itu sengaja mengajak bicara. "Apa kau ingin pergi keluar setelah ini?" tanya Derry. Almaira diam. "Sebaiknya kita pergi ke mana menurutmu? Apa kau masih suka pergi ke pantai?" Almaira masih diam. Derry mungkin lupa tujuan mereka datang ke sini, bahkan mungkin melupakan bahwa tidak hanya mereka yang datang. Seth dan Sonia tentu tidak akan membiarkan Derry melewati satu hari pun bersama Almaira. "Uang bulananmu sudah kukirimkan kemarin, kau bisa mempergunakannya, Maira. Jika itu tidak cukup, aku akan mengirimnya lagi," ujar Derry selanjutnya yang menghentikan pergerakkan Almaira. "Aku akan mengembalikannya." Almaira mengambil ponsel miliknya, membuka M-banking yang ternyata telah terisi saldo oleh Derry baru-baru ini. Lelaki itu memang sering mentansfer sejumlah uang ke rekening Almaira sebagai nafkah, tapi terkadang Almaira mengembalikannya lagi. "Jangan, Maira. Kali ini saja," ujar Derry yang menahan gerak tangan Almaira. Almaira menghela napas tipis. Dia tahu akan sia-sia mengembalikan uangnya, Derry akan mengirimnya lagi, bahkan lebih banyak. Almaira sangat risi untuk yang satu ini, sebab kelakuan Derry menyulitkannya dalam pengajuan perceraian. Ah, tidak. Almaira tetap akan pergi ke pengadilan sepulang dari perjalanan ini. "Apa anakmu ikut ke Bali? Aku melihat kalian kemarin. Jangan mengecewakannya dan terus mendatangiku, atau Sonia akan membuat kekacauan dalam pekerjaanmu kali ini, Der." "Kau sangat perhatian, Maira." Almaira menoleh, menatap lelaki itu datar. "Aku cuma memperingatkanmu, karena itu akan merugikanku juga." "Kau selalu saja sensitif, Maira." Derry mulai terdiam. Dia melihat Almaira begitu fokus memperhatikan pembicara di depan mereka, betapa dia tahu wanita ini ingin sekali menjadi pengacara andal dan bisa membantu masyarakat yang tersandung dengan hukum. Almaira bahka tidak segan membantu tanpa pamrih untuk maayarakat kecil, mereka yang dibantunya sangat senang dan tentu menebar banyak kebaikan. Derry tidak pernah mengira jalan ini yang akan mereka tempuh. Almaira menjadi sangat dingin meski mereka cukup mudah saling menjangkau. Ini kesalahannya, Derry akan memahami itu. Dia berencana akan memperbaiki hubungan mereka apa pun caranya. *** Selesai dari seminar tersebut. Derry masih mengikuti ke mana langkah Almaira pergi, wanita itu tampak tergesa-gesa ketika keluar dari hotel seakan tengah mengikuti seseorang secara diam-diam. Derry pun bertindak serupa, dia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi seorang diri tanpa pengawasan. Sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan, Derry kehilangan jejak Almaira. Di mana wanita itu? "Di mana kamu, Maira?" Derry berjalan cepat seraya terus melangkah ke segala arah untuk mencari Almaira. Dia mencoba meneleponnya, tapi terus dimatikan. Derry malah menerima sebuah panggilan dari Sonia, dan itu cukup mengganggunya. "Derry, kamu di mana? Kamu udah janji akan mengajak kita keliling setelah seminar kamu selesai. Aku dengar seminarnya selesai 1 jam lalu, tapi kenapa kamu belum kembali ke hotel?" "Aku berjanji, tapi tidak sekarang, Sonia. Nanti sore, aku masih ada pekerjaan di luar." Derry menjawab, tetapi pandangannya tidak fokus ke satu tempat. Dia masih mencari Almaira. "Pekerjaan apa? Apa kau sedang bersama Maira?" "Tidak ... aku sedang sibuk, Sonia. Jangan menghubungiku dulu." Derry menutup panggilan. Dia akhirnya menemukan Almaira, wanita itu tengah berada di sebuah toko sepatu dan memperhatikan seseorang, lalu pergi lagi ke arah luar pusat perbelanjaan. "Nindy, apa kamu tidak tahu Septian ada di Bali? Sedang apa dia di sini?" Almaira terlihat menelepon seseorang, dia jadi tidak memperhatikan kondisi jalanan dengan baik. Derry segera mempercepat langkah untuk menyusul, dia menari lengan Almaira ketika ada sebuah motor berkecepatan tinggi akan menyambar tubuhnya. "Ah!" Derry dan Almaira spontan terjatuh, wanita itu merintih kecil karena telapak tangannya terluka akibat beradu dengan aspal. "Apa kamu baik-baik aja? Kenapa kamu nggak memperhatikan jalan, Maira? Bagaimana kalau kamu terserempet motor tadi?!" Derry menddadak mengomeli Almaira, tetapi juga memeriksa telapak tangan wanita itu, ada sedikit goresan di sana. "Aku--" Almaira melihat kenarah seberang jalan, orang yang diikutinya telah menghilang dari pandangan. "Aku kehilangan jejaknya. Kenapa kamu mengikutiku, sih?!" Almaira beranjak, dia membersihkan pakaiannya sendiri dan menatap Derry kesal, alih-alih mengucapkan terima kasih. Namun, disaat bersamaan dia merintih lagi karena ternyata kakinya lebih terluka. "Astaga, kakimu." Derry spontan mengangkat tubuh Almaira, membawanya ke sebuah kursi, sementara dia berlari ke sebuah toko untuk membeli sesuatu agar bisa mengobati lukanya. *** "Akh, sakit. Apa nggak bisa pelan-pelan?" "Itu karena kamu banyak bergerak, Maira. Diamlah sebentar, aku akan menyelesaikannya lebih cepat," ujar Derry ketika membersihkan luka Almaira dan membalutnya dengan kain kasa. Wanita ini masih saja marah-marah, tetapi juga tidak menolak pertolongannya. Itu membuat Derry sedikit lega. Secara tidak langsung, Almaira sudah menunjukkan bahwa dia tidak akan menolak kehadiran Derry dalam keadaan tertentu. Peluang mereka akur akan ada. Derry masih berharap itu terjadi. "Kenapa kamu ada di belakangku? Apa sekarang kamu bertindak sebagai penguntit?" tanya Almaira. "Karena kejadian tadi terkadang nggak bisa dihindari, Maira. Aku cuma mau menjagamu, itu aja." "Menjagaku? Kamu terlambat, Der. Bahkan ketika aku mati sekali pun, yang tersisa di sana cuma amarahku karena belum bisa membalasmu dan Sonia." Almaira mulai beranjak dari kursinya. "Maaf ...." Derry menggenggam tangan Almaira, menahannya agar tidak pergi lagi. Dia putus asa, tetapi tidak bisa meningglkan Almaira begitu saja. Perasaan cinta yang dimiliki Derry masih sama, tidak akan pernah ada yang bisa mengubah itu, termasuk kehadiran Sonia dan Seth dalam hidupnya. "Apa kamu bisa melepaskan Sonia dan kembali padaku? Apa kamu bisa bertahan dengan seorang wanita yang nggak bisa memiliki keturunan sepertiku? Atau apa kamu bisa menentang ibumu demi aku yang seperti ini? Nggak bisa, Derry. Kamu nggak akan pernah bisa melakukan itu. Jadi berhentilah meminta maaf, karena nggak ada yang bisa kamu jaga. Kamu yang mengubahku, kamu juga yang akan bertanggung jawab menanggung rasa sakit, Derry." Almaira melangkah pergi meninggalkan Derry seorang diri di sana. Tidak, apa ini adalah yang terakhir untuk mereka? Derry tidak bisa menerima. Perasaan ini terlalu sakit untuk diabaikan, mencintai Almaira bukanlah tindak kejahatan. Dia pun beranjak dari kursi dan menyusul Almaira lagi, lagi dan lagi. Menarik lengan wanita itu, lalu menghentikan sebuah taksi untuk mereka. "Masuk, kita ke hotel sekarang." "Tidak, kamu nggak bisa mengaturku!" tolak Almaira. "Masuk sekarang, Maira. Atau kau memang lebih suka kupaksa?" "Aku benci kamu, Der!" Almaira mengomel, tetapi tetap menuruti perintah Derry. Lelaki itu ikut masuk menyusulnya dan duduk di samping Almaira. "Aku benci mengatakan ini, Maira." Derry menatap tajam Almaira sejenak. "Aku akan tetap pada perasaanku meski kau menolak. Kau mau menjauh dariku? Menjauhlah sesukamu, tapi kau akan tetap kembali bersamaku, Maira. Suka atau tidak, itu yang akan terjadi. Ikatan kita tidak akan pernah terputus kecuali kau atau aku yang menjadi debu." "Lepas ... sakit, Derry. Lepaskan tanganku." Almaira merintih kecil dan menangis, Derry baru tersadar dia telah menggenggam lengan istrinya cukup keras hingga kulit putih bersih itu berbekas kemerahan. Derry melonggarkan pegangannya, tapi tidak melepas itu. Tidak lama kemudian ponsel Almaira berdering, dia sedikit kesulitan meraihnya. Rafael memanggil, dia ingin mengangkat itu dan meminta pertolongan. Namun, Derry lebih cepat menyambar ponselnya dengan kesal. "Derry, jangan--" "Berhenti menghubunginya, Sialan! Atau kau ingin bermasalah denganku?" Derry berkata sinis kepada Rafael di telepon. [Aku menanti itu, Derry. Apalagi aku memang sedang sangat merindukan istrimu.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD