Pagi harinya, Almaira berdiri di depan sebuah cermin besar yang memantulkan rupa dirinya dari ujung kaki hingga kepala. Tidak ada satu cacat pun dalam setiap jengkal tubuh miliknya ini, tetapi tubuh ini kini telah rusak dari dalam. Almaira sangat kesal, sakit, sekaligus rapuh. Melihat beberapa bekas kemerahan di bawah dagu hingga atas dadanya karena ulah Derry semalam membuat hatinya semakin hancur. Sebenarnya untuk apa hidupnya sekarang?
Almaira Jasmine, itu adalah sebuah nama indah pemberian mendiang ibunya. Memiliki pekerjaan bagus dan prestasi di bidang yang disukainya tidak lantas membuat hidupnya sempurna. Nyatanya tidak ada cinta yang bisa didapatkan dari semua ini. Ayah ibunya meninggal, dia juga tidak memiliki saudara. Hanya Derry orang paling dekat dengannya, tapi sekarang lelaki itu juga telah menjadi luka paling besar.
Almaira berpikir, mungkin saja dia tidak akan pernah mendapatkan cinta dari siapa pun. Apa memang hidup akan mati rasa seperti ini pada akhirnya?
Ponsel Almaira berdering, sebuah panggilan masuk dari Rafael. Almaira pun lantas mengangkatnya.
"Kamu udah siap? Aku menunggumu di depan," ujar Rafael.
"Hmh, sepertinya aku nggak akan ikut, Raf."
"Apa? Kenapa? Apa kamu sakit?"
Almaira tidak menjawab beberapa saat.
"Aku akan ke tempatmu, tunggu di sana."
"Jangan, aku cuma--" Panggilan mendadak terputus. Rafael sepertinya akan datang ke tempatnya setelah berkata demikian. Dia sebenarnya tidak lupa jika hari ini adalah hari mereka bersenang-senang dengan seluruh teman satu firma hukumnya ke pulau dewata Bali. Barang-barang milik Almaira sudah dikemas, tapi dia mendadak hilang keinginan untuk mengikuti perjalanan ini.
Almaira sangat malas bertemu kembali dengan Derry.
"Maira! Maira, apa kamu di dalam?"
"Cepat sekali dia sampai," gumam Almaira. Dia pun melangkah menuju pintu, kemudian membukanya. Lelaki jangkung itu tampak terengah-engah, lelah berlari dari lantai bawah ke tempat ini.
"Rafael, kamu--"
"Apa kamu baik-baik aja?" sela Rafael. Dia memeriksa keadaan Almaira dengan kedua matanya, wanita itu tampak mengenakan sweater dan sebuah syal yang menutupi bagian leher.
Sebenarnya, Almaira mengenakan ini demi menutupi perbuatan Derry padanya. Sakit adalah alasan bagus untuk menutupinya.
"Ada apa denganmu, Maira? Semalam kamu baik-baik aja, bagian mana yang sakit? Apa kamu punya obat di dalam? Aku akan mengantarmu ke dokter kalau keadaanmu memburuk."
Almaira mematung mendengarkan pertanyaan-pertanyaan Rafael, lelaki itu menggenggam kedua tangannya, mengecek suhu tubuh di keningnya, juga memeriksa denyut nadinya. Perlakuan hangat ini membuat kedua mata Almaira basah seketika.
"Kamu nangis? Apa sesakit itu, hmh?" tanya Rafael lagi bernada pelan.
"Eng--enggak, aku cuma merasa kurang enak badan. Mungkin masuk angin," jawab Almaira sedikit terbata-bata.
"Sampai menangis begitu?"
"Ah--itu ... mataku kemasukan debu tadi waktu membuka pintu, ini perih." Almaira beralasan lagi, dia mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Berusaha untuk tidak terharu, apalagi tersentuh.
Namun, Rafael segera mengangkat wajah Almaira. Meniup lembut mata indah itu. Almaira lagi-lagi dibuatnya salah tingkah, hingga tidak mampu berkata apa pun.
"Apa kamu akan diam di rumah sekarang?" tanya Rafael lagi usai memastikan air mata Almaira menghilang. "Kalau kamu nggak ikut perjalanan hari ini, aku juga akan minta izin ke Pak Hary."
"Kamu nggak akan ikut? Kenapa?"
"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian, Maira?"
Almaira terkejut. "Lalu kamu mau apa di sini? Pergi aja sana, memangnya aku anak kecil?"
"Aku akan merawatmu, Maira."
Almaira terdiam. Ide ini terdengar buruk baginya, dia dan Rafael tetap seorang wanita dan pria dewasa. Usia Rafael sendiri terpaut 4 tahun lebih tua, di usia Almaira yang menginjak 30 tahun. Apa mereka akan bisa tahan berlama-lama dalam rumah tanpa melakukan apa pun?
"Terima kasih buat kebaikanmu, tapi sebaiknya kita cepat pergi. Aku akan mengambil koper di dalam," ujar Almaira pada akhirnya.
"Kau akan ikut? Jangan memaksakan diri, Maira. Apa kau takut padaku?! Aku akan jaga jarak. Sungguh!"
Almaira pura-pura tidak mendengar, dia bergegas mengambil koper yang sudah dipersiapkannya untuk hari ini. Kemudian keluar dengan langkah cepat. Rafael pun hanya bisa mengikutinya dengan protes-protes kecil.
***
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka sampai juga di sebuah hotel. Hampir seluruh rekan kerja Almaira ikut dalam perjalanan ini, mereka terlihat antusias tanpa terkecuali.
Ya, tanpa terkecuali.
Almaira melihat pemandangan tidak biasa, di mana salah satu dari mereka ternyata bersama keluarganya dari rumah. Derry tampak berjalan bersama Sonia, seraya menggendong Seth di kedua lengannya. Anak lelaki berusia sekitar 4 tahun itu begitu lengket pada ayahnya. Mereka pun memasuki salah satu kamar, Derry bahkan seakan tidak melihat ke arah Almaira sedikit pun.
Melihat itu membuat hati Almaira begitu perih. Sepertinya Sonia mengambil tiket lain agar mereka bersama dalam perjalanan ini. Bukankah kehidupan lelaki itu begitu sempurna sekarang? Derry mendapatkan seorang anak, ibunya mendapatkan cucu seperti keinginannya, mereka dilengkapi seorang wanita karier yang cantik juga seksi.
Kesempurnaan mereka sangat menyebalkan bagi Almaira.
"Ah, Maira?!"
Wanita jangkung berambut pendek itu menyapa dengan sebuah senyum lebar, tentu senyum itu adalah sebuah ejekan untuk Almaira.
Almaira pun masih tetap diam ketika Sonia melangkah mendekatinya.
"Kau kelihatan murung, apa harimu kurang menyenangkan?" tanya Sonia.
"Hariku jauh lebih menyenangkan, sayang sekali penglihatanmu sepertinya berkurang."
Wanita itu berdesis pelan, menahan kesal atas ucapan dingin Almaira.
"Ah, ya. Aku datang untuk memperingatkanmu, jauhi Derry dan jangan rusak hariku dengannya. Kau tau apa yang bisa kulakukan padamu?"
Almaira tersenyum miring, kemudian maju selangkah mendekati Sonia tanpa rasa takut.
"Sepertinya kau melewatkan satu hal, Sonia. Lihat aku dengan kedua matamu, apa menurutmu Derry akan melupakanku meski kau bersamanya?" tanya Almaira bernada datar.
"Kau terlalu percaya diri."
"Tentu saja," ujar Almaira, kemudian melepas syal yang dikenakannya dan memperlihatkan bekas kemerahan di sekitar lehernya. Kedua mata Sonia tidak berkedip sedikit pun, tatapannya bercampur kesal dan amarah.
"Kau masih yakin bisa menyenangkannya lebih dariku, hmh? Jika memang iya, Derry nggak akan datang padaku semalam dan melupakanmu saat kami bersama di tempat tidur. Kau tau seberapa puasnya dia? Pada kenyataannya, dia masih menginginkanku lebih dari dia menginginkanmu," ujar Almaira lagi.
"Apa kau ingin mati?" Napas Sonia tidak beraturan, terbuang kasar karena menahan lebih banyak amarahnya kepada Almaira.
"Sebelum aku mati, aku akan menghancurkanmu lebih dulu." Almaira menepuk-nepuk bahu wanita itu sebentar. Kemudian berkata, "Aku harap kau bersenang-senang, nikmati liburan kalian dan pastikan Derry melupakanku saat bersamamu jika bisa."
Almaira mundur beberapa langkah, lalu berbalik arah menjauhi wanita itu. Dia tidak ingin terlalu lama berdekatan dengan hal yang hanya akan merusak harinya. Terserah mereka mau melakukan apa, Almaira tidak peduli.