Malam Bersama Derry

1228 Words
"Ini bukan ajakan makan malam yang baik, kau tahu?" tanya Rafael saat melihat Almaira malah sibuk dengan laptop, padahal ada makanan di atas meja mereka. "Aku mengajakmu ke sini untuk membahas kesulitanku. Karena kasus yang kuhadapi sekarang sedikit rumit. Aku harap dapat petunjuk dari orang berpengalaman sepertimu," jawab Almaira. Almaira bersikap cukup datar, tetapi Rafael seakan bisa memahami sikap ini terhadapnya. Apalagi, mereka jadi lebih sering bertemu karena Rafael jauh lebih berpengalaman dalam menangani kasus. Almaira terkadang memanfaatkannya untuk kepentingannya, tetapi sikap Rafael tetap sama. Almaira pun beranjak dari kursi dan mengambil sebuah benda dari dalam laci, kemudian menyerahkan itu kepada Rafael. Sebuah dompet hitam kecil yang terbungkus dalam plastik ada di sana, membuat Rafael sedikit mengernyit. "Itu dompetku, di sana ada sidik jari seseorang. Aku mau kamu memberikannya ke Pak Rudy karena aku membutuhkan data orang itu secepatnya." Almaira mengingatkan lagi pembicaraan mereka di gedung hotel tadi. "Astaga, apa ada imbalannya untukku? Ini nggak gratis." "Memangnya apa yang kamu mau?" "Entahlah!" Rafael tersenyum kecil, melihat Almaira malah menatapnya sedikit ketus. "Makan malam sungguhan misalnya, aku menginginkan itu." Almaira terdiam. Meski Rafael bisa disebut sebagai orang baik, tetapi tetap saja dia adalah seorang lelaki. Ditambah lelaki ini tahu persis masalahnya dengan Derry. "Baiklah, aku akan mentraktirmu makan malam. Tentukan sendiri waktunya kapan," ujar Almaira pada akhirnya membuat senyum Rafael disisipi kepuasan tersendiri. Sementara itu di luar pintu mereka semakin ribut. Derry yang sejak tadi berusaha ingin masuk terus menggedor pintu, tapi kedengarannya kali ini dia tidak sendiri sebab Almaira mendengar beberapa orang ikut bersuara. Almaira menghela napas kecil, kemudian beranjak dari kursi. Namun, langkahnya sedikit terhenti karena Rafael menggenggam lengannya. "Aku temani?" "Nggak perlu, aku bisa--" "Kamu nggak bisa menangani ini sendiri, Maira. Aku bersamamu, kamu lupa?" tanya Rafael lagi, kemudian beranjak dari kursi masih dengan genggaman tangannya pada Almaira. Almaira pun hanya mengikuti langkah lelaki ini, dia bingung. Sampai Rafael membuka pintunya sendiri, tampak ada beberapa orang di depan kamarnya termasuk securitiy dan juga ibu mertuanya. Mereka semua terlihat terkejut melihat keberadaan Rafael di sana bersama dengan Almaira, hanya berdua saja. "Lihat, apa yang dilakukannya di dalam sana? Dia jelas memasukkan lelaki ke kamarnya! Dia berhak diusir dari apartemen ini!" teriak Bu Riska. Hampir keluar dua bola matanya karena terus melototi kelakuan Almaira di hadapannya sekarang. Sementara Derry sendiri tidak senang, dia akhirnya bisa melihat Almaira masih mengenakan pakaian utuh, tapi genggaman tangan Rafael pada wanita itu membuatnya sangat terganggu. Orang-orang berkumpul karena mendengar keributan dari teriakannya, hanya saja dia tidak mengira pemandangan ini yang harus dilihatnya. "Apa kalian menuduh kami berbuat meesum di dalam?" tanya Rafael. "Memangnya apa lagi yang kalian lakukan?! Keberadaan kalian di sini hanya meresahkan kami!" sahut Bu Riska lagi dengan nada tinggi. "Meresahkan? Kalau Ibu mau, ruang tamuku ada cctv. Ibu atau kalian sekalipun bisa melihatnya agar kalian tahu kami sedang apa. Tapi jika terbukti aku dan Rafael nggak bersalah, aku akan menuntut Derry dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan karena terus mengganggu ketenanganku yang sedang bekerja sejak tadi." Almaira menjawab dengan nada datar tanpa mau melonggarkan pegangan Rafael padanya. Dia sangat puas melihat Derry seperti kepanasan dengan keadaan ini. "Kau itu--" "Bu, udah cukup." Derry sedikit menarik lengan ibunya agar lebih tenang. "Agar kalian nggak salah paham, aku memang menjalin hubungan dengan Maira dan berniat merencanakan pertunangan kami dalam waktu dekat. Tapi karena satu lain hal, kami harus menunda rencana itu. Jadi aku harap kalian bisa percaya kalau aku dan Maira nggak akan berbuat kekacauan di sini, atau kalian boleh langsung mengecek cctv miliknya." Rafael mendadak mengumumkan hubungan tanpa persetujuan Almaira. Terdengar mereka saling berbisik satu sama lain, mungkin terkejut karena Almaira sangat tertutup di antara mereka. Mereka juga tidak mengetahui hubungan Almaira dan Derry, jadi setelah mendengar ini sepertinya tidak terjadi masalah apa pun. Lain halnya dengan reaksi Bu Riska dan Derry, wanita paruh baya itu menatap begitu sinis. Sementara Derry sendiri mengepalkan tangan semakin kuat dari biasanya. Kobaran api cemburu itu bertingkat-tingkat jauh lebih besar dalam hatinya. "Baiklah, sebaiknya aku pulang, Maira. Ini juga udah malam, sebaiknya kamu langsung tidur," ujar Rafael, dia pun masuk kembali untuk mengambil barang-barangnya di dalam. Kemudian keluar setelah para tetangga ini membubarkan diri. "Kamu hati-hati di jalan, ya. Maaf untuk malam ini," ujar Almaira. "Aku bisa mengerti itu." Rafael tersenyum kecil, lalu mengecup kening Almaira begitu singkat. "Aku pergi." Almaira hanya mematung, dia sangat terkejut sekaligus salah tingkah dengan tindakan ini. Rafael menciumnya? Ini sungguh tidak ada dalam perencanaan ... tidak, pengumuman tadi pun tidak pernah ada dalam perencanaan mereka. Apa maksudnya itu? "Ayo, kembali, Derry! Apa lagi yang mau kamu pertahankan dari wanita ini? Dia bahkan sudah berani begitu di depanmu dan ibu!" bentak Bu Riska sekaligus menarik-narik lengan putranya yang masih mematung di hadapan Almaira sejak tadi. "Aku akan menyusul, sebaiknya Ibu masuk lebih dulu karena ada urusan yang harus kuselesaikan dengan Maira," ujar Derry. "Urusan apa lagi, Derry? Ibu hanya menginap semalam di sini, Ibu harus memastikanmu menjauh dari Maira secepatnya agar kau bisa fokus pada Sonia dan Seth!" "Ini nggak akan selesai kalau Ibu terus ada di sini." Derry menatap ibunya, seakan mengisyaratkan keseriusan. Meski Bu Riska tidak tahu apa yang akan dilakukan Derry, tapi dia percaya putranya pasti akan meninggalkan Almaira setelah kejadian ini. Bu Riska pun akhirnya meninggalkan mereka berdua. Almaira menatap lelaki itu sejenak tanpa ekspresi, lalu masuk dengan kediamannya yang bertahan. Tidak ada lagi yang perlu mereka bahas, termasuk hubungan yang sudah rusak di antara mereka. Namun, Derry sudah mengikuti langkah Almaira masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. "Pergilah, apa yang kamu lakukan di sini?! Bukannya kamu udah lihat hubunganku dengan Rafael? Apa itu masih belum cukup untukmu?!" tanya Almaira kesal. "Kamu benar-benar ingin mengujiku, Maira? Apa kamu masih belum ingat siapa aku?" Derry menatap lekat kedua lensa mata Almaira, langkah demi langkah diambilnya hingga wanita itu spontan mundur ke belakang. "Kamu adalah lelaki yang ingin kulupakan!" "Kalau begitu aku akan membantumu mengingatnya lagi dan lagi, agar kamu semakin tahu siapa aku, Maira." Tatapan Derry semakin tajam. Dia sangat kesal bercampur cemburu. Almaira mengangkat tangannya, ingin menampar lelaki itu sekali lagi. Namun, Derry jelas tidak akan terima untuk sekarang. Dia menangkap lengan itu, lalu menariknya secara kasar mendekatkan wajah mereka berdua. Di sana, dia bisa merasakan kembali bibir wanitanya yang selalu manis. Memaksa Almaira membalasnya, meski wanita itu berontak keras. "Derry, cukup ... kamu jangan keterlaluan--" Almaira masih bisa berbicara saat paksaan lelaki itu sedikit melonggar, tapi tidak berlangsung lama. Derry mengangkat tubuh Almaira, berjalan ke arah kamar dan meleparkannya ke atas tempat tidur. Jelas saja itu membuat Almaira panik, dia tidak ingin melakukannya dengan iblis ini! "Pergi dari kamarku!" teriak Almaira sekaligus melempar bantal ke arah Derry dan menjauhkan tubuhnya dari lelaki itu. Bukannya menjauh, Derry justru tetap melancarkan niatnya. Mendominasi Almaira dengan sebuah gerakan cepat, wanita ini tidak bisa bergerak banyak karena kedua lengannya yang terkunci di atas kepala oleh genggaman keras Derry. Tekanan di tubuh Almaira semakin memperjelas aroma mint pada suaminya ini. "Kamu memilih perawatan yang sempurna, Maira. Tapi ini jelas bukan untuk orang lain. Jika kamu melakukannya dengan lelaki mana pun itu, akan kupastikan kehancurannya di depan matamu." Derry menyentuh wajah Almaira dengan satu tangannya yang lain, menikmati pemandangan tubuh istrinya yang jauh lebih indah dari sebelum-sebelumnya. Almaira sedikit gemetar ketika gaun cantiknya diturunkan, hingga lelaki itu semakin bebas meninggalkan jejak kepemilikkannya di setiap tempat. Derry tidak akan pernah menyia-nyiakan wanita yang dicintainya ini jatuh ke pelukan orang lain. Tidak akan pernah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD