"Ayolah, Derry. Mau sampai kapan kamu mempertahankan Maira? Dia juga sama sekali nggak bisa menyenangkan ibu. Apa Sonia aja nggak cukup buat kamu?" tanya Bu Riska kepada putra pertamanya itu.
"Maira tetap istriku meski dia nggak bisa menyenangkan Ibu," jawab Derry santai seraya melangkah ke luar pintu. Dia cukup sibuk karena malam ini adalah malam peringatan ulang tahun firma hukumnya yang ke 20 tahun.
"Bagaimana bisa begitu? Kamu harus tetap ada buat dia. Sonia akan mengajakmu makan di restoran besok siang, kamu harus bisa meluangkan waktu."
Derry menghela napas kecil. "Besok aku akan bepergian bersama rekan kerjaku selama 3 hari, Bu. Semua orang ikut, mana mungkin aku melewatkannya? Nanti aku yang akan menelepon Sonia. Sekarang, Ibu masuk saja. Aku pulang larut malam ini," ujarnya kemudian membenarkan tuksedo hitamnya.
"Tapi, Derry--"
"Maira?" Ketika Derry berbalik arah, dia melihat sosok Almaira yang juga baru keluar dari kamarnya. Mereka memang tinggal di satu gedung bersama, meski berbeda tempat. Derry sendiri yang memilih tempat ini karena ingin mengikuti ke mana pun Almaira pergi. Wanita itu sungguh sangat meresahkan baginya.
Bagaimana tidak meresahkannya, sekarang saja Almaira sudah begitu cantik. Tubuhnya yang lebih ramping dibalut dengan gaun anggun berwarna putih, rambut hitam panjangnya ditata apik ke belakang hingga lehernya tampak jenjang. Kulit putih bersih dengan make up flawless membuat kecantikan yang begitu natural dan indah di pandangan mata.
Derry tidak akan pernah melepaskan Almaira apa pun yang terjadi.
"Kamu mau berangkat? Kebetulan sekali, kita berangkat bareng, ya." Derry menawarkan tumpangan dengan senyum manisnya.
"Derry, apa yang kamu lakukan? Sonia akan salah paham denganmu!"
"Kamu dengar itu? Dengarkan aja apa kata ibumu, aku udah ada yang jemput." Almaira berkata sangat datar, kemudian melewati Derry dan Bu Riska tanpa senyum sedikit pun.
Derry segera melangkah cepat mengikutinya, tetapi Almaira tetap saja tidak acuh. Sikap wanita ini semakin ketus dan sangat galak setiap kali mereka bertemu, atau saat Derry mengajak bicara. Sikap ini sudah diterima Derry sejak 5 tahun lalu, padahal sebelumnya Alamira begitu menyenangkan, ramah, dan murah senyum. Semua itu telah hilang dari diri Almaira ketika mereka bertengkar hebat oleh masalah yang terjadi saat itu.
"Siapa yang jemput kamu?" tanya Derry tanpa basa-basi.
"Rafael."
"Rafael? Maira ... apa kamu serius berhubungan sama dia?!" tanya Derry lagi seraya menarik tangan Almaira gar berhenti melangkah.
"Seserius pernikahanmu dengan Sonia. Kenapa memangnya?"
"Tapi kamu masih istriku!" teriak Derry memekik hingga ke sepanjang lorong di sekitar mereka.
"Istri?" Almaira tersenyum miring. "Berkali-kali kamu mengatakan itu, sepertinya kamu lupa pernah mengatakan perceraian secara lisan 5 tahun lalu? Apa kamu masih berhak menyebutku istri?"
"Astaga, saat itu aku sangat emosi, Maira. Aku tidak sengaja!"
"Sengaja atau enggak, nyatanya pernikahan kita memang udah hancur, kan? Cepatlah sadar, Der. Berhenti mengejarku sebelum kamu terkena masalah dengan istrimu itu. Setelah acara kantor kita selesai minggu ini, minggu depan aku akan pergi ke pengadilan untuk mengesahkan perceraian kita."
Derry mengeratkan pegangan di tangan Alamira, dia tidak pernah senang sedikit pun setiap kali wanita ini mengatakan akan pergi ke pengadilan. Hatinya begitu sakit, cintanya masih cukup besar kepada Almaira tanpa alasan.
"Aku tetap akan melakukan berbagai cara mempertahankanmu--"
Ucapan Derry terhenti karena sebuah tamparan keras di pipinya oleh Almaira.
"Apa kamu udah terbangun dari mimpi sekarang?" tanya Almaira datar.
"Maira, kamu berhak melakukan apa pun. Tapi aku tidak akan pernah melepasmu--"
Tamparan keduanya di pipi Derry mengakibatkan perih, dia sempat terdiam bukan oleh rasa sakit itu. Melainkan karena sikap Almaira yang semakin tegas terhadapnya.
"Ini untuk hadiah pernikahanmu, aku selalu ingin melakukannya sejak dulu." Almaira menarik tangannya yang lain hingga pegangan Derry terlepas, lelaki itu masih terdiam. Almaira pun melangkah menjauhi Derry untuk ke sekian kali, meninggalkannya tanpa belas kasih atau menoleh lagi.
Saat sampai di depan gedung, wanita cantik itu ternyata benar-benar dijemput oleh seorang lelaki berperawakan tinggi blasteran Amerika. Dia adalah Rafael, teman satu profesi mereka. Sontak saja hati Derry bergemuruh, panas dan tidak terima wanitanya pergi dengan lelaki lain.
"Aku bersumpah akan mendapatkanmu kembali, Maira." Derry membatin, kepalan tangannya cukup kuat. Membulatkan tekad untuk mengejar Almaira lebih keras. Dia tahu hati wanita itu mungkin saja telah mengeras menjadi batu, tetapi dia lebih tahu masih ada sekeping cintanya di tempat terdalam hati Almaira.
***
Sesampainya di sebuah ballroom hotel, acara itu pun berlangsung cukup hangat, beberapa penghargaan diberikan kepada pengacara-pengacara dengan kinerja terbaik tahun ini. Almaira pun mendapatkan satu penghargaan sebagai pengacara muda berbakat, kasus yang ditanganinya selalu dimenangkan, dan dia menjadi salah satu kebanggaan di firma hukum tempatnya bekerja.
Senyum semringah nan manis itu terpancar dari bibir indah kemerahan milik Almaira, baik Derry maupun Rafael, mereka tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Namun, saat membahagiakan seperti ini. Almaira justru lebih senang berada di samping Rafael alih-alih menanggapi Derry yang menyapanya lebih dulu.
Itu membuat Derry sangat geram, dia akhirnya hanya bisa menelan kekecewaan itu bersama segelas minuman di tangannya.
"Apa ini akan baik-baik aja, Maira? Lihatlah, Derry terus menatapmu dari tadi," ujar Rafael.
Almaira tersenyum tipis. "Kamu takut?"
"Aku cuma mengkhawatirkanmu."
"Nggak ada yang perlu kamu khawatirkan dariku, Raf. Karena semuanya akan tetap sama," ujar Almaira. Lelaki di hadapannya sedikit menghela napas, terlihat jelas kekhawatirannya, tetapi itu tidak terlalu penting bagi Almaira.
Cukup lama mereka terdiam, Almaira pikir Rafael akan memulai pembicaraan mereka lebih dulu. Namun, sepertinya lelaki ini sedang tidak ingin. Dua lensa kecokelatan itu terus saja menatap dengan banyak arti.
"Ayolah, Raf! Aku nggak semenyedihkan itu! Buktinya aku masih bisa berdiri di sini dan memenangkan banyak kasus klienku," ujar Almaira sedikit menepuk lengan Rafael.
"Tapi yang kulihat hanya seorang wanita yang sedang berjalan di atas dendamnya. Itu pasti menyakitkan bagimu, Maira. Apa kamu nggak bisa berhenti?"
Almaira tersenyum tipis. "Terima kasih buat perhatian kamu, tapi aku akan tetap begini. Rasa ini memang menyakitkan, Raf. Tapi seenggaknya akan lebih baik daripada mati sia-sia padahal mereka tertawa di atas penderitaanku," ujarnya kemudian meneguk minumn dingin di tangannya.
Rafael akhirnya hanya bisa terdiam. Tidak ada yang bisa menghentikan Almaira, dia telah memilih jalan menyakitkan ini sejak lama. Mungkin akan sulit untuk tersentuh kembali.
"Apa kamu masih punya nomor Pak Rudy? Aku butuh bantuannya," ujar Almaira.
"Pak Rudy? Buat apa?"
"Aku butuh data dari sidik jari seseorang."
"Apa tentang kasus Mahasiswa itu?"tanya Rafael.
Almaira mengangguk pelan. "Ada beberapa hal yang mengganjal dalam benakku. Aku butuh data itu untuk mencocokannya dengan barang bukti yang kupunya."
"Hmh, baiklah. Aku akan membantumu untuk bertemu dengannya."
Almaira menelan minumannya, lalu menaruh gelasnya di atas meja. Dia pun melihat Derry masih saja menatapnya tajam dari kejauhan, Almaira tahu kecemburuan lelaki itu sangat besar.
Almaira tersenyum kecil, kemudian dengan sengaja melingkarkan lengannya di lengan Rafael. Lelaki jangkung di hadapanya tampak terkejut.
"Apa yang kamu--"
"Apa kamu mau makan malam di rumahku sekarang?" tanya Almaira.
"A-apa? Tapi sekarang kita sedang ...." Rafael menghentikan ucapannya, dia melihat pandangan semua orang rekan kerja hanya tertuju kepada mereka berdua.
Almaira membiarkan gosip-gosip bertebaran di antara orang-orang firma hukum tentang hubungannya bersama Rafael, dan dia pun tidak peduli dengan anggapan Derry. Pernikahannya dengan lelaki itu masih dirahasiakan hingga detik ini karena Derry ingin menjaga pekerjaannya.
Jika orang-orang sampai tahu Derry telah menikah lebih dulu dengan Almaira ketika menikah dengan Sonia 5 tahun lalu, itu akan menghancurkan kariernya.
Sementara Derry sendiri sudah cukup menahan amarahnya malam ini. Bukan hanya karena Almaira bersikap dingin, tetapi karena Rafael terus saja menempel dekat dengn istrinya.
"Baiklah, aku terima undanganmu." Rafael berkata seraya meraih pinggang Almaira, dia menatap lekat kedua lensa bulat indah milik Almaira cukup lama. Lalu melangkah mengajak wanita itu pergi meninggalkan acara mereka lebih dulu.
Mereka cukup menyadari Derry mengikuti dari belakang hingga sampai ke gedung apartemen. Lelaki itu berjalan sangat tergesa-gesa, tetapi tidak cukup cepat karena Almaira dan Rafael sudah memasuki kamar hingga mengunci pintu dari dalam.
"Maira! Almaira, buka pintunya!" teriak Derry seraya menggedor-gedor pintu cukup keras.
Tidak ada sahutan dari dalam, itu membuat aliran darah Derry semakin mendidih.