Chapter 2 Jejak Bagian 2

1003 Words
"Shaka, bangun-bagun," panggil Meishara sembari menepuk pipinya beberapa kali. Shaka pun membuka matanya dan langsung beranjak bangun. "Wanita itu, tak bunuh diri!" seru Shaka tiba-tiba. Meishara mengerutkan keningnya. Beberapa orang yang ada di sana pun saling melihat. "Aku sudah yakin kalau Riana tak bunuh diri," ungkap penghuni di sana. "Sebelum itu kita harus mencari bukti terlebih dahulu," lanjut Meishara. Shaka beranjak bangun dan memikirkan laki-laki yang tadi kerasukan. "Siapa dia?" tanyanya dalam hatinya. "Kenapa wajahnya seperti familiar?" "Shaka,"panggil Meishara. Shaka pun menoleh dan mengikuti polisi wanita itu. "Jadi ini kamar yang ditempati Riana?" tanya Meishara lagi. "Iya sudah sekitar tiga bulan Riana dan Andre tinggal di sini," ucap Luri salah satu penghuni apartemen ini. Meishara dan Shaka pun melihat ruangan itu. Begitu Shaka masuk, laki-laki itu kembali melihat reka adegan yang tadi ia lihat dalam alam bawah sadarnya. "Kami melihat Riana gantung diri di sini!" seru Luri lagi sembari menunjuk plafon yang ada di depannya. Meishara melihat plafon yang ada di depannya tak ada ada seuntai tali yang melingkar di sana. "Riana tak bunuh diri!" seru Shaka lagi. Meishara dan Luri pun melihat ke arah Shaka. "Jika Riana bunuh diri mana mungkin ada jejak darah di lantai," lanjut Shaka menoleh ke arah lantai. Meishara menoleh ke arah lantai ada beberapa jejak darah yang masih ada di lantai dan langsung wanita itu potret. "Lihatlah jejak darah ini." Shaka menunjukan jejak darah yang hanya tinggal sisa-sisa sembari berjalan dari arah dapur ke plafon. Luri yang memperhatikannya Shaka pun langsung berjongkok dan memegang lantai dan mencium baunya. "Iya, bau darah tapi, sudah samar," lanjutnya. "Kalau Riana dibunuh di mana alat untuk membunuh Riana?" tanya Meishara. "Ikat pinggang berwarna coklat." Meishara mengerutkan keningnya lagi. "Di mana Andre sekarang?" tanya Meishara lagi. "Sudah seminggu ini Andrea hilang," jawab Luri lagi. "Andre tak akan pergi jauh-jauh dari sini," tambah Shaka melihat arwah Riana melayang keluar. Shaka buru-buru keluar mengikuti arwah Riana begitu juga Meishara dan Luri. Arwah Riana membawa Shaka ke lantai 18. "Di sini tak ada yang tinggal," jawab Luri. Shaka terus saja berjalan mengikuti arwah Riana yang berhenti di salah satu kamar. Meishara mengikuti Shaka langsung membuka pintu itu. Seketika seseorang terkejut sembari menutup wajahnya karena ruangannya itu begitu gelap. "Maafkan aku Riana, maaf," gumamnya sembari meringkuk di lantai. "Itu Andre!" seru Luri. Andre meringkuk sembari memegangi ikat pinggangnya. Tanpa banyak bicara Meishara pun meringkus Andre dan mengambil barang bukti itu. Meishara pun menelepon timnya untuk menangkap Andre sesegera mungkin dan melakukan tes DNA pada ikat pinggang itu. "Aku menemukanmu Shaka," gumamnya menyeringai. "Siapa kamu?" tanya Shaka. Seketika Andre pun kembali menangis dan menyebut nama Riana beberapa kali sembari minta maaf. Shaka terus saja melihat ke arah Andre dan dalam hatinya bertanya-tanya siapa dia. "Shaka, dia mengincarmu," ucap arwah Riana. "Siapa?" tanya Shaka bingung. "Aku tak tau siapa dan sekali lagi terima kasih," jawab arwah Riana seketika menghilang. *** Shaka duduk sendiri setelah memecahkan kasus Riana. Meishara pun duduk di sampingnya. "Lagi-lagi kamu membantu kepolisian untuk mengungkapkan kasus kematian Riana," ucap Meishara sembari memberikan segelas kopi panas padanya. "Aku hanya ingin menyelamatkan arwah Riana yang terkurung di sini karena ia mati dibunuh," jawab Shaka. Meishara menghembus napas panjang. "Lagi-lagi kamu berbicara tentang arwah." "Suka tidak suka kamu harus mendengarkan ku karena arwah itu sendiri yang membantu kita untuk menyelesaikan urusan ini." "Terserah lah." Shaka terdiam memikirkan siapa yang merasuki Andre tadi. "Pada akhirnya Andre mengakui kalau dia yang menghabisi Riana." Shaka pun menoleh. "Andre, cemburu pada Riana karena kekasihnya itu dekat dengan teman kerjanya." "Cemburu buta benar-benar menyesatkan." Tiba-tiba saja dari kejauhan seseorang berteriak histeris. Shaka dan Meishara pun berlari ke arah suara teriakan itu. Mereka berdua terkejut begitu melihat beberapa orang bunuh diri secara masal. "Apa-apa ini?" tanya Meishara terkejut tak bisa berkata-kata. Shaka melihat beberapa orang-orang yang meloncat dari gedung itu pun dirasuki beberapa mahluk hitam dan mereka terus-menerus tertawa terbahak-bahak sebelum tubuh yang dirasukinya jatuh ke tanah. "Siapa mereka?" tanyanya sendiri. "Itu dia, Shaka," ucap para makhluk-makhluk itu. "Yah itu Shaka," jawab yang lainnya begitu sumeringah. Shaka terdiam tak bisa berkata-kata karena ini pertama kalinya ia melihat mahluk hitam sebanyak itu. "Ayo kejar Shaka," ajak yang lainnya. "Kita sudah menemukan Shaka," ungkap mereka. Para mahluk hitam tak berwujud itu pun keluar dari tubuh yang dirasukinya dan bergabung menjadi satu membentuk gumpalan hitam besar. "Siapa mereka?" tanya Shaka lagi dan sebelum benar-benar menyadarinya mahluk itu mulai mendekati Shaka. Shaka yang sadar pun kalau mereka semakin dekat Shaka pun buru-buru berlari sejauh yang ia bisa. Mereka terus saja tertawa. "Itu Shaka, ayo kejar dia?" "Mereka itu apa?" tanya Shaka lagi masih berlari sekuat tenaganya. Sesekali Shaka melihat ke belakang mereka masih mengejarnya dan Shaka terus saja berlari sampai saat mereka mendekat tiba-tiba saja mahluk itu pun meledak entah karena apa. Shaka menoleh lagi dan melihat semuanya hilang tanpa sisa seketika Shaka pun ambruk terkapar di jalan. "Mereka itu apa?" tanyanya sendiri masih bingung dan tak bisa menerka-nerka dengan pikirannya sendiri. Seseorang mendekatinya Shaka dengan napas tersengal-sengal karena sedari tadi wanita itu mengejar Shaka. "Shaka," panggil Meishara berhenti tepat di depan Shaka. Laki-laki itu masih belum bisa sadar masih terkejut dengan apa yang lihat. "Shaka," panggil Meishara sekali lagi tapi, laki-laki itu masih saja terpaku dengan wajah bingung sekaligus takut. Wanita itu menggoyang tangannya tepat di depan wajah Shaka tapi, tetap saja laki-laki itu masih tak menyadarinya. Meishara menghembuskan napas panjang. "Dia kenapa, sepertinya ketakutan akan sesuatu?" tanyanya sendiri sembari mengerutkan keningnya. Karena dipanggil beberapa kali tak digubris laki-laki itu Meishara pun menepuk pundaknya dengan keras. "Shaka," panggilnya sekali lagi setelah beberapa kali. Laki-laki itu pun terkejut saat melihat Meishara ada di depannya. "Meishara?" tanyanya bingung melihat sekitar. "Shaka, kamu kenapa?" "Kenapa kamu berlari saat orang-orang itu bunuh diri dan pingsan tanpa sebab?" Meishara terus saja bertanya dan memperhatikan Shaka. Laki-laki itu pun menghembus napas panjang. "Pasti kamu tak akan percaya kalau aku katakan apa yang aku lihat tadi," jawab Shaka beranjak bangun. "Memangnya apa yang kamu lihat?" Shaka berjalan pelan rasanya ia benar-benar lelah dan tiba-tiba saja laki-laki itu ambruk membuat Meishara terkejut. "Shaka kamu kenapa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD