"Shaka, kamu kenapa?" tanya Meisha mencoba membantu Shaka berdiri.
"Kakiku lemas," jawab Shaka.
Meishara pun melepaskan tangannya dari lengan Shaka.
"Auu," ungkap Shaka ambruk kembali di tanah.
"Kakiku benar-benar lemas!" Shaka melihat Meishara berpaling.
"Aku tak bohong?"
"Kita sudah bekerja lama kenapa kamu tak mempunyai empati sedikit pun padaku?"
Shaka masih duduk di tanah cemberut merasa kesal dengan sikap Meishara.
Wanita itu melihat Shaka masih duduk di tanah saat ia akan membantunya laki-laki itu mencoba berdiri kembali.
Secara perlahan Shaka menahan sakit di pergelangan kakinya.
Meishara memperhatikan kaki Shaka berjalan pelan.
"Apa cederanya kambuh lagi?" tanya Meishara sendiri.
Tanpa basa-basi lagi wanita itu menggandeng tangan Shaka.
"Kalau kamu tak niat bantu enggak perlu bantu!" seru Shaka berjalan pelan.
Meishara tak mengatakan apa-apa, ia menggandeng erat tangan Shaka tanpa melepasnya.
Sesaat Shaka menoleh dan tersenyum.
Secara perlahan Meishara pun membawa Shaka ke klinik.
Seorang dokter membuka sepatu Shaka dan benar saja kakinya bengkak bahkan berdarah.
"Kamu sehabis berlari?" tanya dokter itu saat melihat luka di kaki Shaka.
Shaka hanya mengangguk.
"Kalau kamu seperti ini terus kamu benar-benar tak akan bisa jalan," ucapnya.
"Aku berusaha menyelamatkan diriku ...."
"Apa pun alasannya tetap saja kamu tak boleh berlari lagi sampai seminggu ke depan."
Shaka menganggukan kepalanya.
Meishara tak mengatakan apa-apa dan merasa bersalah karena Shaka seperti itu karenanya.
Beberapa minggu yang lalu terjadi kecelakaan di area sekolah. Saat Meishara dan Shaka menyelidiki ke sana entah bagaimana Shaka menariknya menjauh dari plafon yang hampir mengenainya.
"Hey, kamu memikirkan kejadian itu?" tanya Shaka tiba-tiba membuyarkan lamunan Meishara.
Wanita itu menundukan kepalanya air matanya berkaca-kaca. Secara perlahan Shaka pun menariknya sampai membuat keduanya saling berpelukan.
"Kamu tak perlu merasa bersalah karena itu," gumannya.
"Tapi, karena aku ...." Meishara tak melanjutkan ucapannya karena Shaka terus-menerus mengusap rambutnya.
Hmmm, terdengar suara seseorang berdehem Shaka pun melepaskan pelukannya.
"Tak seperti yang ada lihat!" seru Shaka begitu melihat seseorang yang ada dihadapannya.
Meishara sendiri menundukan kepalanya karena malu.
"Terserahlah apa hubungan kalian yang jelas kalian harus fokus menyelesaikan kasus ini," tutur Komandan Jikra
Shaka dan Meishara pun menganggukan kepalanya.
"Kalian harus bisa menyelesaikan kasus yang baru saja terjadi sebelum orang-orang dari kantor pusat datang kemari," tambah Komandan Jikra.
"Baik, kita akan menyelidiki kasus ini," jawab Meishara.
"Sementara Apartemen City akan ditutup untuk penyelidikan dan mengamankan beberapa korban yang tersisa."
Meishara dan Shaka menganggukan kepalanya lagi.
Komandan Jikra menoleh ke arah Shaka.
"Jika kamu tak sanggup, kasus ini bisa ditangani yang lain," lanjut Komandan Jikra.
"Saya akan tetap mengambil kasus ini Pak," jawab Shaka.
"Dengan keadaanmu seperti itu?" tanyanya lagi.
"Yah, sementara saya akan meminta Romi untuk membantu Letnan Meishara," jawab Shaka.
Komandan Jikra menganggukan kepalanya. "Baik, saya yakin kalian bisa menyelesaikan kasus ini seperti kasus-kasus sebelumnya."
Pria itu tertawa terbahak-bahak mendengar itu sedangkan Meishara berpaling.
"Sudah tak perlu merasa marah seperti itu!" seru Shaka setelah komandan mereka pergi.
"Beberapa kali dia mendapatkan penghargaan semuanya karena kita, tapi dia tak pernah menyebut kita dalam pidatonya," timpal Meishara.
Shaka menghembuskan napas panjang dan melihat kakinya yang benar-benar bengkak.
Romi buru-buru datang begitu Shaka menelponnya.
"Ada apa pak?" tanyanya begitu ia datang.
"Sementara kamu ikut Bu Meishara untuk menyelidiki kasus bunuh diri masal tadi," jawab Shaka.
"Baik Pak Shaka, saya sudah berada di tempat kejadian dan datang ke rumah sakit yang menangani mereka," ungkap Romi.
"Apa yang kamu dapat?" tanya Meishara.
"Jumlah korban ada 20 orang yang tewas di tempat dan 10 orang luka-luka dan beberapa orang yang pingsan tadi sekitar 40 orang jumlah keseluruhan sekitar 70 orang mereka semua pulang dari Gunung Merapi," tuturnya.
"Gunung Merapi?" seketika wajah Shaka terkejut.
Suara telpon Romi pun berbunyi dan wajahnya benar-benar serius.
Meishara dan Shaka menoleh ke arah Romi.
"Para korban yang selamat mereka semua tewas," gumam Romi sembari menutup telponnya.
Meishara pun bergegas. "Ayo kita ke sana sekarang?" ajaknya.
Romi pun menganggukan kepalanya tanpa berpamitan dengan Shaka.
"Apa yang terjadi?" tanyanya bingung.
"Apa semua ini berhubungan dengan Gunung Merapi?"
Seketika tubuh Shaka benar-benar bergetar. Ia teringat dengan kejadian 18 tahun yang lalu.
Seluruh desa terbakar tanpa tau penyebabnya kenapa?
"Tolong-tolong," suara-suara orang-orang meminta tolong sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telinganya.
Shaka menutup telinganya.
"Maafkan aku," gumamnya sembari menundukan kepalanya.
"Shaka, kamu harus selamat," pinta ibunya mendorong Shaka jauh darinya.
Api menjalar ke mana-mana membuat Shaka kembali ke masa kelam itu.
"Shaka kamu harus pergi," pinta ibunya lagi.
Shaka meneteskan air matanya melihat kejadian itu kejadian yang selalu menghantuinya selama 18 tahun.
"Ibu, maafkan aku," gumam Shaka.
Di depan matanya sendiri Shaka melihat ibunya hangus terbakar.
"Ibu ... ibu ...." panggil Shaka membuyarkan lamunannya saat pamannya Sega menepuk pundak.
"Shaka, sadar," ucapnya sembari menggoyangkan tubuhnya yang sudah terkapar di lantai.
"Paman," panggil Shaka langsung memeluk pamannya.
"Shaka, ada apa denganmu?" tanyanya sembari menepuk pundaknya pelan.
Shaka melepaskan pelukannya dan beranjak berdiri dibantu pamannya Sega.
"Kamu melihat mahluk hitam itu?" tanyanya.
Shaka menganggukan kepalanya. "Siapa mereka?" tanya Shaka serius sembari memegangi tangan Sega.
"Mereka sudah mengetahui keberadaanmu," jawab Sega serius.
"Mereka siapa?"
"Cara satu-satunya kamu harus kembali ke tempat kelahiranmu," jawab Sega serius.
"Kembali ke Desa Anjasari?"
"Iya, sudah saatnya kamu menemukan jawabnya dan menyelesaikan semuanya."
"Ada apa?"
"Sebelumnya paman tak mengatakan soal ini padaku?"
"Karena aku ingin melindungimu!"
Shaka terlihat bingung.
"Sekarang aku sudah tak bisa melindungimu lagi."
"Jelaskan padaku paman?"
"Kamu harus menemukan jawaban itu sendiri!"
"Aku tak mengerti!"
"Sekarang aku hanya bisa melindungi keluargaku dan sudah saatnya kamu melindungi dirimu sendiri."
"Apa ini ada hubungannya dengan kematian keluargaku?"
"Temukan jawaban itu di Desa Anjasari."
"Apa yang harus aku lakukan?"
Sega pun terdiam memikirkan sesuatu dan setelah itu memegang kaki Shaka yang bengkak sembari membaca beberapa mantra.
Seketika bengkak di kaki Shaka pun sembuh membuat laki-laki itu benar-benar terkejut.
"Kamu pun mempunyai kekuatan ini hanya saja aku tutup sementara," ucap Sega lagi.
Shaka benar-benar tak mengerti apa yang dikatakan Sega.
Sega pun membuka kalung yang dipakainya dan mengalungkannya ke leher Shaka.
"Apa ini?" tanya Shaka saat memegang kalung itu.
"Ini akan melindungimu sementara begitu kamu sampai di Desa Anjasari."
"Terus paman?"
"Bukankah paman tak pernah melepaskan kalung ini?"
"Aku bisa melindungi keluargaku dan kamu harus melindungi dirimu sendiri."
Shaka mengerutkan keningnya lagi tak mengerti dengan semua yang dikatakan pamannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?