Sekeras apapun Gio berpikir, ia tak menemukan jalan keluarnya. Gio yang bersandar duduk di kursi sofa, tak menyadari satu-satu teman kuliahnya telah turun dari lantai atas dengan sudah berganti pakaian.
"Lu, belum sholat subuh, Gio?" Jay mengingatkan.
"Astaghfirullah alazim. Tolong pegang sebentar." Gio menyerahkan bayi itu pada Jay sementara ia pergi ke kamar.
****
Juwita yang tengah sarapan, tertegun dengan apa yang dilihatnya. Ia tengah makan di beranda dan melihat Gio keluar sambil menggendong bayi. Juwita melihatnya dari seberang jalan. Ketika anak kost-kostan Gio pergi dengan motor, pemuda itu malah tinggal bersama dengan sang bayi. "Itu bayi 'kan? Itu anak siapa?" Matanya masih memastikan.
Alam yang selalu dipaksa ibunya sarapan di beranda hanya karena ingin melihat Gio berangkat ke kampus, juga ikut penasaran. "Gak tau, Mak." Ia berdiri mengamati.
"Kita samperin aja, yuk!"
"Mak, Alam mau sekolah," protes bocah yang sudah memakai seragam SD-nya itu.
"Ck, sebentar aja! Kamu udah 'kan, makannya? Ini juga kita mau langsung ke sekolah!" bujuk Juwita pada anaknya.
Alam terpaksa ikut. Mereka mendatangi Gio yang hendak masuk ke rumah setelah melihat anak-anak kost pergi dari rumahnya.
"Mas Gio!"
Pemuda itu menoleh. Rambutnya masih berantakan. Ia terkejut melihat Juwita dan anaknya datang ke tempatnya.
"Mas Gio gak ke kampus, Mas?" Juwita tersenyum ramah sambil memperhatikan bayi di tangan Gio. "Ini anak siapa?"
"Eh ...." Kepala Gio pusing seketika. Belum selesai ia memikirkan bagaimana caranya lepas dari masalah ini, masalah lain datang. Ia tidak seharusnya membawa bayi itu keluar karena sebentar lagi, masalah ini akan jadi gosip di komplek itu. "G-gue ... ck!" Ia menatap Juwita yang kelihatannya senang melihat bayi cantik yang ada dalam gendongan.
Apa ia terus terang saja pada janda satu ini? Dulu waktu Alam masih kecil, bocah itu sering dititipi Juwita pada Gio bila ia ada di rumah. Sejak cerai dari suaminya 3 tahun yang lalu, Juwita bekerja keras berjualan sendirian untuk menopang hidupnya bersama sang anak. Gio yang iba, mau saja dititipi Alam bila ia sedang tak sibuk. Apa kini Juwita mau melakukan hal yang sama pada dirinya?
"Juwi ...," ucap Gio setengah berbisik karena bayi itu tengah tertidur.
"Mmh?" Juwita mengalihkan pandangan pada pemuda pujaannya.
"Ada yang ninggalin bayi ini di depan rumah gue. Gak tau siapa. Dia bilang, ini anak gue."
"Lho, kok bisa?"
"Beneran ini bukan anak gue! Gue gak tau siapa yang ngelakuin ini karena gak ketemu sama orangnya. Dia hanya ninggalin surat aja ke gue."
"Lah, terus?"
Gio memasang wajah sedih setengah mengemis. "Gue gak tau harus bagaimana sekarang, gue bingung. Lu mau gak bantuin gue, sebentaar ... aja. Gue titip nih, bayi, soalnya gue ada kelas pagi ini. Bisa gak? Ah ... ck!" Ia menghela napa panjang sambil mengusap leher belakangnya. Ia baru kali ini minta tolong pada Juwita dan ia sangat berharap janda muda itu mau menolongnya.
Juwita iba tapi ia menoleh pada anaknya. "Tapi Alam juga mau berangkat sekolah ...."
"Ntar gue anterin deh, sekalian gue mau ke kampus. Tapi gue mandi dulu, gimana?" ucap Gio cepat.
Alam mengangguk sehingga Gio bisa menyerahkan bayi itu pada Juwita. Sambil menunggu, Juwita memperhatikan wajah bayi mungil itu. Wajahnya terlihat indo. Apa Gio pernah tidur dengan seorang gadis bule? Kenapa Gio tidak tahu? Sebenarnya berapa banyak gadis yang pernah tidur dengannya?
Namun kemudian Juwita ragu. Apa benar wajah sepolos dan setenang Gio, dengan mudahnya tidur dengan pacar-pacarnya? Rasanya tidak mungkin. Walau tampan, pemuda itu sangat sopan dan tak pernah ia lihat menggoda perempuan. Justru para gadis yang sering ia temui menggoda Gio. Gio menarik karena responnya selalu membingungkan. Terkesan misterius karena mudah didekati tapi tak suka terikat. Ia juga ramah sehingga mudah menarik simpati, ditambah wajah tampannya walau kulitnya sedikit kecoklatan.
Gio kemudian muncul dari kamar dengan kaos hitam yang sedikit longgar dan celana jeans ketat. Tubuhnya yang tinggi dan atletis terkesan semakin kurus dengan penampilannya yang sekarang. "Bisa, kan?" tanyanya sekali lagi pada Juwita.
"Bisa apa?"
Ketiganya seketika menoleh ke arah pintu depan yang terbuka lebar. Gio melongo. "Mama?"
Di depan pintu berdiri tiga orang yang amat ia kenal. Ayah, ibu dan kakak perempuannya, Lily. Sejak kapan mereka ada di sana? Kenapa pagi ini terasa begitu rumit?
Mama Kae menatap ke arah bayi yang kini digendong Juwita. Ia tahu betul, Juwita adalah seorang janda. Tak mungkin tiba-tiba ia punya bayi. Apalagi ada keranjang bayi yang terlihat bagus bersama peralatan bayi lainnya di atas meja. Juwita takkan punya cukup uang untuk membeli barang-barang bagus seperti itu. Kecurigaannya mengarah pada anaknya sendiri, Gio.
Sementara itu, Gio panik. Ia harus bilang apa pada orang tuanya tentang bayi ini. Gio lupa, kedua orangtuanya akan datang ke Jakarta untuk mengantar kakaknya Lily untuk mengambil S2 di Australia. Ia memang tak tahu persis kapan, tapi kedatangan mereka memang tidak pada saat yang tepat.
Mama melipat tangan di dadda. Ia segera tahu ada yang tak beres melihat Gio yang panik. Pemuda ini tak pandai berbohong. "Ayo, Gio. Ada apa ini?" Senyum mama Kae yang dingin membuat Gio terjepit, sementara Lily hanya tergelak melihat adiknya pucat seketika.
"Eh, itu, Ma ...." Gio bingung memulai. Tangannya tak tahu harus bergerak ke mana.
"Ya ...." Mama menunggu dengan sorot mata tajam. Ia kemudian melirik Juwita dengan wajah dingin. "Kalau kamu merasa tidak punya kepentingan, sebaiknya keluar saja."
Juwita segera tahu apa arti ucapan ibu Gio. Ia menyerahkan bayi dalam gendongan pada Gio. Juwita kemudian membawa Alam keluar sambil berpamitan pada ketiganya. Ia tahu, mama Kae sangat tegas. Karena itu ia membiarkan pemuda itu menerangkan sendiri pada ibunya. Juwita tentu saja tak berani bicara dengan wanita ini, karena Mama Kae adalah salah satu keluarga Gio yang paling ditakutinya setelah Lily.
"Jadi, ini masalah bayi ini ya ...." Mama mendekat disertai suami dan anak perempuannya sambil menarik koper. Mereka memperhatikan bayi perempuan yang terlihat sangat menggemaskan ketika tidur itu.
Gio kebingungan. Ia terlihat gelisah. Akankah mama marah padanya? "Ma, demi Tuhan. Ini gak seperti yang Mama pikirkan."
Mama kembali melirik Gio di sampingnya. Kali ini ada aura dingin menyelimuti. "Lalu ... cerita dong. MENURUT VERSIMU." Ia berbicara dengan satu alis terangkat dan kalimat terakhir yang penuh penekanan.
Sorot mata itu makin membuat Gio gugup. "A-aku baru pagi ini bertemu dengan bayi ini, Ma. Dia sudah menangis di depan pintu, tapi aku tidak melihat seorangpun. Di dalam keranjang itu juga ada surat-surat lengkap yang menyatakan aku anak bayi itu dan anak-anak kost juga percaya. Tapi aku tidak. Demi Tuhan, Ma. Aku belum pernah merusak anak gadis orang!" Gio mengucapkannya dengan terbata-bata dan raut ketakutan. Ada emosi yang tertahan karena tak ada satu orang pun yang percaya padanya.
"Coba papa periksa ya." Papa Erick melakukannya dengan tenang. Ia membongkar isi keranjang dan melihat beberapa lembar kertas yang ditemukan. Ada amplop berisi akte dan surat. Mama dan Lily juga ikut membacanya.
Lily mengejek. "Ah, Gio. Buktinya sudah jelas, kamu mau berbohong bagaimana lagi?"
"Kakak ... jangan ngomong sembarangan gitu dong, Kak!" Gio semakin frustasi. Ia sudah tidak lagi bisa memikirkan jadwal kelasnya pagi ini sebelum bisa meyakinkan orang tuanya akan masalah ini. Ia hampir menangis.
Bersambung ....