3. Tanggung Jawab

1194 Words
Ternyata ucapan Gio yang sedikit keras, membuat bayi itu terbangun dan menangis. Mama segera mengambil dari tangan Gio dan menimang-nimangnya agar bayi itu kembali tidur. Papa yang terdiam mulai bicara. "Bikin akte, siapapun bisa, tapi apa kamu tidak kenal dengan perempuan yang bernama Nina ini?" "Tidak tahu, Pa. Sungguh! Aku juga gak punya teman dengan nama itu." Terang Gio bingung. "Bohong, 'kan?" ledek Lily lagi sambil menunjuk wajah adiknya. Gadis berkerudung biru itu memang tak pernah akur dengan Gio. "Demi Tuhan, Kak!" tangkis Gio. Papa menyentuh tangan Lily, anak tertuanya. "Sudah Lily. Lihat, adikmu sedang stres. Kamu bicara jangan sembarangan." Nasehatnya dengan suara lembut. "Apa papa percaya?" Kini Lily balik bertanya. "Percaya." Papa menoleh pada Gio. "Sebab aku tahu anakku seperti apa. Dia takkan berani melakukan hal-hal yang menyalahi agama. Kamu tidak pernah coba minum alkohol 'kan, Gio?" "Eh, coba pernah." Suara Gio mengecil dengan mata memicing. Ia tahu itu salah tapi berusaha jujur. "Tapi aku coba di rumah dan itu juga bersama anak-anak kost yang semuanya laki-laki. Hanya sedikit," katanya memperlihatkan jarak ibu jari dan telunjuk yang berdekatan. "Tuh, 'kan, Pa," sahut Lily lagi. "Tapi masalahnya bukan itu sekarang." Mama mengenyampingkan kerudung panjangnya, dan kembali bicara. "Bayi ini, bagaimana seterusnya?" Gio menunduk lemas. "Gio juga bingung, Ma. Itu 'kan bukan anak Gio." "Yang pasti, kamu harus bertanggung jawab." "Kok aku, Ma?" Gio mengangkat wajahnya menatap sang ibu, sedangkan Lily, ia tersenyum lebar. Seketika Gio merasa tertuduh. "Ini bukan masalah mama percaya atau tidak, Gio, tapi bayi ini datang padamu. Ia tanggung jawabmu sekarang. " "Iya, benar kata Mama, Gio." Papa mengaminkan ucapan istrinya. "Persis seperti saat kami menemukanmu dulu." Ya, Gio saat masih bayi ditemukan pekerja kelapa sawit di perkebunan milik orang tua Kae di Lampung. Setelah diserahkan ke dinas sosial, tak ada seorangpun yang mengaku sebagai orang tuanya datang mengambil. Karena itu, Kae kembali dan mengambil Gio sebagai anak angkat. Gio terdiam. Ia melirik bayi mungil yang kembali tertidur di gendongan ibunya. "Tapi Mama dan Papa percaya Gio, 'kan?" "Sampai kami bertemu ibunya, kami tidak tahu," ucap mama lagi. "Ma-ma ...," rengek Gio lemas. Lily pun puas terbahak. *** Seorang pria memarkir mobilnya di halaman rumah. Tubuhnya terasa lelah karena bekerja hingga larut malam. Pria itu turun sambil menggantung jasnya di lengan kiri, lalu mendatangi pintu rumah dan memutar kunci. Lampu di dalam rumah besar itu sudah dinyalakan. Suasana hening. Sambil menutup pintu, pria itu melihat sekitar. "Anna, apa kamu sudah tidur?" panggilnya. "Belum Ayah!" Suara gadis kecil terdengar menyahut ucapan pria ini. Sang pria tersenyum. Sedikit rasa lelahnya hilang entah ke mana. "Kamu ngumpet di mana lagi, sekarang?" "Ayah, coba cari!" perintah suara yang berasal suara anak-anak itu. Sang pria tersenyum lebar. "Di mana ya?" Ia mulai melangkah ke tengah rumah. Sebenarnya ia sudah menandai beberapa tempat, tapi mendengar jarak suaranya, ia bisa mengira-ngira bocah perempuan itu ada di mana. "Cari dong!" Sang gadis kecil makin asyik di tempat persembunyiannya. Ia mengira-ngira pria itu sudah sampai di mana dengan menajamkan pendengaran. Sambil mendengar asal suara, pria itu terus mengajak anaknya bicara. "Di mana sih?" "Ayah, ayo cepetan!" Suaranya terdengar tak sabar. Ia menunggu dan sang pria yang sepertinya kesulitan menemukan di mana dirinya. Benarkah pria itu tak bisa menemukannya? Pria itu berdiri di samping pintu dapur. Ia melihat anaknya dari sela-sela engsel pintu. "Ayah nyerah deh!" ucapnya menahan tawa. Anak itu merengut. Ia bergerak keluar dari persembunyiannya. "Ayah ... Ayah gimana sih? Ayah ahh ...!!" "Nah!" Sepasang tangan kokoh tiba-tiba menyambar tubuh anak perempuan itu dan menggendongnya. Gadis kecil itu terkejut tapi sang pria tertawa. "Ayah ...." Ia langsung cemberut. "Anak ayah ... dibilang jangan main ke dapur. Bahaya." Anak perempuan itu merengut sambil menatap wajah sang ayah. "Ayah, Ayah kenapa pulang telat lagi?" "Ayah 'kan kerja, Sayang." Sang pria membawa putrinya ke ruang tengah. Ia adalah Gio. Ia membesarkan bayi itu hingga kini. Ariana atau yang biasa dipanggil Anna, kini telah berusia lima tahun. "Kenapa kamu belum tidur juga, Sayang. 'Kan udah malem?" "Tunggu Ayaahh ...," kata Anna manja. Ia menyandarkan kepalanya di dadda bidang Gio, seorang pemuda yang kini telah beralih rupa menjadi pria dewasa yang tampan. Anna telah berubah menjadi gadis kecil yang cantik. Di umurnya yang sekarang, ia punya bulu mata panjang dan lentik. Pipinya sedikit tembam dengan dagu runcing dan bibir kecil berwarna pink. Anna sangat mirip dengan boneka porselen yang cantik. Gio mengusap kepala putrinya dengan lembut. Rambut Anna yang panjang terurai, dirapikannya ke samping. "Sekarang tidur ya." Anna mengangguk. Gio membawanya ke sebuah kamar milik si kecil. Kamar yang penuh dengan boneka yang tersusun rapi di salah satu sudut ruangan. Anna sudah dibiasakan sejak kecil untuk tidur di kamar terpisah walau kadang mereka tidur bersama. Setelah diturunkan di ranjang yang berukuran besar, Anna segera masuk ke dalam selimut. Gio merapikan selimut si kecil dan kembali mengusap kepalanya dengan lembut. "Besok kita jalan-jalan ke mana lagi, Yah?" tanya Anna penasaran. "Oh iya, besok Sabtu ya? Mau ke mana lagi ya ...." "Ke Mal lagi, Yah. Aku mau makan puding kelinci lagi." "Ok. Kalau begitu, cepet saja tidurnya." Anna segera menutup kedua matanya rapat-rapat membuat Gio tersenyum. Itu artinya sang anak sudah tidak sabar untuk pergi ke Mal dan makan puding kelinci lagi. **** "Ayah. Ini kuncir yang kiri beda, Yah." Anna berlari ke luar kamar dengan rambut terkuncir di kedua sisi. Ternyata sang ayah sedang membukakan pintu untuk Juwita. Anna merengut. Ia tak begitu suka pada wanita ini karena selalu terlihat genit bila dekat dengan sang ayah. "Oh, sini aku bantu kuncirin." Juwita mendekat. "Gak mau!" Anna bersembunyi dibalik kaki Gio. Seorang wanita dengan masih menggunakan celemek, tergopoh-gopoh keluar dari dapur. "Eh, maaf, Pak. Saya sedang mencuci piring. Jadi bapak yang buka pintunya," sahutnya sambil menundukkan kepala karena merasa bersalah. Juwita meliriknya dengan sinis. 'Jadi pembantu kok lamban banget, sampai tuan rumah yang buka pintu.' Pembantu itu bukan tidak tahu Juwita tak suka padanya. Juwita tidak tahu, untuk mengurus rumah sebesar itu sendirian, tidaklah mudah. Untung saja Gio sejak lulus kuliah sudah tidak menerima lagi kost-kostan di rumah demi ketenangan Anna yang kini diasuh dan dibesarkan olehnya dengan penuh kasih sayang. Pembantu itu kini bisa fokus hanya dengan dua kamar hingga pekerjaannya banyak berkurang. "Gak papa. Tolong rapikan saja kunciran Anna, ya," ucap Gio pada pembantunya. "Iya, Pak." Anna begitu senang digandeng pembantunya ke kamar. Ia merengut saat menoleh ke belakang, melihat Juwita bersama anaknya berbicara dengan sang ayah. "Ada apa nih, tumben pagi-pagi begini," tanya Gio pada Juwita yang tampak telah berdandan rapi berdua dengan Alam. "Alam gak sekolah?" "Alam hari ini libur. Aku mau ajak jalan-jalan. Kamu mau gak temenin kita jalan? Sekalian ajak Anna ikut biar Alam ada temannya." "Oh ... kebetulan aku juga mau pergi jalan-jalan. Bagaimana kalau kalian ikut kami saja?" Tiba-tiba Anna berlari kembali ke arah mereka dengan kaki kecilnya yang sudah memakai sepatu berwarna hitam. "Gak boleehh ...!" Ia memeluk kaki sang ayah. "Anna." Gio menarik tangan putri kecilnya dan menatap ke arahnya setengah berjongkok. Ia menggendongnya. "Gak boleh gitu, Sayang. Gak sopan. Mumpung Tante Juwi mau jalan-jalan, kenapa tidak sama-sama saja, mmh?" Ia mencolek hidung kecil milik Anna. Anna merengut. Ia hampir menangis. "Anna mau jalan-jalan sama Ayah aja, gak mau sama yang lain," rengeknya. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD