"Gak boleh gitu dong, Anna. Gak boleh egois."
Juwita di depan terlihat senang. Apalagi Alam. Anak yang sudah kelas enam SD ini juga menyukai Anna yang sedikit cerewet ini.
"Ayaahh ...," rengek Anna. Walau ia berusaha ngambek tapi ia tak bisa menahan ayahnya yang selalu ramah pada siapa saja. Mereka akhirnya pergi bersama.
****
Juwita melongo. "Hanya ini makanannya? Gak ada yang lain?"
"Ini restoran kesukaan Anna. Makanannya lucu-lucu bentuknya. Biasanya perempuan suka karena bentuk penyajiannya yang cantik." Terang Gio. Ia melirik putrinya yang tersenyum pada mangkuk saji yang berisi puding berbentuk kelinci yang dikelilingi saus coklat. Alam pun memesan burger yang rotinya dicetak berbentuk salah satu karakter kartun. Juwita akhirnya memesan nasi goreng berbentuk karakter kartun lucu sedang Gio memesan lasagna yang diletakkan pada wadah karakter kartun terkenal.
Sesekali Gio memperhatikan putrinya yang menikmati puding dengan wajah ceria, sedang Juwita dan Alam menikmati makanan dengan perasaan aneh. Penampilan makanan itu sangat cantik tapi rasanya biasa saja. Demi menghormati Gio dan putrinya, mereka makan saja apa yang sudah tersedia. Padahal Juwita berpikir akan dibawa ke restoran mahal yang menjual steak atau piza.
Padahal itu restoran mahal. Pengunjungnya juga kebanyakan wanita dan anak-anak. Alam bahkan sempat mengambil foto makanannya sendiri dengan bangga. Setidaknya ia bisa memamerkan pada teman sekelasnya bahwa ia pernah makan di sana.
"Apa Anna tidak perlu makan nasi dulu?" tanya Juwita pada Gio.
"Oh, tadi pagi sudah. Makan perkedel dua potong."
"Itu saja?" Kedua mata wanita itu melebar.
"Kamu 'kan tau Anna susah makan. Kalo libur begini, aku kasih jajanan sering-sering biar gak gampang sakit. Kalo aku temani, dia mau makan."
"Halo ...." Seorang wanita cantik datang menghampiri.
"Oh, Tante Libi," sahut Anna sambil melihatnya sekilas. Ia sibuk memotong puding dari piring dan kemudian masuk ke dalam mulutnya.
Sesekali Gio membersihkan tangan dan baju Anna yang terkena saus coklat. Ia begitu sabar mengurusi Anna makan tanpa mengeluh. Bila ada makanan tumpah ia biarkan, agar Anna bisa belajar makan sendiri. "Halo, Libi. Tumben ke sini."
"Oh, aku dengar kamu suka ke sini, jadi ya ... mampir. Boleh 'kan aku gabung di sini?" Tanpa diminta, wanita itu menarik kursinya di samping Anna, karena di samping Gio ada Juwita.
"Oh, kenapa enggak? Sendiri ya." Gio menoleh pada Juwita. "Oh, iya. Lupa memperkenalkan. Ini teman kantorku, Libina." Ia menoleh pada Libina. " Ini tetanggaku, Juwita."
Libina hanya tersenyum sebentar ke arah Juwita, lalu melirik Anna, membuat Juwita terlihat kesal. "Duh, kayaknya enak ya, Anna. Pudingnya ...."
"Enak, Tante. Coba aja." Anna bicara sambil menggerak-gerakkan kepala karena senang hingga rambutnya yang dikuncir dua, bergerak ke kiri dan ke kanan. Mulutnya kembali kena saus coklat hingga Gio kembali membersihkan.
"Mau tambah lagi gak, Sayang?" tanya Gio yang begitu perhatian.
Anna menggeleng. Pudingnya tinggal sedikit dan ia sulit menyendoknya karena licin. Itu pun dari tadi ia menyendok dengan bantuan tangan kiri agar puding itu bisa masuk ke dalam sendok.
"Udah, Ayah." Anna bersandar ke belakang.
"Ayo, dikit lagi. Ayah suapin ya?" Gio meraih sendok di piring Anna dan mulai menyuapi dengan sisa puding yang ada. Ia melirik Libina. "Ayo, kamu mau pesan apa. Aku traktir deh!"
"Duh, jadi gak enak." Libina tersenyum sambil tersipu-sipu. Ia menepikan ke samping rambut yang panjang melewati bahu itu seraya melihat menu di hadapan. Libina melirik Gio yang tengah sibuk dengan Anna. "Bagaimana kalau aku yang traktir?"
Gio terkejut. "Tapi aku mentraktir mereka berdua juga." Ia menunjuk pada Juwita dan Alam.
Libina menatap ke arah ibu dan anak itu. "Oh, tidak apa-apa. Aku traktir ya?"
"Tapi yang mengajak mereka berdua, 'kan aku. Kenapa jadi kamu yang traktir?" sahut Gio lagi. Ia mencondongkan wajahnya ke depan dengan heran.
"Gak papa," ucap Libina malu-malu setengah berbisik.
"Kenapa kamu baik sekali hari ini?" Gio mulai memperhatikan Libina.
Libina melirik Anna yang sedang mengunyah. "Karena hari ini aku bisa melihat putri cantik ini di hadapan." Ia mencubit lembut pipi Anna.
"Terima kasih."
Anna hanya menengok sekilas lalu menoleh ke arah sang ayah. "Ayah habis ini kita main ya?"
"Iya, iya. Tapi habiskan dulu makanmu. Kita juga tunggu Tante Libina selesai makan ya." Gio kembali menyuapi.
"Jadi gak enak ditungguin nih!" jawab Libina tersenyum malu.
Sedang Juwita, mengumpat setengah matti pada Libina dalam hati. 'Mentang-mentang teman kerja Mas Gio, sok neraktir aku, biar dibilang perhatian. Mmh! Aku sudah tahu akal busuk setiap wanita yang mendekati Mas Gio. Dulu terang-terangan, sekarang setelah Mas Gio punya anak, mereka pakai strategi mendekati anaknya. Ah, sudah kebaca semuanya. Huh, semua sama saja!' Ia mendengus kesal. 'Mas Gio juga, gak belajar dari pengalaman. Dari dulu begitu ... saja sama perempuan. Terlalu baik hati! Sampai kebobolan punya anak satu, sifatnya tetap saja gak berubah!'
Sesak rasanya mengikuti Gio karena selalu ada saja yang mengganggu, tapi ia juga tak berdaya dengan pesona pria satu ini. Selalu saja ingin mengikuti. Gio juga sering membantunya di saat sulit. Hubungan mereka teman dan ia tidak bisa lebih dekat dari itu.
Alam mencoba main mobil-mobilan di sebuah mesin, tapi ternyata Anna tak suka. Ia kemudian pindah ke mesin game menginjak lampu. Anna masih tak tertarik. Ia menggeleng. Namun ia tertarik saat melewati sebuah kotak kaca besar berisi banyak boneka kelinci sebesar tangan orang dewasa. "Mau!" katanya menunjuk boneka itu.
"UFO catcher? Kamu mau itu?" tanya Gio memastikan.
Anna mengangguk cepat. Gio memasukkan beberapa koin yang dibelinya, dan ia mencoba. Boneka terambil oleh alat pencapit, tapi sebelum sampai ke lubang, boneka itu sudah terjatuh.
"Ya ...!" sahut yang lain.
"Alam coba, Om." Alam memberanikan diri.
Gio memasukkan beberapa koin lagi dan membiarkan Alam mencoba. Awalnya Alam berhasil mengambil boneka itu, tapi giliran menggiringnya ke lubang, bonekanya jatuh duluan.
"Ya ...." Kembali Anna kecewa.
"Masih ada koinnya gak, Om?" Alam ingin menyenangkan Anna.
"Tunggu sebentar ya, Om beli lagi." Baru saja Gio berbalik, seseorang menyebut namanya.
"Gio?"
"Eh, Bu Airin?" Gio terkejut.
Bos Gio yang seorang wanita, tak sengaja lewat situ. Seorang wanita dengan gaya elegan, membuka kaca mata hitam, melirik ke arah Libina. "Libina, kau sedang apa di sini?" Ia menopang tangan yang satunya karena memegang kacamata.
Seketika lidah Libina keluh melihat lirikan bosnya yang menusuk itu. "Eh, sedang jalan-jalan, Bu."
"Kalian janjian?" Airin menatap Libina dengan menyipitkan matanya, karena di sekeliling Gio banyak wanita.
"Eh, hanya kebetulan ketemu, Bu." Libina begitu sungkan.
"Mmh." Airin menatap Gio dengan raut wajah lebih ramah. "Kamu sedang apa, Gio?" Ia sebenarnya hanya beberapa tahun di atas Gio, tapi karena ia anak pemilik perusahaan, dengan cepat posisinya bisa naik dan menjadi atasan Gio.
"Sedang main Bu, sama anak. Ini bawa tetangga juga." Gio memperkenalkan Anna dan Juwita.
"Main apa?" Airin menggigit ujung kacamatanya.
"Oh, UFO catcher. Mau ambil boneka tapi ternyata susah."
"Ini putrimu?" Airin menunjuk pada gadis kecil dengan rok yang lebar. Anna langsung memegangi kaki Gio karena takut.
"Benar, Bu."
"Untuk apa berusaha mengambil boneka yang murah itu dengan banyak koin. Menghabis-habiskan uang saja. Itu juga belum tentu dapat. Ayo, ikut aku saja! Aku belikan yang pasti dan barangnya bagus." Airin memakai kembali kacamata hitamnya, dan dengan gayanya yang angkuh, ia mengangkat dagu lalu meninggalkan tempat itu.
Gio terkejut. "Eh, tapi, Bu ...." Ia menggandeng Anna sambil mengejar sang bos.
Bersambung ....