Bocah Menjengkelkan

1543 Words

Boram sudah tidak bisa menangis lagi. Tatapannya nanar ke arah ventilasi kamar mandi yang cahaya dari luar semakin menghilang digantikan dengan gelap. Untung saja saklar lampu kamar mandi ada di dalam kalau tidak mungkin dia akan duduk dalam gelap dan membayangkan yang tidak-tidak. "Siapapun tolong!!" Bahkan suaranya sudah serak tidak sanggup berteriak. "Mas Kelana," lirih Boram. "Apa aku harus pergi dari kota ini lagi dan memulai hidup baru di kota lain?" Boram memeluk tubuhnya sendiri. Menggigil. "Kenapa nasibku harus seperti ini Mas padahal aku nggak pernah berbuat jahat sama orang lain." Boram berbicara sendiri supaya dia tidak merasa ketakutan di dalam. Meskipun dia orang beragama dan tidak percaya tahayul tapi kalau sendirian di tempat seperti ini membuat pikirannya membayangkan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD