Boram menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Disekanya wajah sehabis menangis lebay entah untuk alasan apa. Ditatapnya lekat keseluruhan wajahnya di kaca kamar mandi seraya memikirkan pembicaraan mereka tadi apalagi semua perkataannya. Benarkah dia rela melihat Sam menikahi wanita lain? Sejujurnya dia tidak rela. "Astaga, kenapa dengan diriku?" Boram bermonolog sendiri. Bingung. Kenapa dia malah sangat emosional terhadap apapun yang berhubungan dengan Sam padahal Arbian jauh lebih pantas dipilih. Jawabannya karena dia menyadari adanya sosok Sam yang berdiam di hatinya entah sejak kapan. Walaupun begitu Boram tidak bisa mengabaikan kenyataan kalau dia memang harus berusaha keras mengabaikan perasaannya lagi. Keadaan tidak mengizinkannya berhubungan dengan cowok itu lebih

