Seharusnya Seperti ini

1317 Words
"Siap untuk bekerja nanti sore, Bu?" Reihan berjalan bersisian di sampingnya. Tampan dalam balutan baju olahraga, membawa bola basket di tangan kanandan buku absen. Begitu juga Boram yang membawa buku paket dan bahan bahan mengajarnya. Bel baru saja berbunyi dan mereka bersiap unuk mengajar. Boram tersenyum, "Insyallah siap Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena Pak Reihan sudah mau repot-repot mencarikan saya pekerjaan tambahan." Pak Reihan mengibaskan tangannya dengan santai, "Ah, biasa aja Bu. Jangan merasa tidak enak begitu. Saya hanya membantu dan kebetulan memang cafe itu butuh kasir tambahan. Itu berarti rezeki Bu Boram kan?" Boram tertawa dan mengangguk, "Alhamdulillah ya Pak, kalau ada niat baik pasti akan ada jalannya juga." "Iya Bu dan saya hanya sebagai perantara saja." Boram menyelipkan rambutnya yang terjuntai ke belakang telinga, nampak malu-malu kucing. Untung saja koriodor sudah sepi. Mereka hampir sampai di kelas yang akan di ajar Boram. Berhenti di ambang pintu saling berhadapan. "Kalu begitu semangat ya Bu ngajarnya. Saya juga mau ke lapangan dulu." "Iya Pak. Bapak juga ya. Fighting." Boram mengepalkan tangan dan tersenyum. Reihan tertawa. "Ternyata Bu Boram penggemar korea juga ya. Saya merasa jadi Oppa-oppa kalau di semangatinnya dengan cara begitu." Boram tertawa. Reihan tersenyum, mengangguk kemudian berlalu mengarah ke lapangan basket yang sudah ramai dengan anak-anak yang akan olahraga. Boram tidak segera masuk ke dalam kelas tapi memperhatikan seksama postur Reihan yang luar biasa seksi itu dari belakang. Berotot dan gagah. Astagfirullah… Boram memalingkan muka dan masuk ke dalam kelas yang langsung di sambut dengan sapaan standar penghormatan untuknya sampai dia berdiri cantik di samping meja dan meletakkan bukunya. Dari semua hal itu yang membuat wajahnya merah dan berusaha menahan gugupnya sejak masuk kelas tadi adalah tatapan tajam dan intens Samudra di kursi paling depan yang tidak juga teralihkan. Boram berusaha keras mengabaikannya. "Selamat pagi juga anak-anak. Siap untuk latihan soal-soal hari ini." "YAAAAHHH IBUUUUUU!!!" Seruan itu menggema. Boram tersenyum dan mengedarkan pandangan saat dia melihat sosok gadis cantik berkulit putih mengarah ke pucat. Semburat merah itu hanya ada di area pipinya. Duduk cantik di samping Samudra. Boram mendekat. "Jadi kamu yang namanya Ratu?" Cewek itu mengangguk, "Iya Bu. Saya baru masuk karena harus check up rutin." "Ah ya Ibu sudah tahu dari wali kelas kamu. Baiklah kalau begitu." Boram berbalik dan mulai mengambil beberapa lembar soal yang telah disiapkannya dan kembali menatap satu persatu muridnya yang kasak kusut dengan wajah frustasi. "Kenapa ekspresi wajah kalian seperti habis di tolak calon pacar?" candanya. "Duh, Bu Boram nyindir Agam ya." Cowok berjambul yang duduk di bagian belakang nampak memasang wajah ngenes dengan rambut berantakan. "KACIAAAANNN DEH AGAAAMMMMM," koar teman-temannya. "Kamu habis di tolak?" tanyanya. Boram memang tidak pernah mau anak didiknya bersikap terlalu serius. Dia tahu kalau mereka di tekan malah akan menjadi beban. Jadi kadang dia suka bercanda seperti ini. "Gimana nggak di tolak Bu. Dianya nembak sambil gelatungan di pohon rambutan belakang. Katanya ingin membuktikan cintanya ke calon yang langsung ielfeel." Ari yang duduk di samping Agam menjawab seraya tertawa. Boram ikut tertawa dan menggeleng. Agam berdiri, "Nggak gitu Bu. Saya itu phobia ketinggian. Jadi untuk meyakinkan dia kalau saya serius, ya saya naik aja ke pohon tinggi itu. Supaya dia yakin," dengusnya. Boram melambaikan tangannya menyuruh Agam duduk. Teman-temannya masih mengoloknya. "Sudah-sudah. Kalian seharusnya mendukung Agam, bukan malah mengoloknya." Boram berdiri di samping meja Samudra memperhatikan semua muridnya. "Setidaknya Agam sudah berusaha. Apa kalian tahu kalau phobia itu tidak bisa dianggap remeh. Agam pasti ketakutan hanya karena ingin membuktikan kalau dia benar-benar niat." Agam menepuk-nepuk dadanya seperti gorila jantan yang merasa bangga. Teman-temannya mencibir. "Untuk Agam. Kamu coba sekali lagi tapi jangan pake manjat pohon ya tapi pakai perasaan. Bawa sesuatu yang di sukainya." "BU BORAAM THE BESTTT!!!" katanya seraya berdiri memberikan kecupan jauhnya yang langsung di hadiahi pukulan kotak pensil milik Ayu dari Samudra. "Duduk lo!!!" desisnya. Agam memutar bola mata dan melempar kotak pensil Ayu kembali ke orangnya. "Oke tenang. Kalau begitu kerjakan soal-soal yang ada di sini. Untuk mengetes sejauh mana ingatan kalian tentang bab-bab sebelumnya. Kalian boleh bekerja sama dengan teman sebangku kalian tapi ingat ya, harus sama-sama jangan jadi mandor. Kalau sampai ibu tahu, kalian akan dapat soal lebih banyak. Mengerti!!" "MENGERTI BU!!!" Boram mengangguk. Membagikan soal ke siswa yang duduk di area paling depan dan mengopernya ke belakang. Boram menyerahkan beberapa soal ke Samudra yang menerimanya dan sempat menggenggam jemarinya di balik kertas soal itu. Boram tersentak dan langsung menarik tangannya. "Jangan pakai kalkulator. Hiduplah seperti anak-anak zaman dulu meskipun kalian saat ini suka yang praktis. Pakai kertas buram untuk mencakar." Boram duduk lagi ke tempatnya memeperhatikan mereka sambil membuka salah satu bukunya. "Kalian sudah mau lulus, jadi harus lebih banyak berlatih soal. Supaya hapal sama rumusan dan turunan Matematika," teriaknya lagi. Mereka semua sibuk saling merepet dengan teman sebangku. Yang paling menyita perhatian Boram adalah bagaimana Ratu dan Samudra duduk sangat dekat saling bersenggolan lengan dan menunjuk beberapa soal yang ada di depan mereka. Boram bisa memastikan bahwa mereka berdua bukan hanya teman biasa. Samudra lebih banyak tersenyum untuk gadis cantik itu. Boram membuang muka dan diam membolak balik bukunya. Tolong yaa jangan baper, katanya dalam hati. *** Bel istirahat berbunyi nyaring. Bersamaan dengan Boram yang selesai menutup sesi mengajarnya, merapikan tumpukan soal dan jawaban para muridnya yang sudah berhamburan keluar di atas tumpukan buku-buku mengajarnya. "Sam, aku mau ke kantin sama Risa. Kamu titip kerupuk koin seperti biasanya kan?" "Hmm." Samudra bergumam. Boram masih sibuk membereskan bawaannya membelakangi kasak kusuk mereka berdua. "Ini duitnya. Tapi ingat, ke sana nggak pake lari ya. Pegangan sama Risa. Awas kedorong-dorong. Suruh aja si Risa yang ngantri. Jangan kamu." Uhh, protective banget sih terus ngomongnya pake aku-kamu lagi, desah Boram. "Ishh, Sam bawel. Aku sudah tahu. Ya udah mana sini uangnya. Kamu tunggu ya. Jangan kemana-mana." "Iya." Boram berbalik dengan membawa tumpukan bukunya saat Ratu melintas di depannya seraya tersenyum, "Permisi ya Bu." Boram mengangguk, "Iya." Setelah Ratu berlalu, Boram berusaha untuk tidak mempedulikan tatapan Samudra yang ternyata sudah berpindah duduk di atas mejanya. "Mbak, kita perlu bicara," katanya. Boram hanya diam dengan tatapan lurus ke depan, berjalan cantik melenggang keluar. Mengabaikan seruan itu. Suara hentakan sepatu terdengar di belakangnya. Boram tidak peduli. Naas, masih setengah jalan menuju pintu kelas, aktingnya yang menyakinkan harus berantakan karena entah bagaimana sepatu hak tingginya menginjak sesuatu yang licin, keseimbangannya oleng, siap terjatuh di atas marmer dingin. Boram memekik. Bukunya lebih dulu berjatuhan. Sebelum bumi menerima tubuhnya yang oleng, seseorang menangkapnya lebih dulu. Boram selamat dari kemungkinan pegal-pegal tapi sungguh posisinya saat ini sama sekali tidak menguntungkan. Samudra memeluk pinggangnya. Boram mengerjap. Sungguh sial!!! "Mbak sih, menghindar. Begini kan jadinya. Aku masih mau bicara," katanya sambil terkekeh. Tidak juga menyeimbangkan Boram agar berdiri sendiri. Mata Samudra mengerjap menatapnya intens lalu mendesah, "Mbak tadi malam nangis ya. Matanya sembab. Apa aku mengingatkan Mbak pada almarhum suami?" Boram tersadar. Buru-buru dia menyeimbangkan diri dan menjauh. Mata hitam itu berkilat kecewa. Boram merunduk mengambil lagi buku-bukunya yang terjatuh. Samudra menghela napas dan berjongkok di depannya membantu. "Mbak, please jangan acuhkan aku begini dong," lirihnya. "Kamu ini jangan ngomong yang enggak-enggak!" Akhirnya Boram buka mulut. Berbicara tanpa menatap Samudra. Memunguti kertas-kertasnya serampangan agar dia bisa cepat menghindar. "Hormati saya sebagai gurumu. Saya tidak akan membicarkan masalah pribadi di sini apalagi kamu itu murid. Jadi jangan terlalu dekat." "Tapi Mbak—" "Bu Boram." Mereka berdua mengangkat pandangan. Pak Reihan berdiri menjulang di pintu kelas. "Kenapa Bu?" Tanyanya kemudian. Kesempatan untuk Boram. Dirampasnya buku dan kertas di tangan Samudra, berdiri bersamaan dan tersenyum, "Makasih Samudra sudah di bantuin." Tanpa menunggu jawaban Samudra yang wajahnya nampak horor karena menahan kekesalan, Boram menghampiri Reihan. "Nggak apa-apa Pak. Tadi buku saya jatuh. Untung di bantuin Samudra." "Oh. Sini saya bawakan." Boram menggeleng menolak, "Nggak usah Pak. Ngerepotin." "Ah, nggak bu. Banyak gini bawannya." Boram tersenyum. Reihan mengambil alih. Mereka berjalan bersisian ke ruang guru. Boram ingin menoleh ke belakang tapi dia mati-matian menahan diri. Seharusnya seperti ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD