Boram menghela napas lelah. Di usapnya tengkuk yang terasa pegal akibat dari kegiatannya mengoreksi berlembar-lembar soal percobaan. Harus Boram akui, muridnya memang pintar. Tidak ada nilai yang jelek tapi di atas rata-rata. Hanya satu yang membuatnya pusing sejak tadi. Lembaran soal milik Samudra. Seharusnya dia bertanya dengan Ibu Siska terkait kemampun matematika cowok itu.
Bel pulang kemudian berbunyi nyaring. Boram menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Pak Reihan menghampiri mejanya dengan senyuman.
"Bu, saya pamit pulang duluan ya. Ada janji. Semangat ya nanti bekerjanya. Saya yakin Bu Boram betah di sana kok."
Boram tersenyum, "Iya Pak. Makasih ya. Hati-hati di jalan."
Reihan mengangguk dan berbalik keluar setelah mengambil jaket dan kunci motor. Boram mengikuti dengan tatapannya sampai punggung Reihan menghilang di balik pintu. Boram mengambil ponsel di dalam tasnya melihat beberapa notifiksi dari teman-teman sekolahnya yang ribut akibat dari rencana reuni mereka. Boram menopangkan dagunya, berpikir untuk pulang ke kampungnya sebentar sekedar untuk bertemu mereka.
"Bu."
Panggilan itu mengagetkannya. Boram melihat Samudra yang sudah berdiri menjulang di depannya. Tumben panggil Bu.
Boram berusaha tenang, "Iya. Kenapa?"
Samudra meletakkan kotak pensil hitamnya di atas meja. Boram mengeryit heran. Dia tersentak melihat ke tumpukan buku yang tadi di bawanya ke kelas, tidak menemukan kotak pensilnya.
"Tadi di kelas terjatuh. Pasti nggak nyadar karena sibuk senyumin Pak Rei," sindirnya.
Boram berdeham, mengambil kotak pensilnya dan meletakkannya di atas tumpukan bukunya.
"Makasih banyak."
Samudra bergeming. Menatapnya tanpa jeda. Boram menghela napas dan melipat kedua lengannya. Ruangan guru masih ramai.
"Kenapa lagi?" Katanya kemudian lalu teringat dengan lembaran matematika di depannya. "Kebetulan kamu ke sini. Ada yang mau ibu bicarakan. Ambil kursi dan duduk." Perintahnya.
Samudra menurut. Dia duduk diam menunggu. Boram meletakkan kertas Samudra di depannya.
"Sebenarnya, bagian mana dari rumus matematika yang sulit kamu pahami. Saya akan bantu." Samudra menunduk. Boram menghela napas, "Pasti dulu Bu Siska memberimu jam tambahan supaya kamu betul-betul paham."
"Iya." Dia memberi jeda. Matanya bergerak gelisah. Cowok itu memegang kertasnya dengan sayu. Boram mencoba menebak.
"Apa segitu susahnya belajar matematika?" Tanyanya halus.
Samudra mengangguk. Jeda lagi di antara mereka. Suara ramai terdengar dari koridor dan beberapa guru di sekeliling mereka. Samudra lalu menatapnya. Ada bias sedih di sana.
"Bu Boram, mau tidak memberi saya waktu tambahan seperti Bu Siska untuk sementara. Saya membutuhkan setidaknya empat atau lima kali pertemuan satu bab untuk memahaminya."
Boram mengerjap, "Selama itu?"
Samudra mengangguk. "Ibu akan tahu nanti alasannya."
Boram menghela napas. Kalau saja Samudra seperti muridnya yang lain, maka dia akan mempertimbangkan untuk setuju demi semakin bagusnya nilai metematika umtuk ujian kelulusan nanti. Tapi—
"Baiklah. Besok siang dan lusa. Setelah kelas usai selama satu jam. Di sini."
Samudra mengangguk setuju lalu seruan di ambang pintu mengagetkan mereka berdua.
"Sam, Ratu jatuh di parkiran." Risa yang berteriak panik.
"OH SHITTT!!!" Umpatnya nyaring dan langsung bergerak, lebih tepatnya berlari keluar dari ruangan guru tanpa mengucapkan apapun ke Boram, nampak panik dan gusar.
Boram penasaran dan berjalan keluar, berdiri di ambang pintu melihat punggung Samudra yang menjauh.
"Duh, si Ratu ya nggak hati-hati. Selalu saja begitu. Untung dia punya Samudra." Tiba-tiba si ratu nyinyir, Niken, salah satu petugas tata usaha muncul berdiri di sampingnya sambil gigit jari. Boram menoleh heran. "Asik kali ya Bu, punya satu dedek gemes kayak Samudra yang ganteng banget itu. Duh, unchh emesh banget rasanya. Pengen tak kekepin di ketiak supaya nggak lari." Boram mengeryitkan dahinya. "Pacarable iya, pelukable iya, gagahable iya, pelindungable iya." Niken terkikik seperti kuntilanak, mengibaskan rambut dan masuk ke dalam meninggalkan Boram terbengong.
Penasaran, dia langsung berlari menuju ke area parkiran dan tercengang melihat Samudra yang menggendong Ratu dan memasukkannya ke mobil sport hitam mengkilat dengan tergesa.
"Ris, lo bawa tasnya Ratu ya. Nanti gue ambil."
Risa mengangguk. Samudra menutup pintu mobil dan berlari berputar arah ke kursi kemudi. Boram memperhatikan dari koridor samping. Samudra masuk ke dalam, menyalakan mesinnya yang meraung sangar dan secepatnya menjalankan mobil keluar dari area parkir.
Boram sempurna terdiam. Mobil hitam itu sudah tidak terlihat lagi. Risa berbalik dan memergokinya.
"Bu Boram," katanya seraya menghampiri.
"Ratu kenapa?" Tanyanya.
"Biasa Bu, jatuh. Samudra selalu cepat tanggap. Untung saja dia punya guardian ganteng macam Sam. Kalau gitu, saya masuk dulu ya Bu terus mau pulang."
Boram mengangguk kaku. Risa berlalu meninggalkannya.
Guardian.
Samudra memang pantas mendapatkan predikat itu di samping julukan badboynya. Yang membuat Boram meringis hanyalah kenyataan bahwa, bukan hanya dia yang merasakan perlindungan cowok itu tapi ada gadis cantik yang lain. Boram berbalik kembali ke ruang guru.
Gadis seumuran dengannya yang pantas untuk samudra.
***
"Eerrgghh, sakit," lirih Ratu.
Samudra menggendongnya erat dan meletakkannya di sandaran jok yang sedikit dia landaikan agar Ratu yang merintih merasa nyaman. "Kamu baru ditinggal sebentar kenapa bisa jatuh sih?" Gerutunya.
Samudra mundur dan menoleh ke Risa, "Ris, lo bawa tasnya Ratu ya. Nanti gue ambil."
Risa mengangguk. Samudra segera menutup pintu mobil dan berlari ke kursi kemudi. Tangannya bergetar karena panik menghidupkan mesin mobil. Di lihatnya sekilas Ratu yang mengeluarkan darah dari hidungnya. Samudra mengambil tisu dan menekan, membersihkan noda merah itu. Ratu mengambil alih tisu itu untuk menahan darahnya yang keluar.
Samudra memegang kemudi dan menjalankan mobil canggih itu keluar dari area parkir. Sekilas, dari kaca spion luar, Samudra melihat sosok pujaan hatinya berdiri memandangi ke arahnya dengan ekspresi aneh. Samudra menghela napas dan berbelok, keluar dari sekolah.
Prioritasnya saat ini hanya Ratu. Sam berkonsentrasi pada jalanan dengan tangan kiri yang mengotak atik sesuatu di perangkat elektronik mobil. Menekan tombol yang langsung tersambung dengan panggilan darurat.
"Dalam perjalanan ke rumah sakit," katanya cepat.
"Oke."
Seseorang di sebrang sana menjawab lalu sambungan terputus. Sam mencoba berkonsetrasi dengan wajah khawatir dan melihat Ratu yang memejamkan matanya. Sam mencengkram erat kemudinya.
Sampai kapan dia akan seperti ini.
"Sam—" lirih Ratu.
Sam mengacak rambutnya dan menambah kecepatan mobilnya.
Seperti memegang bom di kedua tangannya.
***
Ada yang bilang, segala sesuatu yang terjadi di dunia, semuanya ada timbal baliknya. Siapa menuai kebaikan maka suatu saat nanti hidupnya akan berjalan baik meskipun harus melalui cobaan dulu sebelumnya. Bahkan ketika kebaikan yang dilakukan membawa sengsara. Kata orang yang lebih banyak merasa putus asa, hidup itu tidak adil. Walaupun yang terjadi sesungguhnya hanyalah, hidup memberikan apa yang paling di butuhkan bukan apa yang diinginkan.
Arbian berdiri gagah membelakangi meja kerjanya. Memandangi deretan gedung tinggi yang menjulang di sekitar gedung miliknya yang bergerak di bidang industri hiburan tanah air. Pemilik salah satu stasiun televisi paling laris di Indonesia. Buah kerja keras dan usahanya selama bertahun-tahun.
Memegang jabatan tertinggi lengkap dengan segala predikat lainnya di belakang punggungnya. Tampan, masih muda, berkharisma, loyal, mempesona dan menggoda. Satu kali gagal membina rumah tangga dengan salah satu artis binaan agensinya hanya karena wanita itu lebih mementingkan egonya. Merasa terkekang karena tidak bisa terus bergulat dengan dunia hiburan tanah air, berdiri cantik di depan layar kaca. Mantan istrinya memilih lepas darinya saat menerima tawaran agensi luar negeri untuk menjadi seorang model.
Arbian hanya menginginkan seorang istri yang menjaga kehangatan keluarganya di rumah. Sederhana. Dia tidak meminta banyak hal. Karena prinsipnya, seorang wanita itu melayani keluarganya. Tempatnya di rumah bukan menghibur seluruh penduduk Indonesia di televisi. Ah ya, Arbian posesif untuk sesuatu yang menjadi miliknya. Dialah yang akan mencari uang dan memenuhi semua kebutuhan istrinya. Semuanya. Anggap aja seperti lagi makan di restoran mahal nemu paketan yang sekali bayar di tempeli selogan all you can eat.
Untuk kebutuhan materi, Arbian bisa memenuhi bahkan lebih dari yang bisa di bayangkan. Jangan ditanya lah kalau masalah kebutuhan batin, di jamin puas.
Setelah memutuskan berpisah, Arbian memilih melajang selama dua tahun lalu mulai berpacaran dengan Cendy, wanita yang lebih suka menghabiskan uangnya. Arbian sih nggak masalah karena selama ini dia menganggap Cendy hanya hiburan belaka.
Arbian melipat lengannya. Masih betah memandangi kegiatan di luar kantornya melalui kaca bening sedang memikirkan sesuatu atau seseorang...
Dia memiliki satu kewajiban sebagai bentuk menjalankan amanah yang di berikan oleh Mamanya. Terlepas dari hal itu, dia benar-benar terpesona dengan sosok Boram. Wanita malang yang harus mendapat status janda padahal belum lama menikah.
Arbian berbalik dan mengambil jasnya juga kunci mobil dan ponsel. Hari sudah beranjak sore, biasanya dia akan bertahan di kantor setidaknya sampai malam. Tapi khusus hari ini, dia sudah membatalkan semua janji dan meetingnya.
Dia ingin bertemu seseorang yang selalu ada dalam bayangannya beberapa bulan ini. Melihat langsung seorang Boram.
Wanita yang tangguh.
Arbian ingin memilikinya.
***