"Ya karena gue ...." Jemari Anara yang melayang di udara seketika berhenti begitu saja. Anara memutar otak, mau melanjutkan kata-katanya tapi ia sendiri kebingungan. Apa yang akan ia katakan? Ia sendiri mengatakan apapun dengan spontan. "Apa?" tanya Arga dengan wajah tengilnya. Seketika membuat Anara semakin merasakan sebal. Mengapa di saat seperti ini mulutnya yang biasa dijadikan lambe turah menjadi tidak berfungsi? Seharusnya di saat seperti ini kecepatan mulutnya bisa sampai seratus enam puluh kilometer per jam. Ini malah langsung kicep, payah. "Pokoknya gue gak suka sama kantor ini! Gue kutuk kantor ini! Gue gak suka di saat kantor ini merebut segalanya dari gue! Gue gak suka di saat klien gue pada kabur ke sini! Pokoknya gak suka!" Daripada dibilang kicep dan tidak pandai publik speaking, lebih baik Anara mengeles saja. Apa yang ada di otaknya ia katakan secara spontan. Arga menyugar rambutnya, memasukkan rambutnya ke dalam saku celana. Membuat Anara seketika terpana. Jika dilihat-lihat Arga tampan juga. Eh, setan apa yang merasuki. "Aneh ya, Anda. Tadi mengatakan bahwa rezeki sudah ada yang mengatur, sekarang merasakan tersaingi. Mbaknya ada kaca? Tolong introspeksi diri, ya! Introspeksi diri bagaimana cara Anda mengelola perusahaan. Bagaimana kinerja perusahaan Anda. Klien tentu saja tidak ingin rugi, bukan? Oleh sebab itu klien mencari perusahaan yang bisa memberikan banyak benefit, yang kinerjanya oke. Jadi, jangan salahkan perusahaan kami yang memang jauh lebih oke daripada perusahaan Anda." Ternyata seperti ini jika lelaki sedang menyindir, langsung menohok tanpa basa-basi. Ternyata seperti cara berbicara lelaki, langsung spontan sesuai akal tanpa memikirkan hati. Oke, ada beberapa hal yang signifikan, bahwasanya lelaki dan wanita memang berbeda. Anara yang merasa dipermalukan oleh Arga hanya bisa memandang sembarang arah. Merasa harga diri yang puluhan tahun ia junjung tinggi tiba-tiba dihancurkan begitu saja oleh musuhnya sendiri. Menurut Anara perusahaannya adalah perusahaan terbaik di seluruh penjuru dunia. Hanya saja klien yang tidak tahu diri meminta banyak hal yang lebih. Menyebalkan memang. Coba saja kalian berada di posisi Anara. Bertahun-tahun mengelola perusahaan, mendapatkan perhargaan di mana-mana, perusahaan yang sering naik daun, bekerja sama banyak klien, seketika hancur karena kedatangan perusahaan Arga ini. "Kenapa diam? Sedang introspeksi diri? Sudah sadar kalau misalnya kinerja kantor Anda lebih buruk daripada kantor saya? Sudah sadar kalau kantor saya jauh lebih segalanya? Kalau mau melabrak kantor saya setidaknya siapkan senjata. Jangan bawa tangan kosong, jangan bawa otak dangkal. Bawa bukti-bukti yang menunjang juga. Otak dangkal seperti itu saja masih sok-sokan labrak, gak tahu malu. Membuang-buang waktu saya. Persiapkan pertempuran selanjutnya!" Arga membalikkan badannya, melangkah pergi meninggalkan Anara yang sedang murka. Enak saja! Sudah dikatakan gak tahu malu, kinerja kantor yang buruk, otak dangkal pula. Menyebalkan memang Arga! Awas saja! Anara akan mengutuk Arga menjadi batu! Dengan wajah dongkolnya, Anara langsung melangkah pergi dari kantor Arga. Memasuki parkiran kantornya dan memasuki mobilnya. Lebih baik sekarang Anara pergi ke kafe mengajak Mikhaella, pasti Mikhaella akan setuju juga. *** "Halo, Mik! Lo ada di kantor? Gue lagi di kafe biasa, nih! Lo bisa ke sini, gak? Otak gue lagi puyeng banget abis ribut sama setan." Saat telepon tersambung, Anara tak henti-hentinya bertanya pada Mikhaella, membuat gadis di seberang telepon sana geleng-geleng tak karuan. "Sabar, Ra. Kalau tanya satu-satu!" peringat Mikhaella. "Iya gue di kantor, sabi deh gue ke sana. Bentar ya, tanda tangan sama pihak butik dulu, soalnya ada pihak butik yang mau ke sini, minta bayaran sama tanda tangan gitu buat urusan lamaran. Lo abis berantem sama siapa emang?" imbuhnya. "Nanti gue ceritain, buruan ke sini aja deh lo! Gue tunggu." Tanpa aba-aba apapun Anara langsung mematikan ponselnya secara sepihak, ia yakin kalau di seberang sana Mikhaella sedang ngedumel tidak jelas karena diputus sambungannya. Sembari menunggu Mikhaella ke sini, Anara menyeruput cokelat panas yang ia pesan. Jujur, Anara memang lebih menyukai cokelat dan teh hijau daripada kopi. Saat Anara meminum kopi ia selalu ingin muntah dan sakit perut, entah mengapa. Mungkin karena memang tidak terbiasa. Membuka ponselnya dan scroll ke sana ke sini, Anara merasa bosan. Pada jam kerja, Dave memang tidak pernah menghubunginya. Kata Dave, ia selalu sibuk mengurus banyak hal. Apalagi kata Dave perusahaan yang ia miliki adalah perusahaan internasional yang memang sedang naik daun. Entah perusahaan apa, Anara pun tidak tahu. "Lo kenapa matiin coba teleponnya?" tanya seorang gadis di hadapan Anara dengan keringat yang bercucuran di pelipis. Anara paham betul jika Mikhaella baru saja berlari dari kantor ke kafe ini. Mikhaella itu tipe teman idaman. Mikhaella tidak pernah mengulur waktu saat diajak ke manapun. Mikhaella selalu ada di saat Anara berada di titik terendah sekalipun. Oleh karena itu, seberat apapun masalahnya, Anara berjanji tidak akan menghancurkan persahabatan bersama dengan Mikhaella. "Lo ada beban hidup apa, sih, Ra? Berasa lesu banget itu muka. Ada masalah apa, hm? Bangkrut perusahaan lo?" tebak Mikhaella sembari melambaikan tangannya, memanggil pramusaji. "Enak aja kalau ngomong! Gak lah! Gue gak mungkin bangkrut, kaya tujuh turunan nih gue. Gak akan pernah bangkrut," ujar Anara sombong, padahal perusahaannya sekarang sedang berada di ujung tanduk, entah bisa bertahan atau tidak jika tidak ada suntikan dana dari klien. Bagaimana nasib beberapa bulan ke depan saja Anara tidak mengerti. Jika mengatakan kebangkrutan perusahaan kepada Damares, pasti akan dibilang tidak bisa kerja, tidak bisa menjaga kepercayaan, dan amit-amitnya lagi dijodohkan. Anara tidak mau itu. Ia pastikan akan mendapatkan klien dan mengikuti tender proyek lagi nanti. "Iya kaya tujuh turunan, masalahnya lo turunan ke delapan, makanya melarat," sindir Mikhaella tentunya sebagai gurauan saja. Mendengar ucapan seperti itu membuat mata Anara membola, mengaduk cokelat panasnya yang sudah mulai mendingin. Kira-kira apa yang akan terjadi dengan perusahaan Anara? Apakah memang kinerjanya bagus sehingga banyak klien yang membatalkan kerja sama dan kalah tender proyek? Atau ... apakah perusahaan milik Arga jauh lebih baik daripada perusahaan Anara? Ada dua cara yang bisa Anara lakukan jika seperti itu. Yang pertama meningkatkan kualitas kinerja. Yang kedua menyingkirkan perusahaan Arga. "Lo ada masalah sama siapa, sih? Tumben banget kebanyakan bengong sama mikir." Lamunan Anara buyar mendengar kalimat seperti itu, kurang ajar. Masa iya Anara dibilang tumben mikir. Jadi selama ini Anara tidak pernah mikir seperti itu? Atau apa? "Gue lagi sebel banget pokoknya. Kalah tender, klien banyak yang kabur." Sedikit demi sedikit Anara mulai menceritakan masalahnya pada Mikhaella. "Sama yang waktu itu lo ceritain bukan, sih? Yang katanya perusahaan seberang kantor lo cari gara-gara? Rebut klien, investor, tender proyek, dan segala hal?"