8. Paling Mengerti

1017 Words
"Sama yang waktu itu lo ceritain bukan, sih? Yang katanya perusahaan seberang kantor lo cari gara-gara? Rebut klien, investor, tender proyek, dan segala hal?" tanya Mikhaella mulai mengerti permasalahan yang ada. Anara mengangguk, memang benar bukan jika perusahaan seberang kantornya senang mencari gara-gara. Mulai dari merebut klien, investor, tender proyek, pokoknya menghambat rezeki perusahaan Anara. "Sebel banget pokoknya. Lo tau sendiri kan kalau tender itu tender yang paling gue impikan. Tender yang gue usahain mati-matian, tapi apa? Malah mereka yang menang. Semua klien gue kabur. Gue bisa bangkrut kalau kayak gini." Anara mengacak rambutnya, menarik napas dalam-dalam karena dirasa semua yang ia alami melelahkan. Perusahaan itu adalah perusahaan asli yang ia buat sendiri, tanpa ada campur tangan siapapun. Perusahaan itu bukan perusahaan turunan dari Tuan Damares, ayahnya Anara. Perusahaan itu memang benar perusahaan yang Anara rintis sendiri dengan jerih payahnya sendiri juga. Jadi, jika perusahaan itu hancur, semua rasanya sia-sia. Bukankah mempertahankan jauh lebih sulit daripada meraih? Itu yang selalu Anara tanamkan pada dirinya sendiri. Saat Anara sejak dulu dengan mudahnya meraih peringkat satu, ia semakin gencar mempertahankan peringkat tersebut, supaya tidak direbut oleh orang lain. "Eh, bentar. Jadi omongan gue tadi bener? Lo keturunan ke delapan? Makanya lo bangkrut? Astaga, padahal gue gak bermaksud loh, Ra." Bodo amat, Mik. Ya Tuhan, susah memang mempunyai sahabat seperti ini. Sedang berbicara serius, malah dibuat candaan. "Lo mau mulutnya gue sumpel?" ancam Anara dengan tatapan menusuk. Sontak Mikhaella menggeleng seketika, tidak ingin kecantikannya yang paripurna ini hilang begitu saja karena mulut yang tersumpal. "Mending diem makanya! Gue lagi puyeng, nih." Memijat pelipisnya, Anara memikirkan bagaimana cara terbaik untuk bertahan. Seketika, satu ide langsung terlintas dari otak cerdasnya. Gadis itu melihat ke Mikhaella sambil tersenyum. "Mik, lo mau suntik dana ke perusahaan gue, kan? Gue lagi butuh banget. Daripada nanti nyokap sama bokap gue tau kalau gue bangkrut gimana? Yang ada gue disuruh langsung nikah, lo tau kan gimana bawelnya mereka pas bahas perjodohan? Gue sampai ruing dengernya." Dengan segala upaya Anara langsung memohon kepada Mikhaella, enak saja punya sahabat sukses tidak dimanfaatkan. Mikhaella yang mendengar itu langsung menaruh jemarinya di dagu, memikirkan jawaban apa yang harus ia jawab. "Gue? Lo tau sendiri kalau perusahaan gue perusahaan turunan. Kalau mau suntikan dana ya ke bokap gue. Gue gak bisa bantu apapun." Ah iya, Anara lupa mengenai hal itu. Apalagi sang ayah dari Mikhaella adalah seorang sahabat dekat dari ayahnya Anara. Pasti saat Anara meminta suntikan dana ditanya macam-macam. "Ya udah, deh. Biar gue yang pikirin semua urusan sendiri. Thanks, ya." *** Seharusnya Anara makan siang dengan kekasihnya, tapi karena kesibukan sang kekasih, Anara jadi menunda makan siang tersebut, menundah hingga malam. Ya, dinner romantis bersama sang tambatan hati. Sekarang Anara baru saja turun dari mobilnya, memasuki restoran bintang lima yang sudah dipesan satu malam oleh Dave. Kekasihnya ini memang paling mengerti dan romantis. Saat Anara sedang berada di titik terendah, Dave juga selalu menemani Anara. Anara janji tidak akan berpaling dari Dave. Anara janji akan selalu setia pada pria itu. Pria itu adalah satu-satunya pria yang selalu menemani Anara di saat suka maupun duka. "Malam, Babe!" sambut Dave dengan memberikan sebuket bunga untuk Anara. Anara yang pada dasarnya menyukai bunga pun menerima bunga tersebut. Mencium aroma yang sangat wangi. "Malam juga, Babe! Semua masalah kamu udah kelar?" tanya Anara sambil duduk di kursi yang dikelilingi oleh meja bundar. "Udah, kok. Sekarang saatnya aku sama kamu. Kamu katanya lagi sedih, kenapa memangnya hm?" Dengan menggenggam tangan Anara penuh pengertian, Dave bertanya demikian. Siapapun yang melihat Dave akan jatuh cinta pastinya, Anara yakin itu. Pasalnya Dave adalah tipe pria yang paling idaman di manapun. Anara memanyunkan bibirnya, merasakan bahwa saat ini adalah saat paling baik ia manja dengan sang kekasih. "Perusahaan seberang kantorku sering banget cari gara-gara. Mereka rebut klien, investor, semuanya pokoknya. Mereka juga kalahin aku di tender proyek yang udah jadi tender impianku. Gila banget, sih. Aku kadang ngerasa capek karena perjuangan tender proyek yang aku harapkan bisa menang, tapi ternyata semuanya sia-sia. Aku kalah sama mereka." Mengambil napas sejenak, Anara mulai melanjutkan kata-katanya lagi. "Mereka malah mulai menyalahkan kantorku, katanya kinerja kantor jelek. Katanya kantorku gak kompeten, katanya lambat lah. Bahkan aku disuruh ngaca kalau aku gak pantes menangin tender proyek itu. Sedih banget. Aku juga berjuang kok demi tender itu." Sekarang Dave paham dengan apa yang Anara katakan, pria itu mengusap pundak sang kekasih sambil tersenyum manis. "It's okay, diremehkan udah sering, jangan sampai down. Kamu harus bisa buktiin ke mereka kalau itu semua gak bener. Kamu harus buktiin ke mereka kalau aku kinerjanya oke, berkompeten, kilat, cepat, gak lambat, dan kamu berhak memenangkan tender." "Senyum dong, ayo makan!" Dave menghibur Anara, mengajak Anara makan dengan hidangan spesial yang ia pesan. Melihat hidangan tersebut membuat mata Anara berbinar seketika. "Ini semua kamu yang pesen? Kamu tau kalau aku suka banget sama udang goreng? Astaga! Makasih banyak, Dave!" Anara memakan seafood yang dipesan Dave. Ada banyak makanan laut di depan matanya. Dan seafood adalah makanan yang sangat Anara sukai. "Iya, dong. Kan aku tau apa kesukaan dan apa yang gak kamu suka. Masa calon istriku sendiri aku gak tau?" goda Dave membuat semuan di pipi Anara menyala. Astaga, apakah Anara tidak salah dengar? Calon istri? Jadi, Dave akan serius dengannya, bukan? Jadi, Dave akan membuat Anara menjadi Nyonya Renova, bukan? Hari yang sangat baik sekali hari ini, meskipun diawali dengan sesuatu yang buruk, ia mendapatkan ending yang baik juga. "Calon istri?" Anara mulai memancing, tidak mau baper duluan. Yang selama ini Anara takutkan ya ini, takut Dave hanya menganggapnya mainan. Takut Dave hanya menganggapnya angin lalu tanpa ada niat sedikit pun untuk serius. "Iya, calon istri. Emangnya kamu gak mau menikah sama aku?" UHUK! Anara terbatuk mendengar perkataan tersebut, nasi yang sedang ia makan masuk ke hidung saking terkejutnya. Astaga, tentu saja hanya wanita bodoh yang menolak Dave. Dan Anara adalah wanita cerdas yang tidak mungkin menolak pria itu. Tidak, tidak akan pernah. "Mau, lah!" jawab Anara kilat, membuat Dave tersenyum senang. Dave mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Anara. Tatapan sendu dari gadis itu selalu menjadi candu untuk Dave. Dave mungkin akan bersama dengan Anara, jika Tuhan menghendaki semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD