9. Kencan

1017 Words
Anara menekuk lengan panjang bajunya, tersenyum di depan cermin kamar apartemennya lalu menyisir rambutnya sampai rapi. Hari ini adalah hari di mana Anara bisa bersenang-senang. Anara bisa melepaskan semua bebannya dan Anara bisa menikmati waktunya bersama sang kekasih. Bodo amat dengan pekerjaan yang membuat Anara pusing tujuh keliling, Anara hanya tinggal mencari klien baru dan mengikuti tender saja, hanya itu. Anara juga berusaha mencari klien yang tidak bekerja sama dengan Arga. Anara berusaha menjauhkan jangkauan perusahaannya dengan Arga. Tidak mau dikalahkan berkali-kali oleh pria tengil itu. Enak saja mengatakan dan meragukan kinerja perusahaan Anara, perusahaan Anara ini menang menjadi perusahaan paling baik di negeri ini. Tidak ada sejarahnya Anara gagal, baru kali ini. Anara yakin jika Arga pasti menyogok kliennya untuk membatalkan kontrak sampai Anara gagal seperti ini. Awas saja kalau Anara sudah tahu dan sudah mempunyai bukti, akan Anara penjarakan Arga. Intinya Arga itu sialan. Sebentar, mengapa Anara jadi membahas Arga? Seharusnya Anara mempersiapkan tasnya, bukan malah memikirkan pria sialan itu. Menyeret kakinya dengan malas, Anara mengambil tas branded keluaran terbaru berwarna putih miliknya, menaruh ponsel di dalam tas tersebut, dan menaruh beberapa pernak-pernik lainnya yang biasa wanita bawa jika bepergian. Sudah pukul delapan, Dave pasti sudah menunggu di bawah. Dengan semangat empat lima Anara keluar dari apartemennya dan turun ke bawah. *** "Hai, Babe! Nunggu lama, ya?" tanya Anara sembari memasuki mobil Dave. Dave yang sedang mengetikkan pesan di ponsel langsung gugup dan menaruh ponselnya di saku. Tidak mengerti dengan keadaan Dave saat ini, membuat Anara mengernyitkan keningnya. Apakah Anara salah bertanya demikian sehingga Dave gugup? Ataukah Dave kaget karena Anara langsung masuk ke dalam mobilnya? Entahlah, berbagai pertanyaan di benak Anara tak terjawab sedikit pun. "Kenapa? Kok kamu kaget gitu?" tanya Anara dengan alis yang diangkat. "Apa aku ngagetin kamu? Maaf, ya." Dave tersenyum canggung, menggeleng cepat dan mengacak rambut Anara. "Gak, kok. Kamu gak ganggu, aku kaget aja tiba-tiba kamu masuk dan tanya gitu, soalnya lagi bales chat mamah, dan mamah lagi marah ke aku," jawab Dave dengan tangan yang menoel pipi Anara. Anara mengangguk, sekian lama berpacaran dengan Dave sama sekali tidak pernah Anara mengetahui seluk-beluk pria tersebut. Orang tua pria tersebut siapa, rumahnya di mana, keluarganya bagaimana, dan Anara juga tidak pernah diberitahu oleh Dave. Mungkin Dave masih ragu, takut keluarganya menolak, atau entahlah. Anara juga kurang mengerti. "No problem, Babe. Sekarang kita mau ke mana?" tanya Anara sambil memakai seat beltnya. "Mau jalan-jalan ke puncak, gapapa kan? Ada banyak kebun teh di sana, abis itu kita main di pasar malam. Pokoknya hari ini aku akan ada buat kamu terus." Anara tersenyum lebar dan manis, Dave memang paling mengerti tentang dirinya. Dave adalah pria terbaik yang dikirimkan Tuhan untuknya. Anara yakin kalau Dave akan menjadi suami yang baik, kelak. *** Mobil Dave melaju di jalanan ekstrim, jalanan menanjak dengan ketinggian yang bisa membuat semua orang menjerit ketakutan. Di kanan kiri jalanan tersebut ada jurang yang curam. Kabut juga menyelimuti perjalanan puncak. Kebun teh hijau menjadi salah satu destinasi yang akan mereka kunjungi. Memetik teh lalu mendengarkan berbagai cerita tentang petani yang bekerja keras mati-matian. "Kamu kenapa ajakin aku ke kebun teh puncak, Dave? Kamu mau beli teh? Kan di mini market banyak." Anara yang penasaran dari tadi pun akhirnya bertanya, setahu Anara, Dave bukanlah pria yang mau repot sampai membeli teh di kebun puncak segala. Dave yang sedang menyetir pun menolehkan kepalanya. Paham jika Anara akan bertanya seperti ini. "Dulu mamah sama papah sering ajak aku ke kebun teh puncak, oma sama opa juga sama. Aku bahagia banget pas liat teh, metik teh, kebun teh di mana-mana, pokoknya salah satu hobiku dari kecil. Bau teh hijau selalu menjadi aroma favorit untuk aku. Makanya, hobi yang istimewa ini, mau aku lakukan dengan orang istimewa." Manis sekali kata-kata Dave, membuat perut Anara seperti diisi penuh oleh ribuan kupu-kupu. Dave memang unik, berbeda dengan lelaki lain. Padahal kebanyakan lelaki lain lebih menyukai hobi dengan melibatkan olahraga, otomotif, atau yang lainnya. "Kamu manis banget deh, jadi ragu kalau kamu kayak gini ke aku doang. Apa jangan-jangan kamu manis ke semua orang, ya? Hayo ngaku!" ledek Anara dengan bercanda, tentu saja Anara mempercayai Dave, Dave adalah pria terbaik yang Anara yakini tidak akan bermain belakang. Dave yang mendengar ucapan Anara langsung memelankan laju mobilnya, dahinya bercucuran beberapa bulir keringat. Jantungnya berdetak kencang. Napasnya pun tersengal-sengal. Apa yang sebenarnya Dave sembunyikan? "Ka-kamu gak percaya sama aku?" tanya Dave dengan gugup. Sontak membuat tawa Anara pecah. "Aku? Gak percaya sama kamu? Gak mungkin lah, aku jelas percaya sama kamu. Aku yakin kamu gak akan pernah duain aku. Kamu itu laki-laki istimewa yang ada di hidupku. Gak pernah seyakin ini aku sama kamu, Dave." Jawaban Anara membuat Dave kembali tenang, ia kira Anara akan memikirkan banyak asumsi tentang dirinya. Ia kira Anara akan memikirkan banyak hal macam-macam tentang dirinya. Dave belum siap akan hal itu. "Thanks, Babe. Aku kira kamu gak percaya sama aku. Oh iya, nanti di depan ada warung kecil, di sana banyak teh dari kebun teh yang mau kita datangi. Mampir ke sana dulu, ya. Dingin soalnya, butuh minuman yang hangat." Walaupun sudah memakai jaket tebal, Dave tetap merasakan dingin yang menusuk ke kulitnya. Apalagi Anara yang tidak memakai jaket ataupun sweater. Baju yang ia kenakan juga termasuk baju lengan pendek. "Oke." "Kamu gak ngerasa dingin apa, Babe? Aku ada sweater di belakang, mau kamu pakai gak? Nanti masuk angin kalau pakai baju lengan pendek di sana. Suhu di sana dingin banget, lho!" Dave yang khawatir dengan kondisi Anara pun mengambil sweater di jok belakang, sweater milik seseorang. Sweater berwarna pink yang cocok dengan kulit putih Anara. Anara mengernyitkan keningnya bingung, sweater pink? Modelnya juga terlihat seperti model sweater perempuan. Ada di mobil Dave. Milik siapa sweater ini? Apakah Dave mempunyai sweater pink? Apakah Dave salah membeli sweater? Ia rasa hal tersebut tidak masuk akan, kalau salah membeli sweater tentunya tidak akan warna pink juga, kan? Apalagi modelnya terlihat sangat perempuan. "Sweater pink? Semenjak kapan kamu suka warna pink, Babe? Gak mungkin kamu salah beli sweater, kan? Lagian kalau salah beli gak mungkin warna pink juga, apalagi ini modelnya keliatan perempuan banget. Sweater punya siapa ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD