10. Kebun Teh

1043 Words
"Sweater pink? Semenjak kapan kamu suka warna pink, Babe? Gak mungkin kamu salah beli sweater, kan? Lagian kalau salah beli gak mungkin warna pink juga, apalagi ini modelnya keliatan perempuan banget. Sweater punya siapa ini?" Dave yang sedang menyetir mobil kembali memelankan laju kendaraannya, mendengar pertanyaan tersebut Dave seperti merasakan hal yang salah. Dave seperti menyembunyikan sesuatu? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang Dave sembunyikan? Apa yang Dave khawatirkan sampai keningnya berkeringat di suhu dingin seperti ini? "Itu sweater punya adik aku, ketinggalan di mobilku, aku emang anak pertama dari dua bersaudara. Adikku perempuan." Dave menjawab demikian, membuat Anara hanya bisa mengangguk paham. Bahkan Anara baru mengetahui kalau Dave mempunyai adik perempuan, selama ini Anara tidak mengetahui apapun dari Dave. Anara jadi bingung, apakah Anara adalah orang yang penting dalam hidup Dave? Jika penting, mengapa Dave tidak memperlakukan Anara demikian? Mengapa Dave tidak mau membagikan hal apapun dengan Anara? Mengapa Dave tidak pernah mau bercerita kepada Anara? Anara menundukkan kepalanya. Merasakan sudah mau dekat dengan warung yang Dave maksud, membuat Anara malas, entah mengapa. Matanya berkaca-kaca, selemah itu hati seorang wanita. Hanya karena sesuatu yang belum tahu bagaimana kebenarannya dan terlalu cepat menyimpulkan, matanya bisa sudah menangis duluan. "Aku gak pernah penting di hidupmu ya, Dave? Sampai aku baru tau kalau kamu punya adik perempuan. Aku baru tau kalau kamu anak pertama. Aku baru tau kalau kamu punya saudara. Selama ini aku ke mana aja, ya? Padahal hubungan kita udah termasuk lama loh, Dave." Menyeka air mata yang sudah berlinang membuat getaran suara Anara semakin menjadi-jadi. Sakit itu di saat kamu kenal dengan ia lama, sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, kamu sudah menceritakan semuanya kepada ia, kamu sudah mempercayainya, kamu sudah menganggapnya seseorang yang paling istimewa, tapi ia tidak melakukan hal yang sama. Ia tidak menceritakan apapun kepada kamu, ia memendam semuanya sendirian. Ia tidak mempercayai kamu. Ia menganggapmu biasa saja, tidak ada yang istimewa. Ia tidak menganggap kamu segalanya. Rasanya memang tidak adil sama sekali. Dave tersentak ketika suara serak dibarengi dengan tangisan terdengar dari Anara. Pasti Anara sakit hati karena baru mengetahui segalanya. Dave jadi merasa bersalah jika seperti ini. Tujuan mereka sudah tiba, warung teh yang ada di puncak. Dave sudah memberhentikan mobilnya, pria itu mengumpulkan keberanian dan langsung mendekap Anara, mengecup puncak kepala Anara dengan penuh kasih sayang. "Iam sorry, Babe. Aku gak maksud memperlakukan kamu kayak gitu. Aku cuma butuh waktu untuk mempertimbangkan itu semua, kasih aku waktu, ya? Kasih aku waktu untuk bisa mengambil keputusan. Aku juga mau menikah sama kamu secepatnya. Aku juga mau menjadikan kamu segalanya, cuma aku belum siap. Masih banyak yang harus aku kejar, masih banyak kesuksesan yang belum aku raih, dan aku maunya aku raih sendirian. Biar nanti di saat aku udah mendapatkan hasil, kita tinggal menuai bersama." Mendengar perkataan tersebut, tangisan Anara semakin pecah. Dekapan dengan ucapan itu membuat Anara semakin sesak. Hatinya seperti diminta untuk menunggu terus-menerus, padahal ia sudah menunggu sebisa mungkin. Mengapa harus seperti ini? Mengapa harus yang kesekian kalinya Anara disuruh menunggu lagi? Apakah selama ini kurang? Setidaknya, jika tidak ingin memberitahukan segalanya, beritahu tentang hal yang mendasar saja. Rumahnya di mana, nama orang tuanya siapa, bagaimana kehidupannya. Anara merasa menjadi orang asing. "Gapapa." Perempuan, penuh pertanyaan di benak, keraguan terus muncul, tapi yang diucapkan hanya tidak apa-apa supaya tidak mau memperpanjang masalah. *** Anara mengulas senyum manisnya saat Dave tersenyum bahagia, memetik teh di kebun, berlari-lari ke sana dan ke sini, lalu tertawa bahagia sambil menceritakan masa kecilnya. "Kamu cobain aja deh nanti, pasti enak banget. Nanti kita minta diseduh, oke? Dulu pas aku liburan, sering banget diajakin ke sini karena mamah sama papah suka sama kebun. Gak cuma kebun teh aja, sih, semua kebuh. Ada kebun stroberi, ada kebun apalagi, ya? Banyak pokoknya." Dave mencium aroma teh hijau yang sudah diseduh oleh warga sekitar. Dengan seperkian detik Dave meminum teh hijau tersebut lalu mengacungkan jempolnya. "Enak banget, Babe! Kamu harus cobain. Cita-cita aku dari dulu salah satunya ya ini, aku bisa punya kebun sendiri, aku bisa metik semua hasil kebun sama istri aku. Aku bisa ajak anak-anak bermain sambil belajar. Gak sabar nunggu itu semua, secepatnya." Aneh, ingin merasakan itu semua, tapi tidak berani memberikan suara, tidak berani mengambil langkah, tidak berani menunjukkan apapun. Anara jadi sudah malas mengharapkan apapun dari Dave. Benar ya kata orang, kesalahan terbesar dalam hidup itu, terlalu mempercayai orang lain. Orang lain juga manusia, mereka bisa munafik, mereka bisa berdusta, mereka bisa mendua. Semua hal akan menjadi kenyataan jika dengan manusia. Saat kita terlalu percaya pada orang, justru orang itulah yang menjadi sumber kekecewaan kita. Orang itulah yang menghancurkan segalanya. Orang tersebut bisa menusuk. "Kamu mau cepat menikah, hm?" tanya Anara dengan deheman singkat. Dave yang sedang meminum teh hijau pun hanya mendongak ke arah Anara. "Aku? Menikah? Pengen, sih. Pengen cepet, tapi masih ada yang mau aku kejar, yang lebih penting daripada pernikahan." Tetap sama saja alasannya, selalu seperti itu. Padahal menurut Anara tidak masalah jika ia harus menemani dari titik bawah sekalipun. Lebih baik menemani dari awal, dari bawah, daripada menunggu di atas, bukan? Asal yang paling penting, tidak lupa diri saat di atas. Jangan mentang-mentang sudah berhasil, bisa mendua begitu saja. Bisa menikmati hasil dengan wanita lain. Sebenarnya hidup itu simpel, bebannya simpel, kita saja yang terlalu dibawa ribet. Kita saja yang terlalu banyak alasan. Jadinya seolah-olah hidup ini terlalu melankolis, dan terlalu kejam. Masih ada plain a, plain b, plain c, plain d saat kita hancur. Jadi, jangan terlalu berpacu dan berharap dengan satu plain saja. Atur strategi lagi. Seperti Dave yang berharap hanya pada karirnya sampai menghancurkan segalanya. Apakah Dave tidak pernah tahu bahwa ia menghancurkan harapan Anara? Apakah Dave tidak pernah tahu jika ia menghancurkan impian Anara? "Jangan terlalu melankolis dalam hidup, Dave. Kamu boleh ngejar apapun semau kamu, tapi jangan pernah melibatkan orang lain dengan cara kamu yang egois," ucap Anara mengingatkan. Dave mengernyit. "Egois? Apa aku egois saat mengejar satu impian?" tanya Dave dengan nada tinggi. Anara berdecih sebal, lalu tertawa miris. "Enggak salah sama sekali, tapi dengan cara kamu seperti ini, kamu melibatkan aku, kamu egois. Kamu mau mendapatkan segalanya dengan menyuruh aku menunggu. Aku yang capek." "Kalau kamu gak suka sama apa yang aku omongin, apa yang aku kejar, apa yang aku perjuangkan, gampang kok. Kamu tinggalin aku, cari laki-laki lain."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD