"Kalau kamu gak suka sama apa yang aku omongin, apa yang aku kejar, apa yang aku perjuangkan, gampang kok. Kamu tinggalin aku, cari laki-laki lain." Anara mengerjap seketika mendengar omongan dari pria di hadapannya. Bisa-bisanya pria tersebut mengatakan mencari pria lain dengan mudah, tanpa memikirkan apapun. Tanpa memikirkan Anara yang terluka dengan omongan tersebut, tanpa memikirkan Anara yang sudah menunggu selama dua tahun. Anara yang selalu sabar. Anara yang selalu menerima. Sebenarnya, kekurangan Anara itu apa? Anara sudah siap jika harus menemani mendaki kesuksesan bersama pria yang dua tahun ini menjadi tambatan hatinya. Anara sudah siap menunggu pria tersebut lebih lama lagi, namun dengan satu kalimat, semua pengorbanan yang Anara lakukan seakan tak ada gunanya. Anara disuruh mencari laki-laki lain, menikah dengan laki-laki lain. Dua tahun bukan waktu yang cepat, bukan? Ada banyak kesabaran di dalamnya. Oke, mungkin Dave sedang ada masalah. "Aku pulang sendiri," pamit Anara dengan berbalik badan, keluar dari kebuh teh dan langsung mencari kendaraan yang bisa mengantarkannya ke apartemen. Dave yang melihat sikap Anara seperti itu hanya bisa mengacak rambutnya kesal. Lagi-lagi Anara harus sakit hati. Untuk yang kesekian kalinya lagi Anara harus terlukai kembali. *** Anara berjalan sempoyongan memasuki apartemennya, mengunci pintu apartemen dan berjalan ke sofa. Terduduk lemas sambil menyangga kepalanya. Semua terasa berat, semua terasa pusing, hatinya dihancurkan berkeping-keping. Semuanya seperti sia-sia dan tidak berharga. Mungkin bagi Dave jika ia mempunyai mainan dan mainan tersebut rusak, ia tinggal buang dan beli yang baru. Mungkin bagi Dave jika bosan menunggu, Anara tinggal mencari laki-laki lain tanpa memikirkan semuanya. Egois. "Apa sih salahnya gue minta kepastian? Dua tahun kurang apaan coba? Gue aja sama sekali gak tau kalau dia anak ke berapa, berapa saudara, rumahnya di mana, anaknya siapa. Apa selama ini gue kurang sabar nunggu? Dia mikirin perasaan gue gak, sih? Dia mikirin kalau gue sayang banget sama dia gak, sih? Gue mikirin dia banget. Gue mau hidup sama dia, cuma sama dia." "Dan dengan gampangnya dia bilang gue cari laki-laki lain? Kalau sama laki-laki lain, gue gak bakalan nunggu sampai selama ini, gue gak bakalan nunggu sampai sakit hati seperti ini. Gue juga bakalan terima semua perjodohan mamah. Tapi apa? Gue cuma maunya sama dia, dan dia gak menghargai itu semua. Anjing emang!" Merasakan hatinya memanas, napasnya tersengal-sengal membuat Anara menarik napas berkali-kali, menenangkan dirinya sendiri. Sudah ia pastikan, hari yang seharusnya bahagia sekarang, malah jadi menderita hanya karena ribut dengan Dave. Seharusnya Anara sekarang menikmati waktu libur bersama Dave, di kebuh teh, lalu pergi ke pasar malam seperti yang direncanakan, tapi semuanya berantakan. Oke, tak masalah. Anara berdiri dari duduknya, mendekati kulkas lalu menuangkan air dingin dari kulkas ke dalam gelas. Setelah semuanya selesai, gadis itu meneguknya sampai habis. Cukup menghilangkan sedikit teriknya hari ini. *** Waktu sudah menunjukkan malam hari, dari tadi Anara hanya menonton film berpuluh-puluh, sampai matanya memerah terlalu sering menatap layar laptop. Suara ponsel berbunyi membuat Anara mengalihkan pandangannya dari laptop ke ponsel. Terpampang jelas nama Mikhaella di sana. Tanpa berpikir banyak hal, Anara mengangkat telepon Mikhaella. "Halo, Mik! Kenapa lo telepon? Udah malem kali. Ganggu mulu lo!" ujar Anara dengan malas, mengantuk. "Gue gabut, belanja yuk! Masih jam tujuh kali, Ra, belum malam-malam banget buat belanja." Kan, sudah bisa Anara tebak jika Mikhaella menelpon seperti ini pasti mengajak berbelanja, mencoba restoran baru, menonton film di bioskop, atau mencari desert. Sayangnya Anara sedang tidak mood melakukan apapun sekarang. Jika saja Mikhaella mengajak di waktu yang tepat, pasti Anara tanpa berpikir lagi sudah pasti menerima. Sayangnya Anara sedang tidak ingin keluar. "Ngapain? Males lah. Gue lagi gak mood, kerjaan dari tadi nonton film mulu. Udah ngantuk juga. Lo pergi sendiri aja, Mik," tolak Anara. Desahan kecewa terdengar dari seberang jalan sana. Mikhaella sudah pasti sedang mengerucutkan bibirnya sebal. "Gue gabut banget, Ra. Beli apa gitu, yuk! Makan gitu, gue traktir, deh. Mau, ya?" Ya Tuhan, Anara tidak kuat saat mendengar kata traktir, pasti selalu gerak cepat. Bagi Anara hemat itu penting dan harus. Jika ada seseorang yang mentraktir Anara pasti gadis itu terima. "Emm, gimana ya, sebenarnya gue males." Anara memberikan jeda untuk ucapannya, berusaha memikirkan ucapan selanjutnya. "Tapi lo tau sendirilah kalau gue gak kuat denger kata traktir, makanya gue mau, yaudah buruan, ya. Lo jemput gue di apartemen, gue gak mood nyetir sendiri. Lo ngaret gue batalin." "Oke, sip. Makasih, Sayangku!" balas Mikhaella dengan senang hati dan penuh semangat. *** Anara menunggu di depan apartemennya dengan sweater abu-abu yang ia kenakan. Udara malam ini cukup dingin, dua puluh empat derajat celcius. Anara bahkan kerap kali menggosokkan kedua tangannya supaya merasa lebih membaik. Memang berteman dengan Mikhaella adalah kesialan yang selalu Anara rutuki. Sudah mengajak Anara hang out, bilang on the way semenjak setengah jam yang lalu, meminta Anara turun ke bawah, rupanya gadis ayu itu belum datang. Laknat memang. Seharusnya Anara paham, on the way yang dimaksud bukanlah on the way di jalan menuju apartemen Anara, tapi on the way mengumpulkan niat untuk bersiap. Meresahkan. Berkali-kali Anara menguap, mengantuk. Waktu sudah menunjukkan jam tujuh tiga puluh malam, setengah delapan. "Gue tunggu sepuluh menit lagi, awas aja kalau gak nongol tuh bocah, gue masuk lagi ke dalem. Sembarangan banget emang, ya. Gue udah lima belas menit nungguin di sini." Anara menatap ke sekeliling, belum menemukan tanda-tanda mobil Mikhaella memasuki ruko apartemen. "Eh jangan sepuluh menit, makin ngelunjak nanti. Gue tunggu lima menit. Awas aja gak nongol, gue pundung ke dia." Satu menit. Dua menit. TIN! Suara klakson mobil membuat Anara menoleh, menatap ke mobil putih yang ada di depannya. Supir dari mobil tersebut hanya meringis sambil menunggu Anara masuk. Sembarangan! Tujuh belas menit Anara harus menunggu! "Lo apa-apaan, sih, Mik! Kalau ajakin itu udah siap kek minimal, gue nunggu tujuh belas menit tau gak, sih? Gue nunggu lo sampai capek anjir. Gue nunggu lo sampai dikira orang gila kali, berdiri terus di situ. Harusnya gue paham sih emang kalau lo itu on the way bukan ke sini, tapi on the way ngumpulin niat, ya kan? Ngaku lo! Gue tau semua akal bulus lo! Guenya aja yang kurang pinter tadi, khilaf," cerocos Anara dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat Mikhaella yang mendengar hanya bisa menatap sambil melongo. "Lo kesurupan setan apaan, Ra? Gue ruqyah sini."