"Lo kesurupan setan apaan, Ra? Gue ruqyah sini." Sembarangan! Tipe teman tidak ada akhlak ini seperti Mikhaella, sudah mengajak belanja, ngaret sekali, membuat Anara menunggu tujuh belas menit, ujung-ujungnya dibilang kesurupan. Untung saja Anara adalah tipe bestieable, jadi Anara berusaha bersabar. "Bodo amat! Buruan berangkat, gue turun lagi nih," ancam Anara dengan raut wajah yang ditekuk. "Gas!" *** Siapa sih yang tidak suka dengan mall? Bisa belanja, bisa enjoy, dan bisa happy. Bisa me time, bisa girl time. Anara sangat menyukai mall. Bagi Anara, mall adalah salah satu kebahagiaan. Bagi Anara, mall adalah surga dunia. Mall yang kini Anara dan Mikhaella kunjungi adalah mall yang terkenal di pusat kota. Mall dengan lima lantai yang cukup membuat mata takjub dan mendecak gila. Anara dan Mikhaella memasuki salah satu toko baju terkenal dengan merk yang tak diragukan lagi. Membeli banyak baju dari kaos sampai sweater. Anara itu tipe boros dan suka khilaf, bisa beli satu toko sekaligus bahkan. "Eh menurut lo bagusan yang ini, apa yang ini?" tanya Mikhaella dengan menyodorkan kedua gaun yang anggun. Yang satu berwarna oranye dan yang satu berwarna hitam. Sambil menunggu Anara berpikir, Mikhaella membenarkan posisi kacamata bundarnya. Anara mengetukkan jemarinya di dagu. Memikirkan mana yang lebih prefer. "Emm, yang item aja deh, gue gak terlalu suka yang ngejreng juga." Mikhaella mengangguk. "Tapi gue sukanya yang oranye, jadi gue beli yang oranye aja, ya." Kampret, sudah bertanya, saat diberikan pendapat malah memilih jawaban sendiri. Kalau seperti itu, apa tujuannya bertanya? Menyebalkan sekali. "Bodo amat." Anara membalikkan tubuhnya, mencari gaun, kaos, ataupun sweater yang mau ia beli. Anara tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berbelanja hari ini. Akhirnya, setelah Anara merasakan gabut, ia bisa happy, apalagi ditraktir. *** Capek berbelanja, Anara dan Mikhaella memesan minuman boba di salah satu kedai yang ada di lantai tiga. Mereka juga menyempatkan meminta sandi Wi-Fi supaya jauh lebih hemat, mengupload foto-foto di mall. "Bobanya enak banget, kan? Gue selalu favorit boba di sini. Apalagi setiap gue pergi sama doi, beh mantap." Mulai menceritakan tentang doi, Mikhaella ini memang menyebalkan, membuat Anara jadi keingat dengan Dave. "Lah, lo kenapa gak ke sini sama doi? Tumben banget gak bucin, biasanya juga bucin. Kenapa emang? Lagi ada masalah, ya? Roman-romannya sih iya." Mikhaella menggetak kepala Anara dengan sebal. Enak saja dibilang ada masalah dengan doi, Mikhaella tidak pernah ada masalah sama sekali. Ia bahagia sekali justru dengan sang doi. "Dia lagi pergi ke luar negeri, soalnya ada urusan bisnis di sana, makanya gak bisa keluar sama dia, akhirnya gue ajak lo, deh. Biar gak gabut di rumah." "Oh gitu." *** Anara menguap untuk yang kesekian kalinya, rasanya sungguh mengantuk padahal jam masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Biasanya Anara akan tidur pada pukul satu pagi, atau bahkan jauh lebih dari itu. Kegiatan yang saat ini Anara lakukan adalah membaca novel yang sudah lama ia beli namun belum sempat ia baca. Di sebelah Anara ada Mikhaella yang menginap, gadis dengan kacamata bundar yang selalu menjadi bingkai matanya itu tengah asik memberikan cat kuku pada kuku cantiknya. Hobi Mikhaella dari dulu memang seperti itu, berbeda dengan Anara. Jika Mikhaella terlihat seperti perempuan, mewarnai rambut, mewarnai kuku, maka Anara akan menganggap itu semua adalah hal yang ribet. Itu semua adalah hal yang susah dan tidak berguna bagi Anara. Membaca bait demi bait hingga puluhan lembar novel sudah Anara baca, gadis itu melirik ke sebelahnya, Mikhaella masih sibuk dengan kukunya, sekarang gadis itu mewarnai kukunya dengan warna putih bening. Katanya supaya kualitas kuku lebih bagus lagi, entahlah. Terserah tuan putri saja. "Mik, gue mau tanya ke lo, deh." Anara mengucapkan hal demikian, berniat meminta pendapat sahabatnya yang sedang sibuk sendiri. Mikhaella mendongak sejenak. "Hm? Tanya apa?" Dengan posisi tengkurap, Anara membalikkan badannya hingga tiduran, menarik selimutnya, dan berkata, "Menurut lo, laki-laki gentle itu kayak gimana?" Satu menit tidak terdengar jawaban apapun dari Mikhaella, membuat Anara membuka selimut dan melihat Mikhaella yang melongo saking kagetnya. "Lo kenapa, sih? Gue nanya serius nih." "Anjir, ngakak! Seorang Anara tanya tentang cowok itu suatu kemustahilan, tau. Bentar, ketawa dulu." Usai tertawa, Mikhaella kembali menarik napasnya, memikirkan jawaban yang paling tepat menurut dirinya pribadi. "Cowok yang gentle, ya? Emm gimana, ya. Menurut gue tipe cowok gentle itu yang kayak Mas Va, yang selalu ada buat gue, yang selalu nemenin gue di saat senang maupun susah, yang selalu support gue saat gagal. Pokoknya Mas Va itu tipe cowok idaman." Calon tunangan Mikhaella memang bernama Va, entah siapa nama panjangnya, Anara pun tidak ingin tahu. Tiga tahun sahabatnya ini memiliki hubungan dengan Mas Va, Anara pun belum pernah bertemu dengan orangnya. Menurut Anara buang-buang waktu dan tenaga. Biar mereka yang menjalani hubungan saja yang bersangkutan. "Mas Va pernah bilang belum siap gak sih ke lo?" Anara melanjutkan pertanyaannya, ingin tahu apakah semua lelaki memang membuat alasan belum siap atau hanya Dave saja. Mikhaella menggeleng. "Gak pernah," jawabnya. "Justru di saat gue gak siap dia bilang ke gue kalau menikah itu bukan masalah siap gak siapnya, tapi masalah yakin." "Yakin?" "Iya, yakin kalau dia pasangan yang terbaik untuk kita atau bukan, yakin kalau dia cocok jadi imam kita atau enggak, dan yakin kalau dia emang jodoh kita atau enggak. Kalau dibilang siap gak siap semuanya pasti gak siap karena takut. Takut cerai, takut gak cocok, takut menikah, dan lain sebagainya. Makanya ganti kata siap dengan kata yakin. Kalau yakin sih Tuhan selalu memberikan jalan." Benar juga apa yang dikatakan Mikhaella. Apakah selama ini Dave hanya beralasan saja? Apakah selama ini Dave belum yakin dengan Anara hingga tidak mengenalkan Anara dengan siapapun? Jika demikian, mengapa Dave mengajak Anara berpacaran? "Lo kok aneh banget hari ini, Ra? Ada masalah emang? Tumben banget tanya tentang cowok." Anara langsung tersentak, apa yang harus ia katakan, selama ini Mikhaella belum mengetahui hubungan Anara dengan Dave. Oleh karena itu Anara tidak pernah menceritakan apapun. "Emm, temen gue lagi ada masalah sama pacarnya karena pacarnya belum siap gitu. Makanya gue tanye ke lo," alibi Anara. Mikhaella tersenyum mengejek saat mendengar alibian tersebut. Oh ayolah, Mikhaella kenal Anara sudah bertahun-tahun, jadi Mikhaella tahu jika Anara sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu. "Teman? Semenjak kapan lo punya teman selain gue? Lo kan anaknya cuek dan malas berbaur, cuma temanan sama gue. Teman yang mana nih yang lo maksud?"