13. Meeting

1057 Words
"Teman? Semenjak kapan lo punya teman selain gue? Lo kan anaknya cuek dan malas berbaur, cuma temanan sama gue. Teman yang mana nih yang lo maksud?" Bodoh, mengapa alasan Anara sama sekali tidak masuk akal, seharusnya Anara mencari alasan lain. Jika seperti ini Anara pasti akan skakmat, Mikhaella tahu seluk-beluk Anara. Jadi Mikhaella pasti tahu jika Anara sedang berbohong. "Emm, temen meeting. Kita kerja sama gitu, terus dia curhat, awalnya gue emang risih sama dia, tapi lama-lama care juga karena dia asik. Dia lagi ada masalah sama pacarnya makanya cerita ke gue, padahal gue gak tau tentang berpacaran atau apapun, jadinya gue tanya ke lo deh," timpal Anara kembali beralibi. Gadis dengan piama tidur masih terfokus ke kukunya, menutup botol cat kuku tersebut lalu menatap Anara seolah mengintimidasi. "Baru kemarin lo bilang ke gue perusahaan seberang kantor lo ambil klien dan lo kalah tender. Jadi, yang bener yang mana?" Mampus, mengapa Anara melupakan Arga? Arga yang menyebalkan yang harus mengambil semua milik Anara. Anara jadi ketahuan berbohong lagi jika seperti ini. "Tau lah, puyeng gue ngomong sama lo. Mau tidur dulu, bye!" Buru-buru Anara menarik selimut dan berusaha memasuki alam mimpi, daripada ditanya yang tidak-tidak oleh Mikhaella. *** Anara memasuki ruang meeting dengan klien. Pakaian rapi dengan rambut terurai cantik membuat klien menyalaminya dengan baik. Anara mengulas senyumnya, membalas salam dari klien. "Selamat pagi!" sapa Anara lalu duduk dengan tenang di kursi kebesarannya. "Jadi, kita mau mulai meetingnya sekarang?" tanya Anara memastikan, memberikan kode ke sekretaris untuk membuka laptop menyiapkan segalanya. "Kita tunggu salah satu klien kami lagi, Nona. Ada satu perusahaan besar yang kami ajak kerja sama juga. Katanya sudah ada di jalan, sebentar ya." "Baiklah." Sembari menunggu perusahaan yang satu, Anara membuka laptopnya juga, mempersiapkan meeting dengan baik supaya klien saat ini cocok dengan kinerja perusahaan Anara. "Selamat pagi, maaf terlambat." Tunggu, sepertinya Anara mengenal suara ini. Sontak Anara mendongak, melihat tubuh jangkung seorang pria yang sangat ia benci. Di antara ribuan perusahaan di dunia ini, mengapa harus perusahaan Arga yang selalu menjadi saingannya? Ya, benar. Cowok itu adalah Arga. Arga musuh yang selama ini Anara benci. Arga pemilik perusahaan yang berada di seberang kantornya. Arga yang membuat Anara selalu naik darah, menyebalkan! Dengusan sebal dengan napas yang tersengal, d**a naik turun membuat Anara harus berusaha menenangkan dirinya. Namaste, jangan sampai terpancing Anara. "Selamat pagi, Tuan Arga! Senang bertemu dengan Anda. Kami dengar perusahaan Anda adalah perusahaan terbaik di negeri ini, oleh karena itu kami menginginkan kerja sama supaya saling menguntungkan. Ah iya, perkenalkan ini Nona Anara, perusahaannya juga bagus, tentunya jauh di bawah Anda." Sialan! Mengapa harus ada embel-embel jauh di bawah Anda? Sebelum ada perusahaan Arga, perusahaan Anara lah yang memimpin bisnis di negeri ini. Memang Arga harus disingkirkan, enak saja merebut banyak klien dan rezeki Anara. "Terima kasih, Nona. Hai, Nona Anara! Long time no see. Saya sudah kenal lama dengan Nona Anara, kami juga berteman dengan baik karena satu ruko perusahaan." Sebentar, apa tadi katanya? Berteman dengan baik? Enak saja! Anara jelas tidak mau berteman dengan perebut. *** Meeting sudah selesai, saat ini Anara sudah berada di dalam ruangannya. Memikirkan perusahaan Arga membuat Anara jadi pusing. Selama meeting tadi perusahaan Arga jauh lebih banyak berbicara serta turut menyumbang ide, membicarakan peta konsep dan banyak lagi. Klien juga memuji bagaimana Arga yang cerdas, Arga yang telaten, serta Arga yang multitalenta. Anara tentu saja merasa terpojokkan. "Ini gak bisa dibiarin, sih. Enak aja perusahaan gue kalah telak sama perusahaan Arga yang curut gitu. Meeting aja masih telat, sok-sokan mau memimpin perusahaan di negeri ini. Gak bisa dibiarin. Pokoknya gue harus cari akal supaya bisa kalahin Arga." Anara menghidupkan laptopnya, mencari biodata Arga yang sudah ramai diperbincangkan oleh publik. Rupanya Arga memiliki gelar MBA, pantas saja pria itu tampak seperti cerdas, keluaran kampus ternama. Oke, Anara tahu apa yang akan menjadi solusinya. Anara tahu harus berbuat apa. Anara tahu harus memikirkan apa. "Liat aja, Arga, gue pasti bakalan tetap jadi pemimpin bisnis di negeri ini. Apa yang jadi milik gue gak mungkin dan gak boleh direbut siapapun. Apa yang udah gue punya gak boleh terkalahkan oleh siapapun. Gue pastiin lo bakalan menang beberapa tahun aja, setelah ini perusahaan gue kembali memimpin. Nikmati masa jaya lo sebelum dateng masa terburuk di hidup lo. Selamat menikmati." Anara menutup laptopnya, mengambil tas lalu keluar dari ruangan. "Saya mau pergi, tolong cancel semua pertemuan hari ini, ya. Jangan ganggu saya, karena saya sedang sibuk. Terima kasih," pesan Anara pada sang sekretaris. Sang sekretaris hanya bisa mengangguk memahami. *** "Menurut lo, orang yang punya gelar MBA itu gimana, Mik?" tanya Anara yang sibuk dengan teh susunya. Mikhaella menatap Anara dengan malas. Anara ini sedang kerasukan apa sih sebenarnya? "Lo sekarang random ya, Ra. Apapun sekarang ditanyain. Semalem tanya cowok sekarang tanya gelar MBA, sebenarnya lo kenapa sih, Ra? Tumben banget tanya tentang hal random, biasanya selalu tanya hal yang emang penting." "Ini tuh penting lagi, Mik. Ternyata Arga yang tengil noh, yang punya perusahaan di seberang kantor gue, dia lulusan MBA, makanya gue tanya ke lo, minta pendapat lo. Pertanyaan gue bukan hal random, gue butuh jawaban." "Anjir, pantes aja lo tanya gitu. Menurut gue sih MBA itu bergengsi ya, lulusan MBA emang top sih, pantes aja Arga bisa jadi pemimpin perusahaan terbaik. Gak salah kalau dia punya skill dan bakat menjadi seorang pebisnis. Lo mau apa emang sama gelar MBA? Masih punya mimpi buat lanjut sekolah? Masih punya mimpi buat lanjutin pendidikan? Dan lo mau ambil MBA gitu?" Anara mengangkat kedua bahunya. Bingung sendiri dengan pola pikir dirinya sendiri. "Bingung gue, lo tau sendiri dari dulu gue pengen punya bisnis lancar dan pengen lanjutin pendidikan. Tapi setelah gue alami semuanya, gue gak bisa kejar semuanya bersamaan. Gue fokus kerja, gue fokus bangun bisnis, tapi ternyata gue lupa kalau saingan sekarang adalah saingan yang bertalenta. Mereka udah punya gelar yang jauh di atas gue. Kalau gue lanjutin pendidikan, siapa yang bakal ambil alih di perusahaan coba? Papah punya kantor sendiri, gue anak tunggal, jadi gak bisa minta tolong ke adek atau kakak." "Nah, menurut gue juga apa yang lo omongin tadi bener. Lo gak bisa ngejar semuanya, lo harus fokus ke satu titik. Semakin ke sini pebisnis semakin handal, lo harus punya andalan, misal perusahaan yang unik, atau apa gitu, yang bisa jadi branding tersendiri. Jadi lo harus pilih salah satu, mau lanjut kuliah atau mau fokus kembangin bisnis."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD