14. Sebuah Permintaan

1053 Words
Anara keluar dari mobil terbaru miliknya, memasuki rumah yang sudah lama tidak ia singgahi. Terlihat mamah dan papahnya yang sedang berbincang santai di sofa sambil menikmati kue kering. Rencananya hari ini ia akan meminta sesuatu kepada papah, dan papah harus menurutinya. "Mah, Pah!" panggil Anara sambil turut duduk di sofa. Wajahnya berkeringat karena harus lari dari garasi ke dalam rumah. Nyonya Eva dan Tuan Damares yang kaget melihat putrinya datang tanpa mengucapkan salam apapun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kelakukan putrinya ini memang ada-ada saja. "Tumben pulang kamu, biasanya juga enggak inget rumah, pulangnya ke apartemen kamu. Kalau pulang giliran disuruh mamah, kalau enggak pas lagi butuh sesuatu. Jujur sama mamah, kamu lagi butuh sesuatu, kan?" Nyonya Eva yang memang sudah hafal dengan gerak-gerik Anara langsung berhasil menebak, pasti putrinya menginginkan sesuatu. Anara hanya meringis, mamahnya ini cerdas dan selalu tepat sasaran. "Tau aja deh, Mah. Anara emang lagi mau sesuatu, tapi mintanya nantian aja. By the way mamah sama papah sehat, kan? Gimana keadaan kalian?" Dengan sedikit basa-basi, Anara memulai semuanya. Takut dicap anak durhaka karena tahunya meminta saja tanpa paham keadaan orang tua. "Baik, Sayang. Kamu sendiri gimana? Gak ada masalah apapun di kantor, kan? Apartemen kamu aman, kan?" Tuan Damares yang menjawab pertanyaan Anara langsung bertanya demikian, pasalnya Tuan Damares sangat menyayangi putri semata wayangnya ini. Memanjakan Anara adalah salah satu kebiasaan dari Tuan Damares. "Mamah juga baik, kayak yang papah bilang tadi, kamu juga apa kabar? Lama banget gak ketemu, terakhir ketemu pas kamu kesel gegara dijodohin. Kenapa gak mau dijodohin, sih? Padahal kan mamah pengen banget kamu cepet-cepet nikah, mamah gak mau kamu jadi perawan tua." Kan, mulai lagi, malas sekali. Yang tidak Anara sukai dari mamahnya itu memang seperti ini, mamahnya selalu mengatakan perawan tua, perawan tua, dan perawan tua lagi, padahal usia Anara masih sangat belia. "Kabar Anara baik kok, Mah, Pah. Semuanya juga oke," jawab Anara sembari mengambil napas sejenak. "Mamah kenapa sih bahasnya jodoh mulu? Anara gak suka, ya. Anara ini masih muda, Mah. Usia Anara masih belia, gak etis kalau mamah bilang perawan tua mulu. Nanti juga Anara bakalan menikah, pas waktu yang tepat." "Lah kamu ditanya udah ada pacar apa belum, gak pernah dijawab, ya mamah cariin pasangan supaya kamu cepet-cepet nikah, tapi malah gak ada yang mau. Coba kamu udah ada pasangan belum? Belum, kan?" todong Nyonya Eva lagi. "Sudah-sudah, kalian ini bertengkar terus. Ya sudahlah, Mah, mungkin memang Anara belum rezekinya menikah tahun ini. Jodoh, maut, dan rezeki kan sudah ada yang mengaturnya, gak akan tertukar, Mah. Mau kapanpun Anara siap untuk menikah, itu adalah waktu yang tepat." Tuan Damares melerai, mulai membela Anara. Memang anak perempuan itu jauh lebih dekat dengan ayahnya, ya. "Tapi mamah malu, Pah. Mamah malu setiap kali arisan, kumpulan, atau ketemu sama temen-temen selalu ditanya Anara kapan nikah, kapan punya mantu, banyak lagi pokoknya lah. Sebel banget gak suka dengerin gituan." Nyonya Eva memanyunkan bibirnya, mengambil kue kering dan memakannya. "Gak usah punya telinga kalau gak mau dengerin," cibir Anara dengan sarkas. Tuan Damares hanya bisa tersenyum melihat putrinya seperti ini, putrinya yang selalu membalas perkataan apapun yang ia anggap benar. Putrinya ini memang sangat hobi membenarkan apapun yang ada di pikirannya, tak peduli menurut orang lain benar atau salah, ia pasti akan menceritakan semuanya. Anara tidak suka munafik, Anara tidak suka berkata iya padahal aslinya tidak suka. "Enak aja. Oh iya, besok mau ada keluarga besar ke sini, kamu nginep sini kan, Ra?" Melupakan percekcokan dengan anaknya, Nyonya Eva malah membicarakan keluarga besar yang akan ke sini besok. Mendengar ucapan mamahnya, Anara berdecak sebal, pasti nanti tante serta om Anara banyak berkata kapan nikah, udah punya pacar belum, tunangan kapan, dan lain sebagainya. Menyebalkan. Tapi, Anara sendiri tidak bisa menolak untuk tidak menemui mereka. "Iya deh, Mah. Tapi Anara males kalau ditanya hal yang gak penting, loh. Awas aja kalau nanti mamah malah ikut-ikutan bahas jodoh atau apa sama mereka." Anara mengingatkan, ibunya itu ibu paling laknat sedunia, di saat anaknya ditanyai macam-macam, ibunya bukan membela atau apapun, malah turut bertanya seolah memojokkan Anara, huh. "Iya, tenang aja kamu." "Tadi kamu mau minta apa hm? Kamu mau minta mobil? Minta apartemen baru? Atau apa?" tanya Tuan Damares dengan nada pengertian. "Enggak, Pah. Anara gak mau itu semuanya. Anara mau lanjutin sekolah Anara, gimana? Boleh gak? Anara mau lanjutin S2 jurusan MBA. Papah tau kan cita-cita Anara dari dulu emang itu, tapi sempet terhenti karena harus urus perusahaan." Memang Anara bertekad untuk segera melanjutkan studinya setelah lulus S1, kemarin. Namun, karena perusahaan yang ia dirikan sedang naik daun, alhasil Anara melanjutkan perusahaannya, memimpin segalanya dengan benar sehingga berhasil menjadi perusahaan terbaik terus-menerus. Sayangnya setelah naik daun, perusahaan Arga datang dan merebut segalanya. Merebut rezeki Anara, merebut rating perusahaan Anara, pokoknya menyebalkan sekali. Selepas selesai berbincang dan meminta saran dari Mikhaella, Anara akhirnya akan melanjutkan studinya. Anara ingin pergi ke luar negeri untuk menimba ilmu. Anara akan pergi ke luar negeri untuk menyaingi Arga, enak saja sudah merebut segalanya dari Anara, Anara sama sekali tidak ikhlas. Tak masalah jika perusahaan Anara sekarang mengalami penurunan sedikit, Anara akan mencari ilmu kembali, membangun perusahaan yang jauh lebih segar lagi nantinya, dan bersaing kembali dengan Arga. "Memangnya kenapa sampai kamu pengen kuliah lagi? Perusahaan kamu baik-baik aja, kan?" tanya Nyonya Eva. Anara mengangguk, perusahaannya jauh lebih baik dari segalanya malah. "Baik-baik aja kok, Mah. Anara kan emang mau lanjutin sarjana dari dulu, cuma belum kesampaian aja." "Terus nanti siapa yang mau ngurusin perusahaan kamu?" Kali ini Tuan Damares yang bertanya, membuat Anara bingung. Anara sendiri tidak tahu siapa yang akan meneruskan perjalanan perusahaannya, tentu saja Tuan Damares akan menolak mentah-mentah jika diminta ikut campur mengenai perusahaan Anara. Ayolah Anara, gunakan otak cerdasmu. Masa seperti ini saja tidak bisa. Ayo, pikirkan. Ayo pikirkan. Huh, menyebalkan! Mengapa pikirannya tidak menemukan siapa yang akan melanjutkan perjalanan perusahaan? Jika seperti ini perusahaan harus ditutup dan semua karyawan akan dipecat terlebih dahulu. "Anara gak tau, Pah. Anara masih bingung. Anara juga gak bisa ngurus duanya sekaligus, kan? Anara harus urus salah satu terlebih dahulu, dan Anara memilih melanjutkan studi dulu." Nyonya Eva nampak memikirkan sesuatu, tersenyum pada putrinya dan membisikkan kata-kata kepada suaminya. Tuan Damares yang mendengar bisikan tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya singkat. Ada-ada saja. "Papah bakalan bantuin urus perusahaan kamu kok," ujar Nyonya Eva dengan nada riang. "Beneran?" "Iya, asal kamu mau dijodohkan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD