Bagai roda yang berputar. Hari demi hari telah berlalu, tapi belum ada perkembangan antara aku dan Kak Bagas yang sudah mulai beralih kuganti dengan panggilan Mas. Aku mulai terbiasa menghabiskan waktu di rumah sendirian selain di kampus. Sementara, dia sibuk mengelola toko. Belum lagi, bulan ini akan membuka toko cabang keempat di kota yang sama. Meskipun begitu, rasa sepi seringkali menyapa ketika aku tak memiliki kegiatan. Rasa rindu belum tersalurkan sama sekali pada suami sendiri karena sudah tiga minggu dari sejak menikah, dia belum menyentuhku. Pun aku tidak berani meminta lebih dulu atau bertanya alasannya pada Mas Bagas. [Hari ini bisa jemput dari kampus tidak, Mas?] Sebuah pesan kukirimkan pada Mas Bagas. Tak lupa disisipi emot senyum. Semenit dua menit aku menunggu. Di menit

