Jangan Terlalu Baik

1030 Words
Kami semua terperanjat kaget ketika bapak mertua menggebrak meja kaca cukup kencang. Sampai-sampai gelas teh hampir jatuh dan tumpah, tapi Bagas dengan sigap menahannya. "Kenapa kamu tega menyakiti Aina kalau tidak lupa dengan pengabdiannya? Kamu itu bukan lagi anak muda, Adi! Sadar! Kamu sudah kepala empat! Harusnya makin bertambah umur, pikiranmu makin luas dan dewasa! Fokus bahagiakan anak istri dan kejar akhirat, bukan nafsu saja yang kamu kedepankan!" hardik Bapak dengan lantang. "Kamu itu benar-benar tidak bisa bersyukur, Di. Coba pikir-pikir dengan kepala dingin. Apa ada wanita yang akan setia dan rela banting tulang seperti Aina saat kamu terpuruk? Dia bahkan tidak mau merepotkan kami. Mikir Adi, mikir! Sudah berapa kali kamu dulu ditolak wanita karena pekerjaan yang belum jelas. Sedikit-sedikit nganggur, sedikit-sedikit habis kontrak. Hanya Aina, Adi. Hanya Aina yang mau terima kamu dan berjuang bersama dari nol," tutur Ibu dengan suara tegas, lalu menoleh padaku seraya menyeka sudut matanya yang basah. "Aku anakmu, Bu, Pak. Kenapa sedikit pun kalian tidak mau mengerti dan membela? Aku tidak akan pernah menelantarkan Bagas dan Aina meskipun sudah menikah lagi. Aku akan selalu ingat dengan tanggung jawabku." Mas Adi mulai berani menatap ibunya. "Bela katamu? Biarpun anak sendiri, kalau salah ya tetap saja salah! Lagipula, Aina juga sudah kami anggap anak sendiri!" Ibu mertua marah. Nada bicaranya tak lagi selembut tadi. "Kamu tidak sadar sudah dimanfaatkan si Indira itu?" tanya Bapak. "Maksud Bapak apa?" tanya Mas Adi. "Buka hati dan pikiranmu, Adipati. Sadar! Dia itu hanya ingin numpang hidup enak! Dia ingin menikmati hasil jerih payahmu dan Aina! Apa kamu lupa dia pernah menolak lamaran dulu?" "Itu karena dulu Indira belum siap menikah, Pak." "Jangan bodohlah kamu! Itu alasan klasik yang sengaja dibuat dia saja. Mana mau dia menikah dengan laki-laki yang belum jelas pekerjaannya. Dan sekarang, dia tahu-tahu mendekat lagi padamu bahkan sampai rela menikah siri. Karena apa? Karena dia tertarik dengan hartamu!" cecar Bapak. Mas Adi bungkam. Dahinya berkerut dalam, terlihat seperti berpikir keras. "Kamu sadar kenapa dia tidak menikah-menikah, Adi?" tanya Ibu seraya menatap lekat putranya yang kembali menunduk. "Itu karena dia terlalu pilih-pilih. Sudah lama orang-orang di desa tahu kalau Indira bermimpi menikahi pria kaya. Khayalannya terlalu tinggi. Laki-laki lain pun enggan untuk mendekat. Sudah bukan rahasia pribadi lagi. Masa kamu begitu saja tidak bisa mikir?" "Dia mau padamu karena sudah sukses, bukan murni karena cinta. Sudah tua kok masih saja mau dibodohi wanita," ejek Bapak dengan tawa kecil. "Dengar ini, Adipati. Bapak tidak munafik. Bapak juga dulu sering tergoda wanita lain karena memang itu ujian terbesar laki-laki. Nafsu! Tapi semua itu kembali lagi pada diri kita. Mampu tidak kita menahan diri? Mampu tidak menahan nafsu? Bapak bisa saja memilih lebih dari satu wanita. Tapi Bapak yakin tidak ada wanita yang sesabar ibumu. Bapak masih bisa bersyukur dan berpikir panjang. Bukan sepertimu yang menuruti hasrat dan nafsu saja!" Bapak menceramahinya panjang lebar. "Tinggalkan Indira, Adi. Ibu dan Bapak tidak akan pernah mengakuinya sebagai menantu kami dan istrimu," titah Bapak. "Tidak bisa, Pak." Mas Adi menggeleng pelan. "Indira sedang hamil. Dia mengandung anak keduaku." "Astaghfirullah, Adi," lirih Ibu dan Bapak kompak. Sementara, aku hanya diam menunduk dan tak berniat melihat padanya lagi. Aku sudah pasrah dan ikhlas menerima apa yang terjadi pada kami. Menyakitkan memang, tapi mungkin ini yang terbaik. "Itu bukan masalah. Kamu tetap bisa ceraikan dia dan biayai saja anaknya nanti." Aku kembali mengangkat wajah. "Bapak ...." Ibu menatap tak percaya atas apa yang diucapkan suaminya itu. "Kenapa, Bu? Itu jalan terbaik untuk keluarga ini. Memangnya Ibu mau, pernikahan Aina dan Adi yang sudah dibangun belasan tahun ini hancur dalam sekejap mata? Bapak lebih rela dia mencampakkan wanita tidak tahu diri itu daripada harus kehilangan Aina dan Bagas!" tegas Bapak menatap kami bergantian. "Siapa yang sudi menerima menantu seperti dirinya? Wanita tidak tahu balas budi! Kamu tagih kembali saja biaya pengobatan ibunya dulu, Aina. Biar dia tahu rasa!" imbuh Bapak lagi padaku. Aku menggeleng. "Tidak perlu, Pak. Dulu aku memang niatnya membantu." "Kamu jangan terlalu baik jadi orang, Aina. Kebaikanmu bisa dimanfaatkan orang lain," komentar Bapak. "Kakek jangan marahi Ibu. Berbuat baik itu tidak salah. Yang salah adalah orang yang suka memanfaatkan kebaikan itu untuk kepentingan diri sendiri." Bagas beralih dari sisi neneknya ke sampingku, lalu merangkul. "Bukan, Bagas. Kakek tidak marah pada ibumu. Kakek hanya tidak ingin ibumu ini disakiti atau dimanfaatkan orang lagi. Bersikap tegas dan sedikit tegaan tidak ada salahnya." "Aku juga tidak menginginkan perceraian ini, Pak, Bu." Mas Adi kembali bersuara seraya menatap orangtuanya bergantian. "Tapi Aina sendiri yang ngotot ingin berpisah." "Yaa kamu pikir saja pakai otakmu itu. Memangnya Aina sanggup melihatmu mesra-mesra dengan wanita lain? Ibu saja tidak sudi. Ibu juga pasti akan mengambil keputusan yang sama kalau dulu bapakmu selingkuh dan diam-diam menikah lagi!" sungut Ibu dengan wajah masam. "Ingat-ingat lagi semua perjuangan dan pengorbanan Aina. Ingat juga saat dia bertaruh nyawa melahirkan anak kalian. Masih tega kamu mencampakkannya dan memilih perawan tua itu?" imbuh Ibu. "Jangan sebut Indira begitu, Bu. Tidak ada satu pun yang mau jadi perawan tua. Jodoh sudah diatur," bela Mas Adi. "Halah, memang kenyatannya begitu, kan? Banyak kok perawan tua di luar sana, tapi sikapnya terhormat. Bukan seperti dia yang memilih merusak rumah tangga orang lain!" debat Ibu lagi. "Renungkan baik-baik, Adi. Jangan hanya pikirkan kesenanganmu yang sesaat ini. Masih belum terlambat untuk mengubah keputusan." Kali ini Bapak berujar lebih tenang. "Benar kata bapakmu. Masih belum terlambat menyelamatkan pernikahan kalian. Lihat anakmu--Bagas! Dia sudah remaja dan mampu melindungi ibunya. Kamu tidak malu pada dia?" timpal Ibu mendukung ucapan Bapak. Mas Adi menatapku dan Bagas untuk beberapa saat, lalu menunduk lagi. "Aina ...." Ibu menyentuh lembut punggung tanganku. "Ibu dan Bapak masih sangat berharap pernikahan kalian bisa diselamatkan. Kasihan Bagas. Pernikahan kalian juga bukan hanya baru setahun dua tahun. Apa tidak sayang kalau harus hancur begitu saja, Nak?" Aku diam, lalu menoleh saat Bagas meraih tanganku dan menggenggam erat. Membuatku tersenyum menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kalau Adi bersedia melepas Indira dan memperbaiki kesalahannya, kamu mau 'kan menerima dia kembali dan membatalkan perceraian kalian?" bujuk Ibu lembut dan menatapku penuh harap. Kuhela napas panjang, lalu menatap Ibu dan Bapak bergantian. Sebelum akhirnya, pandangan mata ini tertuju pada Mas Adi yang juga balas menatapku. Sendu. "Aku ...." ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD