Semua mata tertuju kepada Dimas dan Dewi yang baru saja memasuki gerbang sekolah dan berhenti diparkiran tempat biasa Dimas memarkirkan motornya. Setiap siswa yang melihat mereka mulai saling berbisik satu sama lain dengan berbagai macam kesimpulan yang sudah mereka buat sendiri. Sebagian diantaranya terlihat mencibir dan sebagian juga terlihat bahagia. Banyak juga diantara mereka yang senang dengan kebersamaan mereka dan banyak yang hanya selalu memuja Dimas meski itu berstatus single ataupun sudah berpacaran.
"Can you believe this?" Tanya salah satu siswa yang kaget melihat kearah mereka.
"Alexa, come on, ga ada yang salah kalo kak Dimas jadian sama Dewi. Look, mereka serasi kan?" Jawab gadis disebelahnya santai. Dia adalah Jeany. Kedua wanita ini adalah saudara sepupu yang berdarah Amarika Indonesia dan kebetulan mereka satu kelas dengan Dewi dan Bella.
"No way, I am not talking about kak Dimas and Dewi" jawab Alexa dengan gerakan tangan yang cukup aktif dan mata yang masih tertuju pada titik yang sama.
"So?" Tanya Jeany sambil mengikuti pandangan Alexa.
"Kak Albert?" Jawab Alexa singkat. Matanya fokus melihat Albert yang baru saja turun dari mobilnya.
"He looks good" ucap Jeany santai.
"What? Good? He is perfect" jawab Alexa memuji pria idamannya itu berlebihan. Jeany menepuk jidatnya dan melangkah meninggalkan Alexa dan membuat Alexa sedikit berlari untuk mengejarnya.
"Ayo turun" ucap Dimas pada Dewi yang masih termenung dibelakangnya.
"Dewi?" Panggil Dimas dan melirik Dewi yang belum meresponnya.
"Haduuh, kenapa gue ga kepikiran dari rumah sih kalau semua orang bakal liatin gue begini?" Gumamnya dalam hati. Dimas hanya bisa memperhatikannya seksama sambil melirik Albert yang sudah berdiri tak jauh dari mereka. Albert terlihat memberi kode lewat senyumannya membuat Dimas melirik dan mengerti kalau Dewi sedang melamun.
"Kamu betah banget ya diboncengan aku" goda Dimas membuat mata Dewi membulat tiba tiba.
"Hah?" Ucapnya berusaha tersenyum namun terlihat jelas kalau itu terpaksa. Pipinya mulai memerah dan dia menjadi kikuk sendiri.
"Ayo turun" ucap Dimas lagi membuatnya semakin kikuk.
"Eh, ia kak" jawabnya dan turun dengan buru buru.
"Ah" Dewi tiba tiba berteriak karna tanpa sengaja kakinya menapak diatas permukaan yang tidak datar sehingga sampai hampir terjatuh. Semua orang melihat kearahnya, sebagian diantara mereka memasang wajah kaget sebagian juga menertawakannya. Namun dia tidak sampai ambruk ketanah karna ada tangan yang berhasil menangkapnya.
"Kamu ngga pa-pa?" Tanya pria yang menolongnya dan segera membantu Dewi untuk segera berdiri.
"Ia ngga pa-pa, makasih ya" jawab Dewi sambil merapikan pakaiannya dan berusaha menutupi rasa malunya dari pandangan orang orang disekitarnya.
"Thankyou bro" ucap Dimas setelah turun dari motornya.
"Ia sama - sama" jawabnya lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kamu ngga pa-pa kan?" Tanya Dimas dan menatap Dewi sedikit merasa bersalah. Bukan dia tidak ingin menolongnya. Hanya saja dia kesulitan meraih Dewi karna posisinya masih diatas motor dan membelakangi Dewi. Tapi pria yang menolongnya itu kebetulan lewat dan sangat dekat dengan Dewi.
"Ia kak, ngga pa-pa kok. Untung ada Rian" jawab Dewi yang tanpa sadar membuat Dimas semakin merasa bersalah.
"Maaf ya, harusnya aku lebih hati hati nyari tempat yang nyaman buat kamu turun" ucap Dimas memaksakan senyum dibibirnya.
"Tempatnya baik baik aja kak, Dewi aja yang kurang hati hati" jawab Dewi. Dengan keberanian yang melekat dalam darah Dimas dia mengangkat tangannya dan membukakan helm Dewi yang masih terpasang dikepalanya. Jantung Dewi dibuat berdetak lebih cepat seakan dia baru saja menyelesaikan lomba lari maraton. Belum berhenti sampai disitu, Dimas dengan beraninya merapikan rambut Dewi yang sedikit berantakan saat melepas helmnya. Ingin rasanya jantung Dewi berteriak minta ampun karna tak sanggup berdetak dengan kecepatan setinggi itu. Bahkan darahnya kini mengalir lebih cepat dari biasanya.
"Makasih kak" ucapnya sangat lembut membuat Dimas hampir tak mendengarnya.
"Sama sama" jawab Dimas tak kalah lembutnya.
"Ekhem" Albert dengan usilnya sengaja mengganggu mereka dengan batuk yang dibuat buat. Dimas memutar bola matanya menyadari kalo Albert akan bertindak lebih mengganggu kalau Dimas mengabaikannya.
"Uda mau masuk" ucap Albert dengan nada yang diperjelas sambil menunjuk jam tangannya.
"Bawel" jawab Dimas cuek.
"Yaudah, Dewi kekelas dulu ya kak" ucap Dewi sambil memamerkan senyum sumiringah miliknya. Dimas hanya mengangguk dan membalas senyumnya.
"Ada bau bau mawar mekar ni" ucap Reno sengaja dibuat keras agar Dewi dan Dimas mendengarnya. Dewi hanya semakin menunduk dan memperlebar senyumnya.
"Sssstttt" ucap Dimas menatap Reno sambil meletakkan telunjuknya ditengah bibirnya.
"Gue disuruh diem bro, berani bayar seberapa dia?" Ledek Reno sambil menepuk dipundak Albert. Albert ikut tersenyum dan menunjukkan ekspresi meledek Dimas.
"Lu berdua temen gue bukan sih?" Ucap Dimas dengan ekspresi jengkel yang dibuat buat. Reno dan Albert hanya tertawa sambil menutup mulut.
"Eh, ngomong ngomong Bella mana wi?" Tanya Albert disela tawa mereka.
"Hah?" Dewi sedikit menganga mendengar pertanyaan Albert. Dimas dan Reno menatap Dewi dan seakan bertanya hal yang sama.
"Mungkin dia akan diantar supirnya kak" jawab Dewi meski tak begitu yakin.
"Oowh" jawab Albert mengangguk dan melirik kegerbang sekolah.
"Dewi kekelas dulu ya kak" ucap Dewi sambil melambai pada mereka.
"Kalau ada apa apa kabarin aku ya" ucap Dimas dan Dewi hanya mengangguk.
"Termasuk kalau Sesel datengin kamu lagi" ucap Dimas dan Dewi masih hanya mengangguk. Dewi baru akan melangkah meninggalkan parkiran dan tiba tiba ada panggilan masuk dari mamanya.
"Hallo ma" ucap Dewi begitu menerima panggilan itu.
"Kamu sudah sampai disekolah wi?" Tanya Dania dengan nada kawatir.
"Uda ma, ini Uda diparkiran kok. Mama kenapa kawatir kayak gitu?" Jawab Dewi.
"Itu wi, barusan mama kerumah Bella. Mau kasi tau Bella kalau kamu sudah dijemput sama Dimas"
"Terus kenapa ma?" Tanya Dewi penasaran dengan mamanya yang menggantung kalimatnya.
"Disana mama ketemu Sara. Dan dia bilang Bella masuk rumah sakit tadi pagi" jawab Dania
"Apa ma? Bella masuk rumah sakit?" Ucap Dewi dengan suara dan ekspresi kaget. Albert yang tadinya bersandar santai dimobilnya langsung berdiri tegap karna kaget. Mereka bertiga saling bertukar pandangan dan berusaha mendengarkan pembicaraan Dewi lebih jelas.
"Tenang wi, tenang" ucap Dania
"Tenang gimana ma, Bella dirumah sakit mana?" Tanya Dewi semakin panik.
"Mama belum tau, Sara ga bilang nama rumah sakitnya" jawab Dania jujur.
"Yauda, biar Dewi cari sendiri" ucap Dewi dan bermaksud menutup teleponnya.
"No wi, no. Biar mama sama papa coba cari tau, sekarang kamu sekolah dulu. Nanti kalau mama sudah dapet mama kabarin kamu!" ucap Dania tegas
"Tapi ma"...
"Ngga ada tapi tapian sayang" ucap Dania.
"Yah mama, yaudah deh. Dewi tunggu kabar dari mama ya" ucap Dewi.
"Ia, yang bener belajarnya" ucap Dania.
"Ia ma, bye mama" ucap Dewi dan menutup teleponnya.
"Bella kenapa wi?" Tanya Albert sambil mendekati Dewi.
"Kata mama Bella masuk rumah sakit kak" jawabnya dengan wajah sedih.
"Rumah sakit mana?" Tanya Albert panik.
"Mama bilang belum tau" jawabnya membuat Albert menghela napas
"Semoga Bella ngga kenapa Napa ya" ucap mereka semua bersamaan. Mereka saling memandang karna tiba tiba kompak dengan doa yang sama.
"Yaudah, nanti sih kita jenguk dia sepulang sekolah. Semoga nanti Tante Dania uda nemuin alamat rumah sakitnya" ucap Dimas.
"Setuju," jawab Reno. Dewi hanya mengangguk karna tak punya pilihan lain.
"Sekarang kita masuk kelas aja dulu, 5 menit lagi masuk ni" ucap Dimas.
"Ia, Ayuk ucap Reno melangkah lebih dulu.
"Nanti gue nyusul" ucap Albert kemudian kembali memasuki mobilnya dan segera menghidupkan mesin mobilnya.
"Al, mau kemana? Al" teriak Reno dan Dimas bersamaan. Namun Albert tak menanggapi dan malah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan pekarangan sekolah.
"Mau kemana dia?" Reno seakan bertanya pada dirinya sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Udah, biarin aja" Dimas menepuk dilengan Reno dan mereka berjalan menuju ruangan kelas.
"Cie cie ada yang lagi PDKT nih" ledekan 1 kelas Dimas berhasil menciptakan rona merah didipinya.
"Berisik ah" ucapnya yang sebenarnya sedikit malu.
"Oooo jadi type cewek lu kayak gitu" ledek teman temannya yang lain.
"Emangnya kenapa?" Tanya Dimas dengan senyum lebar.
"Mantap" ucap beberapa siswa bersamaan. Mereka semua tertawa kecuali Sesel.
"Punya nyali juga tu bocah, ok, Kita liat aja bertahan berapa lama" batinnya dengan wajahnya yang kesal. Dimas duduk disamping Sesel tempat dimana seharusnya Albert duduk. Dia meletakkan tasnya dan bersandar dengan santai.
"Ngapain lu duduk ditempat Albert?" Tanya Sesel judes.
"Ini kan tempat Albert, bukan tempat lu. Kenapa lu yang sewot?" Jawabnya santai.
"Tapi gue ga suka kalau lu duduk disebelah gue" jawabnya dengan nada keras.
"masa? bukannya baru kemarin lu pengen banget duduk disamping gue?" Ledek Dimas santai
"ehhh."
"ssssstttt, Ga suka gue duduk disini atau ga suka gue dekat dengan Dewi?" Dimas memotong ucapan sesel dengan One shoot yang membuat jantung Sesel berdetak tak karuan. Jika saja dia punya keberanian untuk jujur dia pasti sudah berteriak dan mengatakan "ia gue ga suka". Tapi dia terlalu pecundang untuk mengakui perasaanya sendiri.
"B O D O" ejanya dengan jelas
"Baguslah" jawab Dimas semakin santai. Sesel harus menahan perasaannya yang berada diantara senang, cemburu dan kesal. Senang karna sekarang bisa duduk dekat dengan Dimas, cemburu karna Dimas dekat dengan Dewi dan kesal karna dia tidak bisa melampiaskan amarahnya kepada Dewi. Dia hanya bisa bertahan diantara Dimas dan tembok yang mengurungnya.
"Lu bisa ga sih pindah aja kebelakang" ucap Sesel berbisik karna kesal melihat Dimas hanya asik dan fokus belajar. Dimas meliriknya dengan santai dan kembali mengerjakan soal yang diberikan guru mate matikanya.
"Kalo lu ga pindah sekarang gue bakal laporin lu ke bu Lita. Ancam Sesel.
"Kalo mau lapor lapor aja" ucap Dimas santai.
"Dimas?" Bu Lita tiba tiba memanggilnya.
"Ia bu, jawabnya sambil melihat bu Lita.
"Albert kemana?" Tanya bu Lita. Semua mata kemudian tertuju kearah Dimas dan sekitarnya.
"Kurang tau" jawab Dimas berbohong. Tentu saja Dimas tau kalau Albert pasti mencari Bella dirumah sakit.
"Reno gimana? Biasanya kan kalian bareng. Kok tumben Albert ga masuk?" Tanya bu Lita.
"Saya juga kurang tau bu" jawabnya jujur.
"Baiklah. Kalau kalian ketemu minta dia untuk menghadap saya besok" ucap bu Lita.
"Baik bu" jawab Dimas dan Reno bersamaan.
"Lanjutkan tugas kalian" ucap bu Lita.
"Lu pasti tau kan Albert dimana" ucap Sesel dengan nada berbisik.
"Gue bukan Tuhan" jawab Dimas
"Lu jujur aja deh" ucap Sesel. Dimas menghela napas dan mendengus membuat Sesel semakin jengkel.
"Yauda kalau lu ngga mau kasi tau. Ntar juga gue tau sendiri" ucap Sesel penuh percaya diri. Dimas menaikkan alis matanya dan memajukan bibirnya. Seselpun hanya bisa mengerjakan soal soal yang diberikan bu Lita karna tidak akan berhasil mengusik Dimas. Bel pertanda jam istirahat pun dimulai dan membuat suasana kelas menjadi kasak kusuk.
"Minggir lu, gue mau ke kantin" ucap Sesel sudah berdiri bahkan sebelum bu Kita memberi ijin untuk meninggalkan kelas.
"Yang sopan, bu Lita masih didepan" ucap Dimas tidak memberi jalan.
"Bukan urusan gue" jawab Sesel.
"Yauda jawab Dimas santai masih belum memberi jalan.
"Lu jangan rese ya, jangan sampe gua hancurin ini ruang kelas" ancam Sesel dan bu Lita hanya bisa tarik napas sambil menggeleng mendengar ucapan Dewi.
"Baiklah anak anak, sekian dulu pelajaran hari ini kita sambung dipertemuan selanjutnya. Ucap bu Lita sudah berdiri dengan rapi.
"Baik bu" jawab anak anak serentak kemudian bu Lita meninggalkan ruangan kelas mereka.
"Uda, sekarang gue mau keluar" ucap Sesel dengan paksa. Dimaspun akhirnya memberi jalan dengan berdiri disamping meja.
"Kalau lu berani nemuin Dewi apalagi berbuat aneh atau sekedar mengancamnya, gue ga akan tinggal diam" ucap Dimas pelan dan hanya Sesel yang mendengarnya. Sesel merapatkan giginya dan mengepalkan tinju tangannya.
"Lu pikir gue takut sama ancaman lu?" Jawab Sesel berusaha santai.
"Lu pasti tau persis kalau gue ngga suka ngancem" jawab Dimas.
"Kita kekantin yuk" ucap Reno menepuk punggung Dimas. Dimas kemudian mengangguk dan menatap Sesel.
"Lu liat aja Dimas, gue akan buat lu bersujud dan memohon untuk kembali sama gue" batin Sesel dengan wajah geramnya.