Pribadi Yang Berbeda

1735 Words
    Albert sudah keluar masuk beberapa rumah sakit terdekat dan bertanya kepada setiap staff yang bertugas namun belum menemukan rumah sakit termpat bella dirawat. Dia melangkah lesu dari rumah sakit terahir yang dia kunjungi. Dia menghusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menghela napas panjang.  Dengan penuh kekesalan dia menghempaskan tubuhnya dikursi mobilnya dan menutup pintu dengan kasar. Dia bersandar dan berpikir untuk beberapa saat.      "Kenapa sih gue sekawatir ini sama lu bel?" batinnya sambil memejamkan matanya.     "masa ia gue suka sama lu?" pertanyaan yang dia tujukan untuknya sendiri yang membuatnya semakin bingung.     "lu dirawat dimana lagi bel bel.." ucapnya tanpa sadar.     "huuuuhhhff" berkali kali dia mencoba bernapas dengan tenang tapi tidak berhasi;.     Albert mencoba mengerti tentang apa yang membuatnya sekawatir itu. Perlahan lahan matanya semakin terpejam dan tubuhnya semakin rileks bersandar. Pikirannya tak kunjung beralih dari Bella. Dia masih berusaha mengingat bahwa mungkin ada rumah sakit lain disekitarnya yang belum dia kunjungi.     "kamu ngapain disini?" Terdengar suara seorang bocah lelaki dengan usia berkisar 7 tahun sedang menghampiri seorang gadis kecil dipinggir jalan. Namun gadis kecil itu tidak menjawab pertanyaan itu. Gadis itu tampak berjongkok dengan rambut panjang terurai yang tampak berantakan karna tiupan angin. Kedua tangannya dilipat diatas lututnya dan wajahnya dia sembunyikan disana.     "kamu kenapa?" pertanyaan kedua dari lelaki bocah itu belum juga mendapatkan jawaban.      "kamu belum dijemput ya? aku juga belum." Ucapnya lagi namun belum ada respon. Akhirnya bocah itu penasaran dan dia berjongkok untuk melihat gadis kecil itu. Namun dia tidak bisa melihat wajahnya.     "kamu nangis ya?" Tanyanya memastikan karna dia mendengar isak tangis yang tertahan. Namun gadis itu tak kunjung memberikan jawaban. Tak lama setelah itu, tak jauh dari sebuah mobil tampak berhenti dengan kasar. Lelaki bocah itu memperhatikannya disertai rasa kagetnya. dan gadis kecil itu perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Seorang wanita dengan wajah disertai emosi turan dengan membanting pintu. Langkahnya begitu tergesa gesa menghampiri tempat dimana dia dan gadis kecil itu berada..     "Sini kamu, Kamu ini kenapa sih susah banget diatur ha? kenapa sih kamu itu manja banget jadi orang. kenapa kamu ga mau dijemput sama supir? ngerepotin banget tau ga sih kamu" Wanita itu menariknya dengan paksa sampai gadis itu berdiri. Gadis kecil itu tak sanggup menyembunyikan isaknya lagi.       "ampun ma" Ucapnya sambil menangis menahan rasa sakit dilengannya yang digenggam keras oleh wanita itu.     "kamu tu ya, kalau dibilangin nurut. jangan manja" tariksnya semakin kasar.  Lelaki bocah itu hanya bisa diam melihat pemandangan didepannya. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa.      "ampun ma, sakit ma" tangisnya semakin pecah.     "sini ikut. kalau kamu masih ga mau dijemput supir lain kali, kamu ga usah pulang sekalian!" Teriaknya. Tempat itu memang sudah sepi karna semua anak-anak sudah dijemput pulang oleh orangtuanya. Beberapa anak yang menunggu jemputan memilih menunggu dipekarangan sekolah.     "ampun ma, sakit" Gadis itu masih meronta ronta berusaha melepaskan cengkraman mamanya. Pakaiannya sudah berantakan sampai baju sekolahnya terangkat menunjukkan tanda lahir berbentuk lingkaran hitam dibagian pinggangnya.     "sini!!" wanita itu semakin kuat mencengkramnya dan menariknya dengan semakin kasar sampai akhirnya dia beranjak dari tempatnya mengikuti langkah kaki wanita itu. Lelaki bocah itu hanya bisa terdiam melihatnya diperlakukan tidak baik oleh wanita yang dia panggil mama itu. Setelah pintu mobil terbuka, wanita itu memaksanya masuk dan kembali menutup pintu mobil dengan membantinya.     "hah".. Albert tersentak dan terbangun dari tidurnya. Dia mengelus dadanya yang tersentak kaget.      "Kenapa mimpi itu lagi sih" gumannya sambil menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia mengingat sebuah rumah sakit yang tidak begitu besar yang tak jauh dari sana. Rumah sakit yang tergolong susah dijangkau karna tidak melalui jalan besar. Dia kembali menyalakan mobilnya dan meluncur menuju rumah sakit tersebut. Dengan buru-buru dia memarkirkan mobilnya sedikit kurang rapi dan melangkah setengah berlari menuju resepsionis rumah sakit itu.     "selamat pagi pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang petugas disana.     "ia sus, saya mau tanya, Tadi pagi ada pasien masuk atas nama Bella ga? Umurnya sekitar 16 tahun." Ucapannya terdengar sangat berharap kalau Bella ada disana.     "Sebentar saya cek dulu ya pak" Ucapnya sambil mengetik dikomputer yang ada didepannya.     "o ia ada pak, Tadi pagi sempat masuk UGD 2 jam. Dan tadi sudah dipindahkan diruang rawat nomor 17 pak.     "Syukurlah" Ucapnya sambil menghela napas lega.     "maaf sus, ruangannya sebelah mana ya sus?" Tanyanya.     "Ikut saya aja pak, saya antarkan" Jawabnya lalu mengantarkan Albert.     "ini pak, silahkan." Suster muda itu mengetuk dan membukakan pintu lalu mempersilahkan Albert masuk. Albert memasuki ruangan itu dan menemukan Bella sedang tidur.     "Maaf, mas ini siapa ?" Tanya bik Inah begitu melihat Albert masuk. Baskoro yang saat itu ikut menoleh seakan memiliki pertanyaan yang sama.     "saya Albert, teman satu sekolahnya Bella bu" jawab Albert.  Mereka berdua hanya saling bertukar pandang dan mengangguk.     "oo silahkan, Bella masih tidur." Jawab bik Inah      "Saya papanya Bella" Baskoro mengulurkan tangannya. Sial, kenapa bukan gue yang ulur tangan duluan. Batin Albert.     "ooh ia om" sambutnya dengan memaksa senyuman. dia duduk tak jauh dari tempat Baskoro duduk. Tidak ada perbincangan yang terjadi selama beberapa saat. Albert memperhatikan wajah seorang ayah yang begitu lesu melihat keadaan putrinya yang terbaring tak berdaya ditempat tidur. Sedangkan bik Inah juga hanya bisa diam sambil memijit ringan dibagian kaki dan tangan Bella. Tapi Albert masih tidak mengerti untuk apa dia ada disini. Benarkah dia diam diam menaruh hati pada gadis didepannya ini? dia memperhatikan wajah bella dengan seksama untuk beberapa saat.      "dia memang cantik, tapi bukan gadis tercantik yang pernah kulihat" Begitulah batin Albert pada saat itu.     "Bella sakit apa om?" Albert berusaha membuka pembicaraan diantara mereka.     "Dokter bilang hanya demam tinggi" jawab Baskoro tanpa mengubah ekspresi diwajahnya. Albert hanya mengangguk dan pikirannya kembali kosong.     "kamu bolos sekolah?" Pertanyaan tak terduga keluar dari Baskoro. Albert hanya mengangkuk.     "untuk Bella?" Baskoro kembali melontarkan pertanyaan tak terduga. Albert kembali mengangguk.     "kenapa?' Sungguh pertanyaan ini juga yang sedang bersarang dikepala Albert.     "maksud saya, Tidak seharusnya kamu bolos sekolah" Ucap Baskoro.     "Saya hanya kawatir om" Jawabnya sedikit kikuk. Meskipun jawaban itu begitu jujur adanya, dia tetap belum mengerti alasan apa yang membuatnya kawatir. Bukankah tidak ada hubungan special diantara mereka? Mereka bahkan hanya bertemu beberapa kali dimoment yang tak disengaja. Bahkan tidak ada pembicaraan khusus diantara mereka berdua sampai hari ini. Apakah cinta memang sebodoh itu?     "Saya tinggal sebentar nak Albert, Saya ada telpon" ucap Baskoro saat ponselnya berdering.     "Ia om" jawabnya singkat.  Albert begitu memperhatikan bik Inah yang sedang merapikan selimut yang menutup tubuh Bella. Wanita berumur yang ada didepannya itu tampak begitu perhatian dengan Bella. Albert sempat berpikir kalau itu adalah ibunya Bella, tapi melihat perbedaan usia diantara papanya, itu menjadi tidak mungkin.     "Bu, saya     "Panggil bibik aja, saya ini asisten rumah tangga" ucap bik Inah senyum.     "Oo.. ia, baik bik" jawabnya.      "Mas Albert mau apa tadi?"        "Itu, saya ga enak nanya nya"     "Mau tanya apa emang?" Bik Inah menjadi penasaran.     "Mama nya Bella dimana bik?" Tanya nya karna tidak melihat ada orang lain disana. Bik Inah tidak menjawab pertanyaan nya. Bik Inah kembali menatap Bella dan merapikan kembali selimutnya.     "Bibik tinggal sebentar mas, mau kekantin beli teh" ucapnya lalu pergi. Albert menjdi bingung dan heran. Apakah ada yang salah dengan pertanyaannya? Albert kemudian berpindah dari tempat duduknya dan duduk disisi kanan tempat Bella berbaring. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan gelang yang dia temukan saat Bella tak sengaja menabraknya. Dia meraih tangan Bella dan mengikatkan gelang itu dipergelangannya. Bella yang merasakan sentuhan Albert perlahan lahan membuka matanya dan melihat Albert memakaikan gelang itu ditangannya.      "Kak Albert?" Ucapnya dengan nada pelan dan terdengar sangat lemah.      "Hai... Maaf ya, kamu jadi kebangun" ucap Albert sedikit kaget dan tidak enak karna mengganggu istirahat Bella.       "Darimana kakak dapat gelang ini?" Tanya Bella masih dengan nada yang sama.      "Itu waktu kamu ga sengaja nabrak aku". Jawabnya      "Makasih ya kak, Bella memang nyariin gelang ini" ucap Bella memaksa senyum dan Albert hanya mengangguk.      "Kakak tau darimana ini punya Bella?" Tanyanya sambil memperhatikan gelang yang sudah sangat dirindukannya itu.      "Itu,... Anu.. karna saat itu barang barang kamu jatuh. Jadi mungkin itu ikut jatuh jawabnya gelagapan. Come on Albert. Kenapa sih lu ga jujur aja? Batinnya. Dia memang tau itu milik Bella sejak pertama kali bertemu Bella. Bahkan dia tau kalau Bella memakainya setiap hari. Dia tidak bermaksud untuk memata matai Bella. Hanya saja setiap melihat Bella matanya tidak bisa berhenti memperhatikannya. Ia. Itulah hal yang diam diam selalu dia lakukan.     "Makasih ya kak" ucap Bella.     "Makasihnya nanti aja kalau kamu udah sembuh" goda Albert membuat Bella mengerutkan kening.     "Maksud kak Albert?" Tanya nya tak mengerti.     "Rahasia" goda Albert membuatnya semakin penasaran. Bella hanya bisa tersenyum menanggapinya. Bukan dia tidak ingin memaksa Albert menjelaskan maksudnya. Hanya saja kondisinya saat ini membuatnya benar benar tak memeiliki tenaga.     "Kamu istirahat aja ya, biar cepat sembuh" ucap Albert sambil menutup tangan Bella dengan selimut.     "Kakak tau darimana Bella sakit?"     "Tante Dania kebetulan telpon Dewi tadi pagi" jawabnya jujur.     "Trus kakak tau darimana Bella dirawat disini?" Tanyanya lagi membuat Albert gelagapan. Apakah dia harus jujur kalau dia sudah mengunjungi semua rumah sakit terdekat untuk menemukan tempat Bella dirawat?     "Dijawabnya kalo kamu udah sembuh aja ya, sekarang kamu istirahat dulu" jawaban paling ngeles dari Albert hari ini. Dalam hati Bella sebenarnya merasa kalau laki laki didepannya ini sangat aneh. Entah kenapa dia merasa kalau Albert tidak seharusnya bersikap seperti itu terhadapnya. Mereka bukan teman apalagi sahabat. Tidak seharusnya Albert bolos untuknya. Saat itulah Bella menemukan pribadi ynag berbeda dalam diri Albert. Dia tak seperti Albert yang dia kenal disekolah. Tidak seperti Albert yang dia dengar dar cerita para gadis gadis yang mengidolakan Albert. Dia bukan Albert yang dingin terhadap gadis seperti yang dia pikirkan.  Dia membiarkan Albert duduk disampingnya dan tak ingin bertanya lebih banyak lagi. Karna mungkin Albert akan menjawab dengan jawaban yang sama. Perlahan lahan dia kembali memejamkan matanya dan tertidur entah mulai kapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD