Setelah mendapat peringatan dari Sesel, Dewi akhirnya menghindari pertemuan dengan Dimas karna mengerti tujuan Sesel adalah Dimas. Bella yang menyadari ketakutan Dewi merasa semakin geram terhadap Sesel dan ingin sekali melabrak wanita yang menurutnya tidak memiliki prestasi itu.
"Lo kenapa aneh sih akhir akhir ini?" tanya Bella yang tidak menyukai perubahan pada Dewi.
"Sssttt," jawab Dewi sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Bella melirik kiri kanan dan hampir tidak menyadari kalau saat itu mereka sedang berada di perpustakaan sekolah.
"Lo takut sama Sesel kan?" ucap Bella berbisik.
"Gue ga mau cari masalah aja," jawab Dewi.
"Tapi ga harus sembunyi sembunyi juga," ucap Bella setengah berbisik sehingga pengunjung lain dapat mendengarnya.
"Sssttt" Dewi kembali memperingatkannya karna pengunjung lain diperpustakaan itu mulai melirik mereka.
"Makanya lo jangan penakut kayak gini," ucap Bella masih dengan nada yang terdengar oleh pengunjung lain.
"Kalau mau ngobrol diluar aja, kasihan yang lain terganggu." Mereka dikagetkan sebuah suara dari seorang pria yang sudah berdiri disamping meja tempat mereka duduk. Pria itu bertubuh tinggi dan berbadan atletis. Kulitnya Sao matang dan dia menggunakan kacamata yang membuat hidungnya terlihat lebih mancung. Sebagian orang bertanya kenapa dia tidak bergabung dengan trio handsome? Bukankah dia layak? Bahkan dilihat dari postur tubuh yang hampir sama seharusnya mereka bisa menjadi four handsome bukan? Tapi mengingat tidak semua manusia bisa bersatu dengan karakter yang berbeda maka wajar saja kalau dia bukan bagian dari trio handsome. Tapi bukan berarti dia memiliki masalah atau tidak suka dengan mereka. Tidak sama sekali. Bahkan julukan trio handsome itu bukan sebuah nama yang mereka buat sendiri. Mereka mendapat julukan trio handsome dari para gadis gadis yang memuja penampilan mereka.
"Maaf," jawab Dewi kemudian berdiri dan meninggalkan perpustakaan.
"Maaf kak." ucap Bella sedikit membungkukkan badannya dan kemudian menyusul Dewi.
"Lo suka sama kak Dimas?" Tanya Bella sesampainya di lorong. Itu membuat pipi Dewi menjadi merah merona. Langkah Dewi terhenti dan matanya melirik seluruh penjuru yang mungkin bisa mendengar ucapan Bella. Setelah memastikan lokasi itu aman dari telinga siswa yang lain, Dewi menarik lengan Bella untuk bisa lebih rapat dengannya.
"Sssttt. Ga usah teriak." Ucapnya terlihat kesal.
"Gue ga suka kalau kita seperti buronan" Bella terlihat kesal mengikuti Dewi kemanapun Dewi pergi.
"Buronan?" tanya Dewi dengan nada kesal.
"Terus ngapain kita harus menghindar?" Ucap Bella membuat Dewi tak tau harus menjawab apa. Beberapa siswa terlihat sudah akan kembali ke kelas karna jam istirahat kedua akan berakhir. Bella melirik jam tangannya dan akhirnya memutuskan diam. Tentu saja dia tidak ingin menambah gosip tentang Dewi yang sudah di anggap merayu salah satu dari trio handsome itu.
"Tunggu," seorang pria berteriak dibelakang mereka membuat langkah Dewi dan Bella terhenti bersamaan. Dan bukan hanya itu, mereka bahkan melihat kearah sumber suara itu dengan serentak. Pria itu menghampiri mereka dengan langkah cepat.
"Itu yang di perpus tadi kan?" Tanya Bella. Dewi tidak menanggapinya.
"Kamu yang namanya Dewi ya?" Ucap pria itu menunjuk orang yang tepat.
"Ia," jawab Dewi bingung dan melirik Bella.
"Ini buku kamu ketinggalan," ucap pria itu sambil menyerahkan buku ditangannya.
"Oh, ya ampun. Saya benar benar lupa, makasih ya," ucap Dewi lalu mengambil buku itu dari tangan pria tersebut.
"Ia sama sama." Jawabnya tersenyum lalu membenarkan posisi kacamatanya.
"O ia, nama saya Yudha" ucapnya memperkenalkan diri.
"Saya Dewi, dan ini Bella sahabat rasa saudara," ucap Dewi tersenyum.
"Hallo Bella," ucap Yudha tersenyum. Bella pun menanggapinya dengan senyum.
"Dari kelas 10 ya?" tanya Yudha yang sebenarnya sudah mengetahuinya dari sampul buku milik Dewi.
"Ia, kamu sendiri?" tanya balik dari Dewi.
"Dari kelas 12," jawabnya tersenyum. Bella mencoba mencari tau reaksi Dewi mengingat tentang ancaman yang diberikan Sesel kepadanya beberapa Minggu yang lalu. Dan jelas saja wajah Dewi langsung terlihat canggung.
"Lain kali jangan lupa lagi sama bukunya," ucap Yudha yang kemudian disusul oleh bunyi bel.
"Udah masuk, saya ke kelas dulu ya," ucap Yudha.
"Ia kak, kita juga," jawab Dewi. Yudha hanya tersenyum dan kemudian meninggalkan mereka.
******
"Mau nunggu berapa lama?" Tanya Bella yang sudah berkali kali melirik jam tangannya.
"Sebentar lagi, sampai mereka benar benar sudah pulang," jawab Dewi. Saat itu penghuni kelas hanya tinggal mereka berdua. Dewi memang sengaja keluar lebih lama agar tidak bertemu dengan Dimas ataupun salah satu dari trio handsome itu.
"Emang lo yakin Dimas peduli?" Tanya Bella yang sebenarnya tidak bermaksud menganggap Dewi terlalu percaya diri.
"Bukan masalah dia peduli atau ngga bel, gue ga mau bermasalah apalagi sama Sesel." Jawabnya.
"Trus dengan lo menghindar dari Dimas, apa untungnya buat Sesel?" Tanya Bella bertubi tubi.
"Apa pentingnya sih kita tau untung ruginya dia. Yang penting kita ga bermasalah sama dia. Titik!" Ucap Dewi. Bella hanya menghela napas dan bersandar di tempat duduknya. Setelah yakin kalau mereka sudah pergi, Dewi pun memberanikan diri untuk keluar dan sekolah sudah benar-benar sepi. Mereka berjalan melewati sebuah lorong yang menghubungkan gedung kelas 10 dengan laboratorium dan perpustakaan yang tergolong sangat mewah itu.
"Dewi, Bella?" Mereka mendengar suara Yudha memanggil dan melirik kebelakang saat mereka sudah beberapa meter melewati perpustakaan.
"Kak Yudha?" jawab Dewi dan Bella serentak.
"Kalian kenapa belum pulang?" tanya Yudha sambil berjalan kearah mereka.
"Ia kak, sopirnya baru sampai diparkiran," Bella memutar bola matanya mendengar kebohongan Dewi.
"Oh, ayo bareng, saya juga mau ke parkiran," ajak Yudha dan berjalan sejajar disebelah Dewi. Kini Dewi berada diantara Yudha dan Bella.
"Kakak sendiri kenapa belum pulang?" tanya Dewi
"Ini memang jam pulang saya. Saya selalu bantu pak Teguh merapikan buku diperpustakaan sebelum pulang sekolah" jawabnya. Dia memang melakukan itu setiap hari dengan suka rela. Dia yang sanggup menghabiskan waktu berjam jam diperpustakaan sebenarnya belum ingin pulang dijam seperti ini. Tapi kakinya melangkah secara otomatis saat melihat Dewi dan Bella melintas didepan perpustakaan.
"Kok Bella diam aja?" Tanya Yudha sambil melirik Bella yang memang belum mengucapkan sepatah katapun.
"Emangnya Bella harus ngomong apa kak?" Jawab Bella tersenyum membuat Dewi dan Yudha ikut tersenyum.
"Hati hati bau mulut" canda Yudha membuat senyuman mereka semakin melebar.
"Kak, kita uda dijemput" ucap Dewi sambil menunjuk mobil yang sudah menunggu mereka.
"Yasudah, kalian hati hati ya" ucap Yudha melambaikan tangan melihat Dewi melambaikan tangan.
Sesampainya didepan rumah.
"Wi, ada mereka tu" ucap Bella. Dewi pun melihat Dimas dan Albert dengan sebuah mobil yang sudah terparkir didepan gerbang rumah Dewi. Mobil mereka terparkir menghalangi mobil lain untuk bisa masuk ke pekarangan rumah tersebut.
"Ngapain mereka didepan rumah gue?" Tanya Dewi heran. Bella hanya mengangkat pundak pertanda tak mengerti.
"Mereka ga lagi nungguin gue kan?" Tanya Dewi yang sebenarnya berharap kalau mereka tidak tau itu rumah Dewi.
"Samperin aja" ucap Bella. Belum sempat Dewi menjawab Dimas terlihat berjalan menuju mobil yang ditumpangi Dewi.
Tok tok tok
Dimas mengetuk jendela mobil dan menurunkan wajahnya sejajar dengan tinggi jendela tersebut.
"Gimana dong?" Tanya Dewi dengan detak jantung yang tak lagi menentu. Apakah ini cinta? Bukan! Ini hanya sebuah rasa takut karna kawatir kalau Sesel akan membuat perhitungan lebih lanjut kalau sampai Dewi bertemu lagi dengan Dimas.
"Samperin aja" bisik Bella.
"No, gue ga mau punya masalah sama Sesel" balasnya berbisik.
Tok tok tok
Dimas kembali mengetuk jendela mobil. Melihat Dewi yang tidak menanggapi ketukan itu akhirnya pak Hassan, supir yang membawa mereka turun dan menghampiri.
"Maaf mas, kalian ini siapa ya? Apa perlu apa?" Tanya pak Hassan dengan nada yang sangat sopan.
"Saya Dimas pak, teman satu sekolahnya Dewi. Saya ada perlu dengan Dewi" jawab Dimas dengan nada bicara yang sama sopan.
"Kalau tidak keberatan bagaimana kalau bicara didalam saja mas? Lebih enak daripada dipinggir jalan seperti ini." Pinta pak Hassan. Dewi menepuk jidat merasa kalau pak Hassan seharusnya jadi supir Dimas saja. Tidakkah dia mengerti kalau Dewi tidak ingin bertemu lelaki itu? Tidak kah dia tau kalau Dewi memintanya untuk datang lebih siang agar tidak bertemu lelaki itu. Baiklah. sepertinya saya tidak akan memberi bonus untuk bulan ini. Batin Dewi yang sebenarnya ingin dia ucapkan.
"Baik pak" jawab Dimas setuju. Pak Hassan meminta Security untuk membukakan gerbang dan meminta untuk mengijinkan mobil Albert masuk. Pak Hassan kembali masuk kemobil dan memarkirkan mobil itu didalam garasi rumah setelah Albert menggeser mobilnya dan memberi jalan pada pak Hassan untuk masuk.
Albert terlihat mengikutinya dan memarkirkan mobilnya tidak jauh dari Mercedes tersebut.
"Ayo turun, ucap Bella" muka Dewi terlihat kesal dan ingin rasanya dia bisa menghilang dan sampai dikamar tanpa harus bertemu Dimas ataupun Albert
"Ada apa kak?" Tanya Dewi begitu turun dan Dimas sudah berdiri didekat pintu mobilnya.
"Dewi, Bella? Kalian sudah pulang? Dania berteriak dari pintu masuk.
"Ada tamu kenapa ga diajak masuk?" Teriak Dania lalu berjalan menghampiri mereka.
"Kalian teman satu sekolah ya?" Tanya Dania melihat Albert dan Dimas
"Ia Tante", jawab mereka serentak.
"Ayo ayo masuk, masak ngobrol diluar. Ga sopan" ucap Dania mencolek Dewi. Dewi dan Bella hanya bisa saling melirik dengan Dewi yang sudah memanjatkan doa didalam hati. Dimas dan Albert pun menuruti Dania.
"Ayo kalian pasti belum makan siang kan?" Tanya Dania yang sudah menuntun mereka menuju meja makan.
"What?" Ucap Dewi berbisik karna menganggap mamanya sedikit berlebihan. Bahkan Dewi tidak ingin menganggap mereka tamu, apalagi teman. Mereka akan jadi sumber masalah dalam hidup gue. Ya, itulah yang ada dipikiran Dewi.
"Bella, Dewi sini sayang makan siang bareng. Lain kali kalo ada tamu jangan dibiarin diluar, diajak masuk" ucap Dania yang tidak tau apa apa tengah kekawatiran Dewi. Ma, mama telah membuka jalan untuk Dewi menuju sebuah masalah besar. Batin Dewi.
"Bella pulang aja Tante, Bella capek pengen istirahat" ucap Bella. Dewi langsung menarik lengan Bella dan menatap Bella dengan senyuman paksa penuh makna.
"No no no, kamu hanya boleh pulang kalau sudah makan. Karna Tante masak banyak hari ini" ucap Dania dan menarik Bella untuk bergabung dengan Dimas dan Albert dimeja makan. Tentu saja bukan itu alasannya. Alasan sebenarnya adalah Dania tidak ingin Bella melewatkan makan siangnya karna dirumah tidak ada yang mengurusnya. Dia hanya ditemani oleh bik Inah, yang sudah nekerja sebagai asisten rumah tangga mereka sejak puluhan tahun lalu.