Dewi merasa kalau keputusan mamanya memaksa Bella untuk bergabung sudah benar. Paling tidak dia tidak akan menghadapi ini sendirian.
"Temannya dikenalin ke mama donk," bisik Dania yang hanya terdengar oleh Dewi.
"Oh ia ma, kenalin Ini kak Albert dan ini kak Dimas," ucap Dewi memaksakan senyum di wajahnya.
"Hallo Tante," ucap Albert dan Dimas bersamaan.
"Oooh ia, saya Dania mamanya Dewi," ucap Dania sambil memperhatikan kedua pria tampan di hadapannya itu. Melihat ekspresi di wajah mereka Dania sudah mengerti kalau mereka sangat canggung. Dania bahkan seketika menyadari kalau Dewi dan Bella tidak senang dengan kunjungan mereka.
"Kalian tunggu sebentar ya, Tante masih punya satu lagi menu spesial hari ini," ucap Dania kemudian meninggalkan mereka.
Suasana di meja makan menjadi hening. Dimas dan Albert hanya saling bertatapan dan sesekali melirik Dania yang tampak menyiapkan sesuatu di belakang. Dapur dan ruang makan itu memang terbuka sehingga aktifitas di dapur bisa terlihat jelas melalui meja makan. Bella sibuk memainkan ponselnya yang sebenarnya tidak ada apa apa di sana. Dia hanya menggeser beberapa aplikasi kemudian membuka dan menutupnya berkali kali karna benar-benar tidak tau untuk memulai obrolan. Dewi hanya menunduk sambil memainkan sendok di tangan kanannya dengan tangan kiri menopang dagunya. Albert bersandar di kursinya dan melipat tangan di dadanya. Dimas meliriknya dan memberi kode agar Albert memulai pembicaraan.
"Nah, ini dia menu spesial siang ini" ucap Dania dan membuyarkan suasana hening di ruangan itu, Dania kemudian meletakkan sebuah nampan berisi empat mangkuk soto babat ditambah potongan daging yang terlihat sangat lezat. Dewi bisa merasakan aromanya yang sudah menusuk hingga kedalam perutnya. Bahkan melihatnya saja sudah membuatnya menelan salivanya berkali kali.
"Ini makanan kesukaan Dewi," ucap Dania sambil membagikannya kedepan mereka.
"Dari aromanya aja udah wangi banget, pasti rasanya juga enak," ucap Albert membuat Dania tersenyum.
"Bisa aja, silahkan dicoba ayo, ayo," ucap Dania mempersilahkan mereka.
"Wah enak banget, Tante, saya bisa nambah ni kalau gini," ucap Albert membuat Dania tertawa.
"Ini beneran enak, Tante. Kalah sama soto babat Abang-Abang," canda Dimas membuat Dania semakin tertawa. Sedangkan Dewi dan Bella terlihat masih memaksakan senyum di wajah mereka.
"Biasanya Dewi bisa habisin tiga mangkuk kalau Tante masak soto begini," ucap Dania jujur, dan bermaksud mencairkan suasana mereka yang canggung.
"Mama," rengek Dewi merasa malu dengan kejujuran mamanya. Mereka semua tertawa mendengar ucapan Dania yang membuat wajah Dewi merah merona. Albert tanpa sengaja menangkap ekspresi wajah Bella saat tertawa dan memperhatikannya lebih lama. Akhirnya aku bisa melihat ekspresi sebahagia itu diwajahnya, gumamnya kemudian melanjutkan makannya. Sebuah senyum penuh makna terlihat di wajah tampan Albert.
"Tante tinggal ya anak-anak, ada telephon." Ucap Dania mendengar ponselnya berbunyi.
"Ia, Tante," ucap Albert dan Dimas bersamaan.
"Kalau temennya mau nambah minta diambilkan sama bibik ya, wi," tambahnya sambil mengelus di lengan Dewi sebelum pergi.
"Ia, ma," jawanya pelan.
Suasana kembali hening beberapa saat hingga mereka selesai makan.
"Ada apa kak Albert dan kak Dimas datang kesini?" Tanya Dewi memberanikan diri memulai pembicaraan, membuat Dimas menatap Albert dan Bella bergantian.
"Kayaknya gue balik dulu deh, mau ganti baju. Gerah banget." Ucap Bella kemudian beranjak dan pergi karna memahami pandangan Dimas. Dewi hanya bisa diam dan membiarkan Bella pergi.
"Gue kedepan bentar mau ngabarin nyokap kalau gue pulang telat. Takut dicariin." Ucap Albert mencari alasan dan ikut pergi tanpa menunggu ijin.
"Ekhem, sorry kalau kita datang tiba-tiba, itu... Anu," ucap Dimas. Ucapannya terhenti karna kepalanya terasa kosong. Semua kata kata yang sudah dia siapkan sebelumnya hilang begitu saja. Dia berusaha tenang dengan mengatur napas dan menelan salivanya berkali-kali.
"Ada keperluan apa?" Dewi kembali bertanya setelah beberapa saat Dimas menggantung kalimatnya.
"Itu, saya uda lama ga liat kamu di... di sekolah..." ucap Dimas terjeda. Itu membuat dirinya merasa malu karna secara tidak langsung dia mengakui kalau dia sering memperhatikan Dewi. Wajah Dewi tiba-tiba merona mendengar ucapan itu. Meskipun sebenarnya dia senang mengetahui kalau Dimas ternyata diam-diam memperhatikannya. Tapi kekhawatirannya terhadap ancaman Sesel masih sanggup menutupi rasa senangnya.
"Memangnya ada apa, kak?" sebuah pertanyaan yang di anggap tidak penting setelah dia lontarkan dan sontak membuat Dimas langsung gelagapan.
"Aku pikir anu ... apa namanya, itu... aku pikir kamu sakit, makanya kita kesini," jawabnya gelagapan.
"Ngga kok, Dewi masih sekolah seperti biasa. Tapi memang lebih sering diem dikelas," kebohongan yang sudah bisa ditebak olehnya. Dimas sudah memperhatikan Dewi menghindarinya sejak beberapa minggu terakhir. Dia juga sudah mendengar gosip kalau Sesel mendatangi Dewi dikelasnya. Dia berkali kali melihat Dewi sembunyi saat tanpa sengaja bertemu dirinya. Dia juga tau kalau Dewi dan Bella sering memilih perpustakaan sebagai tempat menghabiskan waktu istirahat. Dia juga tau kalau Dewi pulang lebih lama setelah yakin kalau dirinya sudah pulang. Dia diam-diam memperhatikan semua itu dengan baik.
"Syukurlah kalau kamu baik baik aja, saya hanya sedikit kawatir," Dimas membiarkan Dewi berbohong. Dewi hanya menunduk dan menelan salivanya berharap Dimas tidak melihat ekspresinya.
"Kakak tau darimana alamat rumah Dewi?" Satu pertanyaan dari Dewi yang jawabannya belum pernah disiapkan oleh Dimas. Dimas menarik napas panjang sambil mencari jawaban.
"Saya... saya tanya teman sekelas kamu," jawabnya asal.
"Teman yang mana?" Tanya Dewi membuatnya semakin gelagapan. Teman di sekolahnya bahkan tidak ada yang tau alamatnya kecuali Bella. Mungkinkah Bella? Tidak! Apa mungkin Dimas yang berbohong? Itulah dipikiran Dewi saat itu.
"Dia minta namanya dirahasiakan," jawab Dimas membuat Dewi semakin yakin kalau dia berbohong
"Ooo, gitu ya," ucapnya. Dimas hanya tersenyum menanggapinya.
"Ia, yaudah kayaknya aku pamit dulu ya, kamu juga pasti capek," ucap Dimas, membuat Dewi merasa lega tak harus berlama lama dengannya.
"Yaudah kak, hati hati dijalan," jawab Dewi, dia sudah berpikir untuk menghabiskan beberapa mangkuk soto babat setelah Dimas pergi nanti.
"Ia, saya permisi ya. Makasih makan siangnya. Makanya enak," ucap Dimas.
"Sama sama kak," balas Dewi senang mendengar pujian atas masakan mamanya. Dewi mengantarkan Dimas sampai kepintu depan dan melihat Albert sudah menunggu di depan mobilnya.
"Gimana?" Tanya Al saat mobil itu sudah meninggalkan rumah Dewi"
"Speechless," jawab Dimas singkat. Albert tiba tiba meminggirkan mobilnya dan berhenti mendadak.
"Kenapa?" Tanya Dimas kaget.
"Lo belum ngomong?" Tanya balik dari Albert. Dimas hanya menggelengkan kepalanya.
"Lo minta no HP nya ga?" Dimas kembali menggelengkan kepalanya.
"Lo tanya alasan menghindar karna gertakan Sesel?" Dimas kembali menggeleng dan mendengus.
"Jadi kita kesini cuman buat makan siang!" Albert menghela napas panjang diikuti ekspresi wajah tidak senang sambil memutar bola matanya
"Gua harus bisa mastiin dia nyaman dulu baru bisa gua ajak jalan." Ucap Dimas. Sebenarnya Albert setuju dengan pendapat itu. Tapi harusnya dia memastikan itu dari awal sebelum mendatangi Dewi kan?
"Tapi sepertinya dia ga tertarik sama gue," entah keyakinan darimana Dimas mengucapkan kalimat itu. Albert kemudian menepuk di lengan Dimas karna tidak ingin menanggapi apapun terlalu cepat. Dia mengalihkan pandangannya lewat jendela mobil dan melirik kedepan. Ternyata mereka berhenti tidak jauh dari lampu lalu lintas yang saat itu sedang berwarna merah. Dia kembali menghela napas dan melirik ke kanan untuk melihat kesempatan melajukan mobilnya. Pandangannya tiba tiba tertuju pada sebuah mobil yang berhenti tak jauh darinya. Dia memperhatikan lagi dengan seksama untuk memastikan orang di dalam mobil tersebut. Lampu lalu lintas pun memberi ijin untuk pengemudi melanjutkan perjalanannya. Mobil itu kembali melaju dengan kecepatan normal sebelum Albert bisa melihat jelas siapa yang berada di dalam mobil itu. Dengan buru buru dia menjalankan mobilnya mengikuti mobil di depannya dan terlihat berusaha untuk memastikan sesuatu.
"Kenapa?" Tanya Dimas heran dengan kelakuan temannya yang celengak-celenguk memperhatikan mobil di depan mereka. Albert tidak merespon, dia hanya fokus dengan setirnya, dan mobil yang dikejarnya agar tidak menghilang dari pandangannya. Dimas tampak mengeluarkan ponsel dari kantong celananya yang bergetar karna mendapat panggilan dari mamanya.
"Hallo ma,"
"Ia ma, Dimas ada urusan sebentar dengan Albert,"
"Ini sebentar lagi pulang kok ma,"
"Udah kok ma, tadi makan siang bareng Albert,"
"Ia ma, mama jangan kawatir ya,"
"Bye ma" Dimas menutup teleponnya.
"Gue harus balik, mama gue nungguin mau dianter chekup," ucap Dimas membuat Albert terpaksa berhenti mengikutinya. Ibunya memang harus rutin checkup karna menderita diabetes yang pernah membuatnya harus dirawat berhari-hari dirumah sakit. Karin papanya dan kakaknya Dion, selalu sibuk bekerja, terpaksa Dimas selalu menemani mamanya untuk chekup. Bukan berarti mereka tidak mau mengantarkannya. Hanya saja Dimas selalu mengambil alih tugas ini agar pekerjaan papa dan kakaknya tidak terganggu. Terlebih kakaknya sudah menikah dan punya tanggung jawab yang lain.
"Yaudah kita putar balik," jawab Albert masih melirik mobil yang sedari tadi dikejarnya.
"Itu siapa?" Tanya Dimas membuat tatapan Albert berpaling dari mobil tersebut.
"Kayaknya gue salah orang," jawab Albert kurang yakin.
"Emang siapa?" Tanya Dimas masih penasaran. Tidak mungkin Albert akan mengejarnya kalau itu tidak penting bagi Albert. Dimas tau betul sifat Albert karna sudah bersahabat sejak lama.
"Udalah, ga penting," ucapnya menaikkan kecepatan mobilnya. Rumah Dimas dengan Dewi memang tidak jauh dan hanya butuh waktu sekitar 10 menit. Tapi mereka harus memakan waktu lebih lama karna Albert sempat mengejar mobil yang tak jelas itu.
"Mau gue anterin sekalian ga?" Tawaran Albert untuk membawa mama Dimas checkup.
"Ga usah," mama lu pasti uda nungguin" ucap Dimas kemudian keluar dari mobil Albert.
"Thankyou ya," ucap Dimas melambaikan tangan dari luar.
"Sama sama, gue cabut" jawab Albert membalas lambaian tangan Dimas lewat jendela mobil.
Albert tampak memikirkan mobil yang tadi sempat dikejarnya. Apa aku ga salah lihat? Tapi itu benar benar mirip. Aku yakin itu pasti dia. Gumamnya berkali kali menyakini kalau salah satu yang diatas mobil itu adalah orang yang dia kenal. Tapi dia sama siapa? Gumamnya lagi karna tidak mengenali yang lainnya. Dia kembali membayangkan mobil itu dan bisa mengingat platnya dengan baik. Dia segera berhenti dan mencatat plat nomor mobil itu di notebook nya. Dia kemudian memasukkan buku kecil itu kedalam sebuah laci kecil di mobilnya sebelum melanjutkan perjalan.