Hari Tak Bersahabat

2030 Words
Bella tampak buru buru pergi dan meninggalkan rumah tanpa pamit pada ayahnya yang kebetulan ada dirumah. Dia bergegas dan berlari menuju mobil yang sudah disiapkan oleh supirnya sejak beberapa menit yang lalu. "Non, sarapan dulu non. Non Bella." Dia tidak lagi mendengarkan teriakan bik Inah yang sudah mengurusnya sejak kecil itu. "Jalan pak," ucapnya sesampainya diatas mobil, bahkan sebelum menutup pintu. Supir yang merupakan pilihannya sendiri itu hanya menurut dan melajukan mobil sesuai keinginannya. Ini adalah pertama kalinya dia diantar oleh supirnya sendiri selama dia memasuki bangku putih abu-abu. Jika saja dia tidak terlambat, dia pasti sudah berangkat bersama Dewi seperti biasanya. "Kita mau kemana non?" Tanya supirnya karna memang tidak tau tujuan Bella. "Kesekolah dong pak, Bella udah telat ni," ucapnya sambil berkali kali melirik jam ditangannya. "Saya belum tau sekolah non Bella," jawabnya sangat jujur. "Ikutin rute ini aja pak," ucap Bella sambil menunjuk pada google map. "Baik non," jawabnya melajukan kecepatan mobilnya. Bella merasakan ponselnya bergetar berkali kali dan melihat nama sipemanggil dilayar ponselnya tapi dia tidak menghiraukannya sama sekali. Bella lebih kawatir tentang jam masuk sekolah daripada panggilan yang berulang-ulang dari mamanya. "Untung belum telat, pak, pak, berenti di sini aja, ga usah masuk kedalam," ucap Bella begitu tiba di gerbang sekolah, dan itu 5 menit sebelum gerbang itu akan ditutup. Pak Robin memberhentikan mobil sesuai keinginannya. "Nanti siang saya jemput jam berapa non?" Tanya pak Robin saat melihat Bella akan turun dan sudah membuka pintu mobil. "Nanti akan saya kabarin," jawabnya kemudian keluar dan menutup pintu mobil. Dia kemudian berhenti setelah 2 langkah dan melihat kebelakang. "Ada apa non?" Tanya pak Robin yang saat itu ditatap oleh Bella. "Makasih ya pak," jawabnya lalu pergi dengan sedikit berlari. Ponselnya kembali bergetar dan membuatnya terpaksa berhenti. Dia kembali memperhatikan layar ponselnya dan melihat si pemanggil masih sama. Mamanya. "Halo," ucapnya dengan napas yang sedikit tersengal akibat berlari. "Kamu darimana aja sih, dari tadi di telpon ga diangkat-angkat," dia mendengar suara Omelan mamanya yang sangat mengganggu mood dan telinganya. "Memangnya ada apa? Bella buru buru ni hampir telat," jawabnya sambil berjalan dengan langkah cepat sehingga tidak memperhatikan jalannya. "Bruk" Bella terpental dan ponselnya terjatuh saat tanpa sengaja menabrak orang didepannya. Orang itu sedang berdiri membelakangi arah kedatangannya. "Aduh," ringisnya memegangi lengannya yang terasa sakit. Orang itupun berbalik dan melihatnya kesakitan. "Kamu ga pa-pa?" Bella mendengar suara yang sangat dia kenal dan langsung menengadah untuk menatapnya. "Kak Albert?" Maaf kak tadi Bella ga sengaja," ucapnya dengan wajah yang sudah merona. Sebagian karna sakit dan sebagian karna malu melihat tatapan beberapa orang yang menertawakan kesalahan konyolnya itu. "Ga pa-pa, sini aku bantu," Albert langsung membantunya berdiri tanpa menunggu persetujuannya. Semua mata yang menyaksikan perlakuan Albert terlihat membulat dengan mulut yang menganga. "Sungguh beruntung gadis itu," gumam beberapa diantaranya, bisik-bisik tak jelas mulai terdengar juga dari beberapa siswa yang melihat kejadian itu. "Sakit ya, apa perlu kita ke UKS?" Tanya Albert melihat wajah Bella yang kesakitan. Bisik-bisik pun semakin terdengar ramai setelah Albert menunjukkan perhatian kecil itu. "Ekhem ekhem," ledek Reno dengan berpura pura batuk. "Sakitnya tak seberapa malunya yang luar biasa," ledek salah satu siswa yang melihatnya. Hal itu tentu semakin mengundang tawa siswa lainnya. "Ngga kok kak, cuman sedikit," jawab Bella yang sebenarnya merasa sangat kesakitan. Albert kembali berjongkok dan memungut ponsel Bella lalu mengembalikannya. "Ini handphone kamu," ucapnya yang langsung diterima Bella. "Makasih kak," jawabnya berusaha tersenyum, tapi gagal karna menahan rasa sakit dilengannya. "Lain kali hati hati ya, untung ga nabrak tiang. Kasian tiangnya kalau roboh," canda Albert membuat pipinya semakin merona. "Ha?" ucap Bella semakin malu. Siswa lain semakin tertawa melihat ekspresi Bella. "Ngga ngga, becanda," jawab Albert dengan cepat. "Maaf kak soalnya Bella buru-buru," jawabnya kikuk. "Yaudah kamu kekelas sana, uda masuk," ucap Albert sesaat melirik jam ditangannya. "Ia kak, bye" jawab Bella langsung berlari. "Bye, Eh Bella, Bella." Albert memanggilnya membuat Bella menghentikan langkahnya. "Ha?" Dia menoleh dengan ekspresi gugup. "Kelas kamu disana," ucap Albert karna melihat Bella berlari menuju arah berlawanan. Wajah Bella kini merah sempurna, rasa malunya tak bisa diobati lagi. Rambut yang terkuncir rapi itu menunjukkan segalanya hingga tak sedikitpun bagian wajah yang bisa disembunyikan lagi. Gelak tawa siswa ditempat itu semakin pecah dan semakin keras. Seharusnya dia tidak menguncir rambutnya saat di mobil tadi. Seharusnya dia membiarkannya terurai saja agar bisa menutupi sedikit rona merah akibat malu yang kini terpampang jelas diwajahnya. "O ia," jawabnya sambil menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dan langsung berlari. Albert menatapnya berlari sampai ke ujung lorong dan ke mudiam tersenyum setelah dia menghilang. Dia kembali menatap tempat Bella terjatuh dan dimana dia membantunya untuk berdiri. Tempat itu mengandung gula yang sangat manis, sampai membuatnya tersenyum saat mengingatnya saja. Pandanganya kemudian terarah pada sebuah benda tak jauh dari tempat Bella terjatuh. Dia memungut benda itu yakin kalau itu milik Bella. ****** "Stupid stupid stupid, idiot." Omelnya beberapa kali setelah tiba di kelasnya. "Lo kenapa?" Tanya Dewi yang sudah tiba lebih dulu. "Gue malu banget," ucapnya sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya diwajahnya. "Malu kenapa?" tanya Dewi tak mengerti. "Gue barusan nabrak kak Albert, trus gua jatoh didepan banyak orang. "Ha?" Dewi tercengang. "Ia, uda gitu gue salah arah pas mau ke kelas, gue lari ke arah lapangan basket," ucap Bella. Dia masih mengutuk dirinya didalam hati. "Lo salah arah?" Dewi mengerutkan kening dan menatapnya tak mengerti. "Ia, gue malah berlari kelorong belakang. Kearah lapangan belakang," jawabnya dengan wajah cemberut sambil mengetuk dijidatnya dengan kepal tinjunya. "Hahaha..." Dewi malah ikut menertawakannya. Bella melotot sambil menatapnya. Bella menarik lengan Dewi dan langsung menutup mulutnya. Dia tidak ingin yang lain bertanya dan akhirnya berita ini tersebar kemana-mana. "Sssstttt," ucap Bella. Dewi menahan tawanya meskipun sudah puas menertawakannya. "And you know what, para senior teladan itu menertawakan gue dengan sangat puas," gerutu Bella yang masih menahan malu. Sementara Dewi masih saja tertawa. "Harusnya gue ada disana," ledek dewi membuat Bella semakin kesal. Jika saja bel tidak berbunyi saat itu Dewi masih ingin menggoda Bella yang sudah sangat malu itu. Saat istirahat pertama. "Ayo," Dewi sudah berdiri dan mengajak Bella. "Kemana?" Tanya Bella yang tak ingin menunjukkan wajahnya pada penghuni sekolah. Terlebih yang mengetahui kejadian tadi pagi. "Ke perpustakaan lah," jawab Dewi yang sebenarnya kawatir kalau Sesel akan kembali datang untuk melabraknya. "Ngga ah, lu aja. Gue malu ketemu senior teladan itu lagi," jawab Bella. "What? Come on Bella, mereka pasti udah lupain itu. Lagian itu karna buru-buru. Bukan salah lu kan?" ucap Dewi berusaha membujuknya agar mau keluar. "Ngga, lu aja," jawab Bella belum percaya diri. "Yaudah deh, gue keperpus dulu, see you," ucap Dewi dengan gaya centil dan beranjak meninggalkannya. Dewi berjalan santai sendirian menuju perpustakaan dan langsung mengambil sebuah buku yang sudah dia baca sebagian. Dia sengaja membaca dengan posisi berdiri dipojok barisan buku sastra kesukannya, karna berada ditempat tersembunyi. "Ehem," Dewi sedikit kaget mendengar suara berdehem tepat di belakang telinganya. Dia menoleh kebelakang dan semakin kaget setelah melihat siapa yang berdiri di sana. "Kak Dimas?" gumamnya sangat pelan. Dimas hanya mengangguk dan tersenyum tak bisa dipahami. "Kakak ngapain disini?" Ucapnya berbisik. Dimas melirik sekelilingnya seakan mengatakan ingin membaca. Tentu saja dia berbohong. Dewi mengangguk dan sedikit menyesal sudah mengunjungi perpustakaan pagi ini. Berada di dekat Dimas seperti ini membuatnya seakan bisa mendengar suara Sesel saat mendatanginya di kelas waktu itu. "Buat kamu," Dimas menyelipkan sebuah kertas kecil diantara lipatan buku yang ada ditangan Dewi. "Ini apa?" Tanya Dewi penasaran. "rahasia," jawab Dimas dan segera meninggalkannya. Dewi menatapnya pergi dan kemudian melihat disekelilingnya untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat mereka. Mungkinkah tidak ada yang melihat mereka dengan jumlah siswa yang ratusan itu? Dia pun bergegas meninggalkan perpustakaan dan membawa lembaran kertas itu ditangannya. Dia ingin tiba dikelas dengan cepat untuk bisa segera membuka dan membaca isi kertas itu. "Mau kemana?" Deg. Jantungnya langsung maraton mendengar suara Sesel sudah menunggunya di ujung lorong yang tak jauh dari lab biologi. Dia menghentikan langkahnya dan memutar badannya 45° untuk berhadapan dengan Sesel. "Kak ses...." Sesel menarik kerah bajunya dan mendorongnya dengan kasar memasuki laboratorium tersebut. "Lo b***k atau apa? lo ngga ngerti bahasa Indonesia ha!" Bentak Sesel yang kembali mendorongnya hingga terjatuh dilantai dan membuat kertas itu terlempar tak jauh dari tangannya. "Ini apa!" Bentak Sesel mengambil kertas itu dan segera membacanya. Terlihat jelas kemarahan di wajah Sesel setelah membacanya. Dia meremas kertas ditangannya begitu kuat kemudian merobeknya menjadi beberapa bagian sehingga tidak bisa disatukan lagi. Dewi hanya bisa menunduk menahan rasa takutnya melihat ekspresi Sesel saat ini. "Ternyata lu butuh pelajaran ya," ucap Sesel mengeratkan giginya dan menggulung lengan bajunya. "Dasar murahan, plak" satu tamparan mendarat di wajah Dewi, tangannya yang lain memegangi kerah baju Dewi dan dia terlihat ingin melayangkan tamparan kedua. "Sesel!" Terdengar teriakan Bella dari pintu membuat mereka berdua kaget. Sesel kembali mendorong Dewi dengan sangat kasar dan melepaskannya.. "Oh, lu mau ngerasain juga?" Gertak Sesel melihat Bella mendekat dengan cepat. "Ayo bangun, wi." Ucap Bella membantu Dewi berdiri dengan pipi kanan yang sudah merah akibat tamparan Sesel. Dewi pun tak bisa menahan tangisnya, air matanya kini sudah membasahi pipinya. "Lo keterlaluan sel." Gertak Bella menatapnya dengan tajam. "DIAM! jangan pernah ikut campur yang bukan urusan Lo." Harsiknya sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat dihadapan Bella. "Kalau lu masih berani menyentuh Dewi, itu akan jadi urusan gue." Ucapnya menekan kalimatnya sambil menepis telunjuk Sesel dengan kasar. Sesel melayangkan tangan yang hampir mendarat diwajah Bella. Namun Bella dengan sigap dan berani menangkap tangan Sesel yang sudah hampir mengenai pipinya. Bahkan Bella tanpa rasa takut menekan pergelangan tangan Sesel dengan kuat. "Jangan berperang dengan orang yang salah, atau lu akan menyesal." Bentak Sesel menarik paksa tangannya hingga terlepas dari genggaman Bella. "Kalimat itu juga berlaku buat lu." Balas Bella sambil menunjuk padanya, dia terlihat tidak gentar sedikitpun. Dia membawa Dewi keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Sesel dengan emosi yang semakin menggebu. "Aaaaahh," Teriak Sesel geram sambil menendang sebuah kursi yang tak jauh darinya. "Lo ngga pa-pa kan?" Tanya Bella saat mereka sudah sampai dikelas. Banyak mata yang memandang mereka saat berjalan dilorong sekolah karna melihat Dewi berjalan sambil menangis. Mereka kembali berbisik dan bergunjing tidak jelas. Dewi hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya. "Thankyou ya bel," ucap Dewi masih ketakutan dan berlinang air mata. "Sama-sama," jawab Bella mengelus punggungnya. "Kenapa lo bisa ada disana?" Tanya Dewi saat hatinya mulai tenang. "Tadi gue kebetulan lewat, gue mau cari gelang gue yang hilang," jawab Bella. "Gelang yang mana?" Tanya Dewi karna sangat tau brang barang yang berarti buat Bella. "Pemberian Oma," jawabnya terlihat kecewa. "Ya ampun bel, kok bisa hilang sih," Dewi tau kalau itu gelang kesayangan Bella yang didapat sebagai hadiah terakhir sebelum Omanya meninggal tiga tahun yang lalu. Tepat dihari kelulusan mereka disekolah dasar. "Mungkin waktu gue ngga sengaja nabrak kak Albert kali," jawabnya meski tidak begitu yakin. "Ngga ketinggalan dirumah?" Dewi berusaha memastikan. Bella menggeleng karna dia tidak pernah melepaskan gelang itu bahkan saat mandi atau tidur sekalipun. "Apa mungkin ditemukan anak-anak yang lain?" Ucap Dewi memberi kemungkinan. "Maybe," jawab Bella tidak terlalu yakin. Sepulang sekolah Dimas terlihat menunggu seseorang di lapangan basket sambil melirik ke gerbang masuk berkali kali. Sudah tiga puluh menit dia menunggu dan berharap, tapi sepertinya harapannya tak terkabulkan. Ekskul untuk kelas basketpun akan dimulai dan dua team yang mengikuti ekskul sore ini sudah berkumpul. Peserta ekskul kali ini berasal dari kelas unggulan yang tak lain adalah kelasnya trio handsome. Beberapa siswa hadir disana hanya untuk menonton mereka bermain basket dan beberapa menunggu pemain untuk bisa pulang bersama. Dimas tampak tak bermain seperti biasanya. Permainannya sangat kacau dan egois. "Are you ok?" Sesel menghampirinya dan memberi sebuah botol berisi air minum. "I am fine," jawabnya sambil mengambil botol minum dari tangan Sesel. "Kok belum pulang?" Tanya Albert bergabung dengan mereka dan merebut botol minum dari tangan Dimas yang sebenarnya masih ingin minum. "Nungguin kalian," jawab Sesel terlihat sangat tidak biasa. Dimas sedikit curiga dengan sikap Sesel dan memutuskan untuk pergi. "Dimas, mau kemana?" Tanya Albert melihat Dimas pergi terburu buru tapi Dimas tidak menanggapinya. "Dasar aneh," gerutu Albert. "Hari ini gue langsung antar pulang ya, gue ada urusan," pinta Albert terhadap sepupunya yang sulit ditebak itu. "Gue naik taxi aja," jawab Sesel langsung pergi. Albert bingung melihat tingkah kedua manusia yang baru saja dihadapinya itu. "What happened damn?" Tanyanya yang ditujukan pada diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD