Kartu Undangan

1712 Words
      Dimas mengenakan helm dikepalanya dan menaiki motor kesayangannya dengan ekspresi yang sangat serius. Tak lama kemudian dia melihat Sesel berjalan santai dikejauhan menuju gerbang sekolah. Dimas menatapnya dengan tajam dan ingin rasanya menanyakan langsung apakah dia melakukan sesuatu sehingga Dewi tidak muncul dilapangan basket. Memangnya kapan Dimas mengundangnya? Tentu saja tadi pagi bersama dengan selembar kertas yang berujung sobek ditangan Sesel bahkan sebelum Dewi sempat membacanya. Dimas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan tidak memperdulikan teriakan Sesel yang sempat memanggilnya. Untuk sesaat Sesel terlihat kesal karna diabaikan oleh Dimas, tapi kemudian dia tersenyum puas dengan apa yang sudah dia lakukan tadi pagi terhadap Dewi. Jangankan untuk menemuimu Dimas, menatapmu pun dia tidak akan punya keberanian lagi. Gumamnya tersenyum puas sebelum akhirnya menghentikan taxy dan pergi entah kemana.    "Permisi pak" ucap Dimas yang sudah berada didepan gerbang rumah Dewi dan memanggil Security yang setiap hari setia menjaga rumah Dewi.     "Ia mas, ada apa?" Tanya pak Danang yang bisa mengingat wajah Dimas dengan jelas. Tentu saja pak Danang bisa mengingatnya, bukankah dia baru datang kemarin bersama dengan Albert. Bahkan mereka tidak mau masuk kemarin saat pak Danang menawarkan untuk menunggu didalam. Mereka memaksa menunggu didepan sampai Dewi datang dengan mobil jemputannya.    "Saya..."    "Temannya mba Dewi kan yang kemarin datang itu" potong pak Danang sebelum Dimas menyelesaikan kalimatnya.    "Ia pak, saya mau ketemu Dewi. Dewinya ada?" Tanya Dimas berharap Dewi dirumah meskipun dia tidak yakin saat memperhatikan rumah itu terlihat sepi dah bahkan tidak ada mobil disana.    "Mba Dewi lagi pergi sama ibu mas, perginya sekitar 15 menit yang lalu" jawab pak Danang membuat Dimas harus kecewa.    "Pergi kemana ya pak" tanya Dimas dengan wajah kecewa..    "Kurang tau mas, Jawab pak danang jujur.     "kira kira lama ga perginya pak?" Tanyanya penuh harap.     "biasanya kalau pergi sama ibu bisa pulang malem" jawab pak Danang menambah kekecewaan Dimas.    "Yaudah pak, saya pamit aja kalau gitu. Makasih ya pak" ucap Dimas melirik rumah besar itu dan menarik napas dalam dalam.    "Sama sama mas" jawab pak Danang. Gue memang terlalu percaya diri mengharapkan Dewi menyukai gue, gumamnya menahan sakit dihatinya.    "Kak Dimas?" Dimas berbalik mendengar sebuah suara memanggilnya.    "Hai Bella" jawabnya berusaha tersenyum meski jelas terlihat dipaksakan. Dimas memperhatikan Bella dengan mobil yang membawanya.  Dimas seperti termenung sejenak dan berusaha mengingat sesuatu.    "Kakak ngapain disini?" Tanya Bella saat turun dari dalam mobil tersebut.    "Tadi mau ketemu Dewi, tapi orangnya ga ada" jawab Dimas menahan kecewanya.    "Oo, ia kak. Dewi lagi pergi sama Tante keacara pembukaan butik barunya tante" jawab Bella memberitau.    "O gitu" jawab Dimas masih berusaha tersenyum.    "Ini Bella mau kesana juga, kak Dimas mau ikut?" Tanya Bella.   "Ngga bel, ngga usah. Pantesan kamu uda rapi begini" jawab Dimas.    "Ia kak" jawab Bella tersenyum.        Dimas melihat Bella tampil sangat berbeda saat memakai seragam sekolah dan memakai pakaian biasa. Penampilan Bella  telihat lebih anggun dengan dress berwarna merah terang dipadu hak tinggi yang berwarna senada. Ditambah lagi polesan makeup yang terlihat natural namun membuat wajahnya semakin cantik dan Dimas hampir pangling dibuatnya.    "Kamu cantik" ucap Dimas hampir tidak menyadari ucapannya.    "Makasih kak." jawab Bella sambil tersenyum menyadarkan Dimas dan segera mengalihkan pandangannya.    "Sepertinya acara resmi ya" tambah Dimas mengelus tengkuknya berusaha menutupi kekagumannya terhadap penampilan Bella.    "Ia, acaranya kecil kecilan sih," jawab Bella.    "Yauda kalau gitu, gue pamit aja" jawab Dimas tidak ingin menatap Bella lama. Kenapa dia bisa sebodoh itu sampai mengagumi penampilan sahabat Dewi sendiri. Bukankah dia suka sama Dewi?    "Ia kak, hati2 dijalan" jawab Bella.    "Ok" jawab Dimas yang kemudian menghidupkan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi.    "Bukannya gue baru bilang hati-hati?" Ucap Bella sambil menggelengkan kepalanya. Bella kembali masuk kemobil dan meminta supirnya untuk menjalankan mobil. ****** Tut Tut Tut       Sesel mendengar nada terhubung ditelinganya saat menghubungi Dimas lewat ponselnya. Dimas yang saat itu baru selesai mandi meraih ponselnya dari atas meja dengan handuk yang masih melingkar di pinggangnya menutup setengah dari bagian bawah tubuhnya. Dia memperhatikan nama Sesel dilayar ponsel iPhone keluaran terbaru miliknya dan kemudian berpikir untuk sejenak. Dia melemparkan ponsel itu diatas tempat tidurnya dan mengabaikan panggilan pertama dari Sesel. Dimas kemudian berjalan kearah lemari dan mencari baju ganti untuknya. Belum sempat Dimas menemukan apa yang dia cari ponselnya kembali berdering mendapat panggilan kedua dari Sesel. Dia kembali meraih ponselnya dan menggigit bibir bawahnya. Dia menghela napas sesaat dan kemudian menerimanya.    "Halo" suaranya terdengar malas dan dingin ditelinga Sesel.    "Kamu lagi ngapain?" Sesel bertanya dengan nada yang dibuat semanja mungkin untuk menarik perhatian Dimas.    "Kamu? Gue ga salah denger?" Ledek Dimas membuat Sesel memanyunkan bibirnya.    "Kamu harusnya seneng dong kalau aku ngomong kayak gini" ucapnya masih bernada manja.    "Ada apa?" Tanya Dimas terdengar tidak ingin basa basi.    "Ih, jutek banget sih. Kamu ngga seneng dapat telpon dari aku?" Tanya Sesel dibuat dengan nada seakan sedang merajuk.    "Kalau ngga penting tutup aja" jawab Dimas kemudian melempar kembali ponselnya diatas tempat tidur dan pergi mencari pakaiannya didalam lemari.    "Dimas? Kok kamu gitu sih?" Ucap Sesel masih sempat terdengar oleh Dimas namun Dimas tidak menanggapinya. Sesel masih mengumpat lewat ponselnya namun tidak bisa terdengar jelas oleh Dimas.    "Dimas!" Sesel berteriak dengan kencang namun tetap saja Dimas tidak meresponnya.    "Sial" gumam Sesel lalu melemparkan ponselnya dengan kasar diatas sofa yang ada dikamarnya. Dia kemudian menyalakan TV dan menggenggam remot TV dengan kuat ditangannya.    "Jangan pikir lu bisa dengan gampang deketin Dewi Dimas! Ga akan!" Umpatnya dengan ekspresi menahan emosi. ******       Dewi dan Bella terlihat berjalan santai sambil bercanda melewati koridor sekolah menuju kelas mereka.    "Pagi Bella, Dewi" langkah mereka tiba tiba terhenti didepan perpustakaan saat mendengar suara yang menyapa mereka.    "Pagi kak Yudha" jawab mereka bersamaan setelah melihat yudha berdiri tak jauh dibelakang mereka.    "Kok pagi banget?" Tanya Yudha tidak melepaskan pandangannya dari Bella.    "Ia kak, kakak juga" Jawa Dewi mengundang tawa diantara mereka bertiga.    "Gue duluan ya, gue kebelet" bisik Bella ditelinga Dewi. Dewi hanya tersenyum dan mengangguk.    "Bella duluan kak" ucap Bella dan langsung melangkah buru buru sebelum mendapat ijin dari Yudha.    "Kakak ngapain disini, kelas kakak kan disana?" Tanya Dewi namun tidak mendapat jawaban dari Yudha. Dewi mengikuti pandangan Yudha yang masih memandangi langkah Bella sampai ke ujung koridor. Dewi tiba tiba tertawa melihat ekspresi diwajah Yudha.    "Temen Dewi cantik ya kak?" Ledek Dewi.    "Ia" jawab Yudha tanpa sadar masih memandangi Bella yang sudah menghilang diujung koridor.    "Hahahaha" Dewi tertawa lepas mendengar jawaban Yudha membuat Yudha tersadar. Tawa Dewi pun membuatnya malu dan menciptakan rona merah diwajahnya.    "Sorry, tadi..."    "Hahahaha" Dewi kembali tertawa sebelum Yudha menyelesaikan ucapannya.    "Maaf kak, Dewi ga kuat nahan ketawa. Kakak lucu banget" ucap Dewi     "Ia" jawab Yudha semakin malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dikejauhan Dimas menatap ke bahagiaan mereka dengan hati yang panas karna menahan api cemburu. Mungkinkah Yudha yang disukai oleh Dewi sehingga dia tidak memperdulikan surat kecil dari ku? Gumam Dimas menelan salivanya. Bisa saja Sesel tidak ada hubungannya dengan hal ini. Gumamnya kembali merasa bersalah karna sudah mencurigai Sesel tanpa sebab dan alasan.    "Jangan dimasukin hati"  ucap Albert menepuk dipunggung Dimas dan ikut menyaksikan kebahagiaan Dewi dengan Yudha pagi itu.    "mungkin ini alasannya sering keperpustakaan" duga Dimas membuat hatinya semakin sakit.    "Mungkin gue salah karna mencurigai Sesel" Dimas menambahkan dengan tatapan yang masih tertuju pada Dewi dan Yudha yang sangat bahagia saat itu.    "Maksud lu?" Tanya Albert tidak mengerti.    "Gue dengar kabar kalau Sesel pernah ngelabrak Dewi dan memperingati Dewi tentang sesuatu" jawab Dimas menundukkan pandangannya. Ini bukan pertama kalinya dia merasakan sakit karna cinta, tapi tetap saja sakit hati itu tidak bisa menjadi sebuah kebiasaan.   "Sesuatu apa?" Selidik Albert yang mungkin belum mengetahui kabar tersebut.   "Entahlah, jawab Dimas" mereka kemudian berjalan menuju kelas saat Yudha sudah berpisah dengan Dewi.   "Udalah, kalau ada waktu coba lu ngomong sama Dewi" ucap Reno berusaha menghibur sahabatnya itu.    "Gue bahkan ga berani terang terangan ketemu Dewi, gue kawatir kalau Sesel akan... Dimas menghentikan ucapannya saat melihat Sesel berjalan menuju mereka.    "Good morning" ucap Sesel santai seperti tidak melakukan kesalahan apapun.    "Tumben banget lu Dateng sepagi ini" ledek Albert melihat sepupunya itu datang sebelum waktunya. Waktu sesuai Sesel tepatnya.    "Datang cepet diledekin datang lama juga salah, mau lu apa sih?" Jawabnya ketus.    "Bilang aja lu ada maunya" Reno ikut menimpali mereka.    "Tapi kemauan gue ngga pernah ngerepotin lu" jawab Sesel membuat Reno memutar matanya. Dimas meletakkan tasnya tepat dibelakang meja dimana Albert duduk.    "Hari jni gue yang duduk disini" ucap Sesel meletakkan tasnya disamping Dimas.    "Kebiasaan lu suka pindah pindah se enaknya" jawab Reno.    "Gue ga butuh ijin dari siapapun bahkan pak Santoso sekalipun." ucapnya yang memang tidak pernah peduli dengan aturan pak Santoso sebagai kepala sekolah.    "Dasar" jawab Reno namun menuruti keinginan Sesel. Reno duduk dengan Albert dan Dimas harus menahan rasa jengkelnya disudut kelas hingga hari ini berakhir. Berbeda dengan Sesel yang kelihatan sangat bahagia berada disamping Dimas. Dia merasa kalau kemenangannya sudah dekat tanpa peduli kalau dia pernah menyakiti Dimas tanpa perasaan.     "Ini untuk kalian" Reno membagikan kartu undangan untuk perayaan hari ulang tahunnya. Bukan hanya pada Dimas, Albert dan Sesel saja. Reno juga membagikan pada setiap siswa dikelas itu dan siswa lain yang dia kenal disekolah itu.    "Cie cie yang bentar lagi bisa bikin SIM" ledek Sesel sambil membaca kartu undangannya.    "Ingat ucapan lu kalau kemauan lu ga bakal pernah ngerepotin gue" jawab Reno.    "Sekarang sih engga, ngga tau kalau nanti" jawab Sesel membuat Reno memanyunkan bibirnya. Reno dan Albert yang juga mengetahui tentang masa lalu Dimas dan Sesel tidak punya pilihan lain selain harus memperlakukan Sesel dengan baik. Walau bagaimanapun Sesel adalah sepupu dari Albert dan tidak mungkin untuk menjauhinya demi untuk menjaga perasaan Albert. Dimas juga terlihat sudah berdamai dengan Sesel sehingga bisa memperlakukan Sesel layaknya seorang teman. Tidak ada yang benar benar tau bagaimana Dimas melewati masa masa terpuruknya dan bagaimana dia harus berdamai dengan hatinya dan juga dengan Sesel. Bahkan sekarang dia harus kembali menelan pahit melihat gadis yang disukainya sangat bahagia dengan lelaki lain yang juga teman sekelas Dimas sendiri. Haruskah dia merasakan sakit yang sama lagi karna mencintai? Bukankah usia dibangku putih abu abu masih terlalu dini untuk dihabiskan dengan sakit hati? Bukankah hari esok masih sangat panjang? Bukankah masih banyak wanita diluar sana yang menanti dirinya? Kalau dipikir pikir dia bahkan bisa memilih wanita manapun untuknya kelak jika dia bisa meraih kesuksesannya. Bukankah wanita gampang ditaklukkan dengan uang?. Itu sedikit pengetahuan yang dia dapat dari sebuah majalah tentang playboy yang pernah dibacanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD