Bel pertanda jam sekolah berakhir sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Namun Dewi dan Bella masih duduk manis dan diam dikelas seperti biasa untuk memastikan kalau trio handsome itu sudah meninggalkan lingkungan sekolah.
"Kenapa sih lu harus takut sama Sesel?" Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah sering didengar oleh Dewi.
"Gue ngga mau cari masalah bel" jawabnya santai seperti biasanya.
"Yang cari masalah itu kan dia, bukan elu" Bella tidak ingin Dewi lemah dan menurut begitu saja dengan Sesel.
"Yaudalah, mungkin dia ada hubungan sama kak Dimas" jawab Dewi tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Bella hanya mendengus menanggapi jawaban Dewi yang menurutnya tidak masuk akal itu.
"Eh, gue lupa ngasi tau deh. Tadi pagi kak Yudha ngeliatin elu tau. Katanya lu cantik" Dewi sedikit berbisik karena takut ada siswa lain yang mendengar mereka.
"Kak Yudha?" Bella menatap Dewi tidak percaya.
"Ia, gue rasa sih dia suka deh sama lu" Dewi mulai membuat kesimpulan sendiri tentang perasaan Yudha.
"Lu ga sakit kan?" Bella menyentuh dahi dan leher Dewi bergantian layaknya seorang dokter yang mengukur suhu pasiennya.
"Iiiiiih, gue serius" ucap Dewi sambil menepis tangan Bella. Bella mendekatkan wajahnya kewajah Dewi dan mulai memperhatikan wajah Dewi dengan seksama.
"Apaan sih?" Dewi mulai kesal melihat reaksi Bella.
"Gue rasa Sesel ngedorong lu terlalu kenceng deh, kepala lu kebentur ngga sih?" Tanya Bella terdengar menjengkelkan bagi Dewi.
"Iiiiiih rese. Tau ah" sungut Dewi lalu merapikan bukunya yang masih berserak diatas mejanya.
"Lu ga butuh dokter kan?" Ucap Bella menarik tangan Dewi dan membuat Dewi semakin jengkel.
"Please deh" jawab Dewi memutar bola matanya. Bella mengangkat kedua bahunya dan merasa menang karna berhasil membuat Dewi berhenti membahas Yudha. Meskipun Bella tidak memungkiri bahwa Yudha itu sangatlah tampan dimatanya, tapi bukan berarti dia bisa dengan mudah menyukainya bukan? Terlebih dia tidak percaya dengan namanya hubungan setelah melihat pernikahan mama papanya berakhir di perceraian.
Tok tok tok
Mereka berdua dikagetkan dengan suara ketukan dipintu yang membuat Bella sampai mengelus dadanya saking kagetnya. Rasa kaget mereka bahkan semakin jadi ketika melihat trio handsome berdiri didepan pintu kelas mereka. Dewi dan Bella berdiri serentak dan saling menatap seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Beberapa siswa yang masih berada dilingkungan sekolah kembali berbisik satu sama lain seakan kedatangan trio handsome itu sama dengan kedatangan presiden.
"Sorry ngagetin, gue bisa masuk ga?" Tanya Reno. Bella kembali menatap Dewi yang saat itu sedang menatapnya juga dengan ekspresi yan sama.
"Ada apa kak?" Tanya Bella dan Reno langsung masuk dengan membawa 2 lembar kartu yang tersisa ditangannya. Sementara Albert dan Dimas berdiri santai dengan bersandar dipintu. Dewi kembali duduk dan meremas jarinya beberapa saat serta menampilkan wajah yang tiba tiba dipenuhi kekawatiran. Dimas mengalihkan pandanganya agar tidak melihat Dewi karna sedikit menyakitkan baginya mengingat betapa bahagianya Dewi dan Yudha tadi pagi. Sementara Albert memperhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh Dewi termasuk ekspresi gugup dan kawatir begitu melihat mereka. Albert juga bisa membaca raut wajah Bella yang seakan berusaha menutupi kekawatiran Dewi. Albert yakin bahwa mereka sedang menutupi sesuatu dan bahkan Albert merasa mereka sengaja menghindar.
"Gue mau kasi kartu undangan" jawab Reno memberikan kedua lembaran itu kepada Bella.
"Undangan apa kak?" Tanya Bella melirik sesaat terhadap Dewi yang sepertinya tidak ingin bicara. Dewi bahkan berusaha untuk tidak memperdulikan kedatangan ketiga lelaki itu. Dia semakin menyibukkan diri dengan menyusun buku dan alat tulisnya dan memasukkannya kedalam tasnya.
"Gue mau undang kalian diacara ulang tahun gue, Sabtu nanti" jawab Reno tersenyum dan memberikan kedua lembaran itu kepada Bella. Bella menerimanya dan memperhatikan tampilan depan yang dihiasi balon dan lilin.
"Satu buat kamu dan satu lagi buat Dewi" ucap Reno tersenyum.
"O ia kak, selamat ya kak dan makasih udangannya" jawab Bella membalas senyuman Reno.
"Gue ga butuh makasih, gue butuh kalian datang. Dan selamatnya nanti aja ok?" Reno berlagak seakan sudah begitu akrab dengan kedua gadis dihadapannya itu.
"Kalau tidak ada halangan kita usahain datang kak" jawab Bella meyakinkan.
"Selama niat sih pasti ga ada halangan" canda Reno membuat Bella semakin tersenyum.
"Waktu tempat dan dresscode semua ada dikartu, jangan lupa DATENG" ucap Reno menekan kalimatnya.
"Ia kak" jawab Bella sementara Dewi hanya diam saja meski telah selesai dengan urusan buku dimejanya.
"Ngga mau pulang?" Tanya Reno kembali membalikan badannya yang tadi sudah sempat berbalik.
"Ia, ini mau pulang kak" jawab Bella. Dewi spontan menyenggol kaki Bella dibawah meja.
"Yauda, ayo keparkiran bareng" ajak Reno membuat Bella sedikit melotot dan langsung melirik Dewi.
"Ia, boleh" jawab Bella yang sebenarnya ingin menolak tapi justru menerima tawaran Reno.
Dewi memejamkan matanya sesaat menunjukkan ekspresi dingin terhadap Reno.
Memangnya apa salah dengan Reno? Bukankah Sesel yang membuat ulah? Lalu kenapa Dewi bersikap seperti itu terhadap Reno juga?
"Ayo" Bella menarik Dewi untuk berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan kelas mengikuti langkah Reno.
"Kita tadi uda nungguin diparkiran tau?" Reno memulai pembicaraan setelah mereka hening beberapa saat.
"Maaf kak, tadi kita belum selesai beres beres" jawab Bella yang tentu saja berbohong
"Ia ngga pa-pa, untungnya tadi kita tanya beberapa teman sekelas kalian. Dan mereka bilang kalian masih dikelas. Yauda kita samperin" ucap Reno
Dimas dan Albert masih hanya diam sambil melangkah. Reno bersama Dewi dan Bella memang berjalan didepan Albert dan Dimas saat itu. Albert menepuk dipundak Dimas dan Dimas menoleh seketika. Albert menaikan satu alisnya sambil memberi kode dengan melirik Dewi. Dimas tentu saja mengerti kalau Albert meminta Dimas untuk bicara dengan Dewi. Seperti yang kalian tau, Dimas itu memang lelaki jantan yang bahkan dengan berani mengakui ketertarikannya terhadap Dewi didepan kedua sahabatnya itu. Dimas melirik kesetiap sudut yang sanggup dilihatnya untuk memastikan tidak ada orang lain lagi selain mereka. Dan benar saja sekolah sudah sepi saat itu. Alam semesta berpihak pada Dimas bukan?
"Eehhh" Dewi berteriak kaget saat Dimas tiba tiba menarik tangannya dengan genggaman cukup keras dan membawanya kesebuah pojokan dibelakang tiang berukuran cukup besar dan mendorong Dewi hingga bersandar ditembok yang tertutup itu. Reno dan Bella yang ikut kaget seketika menoleh bersamaan namun membiarkan Dimas karna melihat Albert santai.
"Apa yang kak Dimas lakukan?" Tanya Bella meskipun sebenarnya dia tau Dimas tidak akan menyakiti Dewi.
"Dia tidak akan menyakitinya" jawab Albert. Bella menunduk menahan malu saat tatapannya bertemu dengan tatapan Albert dan tiba tiba teringat saat dia menabrak Albert.
"Kita tunggu diparkiran aja" ucap Albert membuat Reno dan Bella hanya menurut.
"Apa yang kakak lakukan?" Tanya Dewi dengan wajah yang kaget dan tegang sampai tidak berani menatap dimas.
"Gue yang harusnya nanya wi" jawab Dimas dengan sorot mata yang tajam dan melotot kearah Dewi.
"Maksud kakak apa?" Tanya Dewi masih menunduk yang memang tidak paham maksud Dimas.
"Kenapa lu ngelakuin ini!" Tanya Dimas dengan menekan ucapannya membuat Dewi mengerutkan keningnya.
"Jawab!" Dimas setengah berteriak mendekatkan wajahnya diwajah Dewi dan mengeratkan pegangannya.
"You hurt me" ucap Dewi hampir menangis. Matanya sudah berkaca kaca dan wajahnya jelas terlihat sangat tegang.
Dimas terdiam sesaat menyadari kalau dia sudah membuat Dewi ketakutan. Dia menelan salivanya dan mengendurkan pegangannya dipergelangan tangan Dewi.
"Sorry" jawabnya menurunkan nada bicaranya namun tatapannya masih fokus diwajah Dewi. Bahkan dimatanya wajah itu masih sangat menawan meski dalam kondisi seperti ini.
"Lepasin kak" ucap Dewi lirih hampir terdengar seperti memohon.
"No. Jawab pertanyaan gue dengan jujur" ucap Dimas berusaha lembut sambil menyisipkan rambut Dewi kebelakang telinganya dengan tangan yang satunya. Detak jantung Dewi semakin kacau dan darahnya terasa mengalir sangat deras sampai keubun ubunnya merasakan jemari Dimas menyentuh dahinya hingga belakang telinganya.
"Pertanyaan apa?" Tanya Dewi lirih dengan ekspresi semakin tegang namun bukan lagi karena ketakutan.
"Kenapa lu menghindar dari gue?" Tanya Dimas semakin menurunkan nada bicaranya bahkan hampir berbisik. Ada rasa sakit yang menyerang didalam dirinya saat mengucapkan pertanyaan itu.
"Dewi ngga bermaksud menghindari kakak" jawab Dewi berusaha berbohong. Dimas kembali menyisipkan rambut Dewi kebelakang telinganya yang saat itu menghalangi pandangannya untuk menatap utuh wajah Dewi. Dewi menelan salivanya menahan rasa remang yang menghampirinya sampai ketulang tulangnya akibat sentuhan Dimas.
"Kamu bohong wi" ucapnya membuat jantung Dewi berdetak tak menentu dengan ritme yang cukup cepat.
"Dewi ngga..."
"Ada apa Antara kamu dan Yudha?" Tanya Dimas menyela ucapan Dewi. Dewi memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk menatap Dimas yang saat itu sudah hampir menangis. Sorot mata yang tajam itu sudah dihiasi oleh genangan air yang hampir terjatuh. O Tuhan, benarkah apa yang saat ini ku lihat. Batin Dewi tidak percaya melihat ekspresi Dimas. Perasaan apa ini? Batin Dewi semakin tak bisa memahami dirinya. Detak jantungnya semakin tak menentu meski rasa takutnya sudah hilang. Dia menelan salivanya dan kembali menunduk karna tidak tau harus menjawab apa. Bisa saja dia memperalat Yudha dan mengatakan kalau dia dekat dengan Yudha. Tapi dia tidak ingin menyesali tindakan bodohnya ini dibelakang hari.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku wi" ucap Dimas membuat Dewi kembali menelan salivanya.
"Dewi ngga ada apa apa sama kak Yudha kak" jawabnya jujur dengan kepala yang masih menunduk. Dimas bisa melihat dengan jelas pucuk kepala Dewi karna memang Dewi menunduk ditambah lagi Dimas lebih tinggi darinya. Dimas bernapas lega mendengar jawaban Dewi.
"Kenapa kamu ga datang kelapangan basket kemarin?" Tanya Dimas tanpa melepaskan pandanganya.
"Ha?" Ucap Dewi tak mengerti. Bagaimana Dewi bisa mengerti. Bukankah surat itu berakhir ditangan Sesel?. Dimas mengerutkan keningnya melihat ekspresi Dewi.
"Aku kasi kamu surat kan kemarin?" Ucap Dimas dengan nada normal dan Dewi mengangguk.
"Kamu ngga baca suratnya?" Dewi menggeleng dengan cepat. Dimas heran dan menaikkan salah satu alisnya
"Mana suratnya?" Tanya Dimas melepaskan genggamannya dipergelangan Dewi.
"Dewi lupa taro dimana" jawabnya berbohong. Dimas menarik napas panjang dan membuangnya asal layaknya orang kesal.
"Dasar" ucap Dimas sambil mengacak acak rambut dipuncak kepala Dewi. Bisa bayangkan bagaimana perasaan Dewi saat itu? Tentu saja bahagia dan ingin rasanya dia berteriak dan melompat kegirangan. Ada kedamaian yang tidak bisa disembunyikannya saat Dimas menyentuh kepalanya. Tapi jangan pikir kalau Dimas percaya dengan ucapan Dewi. Tidak!. Dimas tau kalau Dewi berbohong dan cepat atau lambat Dimas akan mengetahuinya meskipun Dewi tidak memberitahunya.
"Mulai sekarang kamu ngga akan menghindari aku lagi, dan aku akan antar kamu pulang setiap hari. Bahkan aku akan jemput kamu setiap pagi" ucap Dimas terdengar seperti perintah. Mulut Dewi sempat menganga mendengar ucapan Dimas.
"Say ok" ucap Dimas namun Dewi menggeleng.
"Setuju atau tidak, aku akan melakukannya" ucapan Dimas terdengar memaksa bukan?
"Tapi...."
"Tidak ada tapi tapian, mulai besok beritahu aku siapapun yang mengganggumu, baik wanita maupun pria" ucapnya semakin membuat Dewi menganga.
"Mana handphone kamu?" Tanya Dimas sambil mengangkat tangannya. Dewi merogoh saku kecil disamping roknya dan memberikannya kepada Dimas tanpa mengubah pandangan dan ekspresinya. Dimas segera mengambilnya dan mengeluarkan ponselnya. Dimas bisa membuka ponsel Dewi dengan mudah karna Dewi tidak membuat sandi ataupun kunci pola. Dia menekan beberapa angka dan kemudian melakukan panggilan terhadap angka yang dia buat. Setelah menerima panggilan masuk diponselnya dia membuat nama "Dewi" dan gambar bunga mawar dibelakangnya.
"Itu nomor handphone aku dan kamu harus simpen" ucap Dimas kemudian mengembalikan ponsel Dewi. Dewi mengangguk dan mengambil kembali ponselnya dari tangan Dimas kemudian mengembalikan kesakunya.
"Ayo" Dimas kembali menariknya tapi kali ini dengan sangat lembut dan berjalan menggenggam tangan Dewi menuju parkiran. Dewi hanya menurut dan membiarkan Dimas menggenggam tangannya sampai keparkiran. Bella yang sudah duduk dan menunggu didalam mobil menatap bingung melihat Dewi bergandengan dengan Dimas. Dia menggaruk tengkuknya yag tidak gatal dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sementara Albert dan Reno yang masih berdiri dan bersandar dimobil Albert yang terparkir tepat dibelakang mobil jemputan Dewi justru tersenyum terlihat sangat senang menyaksikan pemandangan yang disajikan Dimas. Mobil jemputan Dewi yang sudah menunggu dari tadi membuat Dimas tak bisa berlama lama menggenggam tangan Dewi.
"Hari ini kamu bisa pulang sama Bella dan supir kamu, tapi mulai besok kamu akan pulang sama aku" ucap Dimas kemudian membukakan pintu untuk Dewi. Dewi hanya mengangguk dan tersenyum. Bella kemudian berpindah dari duduknya agar Dewi bisa masuk dan duduk disana. Dimas kemudian menutup pintu dan menatap mobil itu pergi membawa gadis pujaannya. Albert dan Reno tepuk tangan serentak membuat Dimas berbalik dan menatap mereka dengan senyuman yang dibuat terlihat sombong. Tapi adakah diantara mereka yang menyadari kalau Sesel mendengar dan melihat semua adegan yang barusan terjadi?