"Well lady, are you going to tell me about something?" Bella mulai menggoda Dewi yang saat ini sedang berbunga bunga. Setelah melihat dua sejoli berjalan bergandengan tangan dan kemudian dengan senang hati membukakan pintu untuk wanitanya, apa yang kalian pikirkan tentang itu? Jadian? Exactly! Bella berpikir kalau Dewi sudah jadian dengan Dimas.
"Ceritain apa?" Tanya Dewi membalik pertanyaan Bella.
"Cieeeee yang lagi seneng pake banget, ceritain dong" Bella bereaksi seakan belum pernah mendengar tentang kisah orang berpacaran.
"Ngga ada apa-apa Bella" jawab Dewi menggulum senyum termanis yang dia miliki.
"Curang!" Bella mulai jutek merasa Dewi tidak ingin jujur padanya.
"Beneran ngga ada apa-apa" ucap Dewi meyakinkan. Bella meliriknya dengan tatapan antara percaya dan tidak.
"Trus kenapa bisa?..." Bella memperagakan gerakan orang bergandengan dengan kedua tangannya sambil memiringkan wajahnya menatap Dewi. Dewi hanya menggeleng namun tidak ada kebohongan diwajahnya.
"Payah!" Ucap Bella menyilangkan kedua tangan didepan dadanya dan menyandarkan tubuhnya dibangku mobil. Dewi hanya bisa tersenyum semakin bahagia melihat ekspresi Bella. Apakah sebahagia ini bisa bersentuhan dengan orang yag kita suka? Batin Dewi.
Tidak ada lagi obrolan diantara mereka sepanjang perjalanan pulang. Yang ada hanya Dewi yang menghayal membayangkan kalau suatu hari akan ada sebuah meja kecil yang dihiasi lilin dan balon merah berbentuk hati, serta seseorang yang memainkan piano dengan nada lembut disebuah tempat romantis dengan pencahayaan yang tidak bisa disebut terang. Dia akan berdiri dengan dress putih yang dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna senada bagaikan seorang putri, dan kemudian pria impiannya akan bersujud didepannya dengan setangkai mawar merah dan memintanya untuk menjadi kekasihnya. Dan tentu saja dia akan menerimanya dengan senang hati. Senyuman diwajahnya semakin mengembang memikirkan hayalannya itu.
"Turun!" Teriak Bella mengagetkannya dan membuyarkan hayalan indahnya.
"Bella" ucapnya sedikit kesal. Dia memanyunkan bibirnya dan memicingkan matanya. Bella yang sudah berdiri diluar memukul jidatnya sendiri melihat Dewi yang mendadak menjadi gadis penghayal.
"See you" ucap Bella berjalan sambil melompat kecil saat membalikkan tubuhnya.
"Ntar malem jangan lupa ngerjain PR bareng" teriak Bella yang sudah agak jauh membuat Dewi memutar bola matanya.
"Pak Robin, mobil saya kemana?" Tanya Bella saat tiba dipekarangan rumahnya namun tidak melihat mobilnya digarasi.
"Anu non, dibawa sama bu..." Bella langsung masuk kedalam rumah dengan langkah cepat meninggalkan pak Robin yang belum selesai bicara. Dia mengeluarkan ponselnya dan segera mencari kontak papanya untuk menelponnya.
"Halo" terdengar suara seorang wanita yang menerima panggilannya.
"Papa mana?" Tanya Bella dengan nada yang tidak bersahabat.
"Papa kamu lagi meeting" jawab seorang wanita yang masih tergolong muda dengan usia 10 tahun lebih tua dari Bella yang saat ini masih 16 tahun. Nada bicaranya menunjukkan kalau dia tidak memiliki hubungan baik dengan Bella.
"Kirim mobil saya kerumah sekarang atau....."
"Atau apa? Ha? Kamu mau ngancem saya?" Ucapannya terdengar meledek Bella.
"Dengar baik baik, mobil itu peninggalan dari Oma. Dan kamu tidak punya hak untuk menyentuhnya!" Ucap Bella dengan nada tegas.
"Kamu tenang ajalah, ngga usah lebay. Kamu juga belum punya SIM kan" ucapnya membuat Bella semakin emosi.
"Kalau kamu ga kirim mobil itu sekarang, aku akan membuat kamu menyesal!" Ucapan Bella kali ini semakin serius dengan wajah yang dipenuhi emosi.
"Oooooohhh, aku takut" jawab wanita disebrang sana kemudian menertawakan Bella.
"Aku kasi waktu 30 menit ucap Bella kemudian menutup ponselnya.
Sambil mondar mandir Bella melihat kearah jam dinding berkali kali. emosi diwajahnya tak kunjung mereda, napasnya terdengar sangat memburu karna emosi yang menggebu gebu. setelah mondar mandir nya tak membuahkan hasi, Bella kemudian berjalan setengah berlari menuju kamarnya yang dulu ditempatinya bersama Omanya. Dia meletakkan tasnya diatas meja yang dia gunakan untuk belajar dan melihat laci mejanya terbuka dengan kunci yang masih menggantung disana. Dia menarik lacinya lebih lebar dan mencari sesuatu didalamnya namun tidak bisa ditemukannya. Dia kemudian menggeladah seisi lemarinya dan mencarinya disana namun tak juga menemukannya.
"Bik, bibik!" Teriaknya yang mungkin terdengar keseluruh penjuru rumah.
"Ia non, bik Inah berjalan dengan buru buru untuk menghampirinya.
"Siapa yang masuk kamar Bella?" Tanyanya dengan kondisi kamar yang sudah sangat berantakan.
"Tadi Bu..."
"Aaaahhhhh" teriak Bella kesal mengetahui wanita yang dianggapnya jalang berani memasuki kamarnya. Bella kembali mengambil handphone nya dan menghubungi ponsel papanya.
"Kenapa lagi?" Tanya wanita yang sama dengan nada santai.
"Dimana kotak perhiasan Oma?" Bella langsung keintinya tanpa berbasa basi.
"Oooo, mulai sekarang saya yang simpen, kalau kamu uda cukup umur baru saya kembalikan" jawabnya lalu meniup kukunya yang baru saja dia olesi dengan warna merah maroon.
"Kembalikan sekarang juga kirim dengan mobil Oma! Kalau tidak,....."
"Kalau tidak apa? Mau ancam saya lagi? Denger ya bocah kecil saya sibuk ngga punya waktu menghadapi kamu. Mending kamu simpan amarah kamu sampai saya resmi menjadi ibu tiri kamu. Karna setelah itu saya akan mengirimmu kejalanan. Paham!" Wanita itu berkata layaknya dia akan menguasai segalanya setelah menjadi istri dari papa Bella yang sebenarnya akan terjadi dalam waktu dekat.
Bella menutup panggilannya dan bergegas kekamar papanya yang selama ini sudah ditempatinya bersama wanita itu. Dia mengeluarkan semua barang barang berharga milik wanita yang menjadi kekasih papanya itu. Dia melemparkan beberapa tas, sepatu dan bahkan baju baju bermerek lewat jendela dan berakhir di taman sebelah rumah Bella. Bella kemudian berjalan menuju gudang dengan langkah berlari diseratai emosi. Dia membiarkan air matanya tumpah untuk melampiaskan amarah dan kekesalannya. Dengan kasar dia membuka pintu gudang dan matanya langsung tertuju pada sebuah jeregen dengan korek didekatnya. Dia keluar dari gudang dengan langkah semakin cepat dan membawa sebuah jiregen berisi minyak ditangannya.
"Kau ingin tau dengan siapa kau bermain main!" Ucap Bella dengan nada emosi sambil menuang minyak ditumpukan barang milik wanita itu. Dia melemparkan jeregen minyak ditumpukan barang barang bermerk miliki calon ibu tirinya, kemudian merogoh sakunya dan mengeluargkan sebuah korek.
"Here you go" katanya kemudian menyalakan korek ditangannya dan menatap dengan tajam disertsi emosi yang berbinar binar.
"Setelah berusaha mengalihkan usaha Oma menjadi atas namamu, kau juga ingin mengambil barang barang peninggalannya? Jangan mimpi Sara! Kau tidak akan mendapatkan apapun! tidak akan mendapatkan apapun!" Ucapnya hampir berbisik sambil menitikkan air mata. Tanpa pikir panjang Bella melemparkan korek yang sudah menyala itu diatas tumpukan barang Sara. Api berkobar seketika membuat pak Robin dan bik Inah hanya mampu menutup mulut dengan tangan mereka. Bella berdiri menyaksikan api yang dia nyalakan itu melahap barang barang wanita yang sangat dibencinya itu sampai. Dia mengeluarkan ponselnya dan dengan sengaja merekam api memusnahkan setiap barang kesayangan Sara. Video berdurasi 45 detik pun kemudian dikirimnya pada papanya. "Untuk Calon Istri mu" pesan singkat terkirim.
"Ma, kok ada api dirumah Bella?" Ucap Dewi saat melihat kobaran api lewat jendela kamarnya. Dania yang saat itu sedang merapikan pakaian Dewi dilemarinya kaget dan segera belari melihat lebih dekat lewat jendela.
"Ya Tuhan, api apa itu?" Ucapnya melotot kemudian berlari menuruni tangga dengan Dewi yang menyusul langkahnya. Dania segera menghampiri Bella yang berdiri tidak jauh dari kobaran api tersebut.
"Bella sayang, kenapa ini?" Tanya Dania memeluk Bella yang wajahnya masih dipenuhi emosi meski sudah membakar barang kesayangan Sara. Bella tidak menjawab pertanyaan Dania, dia hanya menghusap wajahnya dengan kedua tangannya untuk menghapus air mata dan keringat yang memenuhi wajahnya.
"Ayo ikut Tante" Dania menariknya dengan sedikit paksa karna Bella sempat menolak dengan tidak bergerak dari tempatnya.
"Ayo Bella, ganti baju kamu" ucap Dania mengelus kepalanya dengan lembut layaknya seorang ibu kepada anaknya. Dewi hanya bisa menatap iba kepada Bella meskipun tidak tau penyebab kemarahan Bella. Bella akhirnya menuruti Dania dan ikut bersamanya kedalam rumah untuk mengganti seragam sekolahnya yag sudah basah karna keringat dan kini sudah berbau asap. Namun dia tidak mengeluarkan sepatah katapun dan Dania tidak heran dengan itu. Dia sudah terbiasa menghadapi situasi Bella yang seperti ini setelah kematian Omanya. Begitulah Bella, dia selalu menyimpan semua masalah dan sakit hatinya karna tidak ingin melibatkan orang lain dalam permasalahan hiupnya. Dia akan berpura pura tegar dan kuat dan bahkan berpura pura bahagia didepan semua orang.
"Pak, bik tolong bantu padamkan apinya ya" pinta Dania kepada pak Robin dan bik Inah yang saat itu langsung mengangguk dan menyalakan keran air yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman disekitar rumah itu. Pak Mamat yang merupakan satpam dirumah Bella juga ikut membantu dengan membawa ember berisi air dan menyiram api agar tidak menjalar kemana mana.
******
"Apa!?" Sara berteriak dan bangkit dari duduknya begitu membuka pesan dari Bella. Dia kemudian berjalan terburu buru dari ruang tamu menuju kamarnya dan membanting pintu kamar apartemennya dengan kasar. Dia juga melemparkan ponsel milik Baskoro dengan kasar tepat diatas d**a Baskoro yang saat itu masih berbaring diatas tempat tidur. Baskoro mengambilnya dan memperhatikan wajah Sara yang terlihat emosi.
"Ada apa?" Tanya Baskoro dan duduk bersandar ditempat tidur.
"Lihatlah kelakuan putrimu itu" ucapnya menunjuk ponsel Baskoro. Baskoro kemudian membuka ponselnya dan menyaksikan kiriman video dari Bella.
"Kenapa dia melakukan ini?" Tanya Baskoro dengan wajah yang tak kalah jengkel. Dia terlihat menahan emosi dan merapatkan giginya.
"Kenapa lagi kalau bukan karna ingin menyingkirkan ku" jawab Sara dengan nada tinggi.
"Dia melakukannya untuk itu? Apa kau bergurau?" Ucap Baskoro menatap tajam padanya.
"Wah, sekarang kau bahkan melakukan hal sama dengan tidak mempercayaiku?" Sara mulai beralagak menjadi korban dalam situasi yang dia ciptakan sendiri. Baskoro mengepalkan tinju tangan kanannya dan tangan kirinya menggenggam ponselnya semakin kuat seakan layar ponsel itu akan retak. Dia berdiri dan melemparkan ponselnya dengan asal. Dia berjalan mendekati Sara dan berdiri tepat dihadapan Sara. Sara yang awalnya menatap tajam kini mengendurkan pandangnya dan berusaha bersikap biasa. Dia melihat kemarahan yang menggebu gebu diwajah Baskoro, lelaki yang sudah menjadi kekasihnya bahkan saat Baskoro masih berstatus suami dari orang lain.
"Jangan membuatku membenci putriku sendiri Sara. Aku tau persis bagimana sifat Bella. Dia tidak akan mengganggumu jika kau tidak mengusiknya" ucap Baskoro dengan gigi yang masih rapat.
"Maksudmu aku yang cari gara gara dengannya?" Ucap Sara tidak terima dengan tuduhan lelaki didepannya.
"Kau tau betul apa yang ku maksud, jadi jangan bersikap seolah kau tidak mengusiknya" jawab Baskoro menekan nada bicaranya.
"Baiklah, sekarang kau tanyakan sendiri padanya dan dengarkan sendiri" teriak Sara kesal dan memutar badannya membelakangi Baskoro.
"Apa kau melakukan sesuatu yang membuatnya marah?" Tanya Baskoro menarik lengan Sara dengan kasar untuk kembali berhadapan dengannya.
"Kau pikir aku tertarik untuk mengganggunya?" Jawab Sara mengelak dan bermaksud memojokkan Bella.
"Jangan terus membodohiku Sara" teriak Baskoro mendorongnya hingga terjatuh diatas yempat tidur kemudian meninggalkannya.
"Bas, dengarkan aku" Sara berusaha mengejarnya dan menghentikannya tepat didepan pintu kamar.
"Aku hanya meminjam mobilnya dan dia semarah ini, apa yang salah?!" Teriak Sara berharap Baskoro akan menyudutkan Bella.
"Kau tau persis kalau dia tidak akan senang saat kau menyentuh barang barang peninggalan mama" jawab Baskoro menatap tajam pada sara.
"Tapi tidak harus membakar barang barang ku kan?" Ucap Sara berusaha menyalahkan Bella.
"Cepat antarkan mobil itu kerumah sekarang juga dan aku akan pergi dengan mobilku" ucap Baskoro dan itu adalah perintah. Sara menghentakkan kakinya namun terpaksa menuruti ucapan Baskoro.
"Jangan sampai kau membuat lecet mobil itu sedikitpun kalau kau tidak ingin mati ditangannya" ucap Baskoro sebelum akhirnya pergi setelah mengambil kunci mobilnya. Tentu saja Sara hanya bisa menuruti ucapan Baskoro. Dia tau kalau saat ini Bella sedang emosi dan Bella bisa melakukan apa saja yang tidak pernah terpikirkan oleh Sara. Contohnya seperti hari ini. Sara tidak pernah kepikiran kalau Bella bisa melakukan hal segila ini saat marah. Dalam hitungan detik koleksi barang barang mewah nan mahal miliknya harus berkahir menjadi abu. Baskoro sudah pergi dengan mobilnya sementara Sara harus kembali masuk keapartemenya untuk mengambil kotak perhiasan yang diwariskan Omanya untuk Bella. Dia menatap koleksi perhiasan itu beberapa saat dan memang sangat ingin memilikinya. Harusnya aku bisa memakai semua ini batinnya. Lihat saja Bella, kau tidak akan bisa menyimpan ini lebih lama. Gumamnya kemudian menutupnya dan terpaksa membawanya kembali krumah Baskoro tepatnya rumah warisan yang sudah dialihkan atas nama Bella.