Baskoro sudah memasuki pekarangan rumah dengan mobil yang dikendarainya dan langsung menuju ketaman disamping rumahnya. Dia melihat bik Inah dan pak Hassan yang masih menyiram sisa barang yang terlahap api namun tak bisa lagi digunakan sama sekali. Baskoro menatap miris terhadap barang barang mewah yang sebagian merupakan hadiah darinya kepada Sara kekasihnya itu.
"Dimana Bella?" Tanya Baskoro memperhatikan mereka berdua.
"Ada didalam pak, sama Bu Dania dan Dewi" jawab Inah tanpa melepas selang air ditangannya.
"Pastikan apinya padam baru ditinggalkan" ucap Baskoro kemudian meninggalkan mereka. Tak lama kemudian Sara muncul bersama mobil Bella melewati gerbang depan. Baskoro yang sudah sampai didalam rumah memperhatikan sekitar untuk mencari keberadaan Bella dan mendapati mereka sedang duduk diruang tamu. Dia melihat Dewi dan Dania berusaha menenangkan Bella yang belum juga mengeluarkan sepatah katapun. Baskoro menarik napasnya dalam dalam dan melangkahkan kakinya menemui mereka.
"Apa yang kamu lakukan Bella?" Ucap Baskoro kemudian menghela napas panjang. Dania berdiri dan menatap Baskoro dan Bella bergantian. Dewi ikut berdiri begitu melihat Baskoro memasuki ruang tamu namun Bella tidak juga merespon siapapun dari mereka.
"Saya permisi dulu Bas, mungkin Bella butuh waktu menenangkan diri ucap Dania sambil menghusap kepala Bella yang masih duduk membisu.
"Terimakasih Nia dan Dewi kalian sudah menemaninya" ucap Baskoro sambil mengangguk dan menahan rasa malu melihat Dania selalu menjaga Bella lebih baik darinya. Baskoro memang berteman baik dengan Dania dan suaminya sejak mereka berada dibangku Kuliah.
"Sama sama bas, saya permisi dulu ya" ucap Dania kemudian pergi dan Dewi mengikutinya. Dania sempat menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Sara dipintu masuk. Sara yang tidak ramah sama sekali tidak menghiraukannya. Dia melenggang dengan santai tanpa rasa malu dan seolah olah dia tidak melihat siapapun.
"Maaf Bella, tadi saya tidak sempat minta ijin untuk pakai mobil kamu." Ucap Sara begitu melihat Bella dan Baskoro diruang tamu. Dania yang masih sempat mendengar sandiwara Sara hanya mampu menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya lebih cepat untuk segera keluar dari rumah itu.
"Sara..." Baskoro menahan emosinya sambil menatap tajam kepada Sara.
"Ni kunci mobil kamu!" Sara meletakkan kunci mobil itu tepat disamping Bella diatas sofa. Dia kemudian membalik badan dan bermaksud meninggalkan Bella dan Baskoro.
"Dimana kotak perhiasan Oma?" Ucap Bella tanpa melirik Sara sedikitpun. Baskoro yang mendengar pertanyaan Bella mengerutkan keningnya dan menatap semakin tajam terhadap Sara. Sara mulai memikirkan cara untuk memberi alasan masuk akal yang bisa diterima oleh Baskoro.
"Bella, kamu jangan salah paham sama saya. Saya hanya bermaksud menyimpan warisan mama" ucapnya seakan dia sudah menjadi menantu dirumah itu. Baskoro memicingkan matanya menatap tingkah aneh dari Sara.
"Saya cuman ngga mau kalau sampai barang barang peninggalan mama itu hilang. Kalau kamu sudah dewasa nanti pasti akan saya kembalikan. Lagian kan sebentar lagi aku akan jadi mama kamu" ucapnya terdengar seakan dia benar benar ingin menyimpannya untuk Bella. Baskoro tau betul kalau itu hanya akal akalan Sara agar bisa dengan leluasa memakai perhiasan yang begitu banyak itu.
"Kalau kau tidak mengembalikannya sekarang juga, bukan hanya barangmu yang akan kubakar. Tapi kau juga akan kubakar hidup hidup" ucap Bella dengan datar dan wajah tanpa ekspresi. Tentu saja mereka dikagetkan oleh ucapan bela itu. Bukankah selama ini dia hanya diam saja? Baskoro dan sara bertatapan beberapa saat.
"Bella, kamu jangan salah paham gitu dong" ucap Sara masih berusaha mendapatkan kepercayaan palsu.
"Sara, mana perhiasannya?" Baskoro menatapnya semakin menahan emosi.
"Aku cuman bermaksud menyimpannya" ucapnya mengulang kebohongannya.
"Kembalikan sekarang juga!" Ucap Baskoro dengan nada tegas yang ditekan. Sara kembali menghentakkan kakinya dan mengambil kembali kunci mobil Bella karna meninggalkan kotak perhiasan itu didalam mobil. Dia kembali dengan kotak yang lumayan besar itu dan meletakkannya diatas meja didepan Bella kemudian menaruh kunci mobil diatasnya.
"Mulai sekarang kau tidak punya hak masuk kerumah ini tanpa ijin dariku!" Ucap Bella menatap kotak diatas meja yang kini ada dihadapannya.
"Bella, jangan berlebihan" ucap Baskoro menentang aturan yang batu saja dibuat oleh Bella.
Bella kemudian berdiri dan mengambil kotak serta kunci mobil itu.
"Kalau papa keberatan papa juga bisa tinggal diluar bersamanya" ucap Bella kali ini dengan berani menatap papanya.
"Bella. Kamu jangan keterlaluan!" Baskoro mulai tak kuasa menahan emosinya mendengar ucapan Bella.
"Papa lupa kalau rumah ini dan semua warisan Oma sudah menjadi hak Bella?" Ucap Bella santai sambil menatap papanya.
"Tidak akan ada yang mengambilnya darimu. Tapi kamu tidak pantas bicara seperti itu terhadap papa" ucap papanya menahan emosi melihat kondisi Bella yang sedang terbilang buruk.
"Apa papa pantas membawa dan mengijinkan jalang ini berkeliaran dirumah kita? Berlaku seakan akan dia adalah nyonya dirumah ini?" Teriak Bella mulai menahan air matanya agar tidak terjatuh. Baskoro menahan napasnya sesaat kemudian menghembuskannya dengan asal. Sebisa mungkin dia menahan diri agar tidak meluapkan emosi dan memperlakukan Bella dengan kasar seperti biasanya.
"Dan ingat pa, sampai Keliang kuburpun Bella tidak akan sudi punya ibu tiri seperti wanita ini" ucap Bella kemudian meninggalkan mereka berdua diruang tamu. Sara mendekati Baskoro dan berusaha menenangkannya. Dia mengelus lembut dipunggung Baskoro seakan akan bukan dia yang menyebabkan kekacauan hari ini.
"Lain kali pakailah otak kamu sebelum melakukan sesuatu" ucap Baskoro menepis tangan Sara dari punggungnya kemudian pergi kekamarnya. Sara mengeratkan giginya dan mengepalkan tinjunya merasa kesal karna tidak bisa menaklukan Bella. Sara bisa mengingat bagaimana Bella membencinya sejak pertama kali mengenalnya. Bella membaringkan dirinya diatas ranjang berukuran besar itu setelah memasukkan kotak perhiasan itu kedalam lemarinya.
Bella tidak percaya kalau di bisa melakukan apa yang sudah dia lakukan hari jni. Dan bahkan dia tidak percaya bahwa dia memiliki keberanian untuk berbicara selancang itu kepada papanya sendiri. Kenapa aku menjadi kehilangan kendali seperti ini ya Tuhan, gumamnya sampai menitikkan setetes air bening disudut matanya. Walau bagaimanapun dia tetap papaku gumamnya semakin lirik dan mulai terisak. Siapa yang harus kusalahkan atas semua penderitaan ini. Batinnya disela isakan tangisnya yang tertahan.
"Makan dulu non" ucap bik Inah dengan nampan berisi makanan ditangannya. Bella tidak memberi jawaban apapun sehingga bik Inah hanya meletakkan makanan itu diatas meja yang ada dikamar Bella kemudian meninggalkannya dengan perasaan iba. Bella sama sekali tidak menyentuh makanya karna dia tertidur setelah merenung dan menangisi apa yang sudah dialaminya. Didalam tidurnya dia bermimpi melihat Omanya disebuah taman yang sangat indah. Dia berlari dan berhambur diperlukan Omanya. Hanya ada mereka berdua yang dipenuhi tawa bahagia dalam mimpinya. Perasaan itu begitu nyaman dan menenangkannya. Dia berbaring diatas kursi taman dengan kepala yang berada dipangkuan Omanya. Tangan dengan sentuhan lembut itu mengelus rambutnya sambil menebarkan senyuman tanpa henti. Mimpi itu terasa sangat nyata dan mampu mengobati sedikit rasa sakit yang kini bersarang dihatinya.
Baskoro perlahan lahan membuka pintu kamar Bella dan menatapnya beberapa saat tanpa menghampirinya. Saat itu jam sudah hampir menunjuk angka 09 malam. Baskoro memperhatikan seluruh isi kamar Bella yang tidak pernah merubah isi dan letak setiap barang yang ada didalam kamar itu. Matanya tertuju pada makanan diatas meja yang belum tersentuh sama sekali. Dia menelan salivanya dengan berat dan itu terasa pahit. Bagaimana tidak, dia harus menahan rasa sakit dan emosi yang menjadi satu setiap kali melihat Bella. Bukan karna dia tidak menyayangi Bella apalagi membencinya. Hanya saja wajah Bella yang sama persis dengan mamanya membuat Baskoro tak bisa lepas dari siksaan batin menerima penghianatan mantan istrinya itu. Karna alasan itulah dia selalu sulit untuk bersikap baik dihadapan Bella. Dia pernah berpikir untuk meninggalkan Bella, tapi hati kecilnya sungguh tak sanggup melakukannya. Dia menangisi takdirnya bertahun tahun dan memendam rasa kecewanya atas perlakuan istrinya. Bahkan dia tidak pernah bisa menikah tanpa persetujuan dari Bella.
Dulu dia selalu berusaha untuk menolak bercerai dengan mantan istrinya itu. Karna itulah mereka selalu bertengkar setiap hari. Hingga akhirnya dia benar benar tidak sanggup lagi dan akhirnya menuruti keinginan istri yang sangat dicintainya itu. Dia harus merelakan wanitanya pergi dengan lelaki lain dan bahkan tidak memikirkan nasib putri mereka. Bella memang sudah berada dikandungan 3 bulan sebelum pernikahan papa dan mamanya berlangsung. Namun mamanya tidak ingin melahirkan Bella saat itu dan belum ingin memiliki anak dengan alasan masih terlalu muda yang memang saat itu mereka baru saja lulus dari bangku SMA. Dan kelahiran Bella membuat mereka harus menjadi ayah dan ibu diusia yang masih sangat belia dimana ibunya melahirkan Bella bahkan sebelum usianya genap 18 tahun. Baskoro melanjutkan pendidikannya dibangku kuliah setelah menikah. Sedangkan istrinya harus menunggu sampai Bella berhenti minum ASI agar bisa memulai kuliahnya. Sejak saat itulah pertengkaran selalu muncul didalam rumah tangga mereka. Belum lagi sejak kuliah mamanya tidak bersikap layaknya seseorang yang sudah menikah dan memiliki anak. Dia bahkan tidak melakukan tugas dan tanggung jawabnya layaknya seorang istri dan ibu. Dia sering pulang malam dengan alasan kerja kelompok atau tugas dan sebagainya padahal dia pergi kelayapan dengan teman temannya. Saat itu juga dia mulai berkencan dengan seorang mahasiswa senior dikampusnya yang sekarang menjadi suami keduanya.
Baskoro yang mengetahui kelakuan istrinya awalnya berusaha menutupinya dan pelan pelan mengingatkan istrinya agar meninggalkan selingkuhannya. Tapi bukannya berubah dan mendengarkan perkataan suaminya dia justru membuat semakin banyak kebohongan untuk bisa diam diam berkencan dengan selingkuhannya itu. Bella yang sudah diurus oleh Omanya pun membuatnya semakin leluasa berkeliaran dan pulang sesuka hati. Bertahun tahun Baskoro menyimpan penghianatan istrinya karna tidak ingin merusak nama baik keluarganya. Namun semakin dibiarkan istrinya justru semakin merajalela dan semakin semena mena. Seringkali dia meminta untuk bercerai dengan alasan ingin berkarir dan melanjutkan S2 nya. Keluargapun tidak menghalanginya untuk melanjutkan S2 nya diluar negri. Bahkan keluarga Baskoro mendukungnya lewat materi dan segala hal yang diperlukan. 3 tahun lamanya dia kuliah diluar negri dan hanya kembali beberapa kali itupun karna terpaksa.
Setelah menyelesaikan S2 nya, dia kembali ke Indonesia dan mulai bekerja sebagai designer. Namun kelakuannya belum juga berubah dan hubungannya dengan selingkuhannya itu bahkan semakin lengket. Namun kedua belah pihak keluarga tidak mengijinkan mereka untuk berpisah meski sudah mengetahui perselingkuhannya itu karna Bella sudah hadir diantara mereka. Mereka pun hanya menurut tapi tidak pernah merasakan damai dan kebahagiaan didalam rumah tangga mereka sana sekali. Hingga akhirnya kesabaran Baskoro benar benar sudah habis dan mulai terjerumus dengan kesalahan yang sama. Dia harus terjebak karna kebohongan Sara yang saat itu mengaku sudah memasuki semester terahir diuniversitas. Mereka bertemu disebuah club' malam yang sering dikunjungi Baskoro karna tidak ingin memikirkan kelakuan istrinya dengan pria lain. Diapun mabuk dan mulai menggoda Sara hingga akhirnya merenggut kesucian Sara dalam keadaan tidak sadarkan diri. Merasa harus bertanggung jawab dia pun harus menerima Sara dan menunggunya untuk menyelesaikan pendidikannya. Namun semakin hari kebohongan Sara membuat Baskoro semakin merasa bersalah karna ternyata sara masih SMA sat itu. Mau tidak mau diapun menuruti keinginan istrinya untuk bercerai karna dia sudah ikut mengambil peran dalam menghancurkan pernikahan mereka.