Gisna baru saja selesai menjemur handuknya yang basah karena Ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Hari ini tempat kerjanya masih libur apalagi sahabatnya si Refi itu belum juga menghubunginya sejak kemarin. Justru mantan yang ingin Gisna lenyapkan menghubunginya terus menerus.
Alasan kenapa Ia tak memblokir kontaknya karena menurut Gisna itu percuma, cowok itu pasti bisa mendapatkan nomor ponsel Gisna dengan mudah bahkan Ia mempunyai 1001 cara untuk menghubungi Gisna kembali, sampai akhirnya Gisna pasrah dan sesuka hatinya menanggapi parasit yang dulunya pupuk yang selalu menguntungkannya.
Gisna berjalan menuju lorong kamarnya, dan hampir terjungkal kala menemukan seorang cowok dengan kaos putih polos lengkap dengan celana jeans panjangnya. Gisna menarik nafasnya pelan menetralkan jantungnya yang memompa darah dengan kecepatan lebih dua kali lipat dari biasanya.
"Hai!" sapa seseorang yang masih berdiri di ambang pintu nomor enam.
"Perasaan mas yang di kamar enam gak gitu deh wajahnya." Gumam Gisna menunduk mencoba mengingat wajah Gibryan yang jelas berbeda dengan cowok di depannya yang masih setia tersenyum padanya.
Gisna yang tengah duduk di sofa tempat menonton TV tersenyum canggung membalas sapaan cowok yang kini justru menghampirinya dan duduk di sampingnya dengan senyum yang belum pudar sejak tadi.
Gisna tidak nyaman dengan ini, namun mau bagaimana ini tempat yang umum tidak seperti kamar yang bersifat privacy. Melihat respon Gisna yang canggung, cowok itu kemudian terdiam memikirkan sesuatu.
"Lo gak inget gue? Gue Satria temen cowok yang ngekos di kamar ini." Tunjuk Satria pada kamar nomor enam yang sejak tadi terkunci dari dalam entah sang penghuni sedang melakukan ritual atau bagaimana.
"Oh iya inget sekarang!" ucap Gisna mengingat kalau ini adalah cowok yang Ia temui beberapa minggu yang lalu di depan kamar mas yang galak dan super jutek itu.
"by the way yang punya kamar belum keluar dari tadi?" tanya Satria membuka obrolan sambil menunjuk kamar Bryan dengan dagunya.
Gisna hanya tersenyum menggeleng dan mengangkat bahunya menandakan Ia bukan hanya kurang tahu tapi memang Ia tak mengetahuinya. Melihat respon Gisna, Satria yakin kalok cewek ini memang tak mengenal siapa Bryan, bagaimana sikapnya juga. Padahal banyak mahasiswa luar yang mengenal Bryan meski sebagai seorang yang berantakan namun cukup menarik mereka dalam pesonanya.
"Nama lo siapa sih?" tanya Satria penasaran karena sejak perkenalan ketika Satria menyebutkan namanya cewek itu hanya tersenyum tanpa menyebutkan namanya, dan sepertinya Bryan tidak tahu nama cewek yang menjadi tetangga barunya itu, karena terus menyebutnya dengan istilah-istilah aneh.
"Gisna." Ucap Gisna menjawab singkat kemudian pandangannya terkunci pada sosok yang menyilangkan kedua tangannya di depan d**a sedang menatapnya tajam. Gisna terdiam juga bingung apa yang akan di lakukannya.
Satria yang melihat reaksi Gisna yang terpaku pada satu titik mengikuti arah pandangan cewek itu, dan dia sudah melihat Bryan sedang menatap Gisna tajam seperti cewek itu sudah melakukan suatu kesalahan padanya.
"Gue masuk ya!" pamit Gisna bergegas pergi segera menghilang memutuskan kontak mata cowok yang selalu menatapnya tajam.
"Weehhhh... cemburu lo!" ucap Satria begitu Bryan duduk di sampingnya dengan wajah yang terlihat kesal.
"Ngapain lo kesini? Modus kan lo?" tanya Bryan dengan sinis pada sahabatnya yang justru pecicilan datang kemari sebenarnya Bryan tidak tahu jika Satria datang kesini, malah Ia tahu kala mendengar suara dari luar kamarnya. Bukan karena Ia adalah seorang yang kepo, namun Ia tahu di kost ini hanya Gisna dan dirinya yang tidak pulang ke kampung halaman. Jika saja tadi adalah kerabat cewek depan kamarnya mungkin Ia takkan keluar, namun begitu melihat Satria yang datang dan duduk di samping cewek itu Ia segera bergegas keluar.
"Weh santai Bro, yah namanya usaha." Ucap Satria sungkan sambil mengusap tengkuknya.
"Basi!" ucap Bryan kemudian bergegas pergi masuk kamarnya meninggalkan Satria yang justru terbahak melihat respon Bryan yang uring-uringan namun Ia tak mau menampilkannya.
"Si Raka sama si Edo pulang kampung, gue ntar sore. Lo gak pulang?" tanya Satria yang meremas jarinya, sebenarnya Ia tak mau menanyakan hal yang akan mendapatkan jawaban yang sama. Ia hanya mengkhawatirkan sahabatnya, yang jika mabuk selalu mengoceh tak jelas dan merusak sesuatu membabi buta seperti mengeluarkan masalah yang Ia pendam sendiri.
"Nggak ah males, lagian mau pulang ke rumah siapa?" telakan Bryan yang selalu menjadi andalan ketika sahabatnya bertanya apakah dia akan pulang ke Semarang kampung halamannya.
Gibryan Prayogi bukan seorang anak broken home, hanya saja ada masalah yang membuatnya tak betah di rumah. Dia baik dengan ayah ibunya, namun tidak dengan kerabat ibunya yang tinggal bersamanya juga.
"Ya udah gue cabut mau packing-packing dulu." Pamit Satria kemudian bangkit meninggalkan Bryan yang tercengang, Ia pun ikut bangkit menyusul sahabatnya.
"Terus faedahnya elu kesini itu apa?" tanya Bryan memukul pelan kepala Satria, Satria justru hanya mencebikan bibirnya dan menunjuk kamar Gisna dengan dagunya memberikan kode jawaban pada Bryan yang ikut arah dagu Satria.
"Jagain cewek gue ya Yan!" ucap Satria menepuk pelan bahu Bryan.
"b*****t!" Umpat Bryan tak tertahankan melihat sikap Satria yang membuatnya muak namun sayang karena dia adalah sahabat karibnya.
***
Gisna memainkan gadgetnya di ruang TV men-scroll sosial media dari atas sampai bawah, chat juga sepi maklum nasib jomblo. Bukan sepi hanya saja orang yang Ia harapkan bukan orang yang mengirim chat padanya. Banyak nomor nyasar juga manusia yang Ia sebut sebagai sang mantan tak segera musnah saja.
Dddrrrtttt...dddrrrttt....
"Allahu Akbar!" ucap Gisna kaget bukan kepalang kala ponsel yang Ia pegang mati kemudian bergetar hebat menandakan ada panggilan masuk dari Refi sahabatnya.
"Halo!" sapa Gisna pada seseorang di sambungan telepon seberang.
"Gisnaaaaaaaaaaaaaa! Sorry yeh belum bisa pulang kangen pasti ya pasti." Rengek Refi di seberang sana dengan gaya yang norak. Begitu mendengar rengekan Refi Gisna menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara Refi yang mampu merusak gendang telinganya.
"Biasa aja bisa nggak!" tanya Gisna dengan wajah datar ya walaupun sahabatnya itu tidak bisa melihatnya namun yang di seberang hanya membalas dengan cengiran aneh khas miliknya.
Gisna duduk tegang kala melihat sosok di depan gerbangnya yang celingak-celinguk akan masuk namun tampak ragu, Gisna langsung mengakhiri panggilan dan berlari terbirit untuk bersembunyi. Bagaimana bisa Fathur bisa datang kemari sedang Ia tak memberi tahu dimana kos barunya. Gisna lupa jika Fathur punya 1001 cara untuk menemukannya.
Begitu melihat Fathur memasuki gerbang dan berjalan masuk tanpa pikir panjang Gisna berlari masuk ke kamar, bukan ke kamarnya namun kamar si Bryan. Bryan yang sedang tiduran kaget bukan kepalang ada seseorang yang masuk kamarnya di tambah dia adalah seorang cewek.
"NGAPAIN LO!" ucap Bryan dengan nada cukup tinggi karena Ia masih terkejut akan kedatangan Gisna di kamarnya.
"Bantuin gue pliss kak, suruh itu cowok pergi." Ucap Gisna memohon namun Bryan tanpa ampun menarik tangan Gisna mencengkeramnya kuat membuat Gisna meringis menahan sakit.
"NGGAK, KELUAR LO DARI KAMAR GUE!"Teriak Bryan membuka kamar dan mendorong Gisna keluar.
Damn ! Kala Gisna dan Bryan keluar Fathur sudah berada di sana hanya berjarak dua meter dari mereka, mereka terdiam sejenak kemudian Gisna yang sudah tertangkap Fathur menghempaskan tangan Bryan yang masih mengcekramnya itu dengan pelan. Raut wajah yang tadinya memohon pada Bryan kini menunduk pasrah berjalan menghampiri Fathur yang justru tersenyum mendapati Gisna berjalan padanya.
"Kita bicara di luar saja!" ajak Gisna keluar rumah yang kemudian di ikuti oleh Fathur.
Bryan masuk kamarnya dan berbaring kembali di tempat tidurnya, memainkan game online miliknya yang sempat kalah karena kedatangan cewek aneh yang selalu merepotkannya itu. Padahal dalam satu kost ini tidak ada yang berani mengajaknya bicara kecuali jika ada kepentingan, walaupun ada juga yang sengaja mengajaknya bicara namun tak di respon olehnya.
Bryan terdiam kala mengingat perubahan raut wajah Gisna yang drastis, dengan pasrahnya Ia melepas genggaman tangan Bryan, yang cowok itu kira genggamannya memang sangat kuat terlihat bagaimana Gisna memohon dengan meringis menahan sakit tangannya. Kemudian menghilang tertelan dengan wajah yang pasrah kala Fathur melihatnya.
"AAARGHH, SIALAN ITU CEWEK!" umpat Bryan karena Ia tak bisa fokus pada game online miliknya lagi.
Baru saja Bryan akan membuka pintu terdengar samar-samar pertikaian kecil, Bryan mengintip dari jendela yang hitam dari luar itu. Terlihat cowok tadi berusaha meraih tangan Gisna namun dengan singgap cewek itu menepisnya, berulang kali cowok itu meraihnya lagi namun Gisna terus menepisnya.
Gisna masuk kamar dan menguncinya, cowok itu mengetuk pintu kamar Gisna yang tampaknya di kunci dari dalam, cowok itu perlahan berhenti kemudian pergi meninggalkan kamar si Gisna. Bryan hanya diam memandang adegan di depan kamarnya, rasa ingin tahu menyelimutinya.
"Masalah lo sama itu cowok apa sih?" tanya Bryan entah pada siapa memandang kepergian cowok itu sampai hilang entah kemana.
Drrttt…drrrttt…
Dering ponsel Bryan membuyarkan fikiran cowok itu yang sejak tadi hanya mondar mandir di surut kamar. Karena siapa, tentunya cewek yang sedang mengobrol di luar. Bryan yakin cowok yang sekarang bersama Gisna pasti ada hubungan khusus dengan Gisna.
Ponsel itu berhenti bordering. Bryan tidak mengangkatnya. Cowok itu tahu, siapa yang menghubunginya. Orang tuanya yang sedang di Semarang. Bryan benar-benar berubah menjadi anak yang menutup diri dan menjauh dari orang tuanya, yang sejak dulu menyuruhnya menyerah akan satu hal.
Tinggg…
Satu pesan masuk di ponselnya,menampilkan pop up di layar touchscreen. Bryan meraih ponselnya, matanya terpejam cukup lama menetralkan sesuatu yang menggebu di dadanya. Sesuatu yang ingin meledak dan entah mau ia lampiaskan ke siapa.
Papah : Bryan, menyerah saja Nak sama om Dendy! Setelah kamu menyerah, papa yakin mereka tidak akan mengganggu kamu.
Bryan menggenggam ponselnya kuat-kuat. Seandainya itu sebuah kertas mungkin sudah menjadi keping-kepingan kecil. Bryan emosi kenapa papa tidak pernah mendukungnya? Padahal ini semua demi kebaikan semua. Apa salah Bryan hanya memperjuangkan hak miliknya.
Bryan masih diposisi semula, menghadap keluar dari jendela kamarnya. Tak beringsut lama Bryan melihat Gisna masuk dari arah luar dengan wajah seperti menahan amarah. Bryan mengamati cukup lama dari dalam, Gisna hanya menatap ponselnya yang mati. Tak sengaja matanya terarah ke kamar Bryan, dan bertemulah mata keduanya terhalang oleh kaca jendela.
Cukup lama mereka bertatapan, Bryan memutuskan kontak mata terlebih dahulu. Dan menutup tirai jendelanya, Gisna hanya diam dan menghela nafas pelan. Dia tidak marah Bryan mengusirnya, bagaimanapun Gisna tidak seharusnya bersikap seolah dekat dengan Bryan,keduanya baru kenal itupun karena mereka bertetangga.
***
Pagi-pagi sekali Bryan sudah rapi dengan kaos hitam yang ia gunakan di padukan dengan jeans hitam yang sobek di bagian lututnya. Bryan akan bertemu seseorang yang bersekutu dengan Dendy. Setelah memakai jam tangan, Bryan bergegas keluar mengabaikan Gisna yang sedang menonton tv.
Mood-nya sedang memburuk karena masalah Dendy ditambah dengan cowok yang mengusik Gisna kemarin. Harusnya Bryan tak perlu ikut campur tapi nyatanya dia tetap memikirkan apa yang terjadi pada Gisna. Mengapa ia dikejar-kejar cowok itu? Sampai cowok itu mengemis-ngemis.
Bryan mengendarai motornya sampai ia berhenti di sebuah rumah mewah milik seorang pengusaha. Bisa di hitung Bryan kesini sudah berapa kali, ini ke empat kali Bryan kesini untuk menemui om Malik.
“Mau bertemu dengan siapa mas?” Tanya seorang satpam di rumah itu.
“Om Maliknya ada pak?” Tanya Bryan sopan turun dari motornya.
Satpam mengangguk dan mempersilahkan Bryan untuk masuk. Bryan mengetuk pintu berkali-kali sampai seseorang dari dalam membukakannya. Lelaki seumuran ayahnya itu segera merangkul Bryan begitu tahu siapa yang datang pagi-pagi.
“Gimana kabarmu, Bri?” Tanya Malik tersenyum pada Bryan yang sedang melepas sarung tangan motornya.
“Baik om!” jawab Bryan kemudian tersenyum tulus.
“Jadi ada apa kedatanganmu kemari?” Tanya Malik tanpa basa-basi, dia tahu apa yang membuat Bryan berkali-kali datang kesini.
“om Malik, Bryan mohon om Malik harus cerita bagaimana Dendy bisa merebut saham papah apalagi sekarang papah di pecat begitu saja.” Tanya Bryan memojokkan Malik yang tidak terkejut dengan ucapan yang sama saat pertama kalinya Bryan kerumahnya.
“Bri, om bener-bener nggak bisa cerita. Om sudah janji sama papah kamu untuk tidak menceritakan masalah perusahaan itu kepada siapapun termasuk kamu.” Jawab Malik lembut, Bryan seperti papanya begitu keras kepala. Setiap kemauan itu tidak terpenuhi, Bryan selalu percaya bahwa aka nada jalan untuk memenuhinya.
Bryan menghela nafas mendengar jawaban Malik yang juga sama saat pertama kali ia kesini sampai keempat kalinya ia kesini. Sepertinya persahabatan papahnya dengan om Malik begitu erat sampai untuk mengkhianati persahabatannya demi anaknya juga pun tak bisa.
“Bryan balik om, ada acara sama temen-temen.” Bohong Bryan ingin segera pergi, agar kekecewaan itu tidak meledak menjadi sebuah emosi.
“Buru-buru sekali Bri. Kalau begitu hati-hati.” Ucap Malik dengan senyum tulusnya menatap Bryan yang berjalan kearah motornya kemudian mengendarainya. Malik tak enak hati melihat kekecewaan Bryan yang terpancar, namun ia harus memegang janjinya pada papah Bryan sendiri.