Fathur mondar mandir di depan gerbang kost Gisna yang mengabaikan pesan dan panggilan teleponnya, cewek itu benar-benar menjauhinya dua tahun terakhir ini entah masalah sepele bisa membuat Gisna berubah begitu saja. Fathur juga sedikit penasaran apa hubungan cowok yang kemarin mengusir Gisna sampai mantan kekasihnya itu berani masuk ke kamar lawan jenis meski mereka bertetangga.
Pandangan Fathur menajam kala cowok yang Ia temui kemarin keluar dari rumah kost bercat hijau itu, tanpa pikir panjang Fathur menghampiri cowok yang tidak menyadari kedatangannya. Begitu cowok itu menyadari dia sedang tidak berjalan sendirian, baru saja Ia menoleh melihat siapa yang di belakangnya.
BUGGGG
Hantaman keras meluncur hebat di wajahnya mengeluarkan darah segar di sudut bibirnya, emosinya tersulut Ia akan membalas pukulan cowok yang tak Ia kenal itu. Namun Fathur menyerangnya kembali di bagian pelipis kirinya hingga terdapat goresan di pelipis cowok yang tak lain adalah Bryan. Tanpa tahu kesalahannya Ia di serang, Bryan segera menyerang balik Fathur.
BUGG...
Fathur tersungkur di tanah, untuk pukulan pertama kalinya. Fathur bisa lihat amarah yang bergejolak di mata cowok itu yang kini menggelap pekat penuh emosi. Bryan menarik kerah baju Fathur yang sudah berdebu di bagian punggung karena tersungkur di tanah.
"Masalah Lo sama Gue apa hah? Bahkan gue gak tahu elo siapa?" bentak Bryan tepat di muka Fathur dengan emosi yang membuatnya hampir membabi buta, Bryan ingat siapa cowok yang tengah Ia cengkram kerahnya ini. Cowok yang memaksa Gisna kala Ia bersembunyi di dalam kamarnya secara tiba-tiba.
BUGGG...
"Cuman karena salah paham elo cari mati sama gue?" bentak Bryan setelah usai melayangkan pukulan keras di wajah Fathur. Dia benar-benar punya dendam pada cowok di hadapannya terlebih mengingat bagaimana sikap Gisna yang tidak suka kedatangan cowok ini ke kostnya.
BUGGG...
BUGGG...
BUGGG...
"Pergi lo, ini bukan..."
"FATHUR!!!" Teriakan seorang cewek yang berdiri tak jauh dari mereka membuat Bryan mendorong Fathur sampai tersungkur ke tanah entah untuk keberapa kali, Bryan berjalan melewati Gisna dengan tatapan tajam dan sesuatu terpancar dari mata hitam pekatnya seperti ada yang ingin Bryan sembunyikan dari Gisna.
Gisna mematung kala Bryan melemparkan tatapan elang miliknya, ada desiran aneh setiap Bryan menatapnya aneh seperti itu. Gisna menggelengkan kepalanya cepat dan segera menghampiri Fathur yang berjalan tergopoh-gopoh.
Gisna menuntun Fathur untuk duduk di serambi kost, menyuruhnya duduk disana. Gisna menyeka luka Fathur dengan alkohol, dengan sikap dinginnya Gisna enggan membalas tatapan Fathur. Dia mengobati Fathur hanya sebatas kepedulian sosial sebagai manusia biasa.
"Jangan datang lagi. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah gue sama elo!" ucap Gisna memperingati dengan sikap dinginnya, tanpa diperjelas Gisna tahu ada masalah apa Fathur dengan cowok depan kamarnya.
"Kok elo bela sih, Na? Lo gak liat dia yang mukulin gue?" tanya Fathur memelas mencari pembelaan terhadap dirinya. Gisna meletakkan kapas bekas noda darah itu ke meja, menatap mantan kekasihnya itu kemudian menghela nafas kasar tanda Ia benar-benar muak dengan sikapnya.
"Fathur, gue kenal dia baru beberapa minggu. Tapi gue kenal elo orang yang gimana? Elo orang yang egois dan keras kepala dengan pemikiran elo sendiri." Tandas Gisna dengan ucapan tajam itu mampu membuat Fathur bungkam.
Ucapan Gisna ada benarnya memang, Fathur selalu melakukan sesuatu yang menurutnya benar tanpa mencari kebenarannya. Di lahirkan dari keluarga berada membuatnya mempunyai sifat apa yang Ia inginkan harus Ia dapatkan tak peduli itu sebuah barang atau bahkan cewek seperti Gisna misalnya.
"Gue udah obatin luka lo, gue minta sekarang lo pergi dari sini!!!" Ucap Gisna dengan sikap dinginnya, membuat suasana sekitar begitu mencekam, yang biasanya Fathur akan mengejarnya namun kali ini tidak cowok itu tahu Gisna benar-benar marah padanya. Perlahan Fathur bangkit dan meninggalkan kost Gisna dengan penyesalan yang dalam, dengan begini peluangnya untuk mendapatkan kembali hati Gisna begitu kecil karena sepertinya Gisna semakin membencinya.
Begitu Fathur pergi Gisna mencoba mengetuk pelan kamar Bryan bagaimana pun Ia merasa bersalah karena cowok itu harus mendapatkan imbas dari masalah Gisna dengan Fathur yang entah kapan usainya?
Pintu terbuka menampilkan Bryan yang tengah berdiri di ambang pintu dengan tatapan murka pada Gisna yang menunduk, Gisna menarik tangan Bryan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia membisu tak tahu mau mengatakan apa pada cowok yang kini menatapnya dengan murka seolah ingin menghabisinya saat ini juga.
"Mau apa lo?" bentak cowok itu seraya menghempaskan tangan Gisna begitu kasar sampai terlepas.
BRRAAAKKK...
Tanpa menunggu jawaban Gisna cowok itu merebut nampan berisikan obat pertolongan pertama, membuangnya asal di lantai. Bahkan es batu tumpah di lantai membuatnya Gisna semakin ketakutan, menghilangkan fikiran jernihnya sampai tak mampu berkata-kata.
Bryan menarik tangannya cepat buru-buru sebelum tangan Gisna mampu menggapai tangannya kembali. Bahkan tak segan-segan Bryan berjalan maju untuk menggertak Gisna yang menurut penglihatan Bryan mulai ketakutan.
Ini perlakuan paling kasar bagi Gisna, ayahnya yang selalu memanjakkannya bahkan Kak Bara yang selalu menjaganya, Fathur mantan kekasihnya yang tak berani menyentuhnya meski Ia sedang marah sekalipun. Gisna memberanikan diri menatap Bryan yang berada di hadapannya berjarak hanya beberapa senti siap dengan tatapan ingin membunuhnya.
"Semua cewek takut sama gue, gak berani ganggu hidup gue. Elo cewek yang paling membuat gue susah juga pembawa sial untuk hidup gue akhir-akhir ini." Gertak Bryan penuh penekanan dalam setiap kata yang Ia ucapkan, matanya menatap mata Gisna lurus yang perlahan berair itu. Deru nafasnya tak terkontrol benar-benar membabi buta.
Gisna mendorong Bryan dengan keberanian yang Ia kumpulkan kembali dengan susah payah, namun cowok itu mendorongnya kembali hingga tubuhnya duduk kembali di sofa. Namun Ia tak menyerah, ini pertama kalinya Ia berani melawan cowok temperamental di depannya ini.
Gisna berdiri perlahan menarik lengan Bryan membawanya duduk di kursi panjangnya, Bryan mematung melihat Gisna yang berjongkok memunguti obat yang berserakan di lantai. Bryan memalingkan wajahnya tak mau menatap Gisna yang mampu meluluhkan hatinya. Gisna duduk di depan Bryan dengan tatapan tak peduli, Ia perlahan mengoleskan alkohol di luka Bryan mau tak mau menatap Gisna dengan jarak seperti ini.
Gisna gugup jujur saja, namun Ia berusaha menahan nafas kala Ia menempelkan plester di pelipis cowok itu, Gisna juga memelankan olesan tangannya di sudut kiri bibir cowok di hadapannya kala cowok itu sedikit meringis menahan sakit.
"Gue cuman mau melakukan hal apa yang manusia normal lakukan ketika melihat orang lain terluka, jadi gak perlu lo bentak gue!" Ucap Gisna dengan nada dingin mampu membuat Bryan membeku di tempatnya.
Gisna bangkit membawa nampan itu ke tempatnya semula, Bryan masih mematung dengan apa yang terjadi barusan. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, menatap cewek yang kini sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Pertama kalinya ada cewek yang berani padanya, sejauh ini Bryan selalu memandang semua cewek itu hanya sebuah mainan.
Gisna yang sudah masuk ke kamarnya namun masih berdiri di balik pintu. Tubuhnya perlahan merosot bersandar pintu, tak tahu apa yang sudah Ia lakukan tadi. Dia tak habis fikir bisa melawan cowok temperamental itu, bahkan sanggup membuatnya bungkam untuk waktu beberapa lama.
***
"What jadi Fathur berantem sama cowok tetangga kost elo?" sontak teriakan Refi mengundang perhatian pengunjung taman kota yang sedang melintas di hadapan keduanya.
"Gue harus gimana dong?" tanya Gisna mengusap wajahnya kasar, Ia tak tahu harus bagaimana ini pasti berlanjut Gisna yakin. Kejadian ini tidak sekali dua kali, bagaimana Fathur berulang kali menghajar cowok lain yang ada di sekitar Gisna. Rasanya Gisna ingin kembali ke masa lalu dan tak pernah menjadi orang spesial di hidup Fathur dulunya jika berakhir seperti ini.
"Lo pacaran aja sama si cowok itu, siapa namanya?" tanya Refi menyadari sejak tadi Gisna tak menyebutkan nama cowok yang sejak tadi Gisna bicarakan.
"Gue gak tau, gue gak kenal dia secara resmi." Ucap Gisna datar menyadari Ia tak tahu siapa nama cowok itu padahal beberapa kali harus berurusan dengan cowok temperament itu.
"Gila dua minggu lo tinggal sama dia, lo gak tau nama dia? Waras lo?" tanya Refi tercengang melihat kepolosan atau memang Gisna yang terlalu cuek untuk masalah cowok. Sampai kadang teman sekelas Gisna pun tak mengenalinya.
"Gue satu kost bukan tinggal bareng." Koreksi Gisna pada ucapan Refi yang apabila orang lain mendengarnya akan menimbulkan sejuta makna bagi mereka. Mendengar penuturan sahabatnya Refi hanya menunjukkan cengiran khasnya yang apabila orang melihatnya ingin memukulnya saja, dan Gisna mengikhlaskan hal itu terjadi. Hahaha..
"Gue malah kenal sahabat dia namanya Satria, satu kampus sama kita sih katanya." Ucap Gisna mengingat sahabat cowok itu yang mempunyai sifat ramah dan lembut bertolak belakang sekali dengan cowok itu yang ada marah dan marah seperti banteng.
"Satria? Gue kayak pernah dengar cowok kampus kita namanya itu." Ucap Refi begitu familliar dengan nama yang di sebutkan Gisna. Ia tampak berfikir mengingat-ingat cowok bernama Satria.
"Gak usah sok kenal!" ejek Gisna dengan menyinggung lengan Refi menghancurkan acara ingat-mengingatnya.
***
Dimanapun Bryan bernafas, keselamatannya tidak pernah aman. Karena musuh ada dimana-mana, kecuali ketika sedang dikost milik bu Nur. Bryan cukup pintar ia memilih kost milik istri seorang jendral yang tentunya keamanannya di jaga cukup ketat.
Seperti sekarang Bryan menghisap putung rokok di tangannya dengan santai, padahal di depannya sudah ada komplotan Alex yang kemarin Bryan amuk karena menyemprotkan pilox di motor kesayangannya. Tampaknya, Alex balas dendam pada Bryan dan memanfaatkan kesempatan dimana Bryan tak sedang dengan teman-temannya.
“Jadi lo mau balas dendam?” Tanya Bryan dengan sinis meremehkan Alex yang sudah di penuhi emosi, begitu terlihat dari raut wajahnya.
“b*****t lo! Bryan! Cuman anak pengusaha kaya yang bangkrut belagu elo nggak ketulungan!” jawab Alex mulai memancing emosi Bryan.
Bryan gampang tersulut emosinya, kala sudah menyinggung tentang papanya. Penyebab kenapa hubungan Bryan dan papanya merenggang begitu saja. Dimulai ketika perusahaan yang didirikan oleh papanya tiba-tiba terlibat dengan bisnis gelap.
“Gue nggak nyangkutin bokap lo disini, anjing!” umpat Bryan pada Alex yang kini tampak measa menang karena umpannya benar-benar dimakan Bryan. Sudah menjadi tanda pengenal didepan musuh tentang “pengusaha kaya bangkrut”.
“Salah gue dimana?”Tanya Alex semakin tak mau kalah, api yang tersulut tak mungkin padam begitu saja.
BUGG…
BUGG…
BUGG…
Tidak mau banyak bicara, Bryan melayangkan pukulan di wajah Alex bertubi-tubi melampiaskan kemarahan yang tidak satu-satunya tentang cemohan Alex. Alex tersungkur ketanah kala pukulan ketiga. Dia tidak mengira, Bryan akan memukulnya dengan secepatnya.
Bugg…
Alex membalas pukulan Bryan menghantamnya tepat di bagian pipi, pukulannya cukup kuat sampai bisa membuat sudut bibir Bryan memar dan menimbulkan setitik darah segar keluar darisana. Sebelum Bryan membalas pukulannya, Alex memilih kembali ke mobil yang ia parkirkan sedikit jauh dari darinya berdiri sekarang.
Meninggalkan Bryan yang berdiri memandangnya remeh menertawakan diri sendiri entah untuk yang keberapa. Bryanpun segera mengendarai mobilnya juga takut ada musuh lain yang sedang mengincarnya juga.
***
Bryan tidak ingin kembali kost sekarang, ia sedang tidak berselera jika nanti sahabatnya datang tanpa di duga. Mereka pasti akan bertingkah seenaknya jika mengetahui Bryan sudah babak belur seperti itu. Lama ia mengendarai motornya yang hanya berputar-putar kota, ia ingin pulang ke kost saja persetan dengan para cecurut.
Hampir sampai dikost hanya beberapa ratusan meter, Bryan memutuskan membelokkan motornya ke kedai coffe yang cukup ramai. Ia masuk ke kedai itu, dan matanya terkunci pada sepasang mata yang kini juga menatapnya. Bryan menyeringai menyadari seolah dunia benar-benar sempit.
“Selamat malam, kak. Mau pesan apa?” sapa Gisna sebagai pelayan kedai seolah tak mengenal Bryan.
“Gue pesen Pure Coffe!” jawab Bryan setelah melihat menu-menu yang semua berbahan dari kopi, jelas saja karena sekarang dia berada di kedai kopi.
Gisna hanya mengangguk kemudian memberikan catatan pesanan pada peracik kopi. Kedai ini cukup unik karena pembuatannya di tempat sama juga dengan pelanggan. Di ruangan terbuka, pelanggan bisa melihat sang peracik minuman yang mereka minum.
Bryan duduk di pinggir kaca yang bisa melihat keramaian kota disana, Bryan biasa datang ke cafe atau kedai sendirian tanpa di temani sahabat-sahabatnya. Ditengah keramaian pelanggan, dia bisa merasakan aman untuk sementara. Walaupun ia yakin dari sekian banyak pelanggan kedai ini pasti ada salah satu dari mereka yang merupakan mata-mata dari Dendy.
Dua jam kemudian….
Sudah dua jam, Bryan hanya menghisap putung rokok entah yang keberapa. Hatinya masih belum ingin beranjak dari tempatnya sekarang. Bahkan sampai kedai ini mau tutup, Bryan tak menyadari atau bahkan cowok itu tidak mengetahuinya. Dia sibuk menenangkan diri, sampai ponselnya berdering berkali-kali ia tak peduli.
Drrrtttt…ddrrrtttt….
Ajeng is calling
Lagi-lagi Bryan membiarkan ponselnya bergetar, menatapnya dingin begitu tahu siapa yang menghubunginya. Kebencian timbul begitu nama itu yang muncul di layar ponselnya. Akhirnya, ia putuskan untuk mengangkatnya.
“Halo.” Ucap Bryan dengan suara yang cukup berat.
“Lagi dimana Bry?”
“Gue lagi diluar, gue sibuk!” jawab Bryan kemudian memutuskan panggilan tak menunggu respon dari orang seberang sana.
Sudah bertahun-tahun ini berlalu, rasa benci dan tidak terima masih menghampiri fikiran dan perasaannya. Dia membenci dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan rasa di hatinya sendiri hingga fikirannya tertutup untuk mencari jalan keluar.
Seorang cewek yang menjadi kasir menghampiri dirinya yang sedang melamun di pinggiran dinding kaca. Bryan mengeryitkan keningnya, apa di kedai ini harus membayar terlebih dahulu? Gisna duduk di samping Bryan tersenyum polos pada wajah dingin Bryan.
“Kakak nggak mau pulang ?” Tanya Gisna sambil memakai jaket miliknya.
“Elo udah mau pulang?” Tanya balik Bryan menyadari Gisna yang sudah tidak memakai seragam kedai itu lagi. Begitu Gisna hanya mengangguk, Bryan segera meraih kunci motornya. Secara tidak langsung Gisna mengajaknya pulang bersama dan Bryan tidak pernah bisa menolak ajakan Gisna. What wrong?