"Jadi cowok yang ngekost di depan kamar elo siapa namanya, Na?" Tanya Refi sambil meneguk pelan jus buah naga merahnya.
Hari ini Gisna pulang kerja lebih awal, tak jarang moment seperti ini selalu mereka gunakan untuk menikmati senja yang perlahan muncul di sudut kota metropolitan ini. Bermodalkan bensin penuh dan juga motor milik Refi, mereka sudah bisa berbahagia.
"Tanya itu mulu, gue gak kenal." Ucap Gisna bete dengan pertanyaan yang bertubi-tubi selalu Refi lontarkan untuknya dengan topik yang sama juga.
"Yah gak asik dong, ya kali ntar lo jatuh cinta." Ucap Refi menggoda Gisna yang justru mencebikkan bibirnya.
"Korban sinetron banget sih loh!" Cibir Gisna yang meneguk habis jusnya yang sudah di tetes terakhir.
Mengingat tetangga yang tidak pernah baik padanya, Gisna hanya menggelengkan kepala. Mengingat wajahnya arrogant yang selalu dingin tanpa senyum. Padahal Gisna berharap mendapat senyuman sekali saja jadi tetangganya, fikiran macam apa itu?
"Titip salam deh buat dia." Ucap Refi sambil menancap gas motornya untuk mengantar pulang sahabatnya yang cantik itu.
Jarak kuliah dengan kost Gisna yang cukup lumayan dekat. baru beberapa menit membahas tetangga kost yang super galak itu. Gisna segera melepas helmnya dan menyerahkan pada Refi kemudian Ia segera masuk kost tanpa memikirkan Refi yang mengomel.
"Eh ada Gisna!" Sapa salah satu cowok dari keempat cowok yang berada di ruang tv membuat Gisna sedikit canggung begitu semua mata tertuju padanya.
Gisna hanya tersenyum dan perlahan menunduk begitu tatapan salah satu dari mereka bertemu dengannya, tatapan tak asing yang selalu membuat Gisna tidak tahan untuk menatap bola mata hitam itu, terlihat angkuh dan dingin.
Gisna melewatinya dengan menunduk dan tersenyum. Jujur saja dia bingung akan berbuat apa apalagi tatapan tajam itu tak beralih sedikitpun darinya.
"Gisna lo udah makan? Cari bareng gue yuk!" Ajak Raka yang langsung mendapatkan tatapan aneh dari para sahabatnya.
"Jangan sama dia Gis, sama abang Satria aja." Bujuk Satria yang langsung menghadang Raka yang menawarkan dirinya.
"Sama abang Edo aja." Rayu Edo pada Gisna.
Gisna yang akan menekan knop pintu, masih berdiri cengo menatap satu persatu sedang Bryan hanya diam menatap respon Gisna pada setiap rayuan sahabatnya.
Gisna pun masuk ke kamar dan melempar tasnya ke tempat tidur, masih terekam jelas bagaimana Bryan menatapnya tajam. Ingin rasanya Gisna melawan namun begitu tatapan itu di hadapannya selalu nyalinya menciut.
"Itu orang kenapa dah? Sakit mata apa gimana?" Tanya Gisna entah pada siapa. Cewek itu hanya berani mengumpat di belakang Bryan, cowok yang belum Ia tahu namanya sampai sekarang meski mereka bertetanggaan.
“Yaelah Bry, santai dong itu muka!” ucap Satria begitu menyadari wajah Bryan yang begitu dingin dan angkuh.
“Lah emang gue kenapa?” Tanya balik Bryan, seolah ia tak mengetahui apa-apa.
Matanya masih setia menatap pintu dimana Gisna menghilang dibaliknya. Bryan berusaha sebiasa mungkin namun raganya tak mau berkompromi dengannya. Sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Bryan yang seperti anak kecil.
***
Setelah sepulang kerja Gisna mengurung diri di kamar karena banyak orang di ruang tengah membuatnya lebih baik berdiam di kamar. Setelah tak terdengar keributan atau gelak tawa Gisna berani keluar kandang demi perutnya yang sudah meminta jatah.
Kebetulan Bryan di ruang tengah duduk sendiri dengan TV menyala namun cowok itu sibuk berkutat dengan ponselnya. Seperti biasa Gisna akan mengajak Bryan, cowok yang tak di kenal itu untuk menemaninya makan.
"Kak!" Sapa Gisna duduk di samping Bryan.
Cowok yang di panggilnya hanya menatapnya sebentar kemudian kembali berkutat dengan ponselnya, hal itu sudah biasa terjadi tak membuat Gisna berkecil hati untuknya tatapan itu setidaknya cowok di hadapannya menyadari keberadaannya.
"Gue belum makan...."
"Sayang!" Panggilan dari arah luar membuat Gisna dan Bryan menoleh, Gisna yang menyadari siapa yang datang dan mengurungkan niatnya untuk mengajak cowok itu makan malam.
Untuk menutupi rasa malunya, Gisna segera melarikan diri masuk kamar begitu tatapannya bertemu dengan cewek yang sudah duduk di samping Bryan dengan tangan yang bergelayut manja.
Bryan menghempaskan tangan Vita, di bilang mantan mereka tidak pacaran, di bilang gebetan Bryan tidak menyimpan rasa untuknya. Baginya Vita hanya teman nongkrongnya saja, sebrengsek-brengseknya Bryan Ia tak bisa memperlakukan kasar pada seorang cewek. Kecuali dengan Gisna, Bryan tak bisa menutupi sikap dirinya yang sebenarnya.
"Ngapain sih lo Ta, manggil gue sayang mulu!" Omel Bryan sambil melanjutkan game online-nya itu.
"Gue kan udah bilang gue sayang elo, Bryan." Jawab Vita dengan terang-terangan seolah-olah tanpa sebuah beban ketika mengatakannya.
"Serah elo, gue capek mau tidur." Ucap Bryan perlahan beranjak masuk kamar. Meninggalkan Vita yang memasang wajah kesal karena Bryan selalu meninggalkannya begitu saja.
Bukan kamar miliknya yang Bryan masuki melainkan kamar Gisna. Bryan beruntung cewek itu tidak mengunci kamarnya, namun Bryan tak mendapatkan Gisna di kamarnya hanya siraman air dari dalam kamar mandi.
"Kakak ngapain di kamar gue!" Ucap Gisna tercekat mengetahui siapa di kamarnya.
Sedang yang di tanya hanya diam kemudian duduk di kursi belajar milik Gisna, melihat deretan buku kuliah yang tertata rapi di rak buku.
"Kak keluar ih, gak baik masuk kamar lawan jenis!"ucap Gisna yang tampak ketakutan juga bingung apa yang akan di perbuatnya.
"Apa kabar elo yang juga masuk kamar gue pertama kali?" Ucapan Bryan membuat Gisna terdiam membisu kalah telak.
"Itu kan beda!" Cicit Gisna tampak membela.
"Sama, sama kok waktu elo lari dari cowok elo!" Sindir Bryan membuat Gisna semakin mati kutu di sana.
"Ayo kak keluar!" Desak Gisna begitu Ia kalah telak oleh Bryan, dengan sekuat tenaga cewek itu menarik tangan Bryan yang tanpa mengeluarkan tenaga extra Ia masih tetap disana tanpa sebuah pergerakan.
Ada perasaan asing begitu tangan Gisna menariknya, menggenggam jari-jemari Gisna yang lebih mungil darinya. Bryan menatap teduh Gisna. Tatapan yang tidak bisa di artikan Gisna.
"Ayo makan, tadi katanya ngajak cari makan?" Ucap Bryan begitu dingin.
Gisna yang tadi sibuk menarik tangan Bryan untuk mengusir cowok itu dari kamarnya sekarang berganti mengajak untuk keluar bersama. Bryan segera beranjak, Gisna keluar dengan sweater biru navy. Begitu keluar Gisna melepas genggamannya di tangan Bryan, dan berjalan beriringan layaknya pasangan kekasih.
"Kak kenapa sih selalu natap tajam gitu ke gue?" Tanya Gisna pada punggung yang berjalan selangkah lebih dulu darinya.
Punggung itu berhenti berbalik secara tiba-tiba membuat Gisna hampir menabrak jika Ia tak segera menghentikan langkanya. Tatapan itu kembali terpancar di mata elang itu membuat Gisna menciut, jantungnya berdetak tak karuan menatap mata hitam pekat pada jarak sedekat ini.
"Kenapa emang?" Tanya Bryan dingin masih menatap lurus mata cokelat yang terlihat sedikit takut itu.
Gisna menunduk dan menggeleng pelan, membuat Bryan tersenyum yang tak bisa di lihat Gisna. Bryan benar-benar melihat kepolosan cewek di hadapannya. Tak sadar tangan itu mengusap kepala Gisna membuat Gisna semakin gugup bukan main.
***
Setelah mengisi perut mereka, Bryan tidak segera mengajak Gisna pulang. Terbukti motor melaju ke arah berlawanan dengan jalan pulang, ada rasa khawatir pada hati Gisna begitu tahu Bryan membawanya jauh entah kemana.
Gisna berfikir yang tidak-tidak pasalnya Ia baru mengenal Bryan yang tak Ia tahu siapa namanya. Di tambah lagi Bryan yang seperti membencinya.
"Ini gue mau di bawa kemana?" Tanya Gisna mendekatkan wajahnya ke telinga Bryan.
"Hotel!" Ucap Bryan sekenanya tidak tahu kenapa justru kata itu yang keluar begitu saja.
Sampai akhirnya motor berhenti di sebuah Cafe yang lebih seperti bar. Terlihat banyak orang meneguk alkohol, hati Gisna tak karuan kala Bryan perlahan berjalan memasuki Cafe malam itu.
Bryan menghentikan langkahnya ketika Gisna tak mengikuti langkahnya, cewek itu masih setia berdiri di samping motor Bryan. Bryan berdecak dan segera menghampiri cewek yang sedang memandang asing tempat sekitarnya.
"Ayo masuk!" Ajak Bryan sedikit meninggikan suaranya.
"Gue tunggu di luar aja." Tolak Gisna dengan mengambil keputusan sendiri.
"Ya udah di luar aja, tapi gue lama ntar. Jadi jangan salahin gue kalok elo di culik sama cowok-cowok di sini!" Ancam Bryan kemudian berbalik arah dan melangkah dengan kaki panjangnya meninggalkan Gisna yang mematung mendengar ucapan Bryan.
Tanpa pikir panjang Gisna segera berlari menyusul Bryan, berjalan di belakangnya. Tak sengaja spontan tangan Gisna menggenggam tangan Bryan, matanya sesekali melirik sekitarnya banyak seumurannya sedang bermesraan dengan pasangannya atau sekedar menikmati musik yang terdengar mellow.
Gisna semakin heran kala Bryan justru menaiki tangga Cafe yang entah kemana, perasaan Gisna campur aduk kala tangga begitu sepi tak ada pengunjung sama sekali. Ternyata Bryan membawanya ke atap Cafe yang beratapkan langit yang di taburi cahaya bintang yang merata.
Ada beberapa pengunjung mereka hanya duduk dan menikmati semilir angin, berbeda dengan suasana di dalam disini cukup hening. Bryan memgambil tempat di pojok kanan dimana puncak monas terlihat dari sini.
Gisna tersenyum kala matanya menatap sekeliling pemandangan yang begitu indah, lampu-lampu bangunan seperti kunang-kunang begitu kecil dari sini.
Gisna duduk di samping Bryan yang terlebih dulu duduk di bangku panjang itu, sibuk dengan mengagumi keindahan di sudut kota Gisna tak sadar akan kepergian Bryan entah kapan yang jelas sekarang membawa dua minuman berwarna.
Bryan menaruhnya di meja, Gisna menatapnya asing. Ia takut itu minuman alkohol seperti yang di minum pelanggan di dalam. Tampaknya Bryan tahu apa yang di pikirkan Gisna.
"Ck... itu cuman sirup kali!" Ejek Bryan dengan nada sinis melihat Gisna yang tampak ragu.
"Gue gak racunin juga." Ucap Bryan kemudian mengambil gelas Gisna dan meneguknya sedikit. Melihat Bryan, cewek itu jadi merasa sungkan seperti menaruh curiga pada Bryan.
Gisna mengambil gelasnya kemudian meneguknya sedikit, Ia tidak haus hanya memastikan saja jika memang itu sirup. Canggung duduk berlama-lama dengan Bryan, pasalnya cowok itu tidak pernah menyambutnya dengan baik.
Bryan menatap Gisna yang tampak menghindari kontak mata dengannya, kini Bryan menatap ikat rambut kuda Gisna entah ide darimana cowok itu menariknya hingga rambut Gisna terurai menutupi punggungnya.
"Kenapa di lepas?" Pekik Gisna mendelik pada Bryan terkejut dengan perlakuan Bryan.
Tak berniat menjawab Bryan melepas jaketnya dan meletakkan di bahu Gisna, Gisna terpaku mendapat perlakuan begitu dari Bryan.
"Disini dingin!" Ucap Bryan memperingati Gisna yang masih mematung menatapnya, Bryan menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Gisna.
Cukup lama mereka terdiam dan menikmati keindahan kota, sampai akhirnya kepala Gisna jatuh di bahu Bryan yang sibuk dengan ponselnya dari tadi. Beberapa panggilan masuk dari Ibunya membuatnya mengabaikan Gisna yang sejak tadi hanya menikmati semilir angin malam ini.
Bryan menoleh kala pundaknya sedikit ada beban, mendapati wajah polos Gisna yang tengah terpejam. Bryan membiarkan Gisna menyandarkan kepalanya di bahunya ada rasa aneh menyerang hati Bryan. Bryan tak sungkan untuk membenarkan jaket di bahu Gisna yang hampir lepas itu. Bryan menggenggam tangan mungil Gisna, ada kehangatan yang menjalar di setiap darah yang mengalir di tubuhnya. Bryan memandang tangan mungil Gisna yang ia genggam, hampir saja ia terjungkal begitu Gisna sedikit membenarkan letak kepalanya di bahu Bryan.
Gisna tersadar dari tidurnya tapi tak bergerak, posisinya tetap sama bersandar pada Bryan yang sibuk memainkan ponsel. Cowok itu menyadari tidur Gisna yang mulai terusik angina yang bertiup cukup kencang, ia melepas genggaman tangannya.
“Kita nggak pulang ?” Tanya Gisna pelan tak mengalihkan pandangannya dari pemandangan kota Jakarta di malam hari. Penuh dengan gemerlap lampu yang seperti bertaburan di permukaannya.
“Lu piker gue bawa pulang elu naik mobil dengan posisi elu tidur.” Omel Bryan seolah kesal dengan Gisna yang justru tertidur cukup lama.
“Harusnya gue tinggal aja ya elo disini.” Ucap Bryan dengan senyum kejam menghiasi wajah dinginnya. Gisna tak menjawab justru hanya manyun menanggapi ucapan pedas Bryan padanya.